The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter VI]



Di Dunia lotus roh sistem yang berwujud anak kecil namun terbuat dari kabut tengah memandang Arista sendu, tuannya yang satu ini selalu menanggung tanggung jawab yang besar dan selalu melupakan kebahagiaannya sendiri, “Rista...,” panggil roh sistem.


“Ya, ada apa kecil?”


“Kenapa kau menggunakan rencana itu?”


“Luo Feng akan keluar jika aku memancingnya, setelah Leon sembuh, aku akan menceritakan kebenaran tentang putrinya. Leona yang Leon kira adalah anaknya, sangat miris! Pria itu menjadi pion Luo Feng hanya karena putrinya, jika aku berikan dia kehidupan dan mempertemukannya dengan Elisa, aku jamin dia akan melakukan apapun perintahku.”


Sistem kecil mengangguk paham, namun, seketika menegang ketika meningat kata-kata Arista. Sedikit tebesit rasa takut kehilangan, apakah tuannya mau meninggalkan dirinya seorang diri? Jika iya, bukankah dia akan menjadi roh hilang tanpa pemilih? Oh, batin kecilnya mulai tertekan.


Arista akui kematian adalah hal yang dia takuti, namun, mau bagaimana lagi? Identitasnya sebagai Queen mafia dan jendral, mengharuskan Arista sering di ambang kematian. Pernah sekali Arista koma karena menolong salah satu korban dari perdagangan manusia di kota C, orang yang dia tolong adalah Resa.


“Anu~”


“Baik, aku pergi dulu,” tanpa sepatah kata, Arista segera berteleportasi ke kamar.


Roh sistem tidak bisa tertawa atau menangis meratap, “...” dia merasa dejavu dengan situasi saat ini, bibirnya sedikit terbuka dengan suara kecil yang tersangkut di tenggorokan.


Cat dengan warna biru cerah menambah kesan damai, jendela yang terbuka lebar untuk pergantian udara pada kamar. Sangat sepi, di pojok kamar ada seorang lelaki yang tengah melukis di atas kursi roda, “kau datang kak, aku sangat merindukanmu.” Kepala Lux menengok ringan menatap sosok ramping di sudut ruangan, mata sipitnya membentuk bulan sabit, wajah tampannya mengeluarkan sinar kelucuan.


Arista hanya tersenyum manis sambil melangkahkan kakinya mendekat, bibirnya mengerucut penasaran. dia membungkuk hingga netra indahnya menangkap gambar lukisan seorang gadis cantik tengah mengendong kucing putih. Tidak salah lagi, gadis yang tengah Lux lukis adalah Arista, senyum Arista semakin merkah saat Lux kembali menoleh, “lukisanmu semakin indah Lux.”


“Modelnya saja cantik, tentu saja lukisanku akan semakin indah,” Lux meletakkan kuas sambil tersenyum menenangkan.


“Ini sangat mirip.”


Lux terkekeh, “sangat mirip? Mungkin karena aku sedang merindukanmu kak.”


“Kalau begitu, bukankah kau bisa menghubungiku?” Arista menatap sosok adiknya.


Helaan napas panas meniup cat yang masih basah, “tidak akan sama dari bertemu secara langsung. Jika seperti itu, bagaimana bisa aku menjadi pengagum kecantikan nomor satu?”


“Aha... Adikku sudah pandai merayu, coba kalau kau rayu saja gadis lain. Aku yakin, mereka tidak akan menolak ketampanan paripura sepertimu,” Arista mencolek dagu Lux sambil terkekeh geli, yang dicolek memiliki rona merah dan mata tertunduk berusaha menghindari lawan bicara.


“Mana mungkin akan ada yang mau dengan lelaki sepertiku kak,” Lux tertunduk lemas, sedetik kemudian, dia menampilkan senyum berusaha mengalihkan perasaan miris.


Hati Arista tercubit akan senyum itu.


“Tatap mataku Lux Efret!” Arista memegang dagu Lux dan mengarahkan wajahnya untuk menatap Arista, “cinta sejati itu tidak memandang fisik... Mau kau cantik atau tampan, sehat atau sakit, anggota tubuhmu lengkap atau tidak. Itu tidak akan mempengaruhi! Memang dari dulu ada standar kecantikan? Tidak ada Lux! Rambut putih pada seorang nenek itu cantik, seorang ibu yang memiliki lemak pada tubuhnya setelah melahirkan itu cantik, seorang anak perempuan yang cacat dari lahir dia tetap cantik dan seorang ayah yang telapak tangannya kasar demi mencukupi kebutuhan hidup itu tampan! Karena apa? Kecantikan dan ketampanan itu hanya sudut pandang seseorang dalam melihat, yang cantik sebenarnya itu di sini...,” jelas Arista sambil menunjuk dada Lux, “di hati... Jadi, tidak perlu berkecil hati.”


“Kak~” suara Lux bergetar lantaran merasa tangisnya hampir pecah, hidunga terasa pedih hingga meninggalkan warna merah.


“Yang lumpuh adalah kakimu, bukan hati dan perasaanmu.”


“Kakak... Terima kasih... Terima kasih telah perduli padaku, terima kasih telah membantuku disaat aku terpuruk dan terimakasih untuk semuanya.” Lux tersenyum sambil mengusap wajah cantik Arista, “berjanjilah kak, jangan pernah pergi tinggalkan aku.”


“...” Arista hanya tersenyum sebagai jawaban, di permukaan dia terlihat tenang. Tapi dia bersumpah, hatinya sekarang terasa panas dengan getaran yang tak mampu dijelaskan.


Matahari mulai terbenam, langit mulai berwarna oranye. Arista dan Lux saling bertukar cerita, dari cerita Lux, ada seorang pria yang diam-diam memasuki kediaman Efret dan masuk ke dalam kamar Imelda, hanya ada satu kemungkinan, pria itu adalah dalang dari masuknya Imelda ke dalam keluarga Efret.


Arista hanya menghela napas kesal, satu lagi teka-teki yang harus di selesaikan, naasnya dia harus memecahkan semua itu agar kasus meninggalnya Soraya terungkap. Siapa yang tidak penasaran? Seorang ibu yang tiba-tiba meninggal tanpa sebab, dengan beberapa tahun setelahnya Jiangxuan datang menyerahkan semua aset Soraya.


Perlahan langit berubah dari oranye menjadi hitam, menandakan malam telah tiba, Lux yang masih serius melukis, perlahan mulai menguap lalu neletakkan kuasnya. Arista hanya memandang adiknya gemas, dengan cekatan, dia membantu adik kecilnya yang baru berusia sebelas tahun berbaring di kasur.


Tidak butuh waktu lama, Lux langsung terlelap tanpa memperdulikan sekitarnya, adiknya yang satu ini selalu memiliki senyum menenangkan, wajah yang menenangkan dan segala hal yang dapat membuat hatinya tenang. Dengan pelan, Arista menarik selimut hingga dada, menutup jendela dan tirai.


Arista mencium kening Lux dengan sayang, jika seseorang melihat itu. Bisa di pastikan mereka akan berkomentar, 'hubungan kak beradik yang sangat harmonis.'


“Lux maaf aku tidak bisa berjanji... Tapi, kaulah yang harus berjanji padaku, tetaplah tersenyum dengan ada dan tidaknya aku di sisimu,” bisik Arista, perlahan dia mulai menghilang dari udara kosong, hal yang tidak disadari olehnya adalah Lux mendengar bisikan dari Arista.


“Kakak...,” lirihnya dengan hati tersayat, manik bening tampak tergantung di sudut matanya.


...****************...


Di sebrang jalan menuju Efret manor terdapat mobil merah yang terparkir, dua orang di dalam mobil tengah menunggu keluarnya seorang gadis. Satu menit, dua menit, tiga menit,... Beberapa saat kemudian pintu masuk kediaman Efret manor terbuka, keluarlah Elisa yang memakai dres pink elegant, menenteng dompet di tangan kiri, dan kunci mobil di tangan kanan.


“Elisa Efret, putri kandungmu,” Arista menunjuk Elisa dari dalam mobil, “Leona bukan anakmu... Imelda sudah menyuruh seseorang untuk menukar bayinya, jika kau tidak percaya baca surat tes DNA ini,” dengan gaya anggun Arista memberikan map berwarna biru muda ke pangkuan Leon.


'Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terduga ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah >99.99%,' seketika Leon memandang Arista sambil terkejut, bila seseorang melihat sorot matanya dengan jelih, dapat terlihat sebuah amarah dan kekecewaan yang mendalam.


“Satu hal lagi yang lebih menarik! Imelda memiliki anak dengan Luo Feng,” Arista tersenyum miring, untuk menambah panas dia segera tertawa mengejek, “hahahaha... Bagaimana rasanya berbagi sangkar? Apakah nikmat?” Cibir Arista sambil bersedekap, “kau menjadi bandar narkoba, keras terhadap lawanmu, tapi kau masih mudah ditipu?”


Leon meremas kuat surat tes DNA, kuku-kuku menancap ke dalam daging hingga terdapat bercak darah di tangannya, terdengar geraman kekesalan yang mengebu-gebu. Arista dengan geli hanya terkekeh kecil, sekarang Arista baru memahami arti musuh dari musuhmu adalah temanmu, dengan santai, dia melajukan mobil merahnya untuk mengikuti kemana Elisa pergi.


Beberapa jalan yang memiliki persimpangan telah di lalui, tanpa diduga, Elisa memasuki rumah mewah milik keluarga Jung, [ah... Ternyata pria hidung belang itu menyewa Elisa untuk menghangatkan ranjang...,] cibir roh sistem.


“Haha... Dia mendapat job rupanya...,” Arista berucap spontan, tanpa dia duga, Leon langsung melirik penasaran ke arahnya, “ingin lihat yang terjadi setelah ini?”


Jam tangan hitam di tanggan kiri Arista mengeluarkan robot kecil, robot itu berbentuk lalat yang dapat merekam, robot kecil terbang mengikuti Elisa yang mulai melangkah masuk. Arista menjulurkan tangannya ke jok belakang, terdapat tab berwarna putih dengan hiasan elegant. Dengan cekatan gadis itu menuliskan kalimat aneh dan sedikit tidak normal untuk diucapkan secara lantang, seketika muncullah video gadis yang tengah menaiki tangga.


Tab tersebut di berikan kepada Leon, sudut di bibir Arista merkah tatangkala Leon melihat seorang gadis yang sedang memeluk pemimpin keluarga Jung.


Perlahan dengan pasti Elisa saling me*lum*at bibir dengan pria berumur lima puluh sembilan tahun, lidah keduanya berbelit seakan membuat simpul rumit. Tak selang lama, pemimpin keluarga Jung melucuti pakaiannya sendiri dengan ganas sembari menatap Elisa yang tengah menurunkan pakaiannya sendiri bak bunga gugur dimusim gugur.


Elisa melebarkan kedua pahanya lebar sabil memasang sesuatu, hingga terdengar suara yang tidak layak untuk didengar, seperti geraman dan de*sahan yang beradu dan berlomba memenuhi ruangan.


Bunyi sesuatu yang bertabrakan menambah nuansa musim semi bagi keduanya. Elisa menggerang tantangkala telinganya digigit, tangan pria itu bergerak meremas sesuatu dengan ganas. Kepala wanita itu mendongak, berusaha menahan gejolak liar yang tak terbendung dalam dirinya.


Semua itu berbeda dengan suasana di dalam mobil. Urat leher Leon kian mengeras, beberapa adegan yang terrekam dengan jelas dan full seperti layar tancap itu diputar hingga akhir.


Ah, dia akan meledak marah!


“Tidak usah menunjukan urat yang seperti akar pohon! Santailah, dia sedang menarik uang.” Perintah Arista sambil merebut tab dari tangan Leon.


“Bagaimana anak itu bisa melakukan hal—” ucap Leon yang sudah frustasi.


“Ingin tahu hal yang lebih menarik?” Tanya Arista sambil menaikkan alis kirinya.


“???”