
“Kau mungkin buta, lihat aku menyentuh minumanmu tidak?” Sindir Arista merasa miris, tatapan merendahkan terpampang jelas dari sepasang netra indahnya.
Jungsi menunjukkan gaya angkuh dengan dagu yang terangkat lalu berucap, “kau jelas-jelas mendorong Elisa sehingga mengenai minumanku, lihat semua yang ada di sini juga melihatmu melakukannya!”
Arista hanya menerbitkan senyum licik, “kau salahkan saja adikku yang memiliki tubuh ringan seperti kapas. Ayahmu juga terlihat tertarik dengannya, aku jamin Elisa sangat bisa memuaskannya.”
Elisa mendengarkan percakapan mereka, emosi di bawah matanya berubah berulang kali dan kedua tangannya mengepal. Hatinya terasa digigit serangga, perlahan menyiksa membuat ribuan lubang di dalamnya. Dia akui itu memang kebenaran, tapi dia merasa malu jika kalimat itu keluar dari mulut Arista. “Jungsi... Maafkan kakakku, biar nanti aku akan menganti rugi bajumu.”
“Lihat, adikmu sangat baik. Tapi kau mengasarinya seperti itu!” Jungsi menunjuk kasar Arista.
Mulut kecil namun sexy Arista menguap bosan, “lalu apa maumu? Kau hanya pandai mengonggong memenuhi pendengaran!”
Usia Jungsi yang masih muda, tetapi bagaimana bisa sudah memiliki nada suara pecah menganggu pendengaran?
“Apa? Kau menyamakanku dengan binatang!!”
Mulut Arista yang terkatup rapat perlahan mengendur membuat lengkungan menyenangkan, “kali ini kau yang terlalu sadar diri.”
“Apa kau pikir aku keterbelakangan mental ha?”
“Terlalu percaya diri tidaklah berdampak baik,” Arista merasa geli.
Jungsi kian meraung, “hentikan omong kosongmu dan segera bertanggung jawab.”
Arista menarik sudut bibirnya, “nona, kau sangat-sangat salah paham.” Jari telunjuk tangan kanannya terangkat, “pertama, aku hanya menyamakan suaramu dengan gonggongan bukan menyamakanmu dengan binatang!” Jari tengah juga terangkat menyusul jari telunjuk, “kedua, kau sendiri yang bilang dirimu keterbelakangan mental.”
Orang-orang segera memandang Jungsi dengan pandangan seolah-olah tengah melihat wanita gila.
Menyadari itu, Elisa segera menyela, “kakakku sangat miskin, aku akan memberikan nona kompensasi.”
Benar-benar adik yang berbakti!
Arista tertawa pelan, “tidak perlu, aku tidak pantas mendapat kemurahan hati... Aku sendiri yang akan memberikan kompensasi sesuai harga,” senyum licik kembali terlukis diwajah cantik Arista.
“Dua milyar,” jawab Jungsi mengebu-gebu.
Elisa mencibir jijik, “kakak terlalu memaksakan diri, adik sudah berusaha membantu.”
Roh sistem mencibir, merasa ingin merobek wajah peri Elisa.
Para pelanggan sangat terhibur dengan pertunjukan, Arista semakin menambahkan bara api, “mari bertaruh, jika aku bisa membayarmu sekarang... Berikan aku kalungmu.”
“Kalung mutiara di leherku? Mana bisa, ini edisi terbaru dan termahal,” sombong Jungsi.
Black card keluar dari saku celana Arista, “dua milyar hanya untuk baju tiruanmu itu? Yakin? Mau ku bawa kau ke pendesain aslinya untuk membuktikan?”
“...”
“......”
“.........”
Pengusaha 1: “Pelayan macam apa ini? Oh... yang benar saja... Black card? Benar-benar black card?”
Pengusaha 2: “Sial! Jika begitu, aku juga ingin menjadi pelayan.”
Pengusaha 3: “Tunggu, baju nona Jungsi itu tiruan? Hahahaha... ini lelucon.”
Arista sangat paham dengan baju bermerek yang asli dan yang palsu, bagaimana tidak paham! Gadis kecil itu selalu berjalan-jalan untuk membeli baju ketika bosan. Membohonginya? Itu sama saja seperti orang yang mengelak dari dosanya saat berhadapan dengan para dewa, karena itu... terlalu mustahil!
Wajah Jungsi menjadi pucat pasi setelah ketahuan mebeli baju tiruan.
“Dengan ekspresimu yang teramat buruk seperti zombi, aku yakin. Apa yang aku katakan itu benar, jadi... Berikan aku kalung mutiaramu, kalau tidak satu kali dua puluh empat jam. Ah tidak... Satu jam saja dari sekarang, akan ada berita yang akan mencoreng nama baik keluarga Jung. Bagaimana?” Tanya Arista sambil menaik turunkan ke dua aslinya, “yah... Itupun jika urat malumu masih ada.”
[Lihatlah wajahnya sangat mengenaskan,] roh sistem sambil terawa terbahak-bahak.
Dengan segera Jungsi melepas kalung yang ada di lehernya dan melemparkan dengan kasar kepada Arista.
“Kau, dasar anak tidak tahu sopan santun! Tidak tahu malu! Apa ibumu dulu tidak pernah mengajarkanmu etika ha?” Teriak Imelda sambil mendekat, tangannya hendak mengepal untuk memukul Arista.
Ibu yang baik! Ketika anaknya dalam masalah, dia memilih menonton. Tapi, saat anaknya mendapat barang bagus, dia akan segera keluar untuk mencari muka.
Arista acuh dan memamerkan barang rampasannya dengan muka tebal, “Elisa, lihat... Aku mendapat kalung mahal tanpa harus menjual diriku,” sindir Arista sambil mengangkat tinggi kalung mutiara yang baru di dapatkannya.
“ARISTA!!! Kau mengabaikan panggilan ibumu?” Imelda bertambah geram.
“Ah, nyonya Efret... Bukan, bukan, bukan. Imelda... Dengar ini baik-baik, ibuku meninggal pada pada saat aku berusia delapan tahun. Sementara kasih sayang ayahku juga kalian ambil dariku, apa? Tadi aku sempat mendengar dari mulut kotormu bahwa ibuku mengajari etika? Bukannya harusnya ibu sambungku yang melakukan itu?” Helaan napas keluar dari mulut Arista, “ah salah, aku salah lagi menyebutmu ibu sambung. Dimana ada seorang ibu dengan tidak becusnya merawat anak dua bulan dan menggantinya dengan anak yang ada di panti asuhan, juga menyiksa anak itu bahkan saat cacat kau tak perduli sedikitpun padanya!”
Terdengar kerumunan tengah mencibir pasanagan ibu dan anak itu, seketika wajah Imelda berubah pias. Topi hijau benar-benar telah dipasangkan pada dua orang itu dengan sangat sempurna.
“Ak... Aku ti—”
“Ingat! Sampai kau menyakiti Lux, walaupun hanya seujung rambut, kau akan musnah beserta semua keturunanmu! Kenapa? Kaget aku tahu kau punya anak di luar nikah...,” ucap Arista sambil berbalik mengabaikan kekacauan yang tengah berlangsung, Arista melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Arista menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap Baili Jingxian “hai juga, tak perlu terima kasih dan juga aku tidak hamil,” jelas Arista sambil berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian, dua anggota palsu keluarga Efret memilih pergi dan menyisakan bahan gunjingan panas. Di meja keluarga baili...
“Kau kenal?” Jiangxuan bertanya singkat.
“Kenal apa?” Tanya balik jingxian.
“Dia?”
“Dia siapa? Yang mana?”
“Yang tadi...”
“...”
Jingxian menatap sebal Jiangxuan, pria yang ketampanannya melebihi dirinya itu selalu berbicara dengan kalimat setengah. Pernah sekali Jingxian ditanya hanya dengan alis kanan yang diangkat, sunguh irit bicara!
“Tuan muda, maksud tuan Jingxuan itu gadis tadi. Nona pertama keluarga Efret...” Jelas Xiao Cen.
“Oohh, dia gadis kecil yang membohongiku dan yang mengunciku di toilet kemarin lusa,” jawab Jingxian antusias.
“O...”
Itu adalah tamparan yang sangat cepat di wajah hingga Jingxian ingin muntah darah.
'Aku tau perasaanmu yang tertekan itu tuan muda,' Xiao Cen menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa.
Jiangxuan tersenyum sambil meminum minuman di gelas.
Semakin Jingxian mengamati bos dan bawahannya itu, semakin sering pula dia merasa berada di dunia lain, hanya dengan diam terkadang asistennya itu sudah langsung paham, 'astaga, sekarang dia tersenyum dan asisten gilanya hanya diam menutup mulutnya dengan tangan! Apa yang lucu? Apa tidak ada orang normal yang ada di sekitarku saat ini? Siapapun, tolonglah pria ini!' Jingxian melolong meratapi di dalamm hati.
“Apa?” jiangxuan melirik sinis.
Sang adik hanya menjawab dengan gelengan tangan dan kepala yang selaras, lebih baik mengabarkan bendera kekalahan sesegera mungkin.
Kondisi di luar rumah makan tampak lebih menantang. Arista kini tengah berada di dalam mobil hitam dengan jok mobil berwarna merah, dia tengah menyalakan gogle maps, titik merah terus melaju dan berhenti di sebuah hotel ternama.
Jika lawan lebih licik, maka Arista akan menjadi lebih licik dan gesitt bagai belut!
Jika lawan kejam, maka Arista akan lebih kejam bak dewa pencabut nyawa!
Arista seketika menuju titik merah, butuh waktu satu jam untuk sampai di sana. Di luar hotel tampak lima puluh orang bersenjata lengkap sedang memeriksa setiap orang yang akan masuk kedalam. Mobil hitam itu perlahan menepi ke pinggir taman, jari lentik dan putih dengan cekatan meretas camera CCTV, netra hitam Arista memperhatikan satu persatu wajah pelayan.
Klik...
Bunyi mesin pembuat wajah berbahan dasar dari silikon, sementara itu, Arista segera berganti pakaian pelayan dari dalam mobil, “roh sistem, buat CCTV seolah-olah tidak merekam sesuatu yang jangal.”
[Baik... Rista, kenapa kau tidak memilih berteleportasi dari dunia lotus saja?]
'Ck, kau ini. Kalau mengunakan cara itu, sama saja aku bergantung padamu. Dan aku paling tidak suka dengan cara instan tanpa usaha. Sebentar lagi, aku akan sampai di depan makhluk tak berotak itu dan mulai bersenang-senang...,' dengan ekspresi wajah ketakutan, Arista melewati para penjaga di depan hotel.
“Berhenti!!!” Perintah pria bertubuh kekar.
“I... Iya tuan, ada apa?” Tanpa menjawab pertanyaan Arista, para penjaga memeriksa tubuhnya dengan alat pendeteksi senjata tajam, tidak lupa membuka tempat sampah yang tengah dia dorong, mereka memeriksa seakan tanpa meninggalkan celah sedikitpun. Bahkan jika Arista laki-laki, mungkin dia alan langsung dilucuti di tempat.
“Aman, kau boleh masuk.”
Arista hanya menjawabnya dengan senyum tipis. Ah... Para penjaga memang tak berotak.
[Kamar nomor 250 lantai 4,] suara sistem kecil dari dunia lotus. Tapa basa-basi, Arista segera menuju lantai empat. Dia berbelok kekiri hingga menuju kamar nomor 250, tangannya terulur meraih benda yang ada di roda tempat sampah.
'Kalian sangat bodoh, dengan suasana tenang begini. Aku yakin di dalam ada lebih dari lima belas ahli dalam senjata dan bela diri, lihat saja di lantai sistem kecil. Di sana ada banyak debu, tidak mungkin tempat VIP seperti banyak memili debu bukan? Aku beruntung membawa asap bius yang bekerja lewat pori-pori kulit.'
[Bukan mereka yang bodoh, tapi kau yang terlalu cerdik,] balas sistem kecil sambil tercengang.
Lima menit setelah asap bius, Arista dengan tenang masuk. Di lantai tergeletak dua puluh nyawa yang terkapar, seperti limbah sampah!
Dengan mudah Arista menemukan Leon yang tengah berada di atas sofa dan bergegas menarik kerah bajunya, Leon segera dililit oleh plastik hitam besar dan di masukan dalam tempat sampah yang tadi dibawa Arista.
Tangan putih kecil yang rapuh mulai menghubungi seseorang.
Drrrittt... Drrrittt...
Di sebrang handphone, Hua Mian merasa getaran ringan di sakunya, 'Ada apa bos?'
“Ck, kau masih saja menyebalkan!” Lirihnya Arista mulai memencet tombol lift.
'Iya Rista...,' Hua Mian meralat kata-katanya.
“Leon sudah aku dapatkan, sesuai omonganku kemarin satu minggu. Karna baru tiga hari, maka aku ingin bermain sebentar dengannya. Soal perusahaan kau urus saja dulu, aku malas.” Arista menutup panggilan hingga berbunyi 'tut', dia bersumpah dapat membayangkan wajah shook Hua Mian.