The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter XLV]



Chen Bai Mo menaikkan sudut bibirnya, dia tidak mempermasalahkan gretakan kecil anak perempuan yang ada di depannya. Jika seseorang dapat mendengar isi hatinya, dipastikan telinga akan penuh dengan pujian paras cantik Yue Liang Zhi. Mata pesar itu membuat hatinya luluh, hidung itu membuatnya gemetar ingin membelai dengan punggung jari telunjuk, bibir itu mengundangnya untuk mencicipi nektar manis, dan pipinya chubby mengundangnya untuk menggosok disetiap saat.


Tentunya, yang dapat mendengar suara itu hanyalah Pangeran Yun Fengyin. Telinganya telah memerah panas, berniat mencekik tuan muda Chen.


Xiu Juan mendengus dingin, tangannya menepuk keras bahu Chen Bai Mo, “gege!!!”


“Ah...,” Chen Bai Mo mendapatkan kembali akal sehatnya, “Juan'er, kau mengejutkanku.” Matanya yang semula memandang Yue Liang Zhi penuh damba kini berganti dengan obsesi ingin memiliki, “bisa berbicara lebih lembut?”


Merasa tatapan tunangannya masih menatap sosok kecil, Xiu Juan menelan kemarahan hingga wajahnya menampilkan berbagai macam warna. “Mmn...,” dia mengangguk kaku, tangannya mengandeng lengan Chen Bai Mo.


Mendapat tatapan intes yang melucuti, Yue Liang Zhi hanya acuh dan tidak menyadari Chen Bai Mo sedang berfantasi tidak senonoh pada tubuhnya.


Tonjolan laring[1] yang belum tumbuh sempura bergetar kala Chen Bai Mo menelan saliva kasar. Kecantikan kecil itu begitu sempurna, membayangkan sosok itu dewasa dikemudian hari, dia tidak bisa membantu selain merasakan godaan yang mengelitik pada burungnya.


^^^[1] Tonjolan laring atau jakun adalah tulang rawan yang membungkus bagian depan laring atau kotak suara. Jakun terdiri dari tulang rawan tiroid. Tulang rawan merupakan jaringan yang juga membentuk hidung, telinga, dan tenggorokan atau trakea.^^^


Semua orang selain Yue Liang Zhi dan Wei Shuwan dapat menangkap reaksi tak wajar dari Chen Bai Mo, segera mengretakkan gigi menahan menyerang terlebih dulu. Sekte Qinglong mempunyai aturan "sesama murid tidak boleh memulai perkelahian, kecuali pihak lain menyerang, maka boleh membalas sebagai bentuk pertahanan."


Wei Shuwan menganggap tatapan mesum Chen Bai Mo sebagai tatapan provokatif, berpikir pihak lawan sangat kokoh untuk merebut kamar yang telah dipesan. Dia berteriak geram, “Chen Bai, kau tercela!!! Mengambil anak spirit beast, lalu membuat kami terkena amukan spirit beast dan sekarang. Sekarang kau bahkan ingin merebut kamar yang telah Jianying gege pesan, benar-benar tidak tahu malu!!! Apa hati nuranimu telah dimakan iblis?”


Mendengar umpatan adiknya, Wei Jun memberikan tatapan mencibir. Untuk kali ini dia sangat setuju dengan perkataan adiknya, “Meimei saat mulutmu terbuka, suaramu terdengar seperti bebek... Tapi, untuk sekarang aku sangat setuju, Chen Bai Mo adalah seseorang tanpa urat malu.”


Dia beranggapan adiknya telah tercerahkan oleh tatapan mesum penuh nafsu hingga mampu membuat lawan terbentur oleh kalimat pedas.


Chen Bai Mo merasakan ereksi telah berkurang setelah terbentur dan tertusuk kalimat dari sepasang saudara Wei. Menampilkan ekspresi wajah terpelintir, tangannya melambai ke depan sebagai kode penyerangan, “bersihkan, jangan biarkan satu orangpun lolos kecuali yang paling muda.”


Xiu Juan mencengkram kuat kandang singa kecil, “!!!”


Yue Liang Zhi sedikit tersenyum merasa lucu dan mencibir ketika mendengar dirinya akan dibebaskan, dia merasa dikategorikan menjadi yang paling lemah di antara anggota kelompoknya, tidak merasakan niat tersembunyi dari kalimat tuan muda Klan Chen. Mencetuskan pemikiran model apa yang perlu digunakan untuk membereskan lawan.


Qiao Qiao tidak bisa menangis atau tertawa menyadari titik buta tuannya.


Pangeran Yun Fengyin, Bai Yun, Lei Hu, Wei Jun dan Tao Jianying mulai mengeluarkan pedang dari sarungnya secara serempak. Sebelum penjaga Chen Bai Mo menyerang, Yue Liang Zhi segera mengambil sumpit dari tangan salah satu pelanggan.


Tangan pelanggan tersebut mematung dan mencapit udara kosong: ( •ิ。•ิ )?


Dia mengabaikan keluhan laki-laki tersebut, tangan kecilnya mematahkan kedua sumpit, dengan gesit melempar tanpa belas kasihan ke arah penjaga Chen Bai Mo.


Syyuuutt...


“Aaaaaa...,” triak penjaga memegangi bahunya yang tertusuk sumpit.


“Kyaaaa!!!” Penjaga lain memegagi mata sebelah kiri dengan darah mengalir membasahi hanfu abu-abu.


“...” Dua penjaga lainnya segera tewas karena sumpit menusuk tepat mengenai leher.


Anak perempuan itu tersenyum sambil bersedekap, kedua alisnya terangkat cepat kemudian turun kembali. “Ingin menyerang mereka? Jangan harap! Menyentuh sehelai rambut saja,” dia menendang kursi kosong hingga hancur, “kalian akan mati!!!”


Chen Bai Mu dan Xiu Juan membelalakan kedua mata, mereka tidak menyangka kekuatan tersembunyi dari anak perempuan di depannya. Sebelumya telah menganggap anak itu sebagai kesemek lembut yang mudah digretak.


“Masih ingin menganggu? Atau...,” Yue Liang Zhi menunjuk mayat sambil melangkahkan ke depan, memasang raut wajah tengil.


Xiu Juan berbisik pelan sambil menarik tangan Chen Bai Mo, “ge~”


“Mundur,” titah Chen Bai Mo, dia memimpin Xiu Juan dan beberapa pengawal yang masih hidup untuk meninggalkan penginapan, tak lupa menyeret mayat bagai seonggok barang tak berguna.


Yue Liang Zhi membalikkan badan sambil berbisik pelan pada seseorang, “terimakasih tuan, sumpit milikmu sangat membantu.”


“Ucapan nona aku terima,” pelanggan yang telah kehilangan sumpitnya segera bangkit berdiri.


Terlihat wajah halus melebihi para laki-laki tampan yang pernah Yue Liang Zhi lihat selama ini. Wajah yang mampu menghipnotis dengan rahang tegas dan sangat kokoh, alis tebal bak pohon pillow terlukis sempurna, iris mata hitam bagaikan pusaran penyedot jiwa, hidung ramping dan mancung, bibir tebal namun sexy mengundang para persik busuk untuk segera mengecupnya.


Setelah Chen Bai Mo melangkah keluar penginapan mawar hitam, terlihat beberapa pria menunjuk pelanggan yang ada di depan Yue Liang Zhi. “Itu dia, kejar! Kali ini, kau tidak akan kami biarkan lolos,” mereka segera berlari ke arah pelangan tersebut.


“Ck, kenapa mereka tidak kenal kata menyerah? Bahkan mengikutiku sampai ke sini.” Pelanggan laki-laki mengepalkan tangan kanan yang di tangkupkan dengan tangan kiri, “nona cantik... Aku harus undur diri, bila memiliki takdir, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.” Tanpa aba-aba, dia segera naik ke atas meja dan berlari dari meja satu ke meja lainnya. Kelakuannya sukses mendapat teriakan dan makian dari pelanggan lain, terakhir, dia segera melompat keluar dari jendela.


Semua anggota kelompok Yue Liang Zhi menjulurkan leher mengamati interaksi keduanya dari awal hingga akhir.


Melihat dirinya ditinggalkan secara tiba-tiba, Yue Liang Zhi segera mencebikkan bibir dan membalikkan tubuh menghadap pelayan, “paman, kami tetap akan menginap. Untuk masalah uang, tuan dari klan Chen telah membayarnya. ” Dia menatap Tao Jianying dan tersenyum singkat, “jika ada kelebihan dari uang miliknya, anggap saja sebagai kopensasi keributan barusan.”


Pelayan pria segera segera membungkukkan sedikit tubuhnya, “nona muda tenang, pelayan ini tidak akan mempermasalahkan lagi.”


...****************...


Dunia para Dewa tengah mengalami sedikit goncangan, batu besar berwarna biru memiliki retak di tepiannya kini telah meredup kembali. Seorang pria berfitur halus tengah memandangi batu tersebut, matanya sedikit memandang kosong seolah tengah merindukan sesuatu.


Sosok lain membuka mulut dan berbicara, “Dewa Di Qian, kekuatan Dewa perang sudah terdeteksi. Bukankah seharusnya dewa perang telah musnah dan bereingkarnasi dikehidupan selanjutnya?”


“Kehidupan selanjutnya?” Di Qianfan membalikkan tubuhnya, kini terpampang jelas ketampanan yang dapat meruntuhkan sebuah kota, namun sosoknya masih kalah dengan pelanggan laki-laki yang tadi ditemui Yue Liang Zhi. “Dewa perang dapat pergi kemanapun tempat yang dia inginkan, itu semua pasti ulah Dewa penjelajah waktu!”


“Dewa ini telah berpihak pada Dewa perang, untuk menemukan keberadaannya sangat sulit, bagai mencari jarum ditumpukan jerami[2].”


^^^[2] Bagai mencari jarum ditumpukan jerami artinya melakukan pekerjaan yang sangat sungkar, sulit untuk ditemukan, hampir sia-sia saja untuk dilakukan.^^^


Di Qianfan menatap tajam, “dia benar-benar telah membuat kerusuhan, membawa Dewa perangku tanpa izin... Sama saja cari mati!”


“betul, tapi—” perkataan seorang pria di depan Di Qianfan sedikit terjeda, “ras phoenix itu sudah bertemu dengan Dewa perang, apa Dewa Di Qian dapat membawa Dewa perang kembali ke alam para Dewa?”


Mendengar pertanyaan ketidak percayaan dari Dewa penjaga batu kehidupan, Di Qianfan menghembuskan napas dingin, “Dewa perang akan selamanya menjadi milikku, aku tidak akan membiarkannya lepas dari jangkauanku... Ras phoenix?” Dia malangkahkan kaki menjauhi batu, “lepas dari ras iblis Ashura saja tidak bisa, apa lagi akan membawa Dewa perang, sangat mustahil.”


Dewa penjaga batu kehidupan segera membungkuk, “hamba tidak berani meragukan Dewa Di Qian.”


...****************...


Gelapnya malam tidak menganggu langkah kecil seseorang yang tengah berlari di atas atap, melompat dari atap satu ke atap lainnya. Dengan pendaratan mulus dan langkah kaki tak berbunyi, siapa saja tidak akan mendeteksi keberadaan orang tersebut. Itu adalah Yue Liang Zhi, dia tengah mempraktekkan qing gong untuk mencari keberadaan tuan muda klan Chen.


Yue Liang Zhi berhenti tepat di atap rumah paling tinggi, “Qiao Qiao kau menemukan sesuatu?”


Qiao Qiao segera menghentikan aktifitas berkebun, [tidak...,] jawabnya singkat, [dari karakter tuan muda Chen, pasti dia akan mencari penginapan terbagus.]


“Aku tahu!” Yue Liang Zhi mendengus dingin, hobi baru Qiao Qiao sedikit membuat kepalanya pusing. Bagaimana tidak? Setiap waktu hanya berkebun dan berkebun, bahkan sampai mengabaikan tuannya.


[Eh, kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?]


“Tentu untuk menganggumu!!!”


'Tuan yang tidak berperasaan,' pikir Qiao Qiao.


“Jangan memgumpat, aku mendengarnya!” Yue Liang Zhi terkekeh ringan, dia mendengar dengan jelas Qiao Qiao sekali lagi merutuki kebodohan diri sendiri sebagai roh sistem yang polos dan teramat blak-blakan.