The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter X]



Seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan mengerjap-ngerjapkan matanya, dilihatnya sebuah ruangan sempit yang menampung beberapa anak kecil. Ruangan itu seperti kurungan yang terbuat dari besi, bagian luarnya ditutupi dengan kain putih. Rasa sakit perlahan menjalar di kepalanya, ruangan sempit itu tiba-tiba bergoyang dan disertai derap langkah kaki kuda.


“Kau sudah sadar? Aku tadi sempat panik saat kau tidak sadarkan diri, tubuhmu sangat dingin seperti orang mati...,” anak perempuan di sampingnya berbicara sambil membantunya duduk dan memberikan roti kecil.


Diliriknya anak perempuan yang berada di sampingnya, dengan kepala yang masih terasa pusing, dia mengambil roti kecil itu dan membaginya menjadi dua, “terimakasih dan ini untukmu... Aku yakin kau juga belum makan.”


“Mmmm...,” gumam anak perempuan di sampingnya sambil menganggukkan kepala.


Kedua anak kecil itu melahap roti hingga habis sampai tak tersisa, mereka berdua bahkan sampai mengabaikan anak kecil lainnya.


“Siapa namamu?” Tanyanya lirih sambil memegangi kepala.


“Lei Hu, kau sendiri?”


“A... Aku... Aku tidak tahu siapa namaku,” dia semakin memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan, terlihat darah segar yang masih menetes dari kepala. Pakaiannya lusuh dan usang, wajah kecilnya tertutup tanah diberbagai tempat.


Hening, tak ada pertanyaan yang terlontar dari mulut Lei Hu. Terlihat beberapa anak perempuan menangis sesengukkan, ada pula anak yang menunjukan ekspresi ketakutan berlebihan.


Tiiinggg...


Bunyi kurungan besi yang di pukul dari luar, “diam!! Atau akan aku bunuh kalian sekarang juga!!” Beberapa anak langsung menutup bibirnya rapat-rapat, berbeda dengan anak perempuan di samping Lei Hu.


“Kau tidak takut? Padahal aku lihat umurmu masih lima tahun, bahkan kau lebih muda tujuh tahun dariku...,” tanya Lei Hu penasaran sambil merobek pakaiannya, dia memberikan kain sobekan pada anak di sebelahnya, anak itu tanpa basa-basi langsung mengambil kain dan melilitkannya di daerah kepala.


Terdengar hembusan napas kasar dari anak perempuan di sampingnya, Lei Hu hanya tersenyum kecil dan gemas akan kelakuannya, “air mataku memang tidak ingin keluar dan kau sendiri, kenapa kau tidak menangis seperti mereka?”


“Aku sudah lelah menangis, setelah aku pikir-pikir, untuk apa aku menangis? Mau aku menangis sampai keluar darah sekalipun, mereka tetap tidak akan perduli dan itu tidak merubah keadaan.” Lei Hu menunjuk semua anak kecil yang ada di sekitarnya, “kami semua adalah korban dari peperangan... Kekaisaran Huo menyerang kerajaan Lei, sedangkan Kerajaan Lei sendiri adalah bagian dari Kekaisaran Shan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah Kekaisaran Shan secara pribadi tidak tahu kalau wilayahnya telah diserang, padahal Kekaisaran kami memiliki jendral perang yang sangat teliti dalam hal seperti ini.”


Anak itu terdiam, “...”


Hanya satu kata, konspirasi! Tidak mungkin seorang Kaisar dan Menteri buta, kan?


“Tadi saat rombongan berhenti, para prajurit menemukan dirimu dan seorang anak perempuan yang usianya sama denganku, dia sekarang berada di kurungan lain. Mungkin, dia adalah jiejie[1]mu.”


^^^[1] Jiejie \= kakak perempuan. Digunakan oleh adik biologis atau diadopsi, sepupu dari generasi yang sama di pihak ayah, istri dan selir suami yang sama, teman dekat.^^^


Guncangan pada kurungan besi perlahan terhenti, kain berwarna putih yang menutupi kurungan itu dengan kasar dibuka, sinar matahari menyinari kurungan besi, beberapa anak mulai menyipitkan mata karena silau. Kegelapan yang beberapa hari ini menjadi teman dalam ketakutan para anak kecil, kini telah sirna, berganti dengan pemandangan hamparan gunun yang menjulang tinggi.


Jangan terkecoh dengan pemandangan itu!


Di balik keindahannya, terdapat lahan kosong yang terbentang sangat luas, beberapa orang yang memakai pakaian Kerajaan tengah mengelilingi lahan tersebut, tidak salah lagi, tempat itu adalah sebuah lapangan pembantaian! Bagaimana tidak pembantaian? Pada tengah lapangan terdapat kurungan besar yang berisi puluhan serigala liar, jika dilepaskan, sudah pasti serigala itu akan mencabik-cabik dan memakan daging manusia dengan beringas.


Seketika semua orang yang mendengar itu bersujud, kepala mereka bahkan sampai menyentuh tanah. Ada beberapa anak kecil yang tidak mau bersujud, mereka dihampiri oleh prajurit Kekaisaran, dibenturkannya kepala beberapa anak kecil dengan keras sampai menyentuh tanah, begitu pula dengan anak kecil yang mengenakan ikat kepala.


“Kaisar memerintahkan anak yang berusia di atas sepuluh tahun untuk masuk ke tengah lapangan... Para raja, ratu, pangeran dan putri, silahkan nikmati pertunjukan yang akan segera berlangsung.”


“Kami menerima dekrit kekaisaran,” teriak serempak para raja, ratu, pangeran dan putri.


Satu persatu, anak perempuan dan laki-laki ditarik paksa untuk memasuki arena lapangan. Seorang anak perempuan berusia dua belas tahun menghampiri anak di samping Lei Hu, dia memegang tangan dan kepalanya, “Yue Liang Zhi kepalamu kenapa? Apa mereka menyakitimu? Aku mencari-carimu sejak tadi, aku mengkhawatirkan mu,” ucapnya panik sambil memutar-mutar tubuh anak perempuan di depannya.


“Yue Liang Zhi? Siapa itu? Dan kau sendiri siapa?”


“Aku jiejiemu Bai Yun... Kenapa kau tidak ingat, apa karena kepalamu telah terbentur?” Tanyanya semakin panik.


“Jiejie?” Sebuah kilasan hitam mulai terlintas, terdengar suara seorang anak laki-laki yang memanggilnya dengan nama asing, 'kak Arista, aku menyayangimu...,' ucap Lux pada seorang gadis cantik di depannya.


'Siapa Arista dan siapa Lux? Aaaggghhh... Kepalaku pusing sekali,' Yue Liang Zhi memegangi kepalanya dengan erat, matanya terpejam menahan pusing.


“Yue'er kau—” perkataan Bai Yun terpotong saat salah satu prajurit menariknya paksa.


Yue Liang Zhi ingin mengulurkan tangan untuk membantu kakaknya, karena tangan yang terlalu pendek, dia hanya mengapai udara kosong. Saat menolehkan kepala, dilihatnya Lei Hu yang mengalami kondisi serupa, bedanya Bai Yun menunjukan ekspresi kesal dan Lei Hu menunjukan ekspresi kemarahan yang tidak terbendung. Yue Liang Zhi melangkahkan kaki kecilnya untuk menyusul, namun dengan kasar prajurit mendorongnya hingga terjatuh ke belakang.


Pantat kecilnya mencium tanah, dia bersumpah dapat merasakan beberapa batu menusuk pantat tak bersalah itu.


Puluhan anak kini berada di tengah lapangan, teriakan para Pangeran dan Putri dari Kekaisaran Huo bergema membuat bulu kuduk merinding. Banyak anak yang mendapat hinaan karena berasal dari daerah rampasan, terlihat wajah ketakutan yang amat mendalam tercetak jelas. Kurungan yang berisikan serigala di buka oleh prajurit kekaisaran, serigala itu seketika melompat dan menampilkan sisi kebuasannya.


Aaaauuuuuu...


Serigala-serigala itu membuka mulutnya lebar, terlihat taring yang tengah meneteskan air liur karena lapar, tanpa komando, semua anak yang berada di lapangan langsung lari berhamburan, tidak kalah ketinggalan serigala itu ikut berlari mengejar mereka. Terdengar teriakan dan tangisan yang teramat sangat memilukan, darah berceceran menghiasi lapangan, serigala itu mengoyak daging sampai tidak berbentuk, ada beberapa anak yang terus berlari tanpa kenal lelah. Panah para pangeran terus melesat mengenai beberapa anak yang tengah berlari, dengan sigap serigala yang melihat itu langsung menerjang buruannya.


Serigala dan penonton dari Kekaisaran Huo berteriak terdengar seperti seragam, tepatnya, mereka dapat dikategorikan sebagai hewan lantaran sama-sama tidak berperasaan.


'Ini namanya pembantaian secara masal!!' Pikir Yue Liang Zhi sambil mengepalkan tangan, matanya kini tertuju pada Bai Yun dan Lei Hu, melihat mereka berdua yang berlari kewalahan, Kemarahan perlahan berkobar dalam hatinya, telinganya saat ini sudah kepanasan karena mendengar teriakan meminta tolong yang di abaikan, 'aku harus menolong mereka...'


.


.


Catatan penulis:


Jika kalian merasa dejavu saat membaca novel ini dan berpikir bagian ini sama seperti film PA, maka jawabannya: iya. Karena, saya menyukai film PA dan menjadikannya sebagai inspirasi saya untuk menulis beberapa chapter.