The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter VIII]



Leon: “??”


Anak buah: ( ◉ _ ◉ )


Mereka yang melihat kejadian barusan langsung membelalakan mata. Selang beberapa menit memudian, barulah mereka tersadar dari lamuan mereka. Ada yang menggelengkan kepala, berusaha meyakini bahwa otak mereka masih berada di tempat yang semestinya. Dan ada yang menusap-usap mata, mengecek apakah mereka mengalami gangguan penglihatan.


Leon yang merasa sudah bisa mengontrol kembali tubuhnya, dia langung saja mengirim video itu kepada mantan bosnya.


Sementara Arista membersihkan diri di dunia lotus.


Terlihat roh sistem yang tengah merenung di pinggir kolam, melihat ini, Arista segera mendekati roh sistem. Pakaian dan tubuh gadis itu kini sudah bersih tanpa noda, suasana yang tenang dengan waktu yang berbeda, satu hari di dunia lotus sama dengan satu jam di bumi.


“Kau sudah selesai?” Tanya roh sistem dan hanya mendapat jawaban anggukan kepala, “aku merasa akan terjadi se... Ah, gawat! Lokasi Lux tidak terlacak!”


“Apa?” Arista terkejut dan langsung meninggalkan dunia lotus.


“Selalu saja pergi tanpa menungguku selesai berbicara,” roh sistem sedikit meratap.


Leon dan anak buahnya tengah berkumpul dikejutkan oleh kedatangan Arista yang tiba-tiba, pakaian yang dia kenakan kini bersih tanpa noda, “apa Luo Feng merespon pesanmu?” Tanyanya tidak sabar.


“Tidak, tapi dari tadi dia sudah membacanya,” jawab Leon bingung.


“SIAL!!! Aku kecolongan...,” Arista berteriak frustasi, “kita serang markas Luo Feng segera! Siapkan seluruh anak buahmu dan jangan banyak bertanya!!”


Kovoi[1] Leo dan Arista memenuhi sepanjang jalan.


^^^[1] Konvoi dalam dua definisi: Pertama, konvoi adalah iring-iringan mobil (kapal) dengan pengawalan bersenjata. Kedua, iring-iringan kendaraan (dalam suatu perjalanan bersama)^^^


Arista kembali mengendarai mobil merahnya, di sampingnya kini ada Leon yang tengah mengisi pistol dengan peluru, di belakang terdapat mobil hitam besar yang menampung semua anak buah Leon. Dengan kecepatan maksimal kedua mobil itu melaju tanpa henti.


Dia kemudian memasang earphone ke telinga, tangan kanannya memegang handphone dan mengetik beberapa angka, berusaha menghubungi seseorang.


Sementara itu, sasana tenang dan damai di Baili manor seketika musnah tatangkala tuan muda pertama mengebrak meja yang ada di depannya, Jiangxuan menunjukan ekspresi marah saat merasakan salah satu aray buatannya telah hancur, tidak berlangsung lama hpnya kemudian berdering ringan.


'Jiangxuan... Bukankah kau sudah memasang aray di sekitar Lux?' Suara panik menerpa pendengaran telinga kanannya.


“Ya, aku sudah memasangnya. Bahkan aray yang aku buat sangat kuat, hanya bisa dihancurkan oleh roh jahat,” dia menatap tajam saat menyebut kata roh jahat.


Gadis kecil di sebrang handphone terkejut, 'Roh jahat? Bukakah roh jahat adalah musuh bangi dunia seni bela diri kuno? Sedangkan Luo Feng bukan dari dunia seni bela diri kuno...'


“Ada apa lagi dengan Luo Feng?”


'Dia menculik Lux!!' Arista berteriak nyaring, secara otomatis Jiangxuan menjauhkan telinganya dari handphone dan linglung untuk sementara waktu.


Dia melangkah keluar ruangan pribadinya sambil memindahkan benda pipih itu ke telinga kirinya, “diculik? Bagaimana bisa? Jadi aray yang hancur itu... Aku yakin sekarang kau akan menyerang markas Luo Feng, katakan. Dimana markasnya?”


'Jalan Vetran blok B.'


Bunyi panggilan berakhir tidak membuat pikirannya yang tengah berkelana kembali normal, 'apa mungkin ini saatnya?' Pikirnya sambil melangkahkan kaki menuruni tangga, saat memijak tangga terakhir, dia dikejutkan oleh Jingxian yang membuka pintu kamar secara tiba-tiba.


“Mau kemana kau?” Jingxian mendekat ke arah Jiangxuan.


“Perang...,” Jiangxuan menekuk lengan bajunya, acuh dan terus berjalan lurus.


Tanpa aba-aba, Jingxian mengekori kakaknya sampai ke garasi mobil.


Jiangxuan yang melihat adiknya yang satu ini hanya menatap cuek. Kedua pria itu segera menaiki mobil hitam dengan Jiangxuan yang menyetirnya. Jalanan yang ramai tidak menghambat laju mobil, dengan santai Jiangxuan menambah kecepatan tanpa memperdulikan Jingxian yang berteriak histeris dan kalang kabut.


Di tempat lain...


Hua Mian merasakan sakunya yang bergetar, benda pipih berwarna putih pada layarnya tertera nama Arista. Tanpa basa-basi, dia langsung mengangkatnya, “hallo bos...,” seketika markas menjadi hening saat Hua Mian mengucapkan nama keramat tersebut.


'Kumpulkan semua anak buahku!!' Titah seseorang di sebrang dengan nada penuh kekhawatiran dan tekanan, dua detik kemudian suara itu kembali terdengar, 'jangan lupa persenjatai mereka sesuai kemampuan masing-masing.'


“Dimana lokasinya?”


'Di Jalan Vetran blok B, ada sebuah markas yang harus kita serang dan 30 menit dari sekarang!!'


“Siap laksanakan,” Hua Mian menutup panggilan, tanpa menunggu lama, semua orang yang ada di markas berkumpul dan memilih senjata sesuai kemampuan masing-masing anggota.


Hua Mian memimpin jalan menggunakan motor besar, di belakangnya terdapat tiga mobil besar yang menampung semua anak buah Arista. Mereka semua sampai pada lokasi yang dijanjikan, empat menit kemudian datanglah rombongan Arista yang disusul Jiangxuan.


Mereka semua mulai berkumpul, Arista berambut acak-acakan dengan pakaian yang serba hitam, tatapan mata tajam dan aura dingin yang keluar dari tubuhnya menambah kesan beringas.


Jiangxian terkejut dengan tampilan gadis yang satu ini, memang dia akui. Arista biasanya memiliki penampilan yang imut namun beringas di dalamnya, sedangkan saat ini gadis itu terlihat beringas luar dan dalam. Dia kira perang dalam dunia seni bela diri kuno, ternyata perang kali ini adalah untuk membantu Arista, ini bahkan terlihat lebih menakutkan dari perang yang telah dia hadapi sebelumnya.


Jingxian menyiratkan wajah penuh keluhan.


Jiangxuan membulatkan mata untuk mengancam adiknya, merasakan tatapan si korban yang adiknya tengah ditawan, dia segera berekpresi serius.


“Bunuh semua yang kalian temui di dalam sana, jangan sisakan satu orangpun! Ingat, prioritas utama kita adalah adikku, Lux Efret. Kalian paham?” Teriak Arista.


“Paham...,” jawab serempak anak buah Arista dan Leon, dengan semangat membara mereka semua bergerak menuju sebuah gedung.


Dia mengerakkan tangannya menunjuk gedung dan membuat lingkaran dengan tangannya. Para pemimin penyerang yang paham akan kode itu seketika berpencar, mereka membobol pintu dan jendela dengan brutal. Dia lalu menjentikan jarinya, seketika para pemanah dan penembak berpencar untuk menghalau musuh yang akan kabur.


Arista berjalan dan mengankat pedang katana di tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa pistol, pada sabuk pinggangnya terdapat tas kecil yang berisi peluru beracun. Leon bergerak maju di samping Arista, sementara Hua Mian, Jiangxuan dan Jingxian menyusul di belakang.


Pintu di tendang secara kasar oleh Leon, saat terbuka yang terlihat adalah ruangan kosong.


“Kosong?” Cletuk Jingxian nyaring.


“Diam bodoh! Ini namanya diam-diam menghanyutkan, terlihat kosong tapi aku yakin mereka sedang berkumpul di suatu ruangan,” omel Hua Mian.


“Aku tidak bodoh...,” elak Jingxian.


“Hua'er, jangan pancing kebodohan Jingxian untuk keluar,” Arista memprovokasi, “Jiangxuan, buat aray pelindung!!” Perintah Arista tiba-tiba.


“Kau—” perkataan Jingxian terpotong tatangkala qi yang di rubah menjadi angin menampar wajahnya.


Leon membelalakkan kedua matanya, dia lantas meringis meratapi ketidak tahuannya. Dia sangat yakin, dari semua orang ini dia akan menjadi ikan asin[2].


^^^[2] Untuk menjadi ikan asin, ikan hanya perlu diletakkan & dijemur, jadi istilah ini berarti 'tidak melakukan apa-apa/tidak berguna.'^^^


Pada sudut ruangan, terdapat rak buku dengan patung kecil di bagian rak yang kosong, hal itu berhasil menarik perhatian Arista. Mengerti akan cara kerjanya, dia memutar pelan patung kecil seratus delapan puluh derajat.


Terbukalah sebuah pintu rahasia, mereka semua mengambil ancang-ancang menembak. Arista melangkah sambil menangkat pedang katana, keheningan berakhir saat peluru melesat ke arahnya.


Aksi tembak menembak akhirnya terjadi, tanpa takut Arista menerjang peluru yang mengarah padanya, dia sama sekali tidak terluka sedikitpun. Tentu! Ini karena adanya aray buatan Jiangxuan yang selalu melindunginya.


Musuh tewas dengan kepala terpenggal, tertusuk dan ada juga yang tewas dengan kepalanya yang pecah. Di medan pertempuran kali ini, Arista dapat mengetahui tempat lawannya bersembunyi lewat pantulan bayangan pada katananya. Dia secara mendadak menembak tepat di jantung para lawan. Semua lawan yang tersisa telah ditebas habis oleh Arista, mereka semua kembali melanjutkan perjalanan.


“Luo Feng anak sundal, keluar kau!! Ayo hadapi aku secara langsung...,” teriaknya lantang hingga kulit semua oran mati rasa akibat teriakan itu.


Terdengar decitan kursi roda yang didorong, mereka menoleh dan mendapati Lux yang kepalanya ditodong pistol, “ingin menjebakku? Tapi, kau malah yang terjebak terperangkap ku,” cibir Luo Feng sambil melirik Leon sekilas.