
Halaman Kerajaan Yun timur kini masih ramai dengan aktifitas para pelayan, di pinggirnya, banyak para prajurit tengah berjaga. Semua aktifitas itu terhenti ketika Pangeran Yelu Yun berjalan mendekat, di belakangnya ada dua orang yang sangat Yue Liang Zhi kenal. Ya, dua orang itu adalah Bai Yun dan Lei Hu, setelah Pangeran Yelu Yun menghentikan langkah, seketika semua orang menunduk hormat.
“Berdiri...,” Pangeran Yelu Yun melambaikan tangannya ke atas, “para pelayan dari Kerajaan Yun barat, kalian dipersilahkan untuk kembali ke kediaman kalian, tidak perlu kembali pada malam nanti!!” Dia berbalik dan mulai melangkah, namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu, “pelayan lonceng perak! Kau jangan pergi terlebih dahulu, karena sepertinya, kau masih merlukan pelajaran tambahan sebagai seorang pelayan,” Pangeran Yelu Yun tersenyum penuh arti.
“Baik pangeran, akan hamba laksanakan...,” Jiao An menunduk sambil tersenyum manis.
Senyuman Pangeran Yelu Yun dan pelayan Jiao An tentu tidak luput dari pengelihatan Yue Liang Zhi, dia mengerutkan kening sambil menyipitkan matanya.
Dia jelas telah melimpahkan semua bukti dan kesalahan kepada Jiao An, hal itu seharusnya membuat Pangeran Yelu Yun murka. Tapi, keduanya terlihat senang saat diharuskan menghabiskan waktu bersama. Diam-diam dia mengangguk mengerti akan apa maksud senyuman itu, satu orang rupanya menjadi mata-mata dengan tujuan mendapat informasi dan dibagikan untuk banyak pihak.
Para pelayan membubarkan diri, mereka berjalan kembali ke Kerajaan Yun barat. Sepanjang perjalanan, Lei Hu dan Bai Yin bercerita tentang kejadian di gazebo kepada Yue Liang Zhi.
Yue Liang Zhi tidak menampilkan berbagai gelombang perasaan, dia hanya berulang kali berguman dan berusaha memasang wajah terkejut saat mendengarkan cerita dari Lei Hu dan Bai Yun. Dia berusaha menahan agar tidak tertawa terpingkal-pingkal, perutnya kram melihat kedua orang yang asik berceloteh seperti burung gereja.
Berbeda dengan kondisi kediaman Pangeran Yun timur.
Jiao An kini sedang duduk di pangkuan Pangeran Yelu Yun, dia mengelus dada bidang dan memberikan ciuman-ciuman nakal.
Napas Pangeran Yelu Yun memburu, tangan kirinya meremas pinggang ramping Jiao An. Tangan kanannya sibuk meraih dagu perempuan itu dan meminta ciuman menuntut.
Bunyi decakan dan kecapan beradu saling memuaskan diri.
Merasa harus melakukan bagian inti, Pangeran Yun Fengyin lantas sedikit menjauhkan perempuan itu.
Jiao An terdiam dengan manik berkabut, tangannya melepas sabuk hingga hanfu luarnya merosot menampilkan leher jenjang dengan beberapa titik merah kecil. Tubuh bagian atasnya kini terbuka dengan menampilkan sepasang gundukan yang menyembul keluar, dia sedikit mengosoknya pada dada kekar Pangeran Yun timur.
Perlahan tapi pasti, Pangeran Yelu Yun menusap pundak Jiao An dan menghasilkan sensasi mengelitik di telapak tangannya. Dia bertanya dengan suara serak, “kau yang melempar batu kecil itu, hm?”
“Batu? Tidak tuan, hamba tidak melempar apapun,” jawab Jiao An menikmati sensasi elusan tangan Pangeran Yelu Yun.
“Tidak? Bagaimana mungkin kau tidak melakukan? Saat aku akan mencium pipi pelayan itu, kau langsung melempar lonceng perakmu!” Pangeran Yelu Yun berhenti mengelus.
Tubuh Jiao An kaku mendengar pengakuan itu. Dia mulai menegaskan, “benar tuanku, hamba tidak melakukannya, lihat saja lonceng— eh?” Jiao An terkejut saat mendapati tusuk rambutnya hilang, “bagaimana bisa hilang?” Dia lantas berdiri dari pangkuan Pangeran Yelu Yun.
Pangeran Yelu Yun lantas memandang hanfu Jiao An, dia menaikkan alis kirinya, “dimana hanfu merah muda itu?”
“Ah...,” Jiao An seketika memandang Pangeran Yelu Yun. “Tadi, anak perempuan pendatang baru dari daerah rampasan merobek baju hamba tuan, dia bahkan berani melakukannya di hadapan semua orang dan menampar hamba tanpa berperasaan.”
Anak kecil? Pangeran Yelu Yun menerka dan mendapatkan gambaran pelaku sebenarnya, matanya kemudian menerawang kejadian perburuan, “tidak usah dipikirkan lagi! Sekarang, kau tau bukan tugasmu? Layani aku!”
“Baik tuanku,” Jiao An kembali duduk dan merasakan benda menganjal di selah pahanya, dia kembali menerbitkan senyum menggoda.
...****************...
Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu kini berada di belakang kediaman Pangeran Yun Fengyin. Mereka tengah menunggu datangnya Pangeran dingin itu. Beberapa menit kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan batang hidung.
Pangeran Yun Fengyin membawa beberapa buku tebal di kedua tangannya, perlahan, senyum secerah matahari terbit dari bibirnya saat menatap sosok Lei Hu. Namun, perlahan senyum itu lenyap saat dia menyadari tatapan Yue Liang Zhi. Dia berdehem untuk mengurangi kecanggungan, menolehkan kepala menghindari tatapan anak perempuan itu.
“?!!” Yue Liang Zhi menaik turunkan kedua alisnya sambil bersedekap, dia terkekeh geli melihat rona merah yang tersembunyi di balik rambut panjang Pangeran Yun Fengyin.
Bai Yun memandang keduanya dengan tatapan aneh dan Lei Hu memandang datar tanpa ekspresi. Pangeran Yun Fengyin melototkan matanya, dia memberi kode Yue Lang Zhi untuk diam dan jangan merayunya lagi, “kenapa kalian pulang dengam cepat? Apa terjadi sesuatu?”
Berusaha mengalihkan perhatian!
Dengan polosnya Bai Yun menjawab, “ya, Raja Yun Yong murka karena ada seseorang yang menganggu acara minum teh.”
“Hanya itu? Lalu, bagaimana dengan aduan kepala pelayan tentang kenakalanmu hari ini Yue'er?”
“Aku hanya berlatih menjahit dan mendandani wajah pelayan, hanya itu saja!” Yue Liang Zhi memajukan bibirnya sambil memasang muka polos, “dia telalu jelek sehingga perlu mendapat perbaikan diberbagai poin.”
Pangeran Yun Fengyin tertawa tapi bukan tawa, “hahaha... Aku yakin, tidak hanya itu!”
Yue Liang Zhi memutar bola matanya jengah, “baik, aku mengaku! Aku merobek pakaian dan menampar pipi Jiao An, mmm... Dan menghancurkan acara masak-masakan mereka berdua,” dia menunjuk Bai Yun dan Lei Hu.
Semua orang: “......”
Lei Hu: ( : ౦ ‸ ౦ : )
“Jadi kau?” Bai Yun dan Lei Hu sedikit ragu, mereka mendapatkan jawaban anggukan dan kedipan mata polos dari Yue Liang Zhi.
Jadi, ketika keduanya bercerita... Yue Liang Zhi sudah tahu tetapi berpura-pura tidak tahu apa-apa!
Keduanya memdadak merasa menjadi orang bodoh.
Semua orang berusaha mengontrol gemombang emosi dan mulai melakukan pelatihan. Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu akan memutari halaman sebanyak dua puluh kali, sementara Pangeran Yun Fenyin hanya duduk sambil mengawasi. Saat putaran kesepuluh, Bai Yun dan Lei Hu berhenti berlari dan menghirup udara. Keduanya merasa napasnya telah berada di ujung benang, berlari lagi maka akan langsung tak sadarkan diri.
Berbeda dengan Yue Liang Zhi, meskipun napasnya putus-putus, dia tetap berlari tanpa henti.
Pangeran Yun Fengyin mengerutkan kening saat melihat Yue Liang Zhi yang kini sudah memutari sebanyak dua puluh lima kali putaran, dia lantas berdiri dan menghampiri Bai Yun memberikan dua gelas air yang langsung habis dalam delapan detik.
Keringat membasahi tubuh Yue Liang Zhi, tanpa sepatah kata, dia segera melepas hanfu yang dikenakan dan hanya menyisakan da*laman. Semilir angin menerpa tubuh, keringat panas yang memgalir menjadi tanda kondisi tubuhnya saat ini.
Dari kejauhan, tiga pasang mata membulat ketika melihat kejadian yang terpampang jelas di depan mereka.
“Apa yang Yue'er lakukan?” Bai Yu bergumam sambil menunjuk hanfu yang tergeletak di tanah.
“Mungkin dia kepanasan, untung saja dia masih lima tahun...,” Pangeran Yun Fengyin mengelengkan kepala.
Lei Hu membuka mulut menimpali perkataan Pangeran Yun Fengyin, “latas kenapa kalau lima tahun? Kau ingin membawanya naik keranjangmu ha?”
Pangeran Yun Fengyin menyadari mantan tuan putri tengah menghitung dendam pribadi. Dia hanya mampu melayani permainan menggelikan ini, “untuk apa? Aku sama sekali tidak tertarik, Yue'er kan temanku. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan suka padanya, kenapa kau berbicara seperti itu? Atau jangan-jangan kau—”
“Hilangkan pikiran busukmu itu!!” Potong Lei Hu sambil berdecak pinggang.
“Kau sendiri yang membuka pikiranku menjerumus ke dalam hal yang ambigu!”
Mulut Lei Hu terbuka dan tertutup kembali ketika menyadari Pangeran Yun Fengyin hanya berniat menggoda, dia mendengus membuang muka.
Yue Liang Zhi sudah berputar sebanyak delapan puluh kali. Saat dirasa cukup, dia lantas melakukan gerakan push up, back up dan gerakan-gerakan aneh lainnya. Saat menyadari gerakan tubuhnya yang aneh dan berbeda dari biasanya, Yue Liang Zhi lantas terpaku di tempat. Dia merasa aneh, bingung dan pusing lantaran gerakan tadi seakan pernah dia lakukan secara berulang kali disuatu tempat. Kulit kepalanya mati rasa saat mengingat-ingat.
Terlihat kilasan hitam. Seorang gadis tengah mengepalkan kedua tangan dan memasang kuda-kuda, meninju, menendang, menangkis, mengelak dan melakukan kayang. Dengan reflek Yue Liang Zhi menikuti gerakan seorang gadis dalam pikirannya, tahap demi tahap dan gerakan demi gerakan telah dia lakukan. Yue Liang Zhi menangkaskan pukulannya dan menguatkan kuda-kuda, matanya menajam disertai hembusan napas pelan yang keluar dari mulutnya.
Gerakan itu ringan namun tegas, lentur namun kokoh dan lembut namun galak.
Loncatan ringan Yue Liang Zhi bersatu dengan liukan pohon yang tertiup angin, mendarat bak kupu-kupu di kuncup bunga yang akan menghisap nektar. Kekokohan tubuh dan punggungnya sekokoh pohon jati tua, sepasang mata hitamnya menutup erat bagaikan orang buta.
Hati Pangeran Yun Fengyin tersentak kuat, dia menampilkan pandangan heran. Hal sama terjadi pada Lei Hu. Keduanya lantas menatap Bai Yun penuh tanda tanya.
Bai Yun yang merasa diperhatikan langsung saja mengalihkan perhatiannya dari Yue Liang Zhi, “apa-apaan dengan cara kalian menatapku? Aku juga bingung dengan adikku sendiri!”
“Dia saja yang sebagai kakaknya bingung, apa lagi aku!” Lei Hu membalas tatapan penasaran dari Pangeran Yun Fengyin.
Alis Yun Fengyin terangkat, tidak mengharapkan Lei Hu ikut menjawab. Jujur, perutnya kini penuh dengan rasa manis.