The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter LI]



Salah satu pria berteriak sembari menarik pedang dari sarungnya, berjarak sekitar setengah meter dari leher yang akan di penggal.


“Maaatttii, kalian semua harus mati!!!” Semua anggota sekte hitam yang menjadi penonton mendadak berteriak gila, bertarung dan menebas sesama anggota.


Tangan si pemenggal tergantung di udara, dia heran dengan perilaku aneh anggota yang lain. Tengah menyelami kebingungan tiba-tiba akal sehatnya mulai goyah, tangannya semakin terangkat untuk menebas. Bukannya menebas kepala Pangeran Yun Fengyin, dia malah berbalik arah menyerang anggota sekte hitam, mereka semua mulai menggila saling serang tanpa bisa membedakan mana kawan dan yang mana lawan.


Tetua sekte hitam terpaku diempat, seperti robot kehilangan day. Matanya menemusuri anggota sekte, “hei, kalian kenapa? Kenapa saling serang?” Matanya membulat saat beberapa pria menyerang ke arahnya, “bukan aku yang harusnya kalian serang, tapi mereka!”


Kacau, itulah kondisi hutan saat ini. Mayat berjatuhan, puluhan kultivator masih menggila dan menebas apa saja yang ada di depan, adapun kultivator yang masih memiliki kesadaran tersendiri harus rela bertarung mati-matian.


Merasa suasana sudah terkendali seperti rencananya. Yue Liang Zhi segera berlari menghindari amukan masal, dia bergerak gesit menadekati Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying. “Mari memancing di air keruh[1],” dia menangkap mata pedang yang akan menebas ke arahnya, dua jari bak ranting mematahkan bilah pedang menjadi dua bagian. Tak tinggal diam, tangan kanan yang memegang patahan pedang segera dihunuskan ke jantung lawan, “mereka akan saling bunuh, sangat memudahkan jalan kita mencari rubah ekor sembilan.”


^^^[1] Memancing di air keruh artinya mencari keuntungan dalam keadaan yang kacau.^^^


Pangeran Yun Fengyin mengangguk sambil tersenyum, mulai paham akan arti keracunan yang sempat Yue Liang Zhi katakan. Ditariknya pedang dengan tangan kanan, serangan dadakan dari berbagai arah dia tangkis sempurna, kakinya melangkah mengikuti Yue Liang Zhi.


Tao Jianying merasa lega, dia tidak perduli akan sebab kekacauan ini. Hal yang perlu dipandang sekarang adalah kabut mulai berkurang, mungkinkan mereka mendapatkan berkah dari langit?


Yue Liang Zhi berlari diikuti Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying, mereka megarah ke hutan bagian timur. Gemricik air memenuhi indra pendengaran, kepakan sayap burung mengiringi melody indah yang berasal dari alam. Yue Liang Zhi menghentikan langkahnya, dia mengamati keidahan terselubung setelah kabut benar-benar menghilang. Pangeran Yun Fengyin menyarungkan pedang miliknya, Tao Jianying menyenderkan tubuhnya pada pohon.


“Ingin mencari rubah kemana? hutan ini sangat luas, bila harus menelusuri hutan tidak hanya memakan waktu dua hari,” sarkas Pangeran Yun Fenyin sambil menendang batu.


“Tapi, akan sangat bebahaya jika membiarkan rubah terus terbebas,” Tao Jianying memerosotkan tubuhnya, dia mengambil posisi duduk di atas akar besar.


Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying menghela napas kasar secara bersamaan.


Yue Laing Zhi ikut melempar batu, rasa bosan telah menguasai dirinya, “tunggu hingga matahari berada di atas kepala.” Dia sekilas memandang Tao Jianying, “bubuk dari tanaman Dú yālì akan bertahan hingga lima jam, kegilaan akan merasuki pikiran, membuat kultivator dan rubah menggila.”


Tao Jianying terkejut sambil menampilkan pandangan linglung, dia melihat ekspresi Pangeran Yun Fengyin. Sangat santai! Keningnya merengut membuat matanya sedikit menyipit, mendadak merasa menjadi orang bodoh bila berhadapan dengan pikiran diluar nalar dari dua orang. Sepertinya dia perlu mempersiapkan mental untuk kedepannya.


Jika Bai Yun dan Lei Hu dapat mendengar isi pikiran Tao Jianying, mereka berdua pasti akan berlomba mengacungkan tangan dan menjelaskan betapa sulitnya mencerna pikiran dua orang tersebut, apalagi pikiran anak perempuan yang kini tengah melempar batu kecil. Tao Jianying akan merasakan kejutan-kejutan kecil dari Yue Liang Zhi, kejutan yang amat kecil sampai membuat dirinya berkali-kali seperti terkena serangan jantung!


Matahari semakin meninggi, hutan yang mulanya tertutup kabut hingga sulit membedakan siang dan malam, kini terlihat kembali seperti semula.


“Aneh, tanda-tanda rubah ekor sembilan masih belum muncul,” Tao Jianying mendongak menatap langit, mengangkat tangan kiri untuk menutupi silaunya sinar matahari. Sinar matahari menerobos lewat celah jarinya, menyinari wajah dengan dua noda samar dan memantulkan cahaya hingga wajahnya terlihat lebih sedap dipandang.


Pangeran Yun Fengyin melangkah mendekati Yue Liang Zhi, “nona yakin, bubuk tanaman Dú yālì bekerja pada rubah betina yang tengah kita cari?”


“Sangat yakin,” jawab Yue Liang Zhi sambil memejamkan mata, menghirup dalam udara segar yang tak terkontaminasi polusi. “Rubah berekor sembilan seharusnya sudah menggila bersama dengan anggota sekte hitam. Namun, sedari tadi kita tidak merasakan kehadirannya.”


Tao Jianying menekuk kedua tangan di depan dada, “kecuali rubah tidak terkena—”


“Rubah Licik!” Sentak Yue Liang Zhi, Pangeran Yum Fengyin dan Tao Jianyin bersamaan.


Karena rubah tidak ikut menggila, hanya ada satu kemungkinan. Rubah ekor sembilan memang tidak berada ditempat dengan udara yang terbuka, mungkin, dia tengah menggulung ekornya dalam suatu lubang.


Tunggu, lubang?


Kata yang lebih tepat adalah rumah, dengan pintu rahasia kecil dan tersembunyi ditempat yang sulit diterima oleh akal sehat. Bayangkan saja! Anggota sekte hitam telah mencari untuk waktu yang lama, tanpa membuahkan hasil dan kini berujung penggurangan jumlah anggota. Mana ada seseorang yang betah tinggal berlama-lama dalam lubang tanpa rasa tenang, ya, rasa tenang dapat rubah ekor sembilan rasakan bila dirinya berada di rumah. Kemungkinan-kemungkinan mulai berputar di dalam kepala Yue Liang Zhi. Setiap mahluk akan memilih tempat tinggal berlokasi paling strategis, dekat dengan air, dekat dengan hewan dan tidak menutup kemungkianan tersembunyi dari jangkauan.


Dia mengambil kesimpulan yang berani, “saudara Jianying, saat kalian menuju Desa shen apa melalui beberapa tempat sumber mata air?”


“Tidak...,” jawab Tao Jianying singkat.


Pandangan mata Yue Liang Zhi tertuju pada air terjun, kedua alisnya terangkat selaras. Tubuhnya langsung berdiri tegak seiring tawa renyah yang menghiasi tepukan dari kedua telapak tangannya, “kita harus membalas kebaikan sekte hitam!”


Kedua laki-laki tersebut segera memberikan ekspresi aneh.


Tao Jianying ingin melempar batu besar yang ada di sampingya, memukul keras ke kepala iblis kecil hingga gegar otak, 'aku dan penjaga Feng hampir mati terpenggal, bagian mana yang merupakan kebaikan?'


Merasa pandangan menusuk dari arah berlawanan, Yue Liang Zhi segera tersenyum kikuk, “ayaa... Lupakan saja ucapanku barusan.” Dia mengusap hidungnya dengan tangan kiri, “penjaga Feng, saudara Jianying. Sebaiknya kita menyebar, cari sesuatu yang jangal. Aku memiliki firasat baik bahwa rubah ekor sembilan berada tidak jauh dari posisi kita,” dia mengintrupsi Pangeran Yun Fengyin dan Tao Jianying.


Dia berulang kali mengamati bagian bawah beberapa pohon, bahkan tak segan memutari satu pohon berulang-ulang bagaikan baling-baling yang tengah berputar.


Pangeran Yun Fengyin melesatkan pedang menuju air terjun, dia sebenarnya memiliki harapan jika air terjun di depannya sama dengan air terjun di belakang kediamannya. “Sangat sia-sia...,” laki-laki itu mengeram akibat tertampar kenyataan. Sudah tidak menemukan jalan rahasia, harus rela merengangkan tubuh mengapai pedang yang entah kenapa semakin berusaha semakin pula pedang menjauh darinya.


Jangan tanya Tao Jianying, kelakuannya sudah sebanding dengan kelakuan konyol Pangeran Yun Fengyin.


Rasa keputusasaan telah merasuki relung batin ketiganya, menjerat hati dan terus naik hingga mengikat otak, menuntun pada jalan kebuntuan dan kesesatan.


Tao Jianying mengusap kasar wajah sebagai tanda pasrah, Yue Liang Zhi dan Pangeran Yun Fengyin melangkahkan kaki ke arahnya.


“Menemukan sesuatu?” Tanya Pangeran Yun Fengyin sambil mengibas-ngibaskan pakaian yang basah.


Bukan menjawab pertanyaan, Tao Jianying semakin geram akan dimana letak keberadaan rubah itu, dia bahkan menghentakan kaki dengan keras ke tanah.