
“...” Jiangxuan hanya menjawab dengan kedipan dikedua matanya sambil memegang secangkir kopi.
Kardus yang sedari tadi dibawa Arista mulai dibuka, tanpa gentar. Bunyi ikatan pada plastik menambah getaran di jantung para menonton, “taaraaaa... Ini hadiah untukmu,” dia tersenyum menawan dengan menenteng kepala seorang pria, “kau ini, mengirimkan samsak tinju yang jelek. Lima kali tampar saja sudah KO, lain kali jangan menjadi penguntit atau aku jamin kau yang menjadi samsak tinjuku” ancam Arista sambil menunjuk Jiangxuan.
Jingxian menelan saliva secara kasar hingga bunyi nyaring itu teredam dalam tenggorokan, dia diam-diam memusatkan pandangannya pada leher Jiangxuan yang masih aman.
Baili Jiangxuan hanya menjawab sambil tersenyum manis tanpa menghiraukan kepala yang ada di meja, perlahan dia berjalan mendekat ke arah Arista, “sesuai julukan Queen mafia, selalu berdarah. Aku salut dengan kebranianmu, datang ke kandang singa tanpa persiapan...”
“Kata siapa?” Arista menodongkan pistol di kening Jiangxuan, “aku bisa dengan mudah menarikmu ke alam baka jendral Jiangxuan...”
Hati kecil Jingxian penuh keluhan, merasa menjadi orang yang paling bodoh di ruangan itu dan merasa seperti anak hilang yang terlantar.
“Kau bunuh aku, maka kau akan menyesal. Aku nanti akan merasuki tubuhmu, membuatmu tunduk pada dua wanita ular itu dan menjadi an*jing setia yang penurut. Aku jamin kau akan gila, lalu stres dan berujung menyusulku ke alam baka...”
“Ah, pemikiran yang brilian, tapi sangat gila! Aku sedikit salut, itu mungkin kalimat terpanjang dalam sejarah hidupmu di hadapan adikmu” cibir Arista sambil menuju ke kursi CEO.
“Kau mengincar Luo Feng? Hah... Sangat lucu, di sana kau mencari ba*jingan itu, tapi ibu dari anaknya tengah mengendalikan semua harta keluarga Efret, bahkan membunuh ayahmu!” Jiangxuan sambil menyesap kopi.
Arista kini mulai tertarik dengan arah pembicaraan, bahkan mereka berdua mengabaikan keberadaan Jingxian yang berdiri tengah sambil tercengang, “jadi?” Arista melirik Jiangxuan.
“Ya...”
“Mmmm... Bawahan yang memanjat ranjang rupanya, ayahku saja sampai dengan mudah tertarik dengan ular betina bersisik busuk,” Arista bersedekap sambil memutar-mutar kursi CEO.
“Tentang Leon...,” Jiangxuan melirik Arista dengan simpati.
“Ya, aku tau... Luo Feng berarti juga berbagi ibu dari anak mereka, Elisa putri Leon, aku mengetahui ini dari tes DNA anak buahku kemarin. Dengan bodohnya Leon terkecoh dengan akal busuk Luo Feng. Tenang, aku sudah memberikan kesempatan pada Leon, jika dia bisa bertahan selama dua hari dari siksaan anak buahku, maka aku akan senag hati pertemukan dia dengan Elisa...,” Arista memutar kursi menghadap ke jendela, “namun yang masih aku tidak tahu itu, dimana anak Luo Feng?” Keheningan terjadi setelah Arsta mengeluarkan kalimat terakhirnya.
...****************...
Rembulan menyinari gelapnya malam, dihiasi bintang bertutupkan awan tipis, udara dingin sebagai teman gadis kecil disetap malam. Hening, kesunyian, kesepian dan kesedihan, ya! Tidak salah lagi, gadis kecil yang dimaksud adalah Arista, almarhum ayahnya tidak pernah menganggap kehadirannya. Berusia muda namun sudah memasuki dunia bawah tanah, Arista sama sekali tidak gentar melawan musuhnya, hanya dua musuh yang dia lepas dari gengaman, ibu tiri dan adik tirinya.
Semua itu bukan tanpa alasan!
Dari awal, saat ayahnya membawa Imelda dan Elisa ke dalam Efret manor, dia sudah mengetahui apa tujuan sebenarnya kedua orang tersebut. Mereka hanya wanita ular pemuja harta keluarga Efret, sangat terlihat saat melihat binar keserakahan dari Imelda dan Elisa. Lewat buku diary yang di tinggalkan oleh ibunya, Arista mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan, Marcues Efret bukan ayah kandungnya, Marcues menikahi Soraya yang tengah hamil lima bulan.
Semenjak Marcues menikahi Imelda, dia sama sekalii tidak memperdulikan Arista. Bullyan? Cacian? Makian? Semua sudah menjadi makanan keseharian Arista, dimanapun dan kapanpun dia berada akan selalu ada orang yang merendahkan. Hal itu berakhir sampai seorang pria datang membantunya, pria yang mengubah hidupnya dan mengatakan, 'ibumu sebelumnya menitipkan ini padaku... Semua harta, sertifikat dan fasilitas lainnya.'
Pria dengan sejuta pesona dan penuh rahasia, dia adalah Baili Jiangxuan, pria yang tadi ditemui Arista. Soraya menitipkan semua hartanya kepada Jiangxuan, dari semua ini, yang paling mengesalkan darinya adalah saat Arista bertanya, “mengapa dari semua orang harus kau yang dititipi?”
Jiangxuan pasti akan menjawab dengan jawaban teramat narsis, “tidak tahu, mungkin karena aku tampan!” Memang, Arista akui dia pria yang tampan dengan usia dua puluh sembilan tahun tak mengurangi kadar ketampannnya, dua hal yang dia sayangkan, terlalu irit bicara dan narsis.
Berbeda dengan kondisi di Baili manor, Jingxian tengah mengintrogasi kakak terdinginnya, kedua orang itu saling berhadapan dengan tatapan dingin, bahkan Jiangxuan dan Jingxian sampai melupakan keberadaan Xiao Cen, “kau mengenal nona Efret?” Jingxian memberikan tatapan mengintimidasi, “kenapa kau tidak bilang padaku?”
“...” Jiangxuan menatap dingin.
“Baik, tak perlu menggunakan tatapan peperangan seperti ini...,” pasrah Jingxian.
“Ya, aku mengenalnya. Dari Almarhum ibunya, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri,” senyum Jiangxuan memprovokasi.
“Kau menganggapnya adik? Lalu aku ini siapa?”
“Dia lebih darimu, kau ingin bersaing kedudukan adik dengannya? Aku sarankan jangan, itupun jika kau masih sayang nyawamu...,” Cibir Jiangxuan
“Ck, kau ini! Kau pikir Arista dewa pencabut nyawa ha?”
“Dia Queen mafia...”
“Tuan muda... Tidak semua yang terlihat di mata kita sesuai dengan kenyataan, memang nona Arista adalah mafia kejam dan berdarah, tapi dia juga seorang jendral. Jenderal yang membantu negara saat terjadi peperangan, nona Arista memang terlihat rapuh di luarnya. Namun, sebenarnya sangat kuat, kemampuannya sama dengan orang-orang dari dunia seni bela diri kuno, jadi, jangan menilai seseorang hanya dari sampulnya saja tuan muda,” jelas Xiao Chen.
Kondisi dikedua tempat pada malam hari kian berlalu, siang hari dihari berikutnya...
Markas yang ramai seketika hening saat kedatangan dua orang berparas di atas rata-rata, Jiangxuan dan Arista tengah menjadi pusat perhatian saat ini. Di tengah kerumunan sudah ada Leon yang sudah babak belur, patah tulang di seluruh jarinya, bahkan darah segar masih menetes dari sudut bibirnya, “obati dia!” Perintah Jiangxuan pada anak buah Arista.
“...”
Jiangxuan menatap Arista sambil memberi kode dengan lirikan mata, 'anak buahmu sungguh setia padamu.'
“Lakukan!!!” Perintah Arista sambil melirik Leon, dengan kasar mereka membawa Leon ke ruang pengobatan, merasa diperhatikan, mereka segera menengok ke arah pimpinan. Merasa sedikit tertekan karena mendapatkan lirikan tajam, mereka akhirnya membawa Leon dengan cara yang lebih halus. Arista duduk di kursi pemimin dengan anggun, Jiangxuan menarik kursi salah satu anak buah Arista dan suduk di depan gadis itu, suara tepukan tangan sebanyak dua kali bergema saat Arista memberi kode.
Prok... Prokk...
Dengan tergesa-gesa datanglah seorang gadis, tidak salah lagi, gadis itu adalah Hua Mian. Dia nembawa sebuah map coklat di tangan kanannya, dengan santai Hua Mian memberikan map tersebut kepada Arista, “aku mendapatkan sebuah informasi baru...,” Arista membuka percakapan sambil membuka map, “lihatlah tato di tangan Luo Feng!!!”
“I— ini...,” Jangxuan sedikit mengingat-ingat.
“Ya... Ini sama persis seperti surat yang terselip di dalam dokumen dari Ibuku,” jelas Arista sambil memberi tatapan penasaran, 'kenapa kau kenal ibuku?'
“Mungkin karena ibumu mengira aku tampan...” Jiangxuan menaik turunkan kedua alisnya, “jadi Apa rencanamu?” Tanya Jiangxuan mulai serius.
Narsis yang tak tertandingi (。╯︵╰。)
Arista serasa ingin menangis darah saat melihat sisi lain Jiangxuan, “seperti rencana penjebakan Leon, aku yang akan menjadi umpannya...”
“Kau serius?”
“Apa kau lihat mukaku seperti badut ha?” Ejek Arista dengan mulut yang berkedut, “serahkan semua rencananya padaku.”
“Mmmmm...,” Jiangxuan mengangguk.
“Dan jika nanti terjadi apa-apa padaku, tolong rawatlah Lux dan berikan kedudukanku pada Hua Mian,” suara Arista mengecil.
“...” tidak ada jawaban dari Jiangxuan, dia hanya menatap Arista dengan penuh kasih sayang, jangan lupakan pandangan memuja darinya!
.
.
Catatan penulis:
Oh, Baili Jiangxuan dan Arista memiliki keterikatan sebagai kakak beradik.
Jingxian: “Kakak, kau sangat pilih kasih.”
Jiangxuan: (Menjawab dengan gumaman).
Jingxian: “Lebih baik aku menguburkan diri hidup-hidup”
Jiangxuan: “Xiao Chen!!! Cari sebidang tanah, bantu adikku menguburkan diri.”
Xiao Chen: ???