The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter XVII]



Setelah mendengar banyak pelayan yang membicarakan Yue Lian Zhi, Bai Yun dan Lei Hu. Kepala pelayan tersenyum puas dan melirik ke arah pelayan yang memiliki lonceng perak di kepalanya, mereka berdua sama-sama menganggukkan kepala penuh arti.


“Baik, langsung saja kita menuju Kerajaan Yun timur!!” Kepala pelayan menuntun mereka, dia berada di depan dengan membawa cambuk di tangan kanannya.


Cambuk melambai-lambai bagaikan ekor kuda, bergerak liar seiring langkah kaki kepala pelayan.


Barisan paling belakang berisi tiga orang hilang, gerakan mereka lemas seperti daun kering di musim gugur.


Bai Yun berbisik ke telinga Lei Hu tanpa memperhatikan raut wajah pihak lain, “tapi kita belum makan, ah~ sangat lapar~~~”


“...” Lei Hu diam sembari mengelengkan kepala, dia lalu menunjuk ke arah kepala pelayan dan cambuk yang ada di tangannya.


Keduanya bersumpah melihat cambuk itu bergoyang ke arahnya, entak sadar atau tidak, keduanya kini telah mundur tiga langkah.


Bai Yun menelan saliva kasar, ingatan saat kepala pelayan yang sedang mencambuk mereka masih tercetak jelas dalam memorinya.


Berbeda dengan Yue Liang Zhi, dia masih asik mengamati Pangeran Yun Fengyin yang tengah memberikan bingkisan kain pada prajurit. Tidak menunggu lama, prajurit itu kian mendekat ke arahnya dan mengulurkan bingkisan kain dari Pangeran Yun Fengyin.


“......” Yue Liang Zhi menerima bingkisan kain tersebut, lalu menoleh ke arah Pangeran Yun Fengyin.


Pangeran Yun Fengyin mengerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara, Yue Liang Zhi menangkap kata 'ambil saja dan makanlah.'


“Yue'er, kenapa kau masih diam saja? Nanti kau tertinggal...,” teriak Lei Hu dari kejauhan, Yue Liang Zhi segera berlari kecil menuju mereka berdua.


“Apa itu?” Bai Yun bertanya dan mengambil bingkisan kain dari tangan adiknya. Perlahan dia membuka bingkisan tersebut, hingga terlihat tiga roti besar yang masih mengepul.


Yue Liang Zhi pasrah melihat mata anjing keduanya, dia lantas berkata malas, “Fengyin gege—”


Tanpa basa-basi, Lei Hu meyambar roti itu lalu memakannya dengan lahap, dia seakan lupa saat ini tengah berjalan dengan langkah kaki yang lebar.


Bukankah ini sedikit mirip dengan babi?


Semua orang: “!!!”


Entah mengapa, Bai Yun merasa nafsu makannya sedikit turun.


Bai Yun: “Dia dulu benar-benar seorang Putri dari Kerajaan Lei, kan?”


Tangan kecil Yue Liang Zhi memegang roti, hanya mata bulatnya yang berkedip. Dia sendiri hampir tidak mengakui Lei Hu sebagai seorang putri sekaligus temannya.


Dari tengah halaman, Pangeran Yun Fengyin tersenyum sambil memiringkan kepala saat melihat kelakuan Lei Hu.


Dia merasa ada kucing kecil yang tengah menggaruk hatinya, sudut bibirnya naik membentuk senyum konyol.


Merasa ada yang salah, dia langsung mengelenggkan kepala mengusir pikiran ambigu yang berkelana bebas. Dia kemudian merasa diperhatikan oleh prajurit yang berada di sampingnya. Wajahnya kembali datar dan kembali acuh, “kau sebaiknya menjaga pintu gerbang dengan baik dan benar, jangan hanya mengamati hal yang tidak perlu diamati!”


Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu melewati beberapa warga Kerajaan Yun barat. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa aktifitas para pedagang dan pembeli yang melakukan transaksi jual beli, beberapa anak kecil yang berlarian membawa mainan dan ada yang melakukan permainan drama kecil.


Namun setelah melalui perbatasan dan sampai di Kerajaan Yun timur, semua pemandangan damai dan tenang sudah berubah. Para pria Kerajaan Yun timur nemperlakukan perempuan dengan kasar, tak jarang mereka bertiga melihat wanita yang lehernya tengah terlilit rantai, beberapa wanita bahkan berdiri dengan kondisi te*lanjag bulat.


Salah satu meja di kedai penuh dengan pria yang berjudi sembari memangku wanita.


Napas ketiganya tersendat menahan emosi.


“To—long...,” pinta seorang wanita yang berwajah lebam dan tidak mengenakan selembar pakaian, tangannya terulur dengan jari yang bergetar.


Saat Yue Liang Zhi hendak meraih lengan wanita tersebut, dia terhenti dan dengan paksa menarik tangannya kembali karena teriakan seorang pria dari dalam rumah.


Tubuh wanita itu tersentak dengan kaki tersandung, kepalanya masih menoleh ke arah ketiganya sampai pintu rumah tertutup rapat.


Bai Yun menarik lengan adiknya untuk kembali ke barisan, belum sempat mereka berjarak jauh dari rumah tersebut, terdengar teriakan seorang wanita yang merintih kesakitan dan pria yang me*ndes*ah.


Kaki mereka berat untuk dilangkahkan, hingga mereka akhirnya memilih untuk diam dan menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.


Tidak lama setelah itu, wanita yang tadi meminta tolong tiba-tiba terlempar keluar rumah. Bai Yun menegang saat memegang pergelangan tangannya, “mati?”


Kepala Bai Yun dan Lei Hu seketika kosong.


“Keparat!!! Benar-benar tidak bermoral!!! Mereka sama saja, entah itu Kekaisaran Huo bahkan Kerajaan yang penjilat Kekaisaran!!” Geram Lei Hu.


Perilaku Kaisar adalah contoh bagi Raja dan warganya. Jika Kaisar tidak adil, maka para Raja dan warganya juga akan ikut tidak adil. Jika Kaisarnya bejat, maka para Raja dan warganya juga akan ikut bejat. Begitu pula jika Kaisar berperikemanusiaan, maka para Raja dan warganya juga akan berperikemanusiaan. Siapa yang akan mengingatkan jika Kaisar, Raja, pejabat dan para pria melakukan kesalahan? Tentu saja seorang wanita! Tapi, seorang Ratu, selir dan wanita, hanya mereka anggap sebagai mesin pembuat anak. Apa mereka berani menentang Kaisar? Tentu saja tidak! Kesalahan ini pasti akan berlanjut hingga akhir.


Yue Liang Zhi menghela napas kasar, “aku yakin, hanya sedikit Kerajaan yang memperlakukan wanita dengan baik seperti Kerajaan Yun barat.” Dia segera menarik tangan Bai Yun dan Lei Hu, kemudian berlari untuk menyusul rombongan para pelayan.


Tibalah mereka di Kerajaan Yun timur, terlihat pintu gerbang yang lebih megah dari Kerajaan Yun barat. Saat pintu terbuka, terlihatlah pemandangan pelayan yang tengah bekerja menyapu, mengepel dan mengelap. Yenny segera menggiring mereka menuju halaman kediaman anggrek.


Segera, kepala pelayan Yenny membagi tugas masing-masing pelayan. Yue Liang Zhi bertugas untuk membersihkan halaman Istana Kerajaan, Bai Yun dan Lei Hu bertugas untuk menyiapkan teh untuk Raja Yun Yong dan Pangeran Yelu Yun.


Pada gazebo taman yang indah, Raja Yun Yong memandang Pangeran Yelu Yun dengan pandangan mencibir, “kau harus bisa memikat hati Putri Mahkota, jangan kalah dengan anak si cacat itu!!”


“Ayah, aku sudah mencoba berbagai cara untuk menarik perhatian Putri Mahkota Huo Chyou, tapi, dia selalu memandang Yun Fengyin...,” Pangeran Yelu Yun memandang Raja Yun Yong yang tengah memangku seorang pelayan.


Pelayan itu berpinggang ramping, berwajah tirus dan manis. Baju luarnya merosot hingga pinggang, baju dalamnya terselip tangan Raja Yun Yong yang sibuk meremas sesuatu.


“Kau memang anak yang tidak berguna, seperti ibumu yang pelayan rendahan!! Ingat, aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mulutmu... Kau harusnya sadar diri, kau itu memiliki gelar Pangeran karena belas kasihan,” Raja Yun Yong meremas gundukan pa*yudara pelayan yang ada dalam pangkuannya, itu sukses membuat suara lenguhan.


Pangeran Yelu Yun mengangguk, di bawah meja dia mengepalkan tangan dengan kuku yang menusuk daging.


Kegiatan tiga orang dalam gazebo terhenti saat dua anak perempuan tengah berjalan mendekat. Ya, dua anak perempuan itu adalah Bai Yun dan Lei Hu. Perlahan, smirk licik terbit di bibir Pangeran Yelu Yun.


“Hormat kami Raja Yun Yong dan Pangeran Yelu Yun...,” Bai Yun menunduk hormat.


“Lancang sekali kalian hanya menunduk! Kalian itu harusnya bersujud menyentuh tanah!!” Raja Yun Yong mengebrak meja, sambil menyingkirkan pelayan yang ada di pangkuannya.


“Ayah, tenaglah... Mereka adalah pelayan dari Kerajaan milik paman, apa lagi mereka adalah mantan tahanan Kekaisaran.”


“Ah, aku lupa, mereka adalah anak-anak dari daerah rampasan. Baiklah, kali ini akan aku ampuni kalian,” Raja Yun Yong melambaikan tangan mengusir pelayan yang tadi di pangkunya.


Pelayan segera membenarkan pakaiannya, dia memberikan wajah kurang puas.


“Kita akan melanjutkannya nanti,” Raja Yun Yong berucap penuh godaan dan ekor matanya melirik pelayan yang bersujud ke tanah. Pelayan itu memiliki rona merah dan mendapat pengantaran mata panasnya hingga sosok itu hilang dari pandangan. Dia mendengus, “kemari dan layani kami...”


Bai Yun membilas daun teh dengan perlahan, hal ini dilakukan untuk merangsang teh agar siap berekstrasi dari kondisi saat kering. Setelah selesai, Lei Hu lantas menyeduh teh selama lima belas hingga dua puluh detik, kemudian dia mengangkat poci teh itu dan bersiap-siap menuangkan ke dalam cangkir Raja Yun Yong dan Pangeran Yelu Yun.


Namun saat Lei Hu hendak menuangkan ke dalam cangkir Pangeran Yelu Yun, dia terkejut tatangkala tangan Pangeran Yelu Yun yang mengusap pipinya.


Bai Yun memandang geram ulah Pangeran yang ada di depannya ini, sementara Lei Hu tetap menuangkan teh dengan tangan yang gemetar.


Setelah di pastikan cangkir terisi, Lei Hu lantas meletakan poci ke meja.


Namun hal yang tidak terduga kembali terjadi, Pangeran Yelu Yun berdiri dari posisinya dan hendak mencium pipi Lei Hu.


Pletakk...