The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter XXXI]



Tidak terima dengan perlakuan Yue Liang Zhi, Jiao An segera mendekat ke arah anak kecil itu.


Bunyi tamparan menggema, dapat diprediksi tamparan sekeras itu akan menimbulkan rasa pedas, pedih dan membekas.


Merasa puas setelah mendaratkan tamparan keras di pipi lemak susu Yue Liang Zhi, Jiao An segera tersenyum penuh kemenangan dan pastinya senyum itu juga terbit di bibir pelayan lain. Siapa sangka! Bai Yun dan Lei Hu mengelengkan kepala sebagai bentuk prihatin, roh sistem? Qiao Qiao tentu sedang tertawa sambil memegangi perutnya, [bodoh, dia sangat bodoh! Berani membangunkan singa betina yang sedang tidur, bahkan berlagak seperti memiliki banyak nyawa!]


Hanya orang bodoh yang berani menyinggung Yue Liang Zhi. Sudah ditentukan nasib Jiao An kedepannya, antara mati mengenaskan dan hidup tapi terasa mati.


Yue Liang Zhi memegangi pipi kiri yang tertampar, dia memalingkan muka menghadap Jiao An dan tangannya perlahan mulai turun seiring anggukan. Tampak seringai devil muncul mendorong bulu kuduk berdiri paksa, “katakan, kau ingin mati model seperti apa?” Tanpa menunggu jawaban, dia segera memukul mundur Jiao An, hal itu tentu sukses membuat pelayan lainnya membelalakkan mata.


Jiao An terpaku di tempat, dia heran, kenapa anak kecil sepertinya memiliki tenaga yang besar? Namun, keheranannya luntur saat Yue Liang Zhi hendak kembali menyerang. Terjadi aksi saling pukul, hal yang tidak terduga kembali terjadi, terkuak informasi baru yaitu mantan pelayan lonceng perak adalah seorang kultivator.


Perempuan itu bersembunyi terlalu dalam.


Bung... Bungggg...


Bunnnggg... Bbbuuunnngggg...


Jiao An terpental mundur. Tak sampai di situ, Yue Liang Zhi segera mengapai selimut besar dari jemuran dengan tangan kanan. Dia mengulurkan selimut itu untuk membelit kencang tubuh Jiao An.


Setelah selimut melilit tubuh Jiao An hingga hanya menampilkan bagian kepala saja, dia segera mendorong gumpalan selimut jatuh ke tanah. Hasilnya, sangat spektakuler! Jiao An tergulung dalam selimut seperti kepong-pong, banyak dari pelayan yang terkikik lucu. Bisa diduga, para pelayan sangat senang dengan penderitaan Jiao An.


Bagaimana tidak senang? Jiao An sangat suka menganggu dan menekan pelayan lonceng tembaga hingga sengsara, kini si penganggu sekaligus perusuh sedang tersiksa, tentu mereka mewajibkan diri mereka sendiri untuk tertawa. “Hahahahaha... Lihat itu!! Wajah tersiksanya sanagt lucu, mungkin itu balasan dari hal jahat yang dia lakukan pada kita?”


Yue Liang Zhi mencari tambang besar di dapur, dia bergerak cepat sebelum Jiao An berhasil lolos. Molompat cepat bagai singga memburu mangsa. Tidak perlu menunggu lama, dia kembali melenggang dengan tambang di tangan kanannya. Ekor mata bulatnya menangkap tiga sosok pelayan tengah membantu Jiao An melepaskan diri dari lilitan selimut. Naasnya, sebelum Jiao An berhasil bebas, ketiga pelayan itu langsung dipukul mundur olehnya.


Memastikan semua gangguan telah kalah dan terkapar,  dia dengan cekatan mengikat tambang di luar selimut hingga tambang itu kian membelit tubuh Jiao An. Cekikan selimut kian bertambah kuat hingga seakan siap meremukkan tubuh murahan itu.


Sudah tersiksa kini tambah tersiksa. Bagi Yue Liang Zhi, siksaan itu hanya mencapai level terendah dari buku kecilnya. Dia sendiri masih terlalu malas melenyapkan nyawa Jiao An, berpikir perempuan ini masih sedikit memiliki nilai fungsi.


Sedetik kemudian melempar ujung tambang ke pohon yang ada di sebelahnya, lalu melompat tinggi mencapai ujung tambang dan membuat Jiao An tergantung terbalik, tentu adegan itu disambut dengan gelak tawa yang meledak-ledak dari semua pelayan.


Jiao An muntah darah:╭∩╮(  ̄へ ̄ )ノ


Bai Yun dan Lei Hu merasa bangga.


Tanpa Yue Liang Zhi sadari, salah satu dari ketiga pelayan yang tadi membantu Jiao An mendadak melemparkan jarum beracun ke arahnya. Tiba-tiba, seseorang menariknya ke samping untuk menghindari jarum tersebut, “ge— Pangeran Yun Fengyin?” Dia meralat cepat.


Ya, orang yang menyelamatkan Yue Liang zhi adalah Pangeran Yun Fengyin, “ada apa ini?” Tanyanya tegas dan penuh kharisma.


Gelak tawa berhenti, suasana menjadi mencekam dan horor.


Suara penuh keluhan memecah keheningan, “ampuni hamba Pangeran, pelayan lonceng perak yang baru ini, ingin mencelakai hamba.” Jiao An berlinang air mata, hal itu sukses membuat Pangeran Yun Fengyin memerintahkan ketiga pelayan yang babak belur untuk melepaskan Jiao An.


“Aku mencelakai mu?” Yue Liang Zhi menunjuk dirinya sendiri dengan lucu, “tidak salah? Kau yang berniat mencelakai Pangeran!!”


“Mencelakai Pangeran?” Jiao An menunjuk diri sendiri dengan ekspresi konyol.


Yue Liang Zhi menguatkan tuduhan, “kau menyiram kayu bakar saat kami tengah membuat bubur. Kau tentu tahu bubur yang kami buat adalah sarapan pagi untuk Pangeran Yun Fengyin dan sengaja nembuat Pangeran kelaparan tanpa mengisi perut dipagi hari.”


Jiao An menampilkan ekspresi buruk, sekarang dia bahkan ingin pingsan karena darah tinggi.


Kalimat yang keluar dari mulut Yue Liang Zhi membuat semua orang tak mampu berkata-kata. Memang ada tuduhan konyol seperti itu?


Tapi... Membuat Pangeran Kelaparan juga merupkan suatu kesalahan dan kejahatan bagi pelayan, ya tapi... Juga bukan seperti itu.


“Lalu, kenapa baju pelayan Jiao An basah? Sangat jarang menemui hujan lokal,” tanya Paneran Yun Fengyin. Dia sendiri sebenarnya sudah tahu alasan basahnya baju Jiao An, karena sedari awal dia memang menonton hingga akhir kejadian.


Gigi Jian An berbunyi lantaran menahan kesadaran agar tidak mengamuk, “pelayan Yue sendiri yang—”


“Hamba marah Pangeran!” Yue Liang Zhi memotong ucapan Jiao An. “Pelayan Jiao An menyiram api dengan air, hamba tahu pelayan ini sedang terbakar api cemburu lantaran posisinya telah tergeser secara paksa, maka dari itu hamba sengaja menceburkan dia ke dalam kolan ikan.”


“Pft...,” Lolos sudah tawa Pangeran Yun Fengyin.


Yue'er ini terkadang polos seperti domba kecil, imut seperti kelinci, licin seperti belut dan galak seperti predator pemangsa daging.


Jiao An merasa tidak terima akan penjelasan tersebut, dia lantas menuntut keadilan, “Pangeran, hamba hanya menyiram kayu dan pelayan Yue membuat hamba malu di hadapan pelayan lain. Hamba meminta keadilan Pangeran!”


“Keadilan?” Beo Lei Hu, “keadilan dari mananya? Yue'er hanya mengikatmu, bukan membunuhmu. Yang seharusnya meminta keadilan adalah Yue Liang Zhi, dia tadi hampir terkena jarum beracun!!” Lei Hu berteriak sambil menunjukkan jarum beracun yang tadi melesat ke arah Yue Laing Zhi.


Bai Yun memandang mencibir ke arah Jiao An, “kau mau meminta keadilan, dengan kami melemparkan jarum beracun ini kembali ke arahmu bukan?”


“Hamba dituduh Pangeran, hamba tidak meminta ketiga pelayan itu untuk melempar jarum beracun ke arah pelayan Yue...”


“Di tuduh ya?” Tanya Pangeran Yun Fengyin dan mendapat jawaban pucat pasi dari ketiga pelayan yang membebaskan Jiao An.


“Tidak Pangeran—”


“Tidak -tidak—”


“Kami—”


Mereka bertiga mengelengkaan kepala dengan cepat.


“Kembali ke kediaman pelayan, dapatkan kedisiplinan dari kepala pelayan Yenny!!” Titah Pangeran Yun Fengyin, segera saja mereka bersujud ke tanah dan meminta ampun.


Keputusan tetaplah keputusan, sekeras apapun mereka bersujud, Pangeran Yun Fengyin tetap tidak akan mengampuni mereka. Tentu, semua memiliki alasan tersendiri. Hari ini, tanpa disadari mulai terkuak topeng-topeng yang tersebar di Istananya. Setelah mereka ditarik paksa, dia menatap dingin ke arah Jiao An, “bubar dan selesaikan pekerjaan kalian masing-masing!! Pelayan Jiao, sekali lagi kau menganggu pelayan pribadiku, kau akan menderita, paham?”


Jiao An membungkuk, “paham Pangeran...,” ucapnya dengan tulus.


Namun, jangan remehkan kejelihan Yue Liang Zhi! Mau Jiao An terlihat tulus, suara dibuat-buat, berdrama, berpura-pura lemah bahkan menjadi pemuas na*fsu. Dia akan selalu bisa melihat kedok yang disembunyikan.


Para pelayan bubar dan kembali mengurus pekerjaan yang sempat terbengkalai.


Pangeran Yun Fengyin, Yue Liang Zhi, Bai Yun dan Lei Hu kini berada di kediaman Pangeran, mereka sedang bersiap melatih diri mereka sendiri.


Pangeran Yun Fengyin sedang asyik membaca beberapa jurus untuk menyempurnakan gerakannya, beberapa buku menumpuk di samping tubuhnya sampai-sampai menutupi teko dan cankir.


Yue Liang Zhi sedang memegang busur di tangan kanan, tangan kirinya memegang pedang dan di punggungnya terdapat quiver[1].


^^^[1] Quifer adalah wadah tempat anak panah, biasanya di taruh di pinggang, punggung dan di tanah.^^^


Bai Yun tengah mencabut pedang dari sarungnya, bersiap melatih teknik berpedang. Dia tampak beberapa kali memutar pergelangan tangan hingga pedang itu sedikit berayun.


Sementara Lei Hu, dia sedang berkultivasi meningkatkan level kultivasinya. Duduk dalam posisi lotus, menyerap energi langit dan bumi. Sosok cantiknya tenang dan anggun, merasa pergerakan di sekitarnya bukanlah sebuah gangguan besar.


Mereka mulai fokus dengan kegiatan masing-masing. Yue Liang Zhi berdiri dengan ujung kaki lurus sama tengahnya target, kakinya di buka selebar bahu dengan posisi tubuh yang masih tegak. Dia meletakkan anak panah di busur panah, setelah itu, mulai menarik string[2] dan menoleh ke arah target.


^^^[2] String adalah tali busur.^^^