The Queen Of The Dark

The Queen Of The Dark
Rebirith Of The God Of War [Chapter XXXVII]



Bai Yun menuangkan teh ke dalam cangkir kecil Pangeran Yun Fengyin, sedangkan Yue Liang Zhi dan Lei Hu sedang asyik menatap pemandangan taman kecil di belakang kediaman Pangeran Yun barat.


Awan mengumpul mengurangi teriknya matahari, angin ringan berhembus menerbangkan beberapa dedaunan kering. Bunyi gemricik air tejun sedikit mengejutkan ikan koi yang tengah berenang ke sana ke mari. Kenyamanan ini membuat mereka candu, ketenangan ini membuat otot yang semula tegang menjadi mengendur.


“Mmmm, anu... Mungkin ini sedikit mengganggu, tapi aku sangat penasaran. Apa Yue'er benar-benar telah membunuh kepala pelayan Yenny?” Beo Bai Yun menghancurkan suasana keheningan.


Lei Hu yang kini berada di samping Yue Liang Zhi seketika membuat jarak dengan anak itu, tubuhnya meremang tanpa alasan yang jelas. Bila dia memiliki bulu pada sekujur tubuhnya, sudah pasti bulunya akan tegak seperti tersengat listrik, “...” pandangan matanya menelusuri tubuh kecil Yue Liang Zhi dan mengeleng kepala dengan ringan.


Merasa itu adalah hal yang tidak mungkin.


Bukannya menjawab pertanyaan Bai Yun, Yue Liang Zhi kini balik bertanya, “memang kenapa?” Dia menatap langit biru sambil mencibir, “dia pantas mati! Dewa pencabut nyawa seharusnya mengambil nyawanya dari dulu, bukan menunggu anak kecil sepertiku mengambil tugasnya.”


Semua orang pucat: ( ⊙﹏⊙||| )


Melihat Lei Hu yang duduk di sampingnya tengah melotot tanda ketidak percayaan, dia hanya terkekeh pelan, “membunuh sekarang maupun dimasa depan tidak ada bedanya bukan? Suatu hari nanti, kita pasti akan membunuh banyak nyawa saat berperang dengan Kaisar Huo, jadi terbiasalah...”


Terbiasa untuk membunuh?


Itu terdengar sangat santai tanpa beban, hampir mirip seperti penyembelih di tempat pemotongan unggas.


Pangeran Yun Fengyin menyemburkan teh yang ada di mulutnya, dia sudah menyiapkan hati dan pikiran jika nanti Yue Liang Zhi menjawab pertanyaan di luar akal sehatnya. Tapi, dia tetap merasa terkejut saat mendengar jawaban tanpa dosa yang terlontar dari mulut anak itu. Memang betul, dimasa depan tangan mereka akan penuh dengan darah. Tapi bukankah agak mencengangkan? Yue Liang Zhi baru berumur lima tahun, sementara Bai Yun dan Lei Hu yang notabenya lebih tua, jangankan membunuh, mengankat senjata untuk melawan penjahat saja tidak pernah! Dia secara diam-diam mengiyakan dalam hati, karena bagaimanapun, sistem yang kuat akan dijunjung dan yang lemah akan diinjak masih sangat berlaku dalam Kekaisaran Huo.


“Bagaimana Yue'er bisa setenang itu?” Lei Hu merasa kembali terkena serangan jantung.


Bai Yun memikirkan sesuatu. “AAAaaa...,” triaknya sukses membuat pandangan ketiga orang beralih kepadanya, “jika Yue'er benar-benar membunuh kepala pelayang kediaman anggrek putih, bukankah mayatnya besok akan segera ditemukan dan—”


Prajurit masih menguras kolam, hanya butuh beberapa waktu hingga menampakkan dasar kolam yang penuh lumpur. Setelah itu, bukankah akan lebih mudah untuk menemukan mayat kepala pelayan kediaman anggrek putih?


Yue Liang Zhi tidak bisa membatu, memotong ucapan dan berusaha menghentikan kepanikan kakaknya, “santai, santai! Mayat kepala pelayan tidak akan pernah bisa ditemukan.”


Yun Fengyin merasa aneh dengan tingkat kesantaian Yue Liang Zhi, “kenapa Yue'er begitu yakin? Bukankah Yue'er membunuh Yenny dan mendorong mayatnya ke dalam kolam?”


Yue Liang Zhi mengeluarkan senyum misterius, “belum saatnya gege tahu.”


Entah kenapa, saat mendengar kalimat keluar dari mulut ajaib Yue Liang Zhi, Pangeran Yun Fengyin merasakan penasaran yang berkelanjutan. Dia merasa dejavu, berpikir kalimat itu adalah kalimat yang sering dia ucapkan dikala menyembunyikan sesuatu. Merasa pihak lain tengah menghitung akun di buku kecil, dia menangis tanpa air mata dan berharap agar pihak lain memiliki ingatan yang buruk.


Senyum Yue Liang Zhi semakin mengembang, kedua alisya naik turun sedikit mengejek Pangeran Yun Fengyin, “baik, tidak ada yang perlu dikawatirkan!” Dia segera berdiri dan menepuk-nepuk hanfunya, “aku sangat bosan! Lagi pula, aku hanya diam saja ketika Bai jiejie dan Lei jiejie melayani keperluan gege. Huh, menjadi anak kecil memang benar-benar menyebalkan.” Setelah mengerutu sambil mendengus dingin, dia kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kediaman Pangeran Yun Fengyin dan berucap dari kejauhan, “aku memiliki kepentingan mendadak, kemungkinan baru bisa kembali besok pagi, jadi jangan mencariku.”


“......”


Sekitar dua puluh tujuh meter, Yue Liang Zhi kini melangkahkan kaki memasuki kediaman teratai. Setelah diangkat menjadi pelayan lonceng perak, hidupnya dan kedua kakak telah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dia menghela napas kasar sambil menutup pintu, mengederkan pandangan dengan bulu matanya yang perlahan mengerjap bagaikan kepakan sayap kupu-kupu. Parasnya halus bagai porselin, hidung kecil, bibir cerry, alis terbentuk dengan sempurna dan pipi cubby khas anak kecil.


Sosoknya tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi, jika orang lain melihatnya, sudah pasti akan langsung pingsan seketika. “Qiao Qiao...,” panggilnya saat tiba di dunia lotus.


Merasa kehadiran Yue Liang Zhi, Qiao Qiao segera mengembangkan senyumnya, “Liang Zhi, ada apa?”


“Hanya memastikan sesuatu,” jawab Yue Liang Zhi singkat sambil melangkah menuju bangunan besar, dia hanya melirik sekilas reaksi Qiao Qiao.


Qiao Qiao peka akan keinginan dan niat Yue Liang Zhi, tanpa pikir panjang segera mengekorinya memasuki bangunan.


Sekali lagi Yue Liang Zhi kembali terpanah melihat isi ruangan, matanya sedikit memancarkan kelicikan dan keserakahan, “untuk sekarang, mungkin aku tidak akan miskin dengan harta yang menumpuk seperti bukit!”


“!!!?” Sudut bibir Qiao Qiao sedikit berkedut menahan pola pikir masa depan Yue Liang Zhi. Dia berpura-pura tidak mendengar dan memilih melesat mengitari sudut ruangan, mendadak berhenti di lorong saat merasakan frekuensi menarik perhatian. Segera menuju suatu ruangan dan mengabaikan Yue Liang Zhi yang tengah mendekati rak buku.


Yue Liang Zhi hanya menengok sebentar, dia kembali teralihkan dengan buku-buku usang di rak. Tangannya mengambil buku tebal, “Alkimia,” gumamnya singkat sambil menyunggingkan seyum tipis.


Alkimia adalah ilmu kimia yang didasari dengan paham spiritual, sehingga bertujuan untuk membuat benda-benda atau materi-materi, terkadang benda dan materi ini menentang hukum alam.


“Seseorang yang mempelajari alkimia disebut dengan Alchemist,” seperti mendapatkan keseruan tersendiri, Yue Liang Zhi segera memposisikan duduk senyaman mungkin.


Alchemist melakukan pemurnian tanaman, mineral, zat lain menjadi pil, dan ramuan obat kedalam tungku. Pemurnian ini membutuhkan roh api, semakin tinggi kualitas dan tingkat konsentrasi, maka semakin tinggi pula tingkat pil yang dihasilkan.


Obat dan Ramuan Obat dapat memiliki segala macam efek, fungsi dari obat ini yaitu untuk meningkatkan kultivasi, menyembuhkan luka, menyembuhkan racun, menyucikan atau memperkuat tubuh, dan masih banyak lagi. Tanaman Obat atau Herbal adalah semua jenis tanaman yang dapat digunakan oleh para alchemist untuk membuat racun, pil dan ramuan. Untuk membuat pil biasa, biasanya hanya membutuhkan tanaman obat berusia 5 tahun, namun untuk pil yang memiliki khasiat tinggi biasanya memerlukan tanaman obat berusia 100 sampai 1.000 tahun.


Spiritual Plants atau disebut juga rumput Roh, merupakan tanaman ajaib yang telah menyerap energi spiritual dari alam, rumput roh sangat dicari oleh para kultivator dan alkemis. Biasanya dimakan untuk menyerap energi spiritual yang dikandungnya atau disempurnakan menjadi obat-obatan roh.


“Liang Zhiiii!!” Teriak Qiao Qiao nyaring membuyarkan konsentrasi.


“Qiao Qiao?” Tanpa menutup buku, Yue Liang Zhi segera melemparnya ke tengah meja kosong dan menghampiri asal suara. Dia membuka mulutnya membentuk huruf O tatangkala melihat Qiao Qiao tengah dikejar sebuah pedang, “apa ini, kenapa kau lari? Kau kan tidak memiliki wujud nyata,” teriaknya mencoba menenangkan.


Roh sistem memang membentuk tubuh anak kecil, tapi bukankah itu terbentuk dari asap? Kalaupun pedang menyerang, menebas dan menusuknya. Bukankah pedang itu harus merasa menjadi barang yang sia-sia?


Qiao Qiao yang tengah asik berlari seketika berhenti, dia merutuki kebodohannya. Dengan cepat, pedang segera menembus tubuh Qiao Qiao dan beralih menuju Yue Liang Zhi, “Liang—”


Yue Liang Zhi ingin segera menghindar, tapi dia merasakan sesuatu yang salah dengan tubuhnya, lebih tepatnya, tubuhnya seperti terpaku ditempat. Sadar tidak bisa berbuat apa-apa, Yue Liang Zhi memilih pasrah, dia lantas memilih mengamati pedang itu. Matanya sedikit menyipit saat melihat gagang pedang, “naga?” Pedang yang sedikit lagi menembusnya tiba-tiba berubah menjadi cahaya biru dan masuk ke dalam dada, ah, lebih tepatnya dantian emasnya!