
“Kau sudah menukar anakku, bahkan mengambil mahkota anak kandungku!!” Leon bersiap menembak, namun, dia segera berhenti karena cengkraman tangan Arista pada bahunya, “kenapa? Biar aku bunuh dia dengan tanganku...”
“Kau tembak dia, maka dia akan menembak adikku. Jika itu terjadi, aku akan menyiksamu hidup-hidup hingga kau menyerah dengan hidupmu,” ancam Arista, dia menatap Jiangxuan, lalu menunjuk udara kosong di depannya dan memberinya isarat dengan melirik Lux, 'buatkan Lux array spiritual.'
Jiangxuan mengelengkan kepalanya, dia mendekat ke arah Arista dan nembisikkan sesuatu ke telinganya, “dia memang bukan dari dunia seni bela diri kuno, tapi dia adalah bawahan dari seseorang yang menganut roh jahat, array yang aku buat selalu hancur.”
Tanpa pikir panjang, Arista meletakkan semua senjatanya ke tanah, dia mengangkat kedua tangannya ke atas dan mendekat ke arah Luo Feng, “kau menginginkan aku bukan? Kemari dan coba,” Arista merentangkan kedua tangannya.
Luo Feng tersenyum miring, namun senyuman itu hilang tatangkala terdengar Lux yang berteriak nyaring, “kakak!!! Jangan mendekat, ini semua jebakan!”
“Diam kau!!” Luo Feng menempelkan pistolnya ke kening Lux.
“Jangan menodong anak kecil seperti itu Luo Feng... Lihat, aku sudah ada di depanmu, kau tak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menghancurkanku. Tinggal arahkan benda itu dan kau bebas menembak di sebelah manapun!” Arista semakin mendekat sambil mengedikkan bahu, kelakuannya yang satu ini membuat Leon, Hua Mian, Jiangxuan, Jingxian dan Lux menarik nafas kasar tanpa menghembuskannya kembali setelah dua puluh delapan detik.
DORR...
Arista segera menghindar dari peluru itu, ditariknya kursi roda Lux kedepan secara paksa. Karena terlalu keras saat menarik, kursi roda itu mengelinding ke depan. Lux yang hampir jatuh segera ditangkap oleh Jiangxuan dan seketika sebuah array spiritual kembali terbentuk di sekitar Lux, “Arista kembali,” teriak Jingxian.
Arista menggelengkan kepala sambil tersenyum manis, “aku harus menjauhkan Luo Feng dari kalian... Lebih baik berkorban satu nyawa yang berdosa, dari pada mengorbankan banyak nyawa orang yang tidak berdosa,” ketika Luo Feng bersiap menembak, Arista segera menendang tangan pria itu hingga pistol yang dia pegang terjatuh. Tidak sampai di situ, Luo Feng membalas dengan meninju perut Arista. Gadis itu segera terpental mundur satu langkah, dengan tanpa berperasaan, Arista meninju hidung Luo Feng sampai mengeluarkan darah.
Plakkkk...
Bunyi tamparan keras mendarat di pipi Arista, jika melihat secara teliti, terdapat sedikit noda darah di ujung bibirnya, dia kembali menendang Luo Feng dengan cara salto.
Luo Feng dan Arista saling memukul satu sama lain, sudah banyak pukulan dan tangkisan yang mereka lakukan, wajah mereka dipenuhi dengan lebam.
DOR...
DDORR...
Percikan darah jatuh ke lantai, rasa sakit perlahan merambat di dada Arista. Darah merembes keluar membasahi bajunya, dia masih berdiri tegak tanpa goyah. Perlahan, tangan kanannya merogoh saku dan meneluarkan pistol kecil, begitu pula dengan Luo Feng yang mengambil kembali pistolnya.
“Mari akhiri...,” ucap Arista dengan napas yang tersendat-sendat.
DORR...
DDDOORRR...
Bunyi seseorang yang tengah tembak-menembak kembali terdengar mengema di seluruh gedung, serasa kurang dengan peluru misterius yang mengenai Arista, Luo Feng juga menembak gadis itu.
Arista berhasil menembak tepat di jantung Luo Feng, Arista berteriak mengaktifkan jam tangan di pergelangan tangan kiri, “tembak...,” setelah satu detik, keluarlah jarum yang melesat cepat menuju seorang gadis di sudut ruangan.
“Resa?” Arista dan Hua Mian berucap dengan nada penuh kekecewaan.
“Resa... Tolong ayah...,” pinta Luo Feng.
Resa hanya mengabaikan panggilan ayahnya dan melirik jarum yang menusuk pahanya.
“Aresa Fengzui!!” Luo Feng berteriak dengan wajah yang sudah mulai pucat.
“Feng? Hahahaha... Kau anak bajingan ini rupanya!! Kenapa? Apa kau bingung Resa? Jarum itu bukan membunuh fisikmu, namun membunuh jiwamu,” setelah mendengar kalimat Arista, Resa segera berlari keluar tanpa memperdulikan ayahnya.
Kedua orang yang telah saling tembak akhirnya tumbang, dengan sigap Lux turun dari kursi roda, Lux tidak memperdulikan keadaan kakinya yang lumpuh, dia langsung saja menopang kepala Arista di pangkuannya. Air mata yang terus mengalir dari matanya, tangannya yang bersimpah darah untuk menutupi luka tembak Arista, “kakak... Tetap sadar kak! Jangan pejamkan matamu kak!!!” teriak Lux sambil menepuk-nepuk kedua pipi Arista.
“Lux... Aku tidak apa-apa,” Arista menulurkan tangan untuk mengusap air mata Lux, “setelah ini hiduplah dengan tenang, lakukan apapun yang kau suka!! Jangan perdulikan omongan orang lain, kamu ya kamu, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan itu tidak boleh di banding-bandingkan!!!” Dia memuntahkan seteguk darah dan Lux semakin memeluknya dengan kencang, dia tersenyum menenangkan.
Percayalah, senyuman sebelum perpisahan adalah yang paling menyakitkan dan paling mengenang.
Berbeda dengan Luo Feng, tubuh pria itu kian membiru, pistol Arista memang kecil, namun pelurunya telah di olesi dengan racun yang dapat merusak organ tubuh secara perlahan-lahan. “Aku tak menyesal mati di tanganmu Arista!!! Dan kau tidak akan pernah mengetahui jawaban dari apa yang selama ini kau cari...,” teriak Luo Feng sambil memegangi dadanya, selang beberapa detik pria itu langsung mati di tempat.
“Ck, kenapa dia tetap menyebalkan saat sudah hampir mati?” cibir Jingxian yang mendapat pelototan mata Jiangxuan, dengan spontan Jingxian menupuk mulutnya singkat.
Baili Jiangxuan merasa jika Jingxian bukanlah adik kandungnya, jika benar adik kandung, kenapa sifat keduanya begitu berbeda dan ketara?
“Tetap tersenyum Lux, tinggallah dengan Jiangxuan, hiduplah dengan tenang dan jangan menangisiku! Kau tau? Merelakan seseorang yang kau sayangi untuk pergi, akan membuat hatimu tidak memiliki beban. Maaf, aku sudah tidak bisa berada di sampingmu lagi...,” suara Arista kian mengecil, “uhuukkk... Ak... Aku menyayangimu... Lux Ef—” perkataan Arista terputus, saat dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.
[Arista...,] sambungan antara dunia lotus, roh sistem dan Arista terputus.
Roh sistem kalang kabut menatap langit gelao di ujung dunia lotus, bertahap, semuanya gelap hingga tidak menyisakan setitikpun cahaya.
“KAKAK!!!” Lux menangis kencang dengan suara serak.
“Arista...”
“Rista...”
“Jendral...”
“Bos...”
Teriakan memilukan kian bersahutan, air mata mengalir deras tak terbendung. Lux menatap kosong, seakan jiwanya telah berkelana meninggalkan raganya, tatapan kelembutan yang selalu dia pancarkan kini telah hilang, berganti dengan tatapan bengis, perlahan suhu ruangan meningkat derastis.
“Kakak... Jangan tinggalkan aku! Ini semua salahku, harusnya aku saja yang mati!!” Lux memukul kepalanya sendiri dengan keras, “kak... Aku janji akan menjadi kuat, aku janji akan terus tersenyum... Asalkan kakak bangun ya? Jangan tidur di lantai seperti ini, nanti kakak bisa masuk angin,” Lux merancau tidak jelas sambil menangis histeris.
Semua yang ada di situ menangis atas kehilangan sosok kakak, bos, jendral, teman dan sahabat. Gadis mafia dengan segudang rahasia akan selalu dikenang di dalam hati, kini sudah tidak ada gadis yang memiliki motivasi hidup yang tinggi, tidak ada senyum secerah matahari dan tidak ada kakak yang melindungi Lux lagi.
'Kakak... Kenapa kau pergi secepat ini? Kau tidak ingin melihat aku sembuh? Ayo kak... Buka matamu!!' Lux berteriak nyaring dalam hati, dia merasa hatinya telah tertusuk ribuan jarum beracun dan mulai sekarat.
'Arista...,' Hua Mian duduk bersimpuh di depan jasad Arista, napasnya tercekik kuat.
Jiangxuan hanya diam tak bergerak seperti manekin, perlahan dia melihat bola putih keluar dari tubuh Arista. 'Rista... Aku harap kehidupanmu akan lebih baik setelah ini...'
Berbeda dengan kakaknya, Baili Jingxian tengah menangis sampai sesengukan. Memang Jingxian akui, dia belum lama mengenal Arista. Namun, hanya gadis itu yang dapat menarik perhatiannya, gadis yang membuatnya kagum, semangatnya, senyumnya, keagresifannya, semua dalam diri Arista sangat memotivasi dirinya.
.
.
Catatan penulis:
Ah, bab ini lumayan mengandung bawang, Lux mungkin akan mengalami kesedihan yang berlarut-larut. Dan sepertinya, Jiangxuan mengetahui rahasia besar yang Arista sendiri tidaklah tahu.