
Nomor urut telah diacak sedemikian rupa hingga mendapatkan sepasang kultivator yang akan saling bertarung, “nomor 280 melawan 57,” ucap Yuwen Yue mulai melangkah menjauhi panggung arena pertempuran.
Seorang laki-laki bertubuh kekar membawa rantai besar dikedua tanggannya perlahan berjalan mendekati panggung, Bai Yun dan Lei Hu membuka mulut menceritakan tentang sosok tersebut. Mendengar tentang kekuatan fisik si nomor urut 57, Yue Liang Zhi menampilkan ekspresi tertarik. Sangat jarang seorang kultivator menggunakan rantai sebagai senjata, terlebih rantai berukuran besar yang mungkin hanya dapat diangkat oleh orang tertentu saja.
Lawan nomor 57 adalah seorang laki-laki congak dengan tatapan merendahkan lawan, kedua kultivator tanpa basa-basi mengambil ancang-ancang untuk saling menyerang. Nomor 280 melakukan beberapa gerakan, qi mengalir memenuhi dantian hingga mebuat nomor 57 sedikit terpaku. Aura kultivator tingkat qi condensation puncak level 2 menyeruak memenuhi arena, “jurus matahari terbit...,” cahaya kuning menyilaukan melesat menyerang nomor 57. Bunyi ledakan keras memekakan telinga, asap membumbung tinggi menerpa pandangan, itu terlihat suram seperti suasana bersalju di luar aray. Senyum kepuasan mengiasi wajah nomor 280, dia yakin akan serangannya dapat melukai kultivator di depannya.
Asap menghilang menampilkan kondisi nomor 57 yang masih berdiri tanpa goyah, tingkatan qi condensation ditubuhnya kian bertambah hingga tingkat tengah level 3. Semua orang membuka mulut tak percaya, dia rupanya bisa bertahan dari serangan kultivator yang lebih tinggi dua level. Yue Liang Zhi tersenyum dengan menganggukan kepala, tingkatan tinggi memang tidak cukup jika tidak dibarengi kekuatan fisik, begitu pula kekuatan fisik tidak akan terlalu berguna jika tidak memiliki tingkatan. Ini seperti yin dan yang, saling bersingkronisasi membentuk keseimbangan.
“Ruan Xulei! Menyerahlah dan kembali ke desa, tidak usah membuang waktumu. Kau itu miskin dan terlantar, sebaiknya bekerja dengan giat di desa!” Teriak nomor 280 memprovokasi.
Rupanya laki-laki itu bernama Ruan Xulei, seorang yatim piatu di Desa Ling. Letak desa ini berada di ujung selatan Kekaisaran Huo, tepatnya di daerah pesisir pantai. Ruan Xulei mengeratkan genggaman telapak tangannya, rantai berdering bergesekan tatangkala dia mengangkat tinggi rantai itu. Rantai terlihat seperti senar pancing nelayan, begitu mengenai sasaran, tubuh nomor 280 segera terlempar keluar mebembus aray.
Semua penonton membisu, “......”
“Nomor 57 memenangkan pertandingan,” Yuwen Yue mencoba memecahkan keheningan, dia menatap seluruh penonton yang masih mendongakkan kepala mengamati aray berlubang. Tangannya menyapu udara, aray berlubang kembali menutup seperti semula.
Penonton 1: “Menang dengan sekali pukulan rantai?”
Penonton 2: “Sekali apanya, lihat itu! Rantai itu terlihat berat, mungkin terbuat dari ratusan kilo besi, jelas nomor 280 akan terlempar ke luar.”
Penonton 3: “Pantas saja mampu melawan kultivator dua level di atasnya.”
Yuwen Yue mengeluarkan dua gulungan kertas dari kotak, “berikutnya kultivator nomor 28 melawan 212.”
Lei Hu menegang, dia menganati plakat miliknya dan tertera nomor yang telah dipanggil Yuwen Yue. Tubuhnya perlahan berdiri, dia melirik Pangeran Yun Fengyin dan Bai Yun yang tengah memberinya semangat. Matanya menangkap anggukan singkat Yue Liang Zhi, anak itu hanya menyemangati dalam diam. Dia berjalan ke tengah panggung, didepannya sudah ada seorang pria memasuki usia kepala dua.
“Manis menyerahlah, aku tidak ingin melukai kecantikanmu,” ucap si nomor 28.
“Pih... Kau bermimpi saja di siang bolong,” Lei Hu mengeluarkan pedangnya, dia masih menyembunyikan pisau di balik mantel birunya. Keduanya saling menyerang, dia menampilkan wajah serius sementara lawannya menampilkan muka cabul. Dia melompat mundur saat tangan kanan nomor 28 hampir menyentuh dada kecilnya, hal ini sukses membuat Pangeran Yun Fengyin mengeram.
Hawa dingin menusuk punggung nomor 28, tentu pisau dingin itu tidak hanya dari Pangeran Yun Fengyin saja, tapi dari Yue Liang Zhi juga. Semua orang di sekitar kedua orang itu merasa merinding, terlebih saat merasakan tekanan kuat dari tubuh Yue Liang Zhi.
Nomor 28 menjilat bibir sambil mengabaikan hawa dingin, “aku menyukai persik yang sedang tumbuh, kemarilah! Pria ini bisa saja memberikan kuota untuk nona, tentu saja dengan syarat mengairahkan. Nona harus memberikan tubuh—”
Telinga semua orang menangkap percakapan singkat kedua orang di atas panggung, beberapa dari penonton mencibir dengan kilasan jijik, beberapa lainnya ikut menjilat bibir sambil membayangkan perempuan itu jika di atas ranjang. Hati Yue Liang Zhi berkobar, dia memunculkan jarum tipis dan segera melesatkan hingga menusuk kulit lawan Lei Hu.
Kultivator nomor 28 meringis merasakan lengan kanannya terbuka namun masih dalam kondisi mengenggam pedang, detik berikutnya dia kembali merasakan tusukan kecil di leher. Tangan kiri mengusap tengkuk leher, dia mendapati ada jarum tipis.
Lei Hu mengambil kesempatan menyerang, dia berlari mendekat hingga pedangnya bergesekan dengan pedang lawan. Bunga api memercik menambah keindahan sosoknya, dia mundur beberapa langkah dengan ekspresi terkejut melihat mulut lawannya berbusa. Tanda tanya mencuat bersama wajahnya yang menjadi cengo, matanya terus mengamati tubuh lawan.
Tangan kiri si nomor 28 menarik jarum, detik berikutnya dadanya terasa seperti tertusuk dan terbakar. Busa di mulutnya masih terus terproduksi tanpa henti, secara mendadak tubuhnya tumbang dan kejang, jarum ditangannya menghilang ditelan udara kosong. Kedua mata mulai terpejam, vitalitasnya kian melemah.
Penonton 4: “Dia keracunan!”
Trimbun penonton kian ramai dengan suara yang bersahutan, ini terdengat seperti kicauan burung.
Penonton 5: “Turun! Kau curang karena menggunakan racun.
“Aku tidak,” Lei Hu mengelak sambil mengeleng.
Merasa kini bertambah ramai, Yuen Yue dan apoteker naik ke atas panggung. Tangan Yuwen Yue terulur meminta pedang dan pisau milik Lei Hu, dia mengerutkan kedua alis merasa bahwa senjata perempuan di depannya tidak ada jejak racun sedikitpun, apoteker disampingnya menggeleng dan itu menandakan prediksinya benar.
Yue Liang Zhi berdiri dan berteriak histeris, “orang itu penyakitan, oh astaga... Kami semua telah berbagi udara dengan orang yang terkena penyakit kronis, apakah setelah ini kami akan mengalami kematian menyedihkan sepertinya?”
Sang apoteker ikut terkejut, dia menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke leher. Dia sendiri bingung, orang di depannya sebenarnya keracunan atau penyakitan. Demi menenangkan semua orang dan dirinya sendiri, dia mulai membuka mulit, “sepertinya ini penyakit yang tidak menular.”
Sepertinya?!
Semua orang menampilkan warna hijau, bahkan orang yang mendapat tempat duduk di sebelah almarhum kini berlari ke luar menerjang salju untuk mandi dan menghilangkan bakteri di tubuh. Sudut bibir Yuwen Yue berkedut, dia kemudian berdiri memberikan pengumuman pada seluruh penonton di alun-alun, “kali ini pemenangnya adalah nomor 212.”
“...” Semua orang diam tanpa kata, dua pertandingan di awal ini terlalu cepat berakhir!
Yang kedua bahkan lebih ekstrim, pikiran penonton berkelana apakah mereka benar-benar telah tertular penyakit?