
Ketika kami naik kelas XII, awalnya aku ingin duduk di depan Vivi, sama seperti dulu di kelas XI. Tetapi karena datangku terlalu siang, aku kebagian duduk dua deret di sebelah kanannya. Padahal aku ingin sekali dekat dengan dia.
Sejak kami dekat dari kelas XI sampai di kelas XII awal, Vivi belum pernah sekalipun main ke rumahku. Aku tak pernah mengajaknya ke rumahku. Dia main ke rumahku pertama kali karena ada tugas kelompok Biologi.
Aku sempat tak habis pikir dengan jalan pikiran Vivi dan Anti. Padahal kami hanya kerja kelompok tapi mereka ngotot mau ganti baju dulu sebelum ke rumahku.
“Kenapa ga langsung berangkat aja sih? Ngapain mesti ganti baju dulu? Aku ga ngerti sama mereka berdua (Vivi Anti)”ucapku pada Dedi dan Daniel yang mengajakku menunggu di kantin sementara Vivi dan Anti ganti baju dulu di toilet.
Dedi dan Daniel hanya menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundakku.
“Hei Bro, namanya juga cewek..pasti pingin kelihatan cantik terus”
“Coba bayangin, dari pagi sampai siang ini, pakai seragam terus. Pasti udah keringetan, make up nya luntur..gimana sih kamu ini Co? Sama cewek sendiri ga peka banget”ucap Daniel
Mendengar penjelasan Daniel membuatku sedikit paham. Karena bagiku tanpa perlu ganti baju, Viviku sudah sangat cantik. Sepuluh menit yang dijanjikan Vivi terlewati begitu saja, tapi mereka berdua belum juga muncul. Membuatku jadi ga sabaran, akhirnya aku susul ke toilet putri.
Aku berdiri di depan pintu sambil menyilangkan tanganku di depan dada. Begitu membuka pintu toilet, Vivi terlihat sangat kaget melihatku. Tak kuhiraukan dia yang mengoceh karena kaget melihatku yang sudah berdiri lama di depan pintu toilet.
Karena kesal, akhirnya aku tinggalkan Vivi dan teman-teman. Sayup-sayup kudengar Vivi memanggil namaku, tapi karena sudah kesal, aku berjalan terus ke tempat parkir. Begitu sampai di motorku, kulihat dia yang sudah berganti baju dengan langkah terengah-engah berjalan ke arahku. Kulihat dia sudah sangat cantik dengan sedikit riasan di wajahnya. Begitu kulihat bibirnya yang merah, entah kenapa malah membuatku ingin merasakan bibir lembut itu sekali lagi. Dan lamunanku buyar, saat Vivi menatap ke arahku dengan tatapan penuh kebingungan.
“Kenapa kamu ngliat aku kayak gitu?”tanya Vivi padaku
Aku hanya sanggup tersenyum melihat wajahnya yang kebingungan. Akhirnya kami berangkat ke rumahku. Sampai di rumah, kutinggalkan Vivi sendiri di ruang tamu, karena aku ingin ganti baju. Selesai ganti baju, kulihat Vivi sedang berjalan-jalan mengamati lukisan yang dipajang di ruang tamu. Mungkin karena dia sedang konsentrasi jadi dia tak mendengar kedatanganku. Dan saat aku menepuk pundaknya dari belakang, Vivi sampai melompat karena kaget. Membuatku tertawa melihat ekspresinya yang seperti ketakutan.
Aku tak bisa menahan diriku untuk mengacak-acak rambutnya karena dia sangat menggemaskan saat kaget tadi. Dan seperti biasa dia selalu protes setiap aku mengacak-acak rambutnya. Begitu teman-teman datang, kami pindah ke lantai dua. Karena Dedi dan Daniel ingin berganti baju. Akhirnya kami mengerjakan tugas di ruang keluarga yang ada di depan kamarku.
Aku tak menyadari, ternyata outfit yang aku pakai sama dengan Vivi. Padahal tadi aku asal mengambil kaos dan celana jeans yang ada di lemariku. Rupanya Vivi juga memakai baju putih dan celana jeans yang warnanya sama denganku. Saat di sekolah tadi aku tak benar-benar memperhatikan pakaian yang dipakainya. Karena bagiku pakaian apapun yang dipakainya, dialah yang tercantik di mataku.
Saat kami mengerjakan tugas kelompok Biologi, aku sempat perhatikan Vivi yang beberapa kali melihat ke arahku. Awalnya aku pura-pura tak tahu, aku terus saja mengerjakan tugas kelompok kami seolah fokus di depan laptop. Dan entah apa yang dipikirkannya, kulihat dia menggelengkan kepalanya. Akhirnya aku goda dia.
“Lihat apa?”
“Ehmm..ga..ga liat apa-apa..aku tuh lagi mikir”
Aku tahu betul Vivi tak pandai berbohong. Karena setiap kali berbohong, dia pasti akan terbata-bata dalam menjawab. Akhirnya aku goda lagi dia sambil mendekatkan tubuhku untuk melihat hasil pekerjaannya.
Kulihat dia belum banyak mengerjakan tugas Biologi kami. Aku pun menoleh ke arahnya. Dan kali ini wajah kami sangat dekat. Bisa kulihat wajahnya yang kini tepat di depanku. Jantungku berdetak sangat kencang begitu melihat mata indah Vivi.
“Udah sana..aku belum selesai..gangguin aja”
Dia langsung mendorong tubuhku untuk menjauh. Untung saja tadi aku masih sadar. Jika tidak, mungkin sudah kucium bibir mungilnya yang berada tepat di depanku.
Dedi dan Daniel yang melihat kami berdua malah cekikikan. Membuat Vivi memarahi mereka berdua. Aku memberi isyarat mata pada keduanya supaya diam.
Karena lelah, kami putuskan untuk mengerjakan tugas proyek itu keesokan harinya. Uti, ART yang sudah lama mengabdi di keluargaku menghampiri kami berlima. Uti sudah seperti nenek bagiku. Beliau yang selalu ada untukku di saat tak ada seorangpun anggota keluargaku dirumah ini. Opa dan Oma ku ada di luar kota. Begitu juga mama, papa dan kakak-kakakku. Jadilah aku sendiri di rumah sebesar ini.
Uti memang mengenal Vivi, karena aku pernah ketahuan Uti sedang memandangi wajah Vivi di layar hp ku. Vivi yang kaget melihat Uti yang sudah mengenalnya, menatapku penuh tanda tanya. Dan saat Uti sudah kembali ke ruang makan, Vivi menanyakan padaku.
“Heei Co..kok Uti bisa tau aku?”
Aku bingung mesti menjawab apa atas pertanyaan Vivi itu. Untung saja aku ingat, waktu kami wisata akhir, kami berlima (Aku, Vivi, Anti, Dedi dan Daniel) pernah berfoto bersama.
“Ehhmmm..itu..karena aku punya foto kita berlima waktu study tour ke Italy”ucap Coco
“Oo..pantesan”
Dia yang mendengar jawabanku tampaknya percaya saja dengan jawabanku. Dedi dan Daniel yang mengetahui semua kebenaran, menatapku sambil menahan tawanya. Tiba-tiba saja, Daniel mengajak Vivi dan Anti masuk ke dalam kamarku.
Awalnya aku tak masalah, karena memang tak ada apa-apa di kamarku. Tapi aku terkejut ketika buku sketsa milikku masih tergeletak di atas meja belajar. Segera saja aku sambar buku itu dan kusembunyikan di belakang tubuhku.
Ekspresi wajah Vivi mendadak berubah, melihat aku yang menyembunyikan buku sketsa ini. Dia juga langsung mengajak Anti keluar dari kamarku. Sepertinya dia sangat marah padaku. Dedi dan Daniel malah tertawa melihat aku yang hampir ketahuan.
Karena di dalam buku sketsa itu, tersimpan sebuah rahasia yang belum berani aku ungkapkan. Di sana ada wajah gadis yang sangat kusukai sejak pertama kali masuk SMA. Sketsa wajah Vivi yang kulukis sendiri.
Aku tahu Vivi sangat marah padaku, karena selama makan di ruang makan, Vivi hanya mengaduk-aduk makanannya. Dia juga makan sangat sedikit. Dia bahkan tak menyentuh rendang daging, yang sengaja aku request kan pada Uti untuk membuatkan makanan kesukaan Vivi.
Selama perjalanan pulang, Vivi hanya diam saja. Tak seperti biasanya. Akhirnya aku ajak dia mampir ke sebuah minimarket yang ada di pinggir jalan. Aku tahu dia suka es krim ma**um. Makanya aku ingin membelikan dia es krim untuk meredakan kemarahannya. Dan saat aku ingin meminta maaf masalah buku sketsa itu, dia bilang tak mau membahasnya lagi. Dalam hati aku senang dia sudah tak marah lagi. Dan aku berjanji pada diriku sendiri jika waktunya tiba aku akan memberitahu Vivi kebenaran di balik buku sketsa itu. Suatu hari nanti.