
Hari pertunangan pun tiba. Perayaan dilaksanakan di hotel Alila. Ballroom hotel telah dihias dengan sangat indah. Meja kursi di ballroom ini ditata dengan sangat rapi dan disiapkan khusus untuk tamu undangan yang menyemarakkan perhelatan penting dalam hidup Coco dan dokter Caroline.
Dekorasi ruangan untuk acara pertunangan ini didominasi warna putih dan pink. Warna kesukaan dokter Caroline. Bunga mawar asli juga menghiasi ruangan ini. Hiasan buket bunga segar terpajang sepanjang koridor menuju ballroom hotel. Begitu juga di dalam ballroom. Hiasan buket bunga segar warna pink dan putih dengan dedaunan segar sangat menyejukkan mata yang melihatnya. Sebuah panggung besar mirip pelaminan sudah berdiri megah di ujung ballroom. Di sanalah nanti Coco dan dokter duduk bersama.
Aku dan teman-teman telah datang. Diiringi alunan live music yang sangat merdu. Lagu-lagu cinta yang mengalun sangat indah. Kami diarahkan penerima tamu di dalam ruangan untuk duduk di meja bundar di bagian tengah. Tepat di belakang meja keluarga inti.
Oya, hari ini dokter memakai gaun yang berbeda dengan yang dibeli Coco dua hari lalu, yang sempat kucoba saat di butik. Karena rupanya tubuh dokter lebih tinggi dan lebih langsing dariku. Jadi gaun yang kemarin dibeli sedikit kependekan ketika dokter memakai high heels. Akhirnya gaun itu malah diberikan padaku. Karena tak mungkin untuk mengembalikan gaun yang sudah dibeli. Sebenarnya aku sudah menolak. Tapi dokter bersikeras dan terus memaksaku mesti memakai gaun itu. Sayang jika tidak dipakai. Dengan terpaksa kuterima gaun pemberian dari dokter untukku.
Akhirnya hari ini pun tiba juga. Hari dimana aku akan benar-benar melepaskan Coco. Cinta pertamaku. Cinta yang selama sembilan tahun ini kugenggam. Dalam hati aku sudah berjanji, setelah melihat Coco bertunangan dengan dokter, maka hari ini juga aku akan melepaskan Coco. Melupakan cinta kami. Dan aku akan memulai semuanya dari awal. Dengan Aldi. Itu janjiku.
Tiba-tiba lampu ruangan meredup. Lampu sorot mengarah pada pintu masuk ballroom. Semua tamu undangan menoleh ke arah pintu masuk. Kulihat di sana berdiri seorang wanita yang sangat cantik nan anggun. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki yang sangat tampan. Dialah dokter Caroline dan Coco. Pasangan yang berbahagia di hari ini. Kulihat mereka juga sangat serasi. Mereka berjalan menuju ruangan ballroom ini.
Semua mata memandang ke arah mereka. Dokter terlihat sangat cantik dengan riasan flawless dan gaun panjang yang dipakainya. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sedikit aksen bergelombang. Coco juga terlihat gagah mengenakan setelan jas hitam dipadu kemeja putih dan dasi kupu-kupunya. Mereka terlihat sangat serasi. Senyum merekah menghiasi bibir mereka. Seakan ingin menyampaikan kepada dunia bahwa mereka bahagia. Sayangnya aku di sini bersedih.
Dokter Caroline melingkarkan tangannya pada lengan Coco. Mereka berjalan menyusuri karpet merah yang telah tersedia. Melewati tamu undangan yang hadir, termasuk aku. Sesekali kulihat dokter melambai pada tamu undangan yang adalah teman dan koleganya selama ini. Dokter juga melambai padaku dan teman-teman.
Sampai di tengah panggung, MC segera membuka acara dan memberikan sambutan. Semua tamu undangan bertepuk tangan karenanya. Kemudian MC memberikan mic pada Coco.
“Terimakasih atas kehadiran semua tamu undangan pada hari ini”
Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Tiba-tiba butiran air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Segera kuusap air mata yang jatuh menggunakan tisu.
“Terimakasih kalian semua yang akan menjadi saksi sejarah dalam kehidupanku dan Caroline”
Semua orang bertepuk tangan. Kulihat mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan penuh cinta. Sangat bahagia.
“Caroline, terimakasih banyak untuk semua yang sudah kita lalui bersama”
“Aku bersyukur telah dipertemukan denganmu”
“Kamu adalah wanita yang sangat luar biasa” puji Coco kepada dokter Caroline.
Setiap kata yang dia ucapkan, seperti pisau yang terus mengiris-iris hatiku. Sakit sekali. Hatiku seakan dicabik-cabik. Dadaku juga terasa sangat sesak saat mendengar dia memuji dokter, wanita yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupnya.
“Sejak pertemuan kita di Cina enam tahun lalu, kamu selalu ada untukku”
“Terimakasih”
Semua tamu bertepuk tangan. Tetapi aku di sini semakin sedih. Air mataku pun terus mengalir meski telah kucoba untuk menahannya. Chika memegang tanganku mencoba menenangkanku. Aku memberi isyarat, aku tidak apa-apa dengan tersenyum dan kugelengkan kepalaku. Namun itu semua hanya kebohongan yang sengaja aku tunjukkan pada Chika. Karena sesungguhnya yang terjadi hatiku sangat sakit. Mendengar setiap kata yang diucapkan Coco pada calon pendamping hidupnya, dokter Caroline.
“Aku berdoa semoga kebahagian selalu menaungimu”
Sudah cukup! Aku sudah tak tahan lagi. Aku memutuskan meninggalkan ruangan ini saja. Semua ini terlalu menyakitkan. Aku tak kuat lagi mendengar suaranya. Melihat kebahagiaannya bersama gadis pilihannya. Melihat kebahagiaannya justru membuatku semakin tenggelam dalam kesedihan.
Aku berdiri dari kursiku dan bergegas keluar dari ruangan ini. Aku ingin segera menghilang saja. Itu harapanku waktu itu. Aku benar-benar tak sanggup melihat dia bersama dengan wanita lain. Ini sangat menyakitkan. Aku pergi sambil beruraian airmata menahan perih dalam hatiku.
Sayup-sayup masih kudengar suaranya.
“Selamat atas pertunangan ini”
Belum sampai di pintu keluar ballroom, ketika tiba-tiba kudengar,
“Semoga kamu bahagia Caroline… dan Rafael, kakakku”
Langkahku terhenti.
Tunggu..apa tadi? Apa aku tak salah dengar? Caroline dan..Rafael? Rafael? Siapa Rafael?
Kubalikkan badanku. Kulihat seorang lelaki berjas putih senada dengan gaun dokter Caroline maju ke depan. Lelaki itu mengulurkan tangannya pada dokter Caroline. Dan dokter menyambut tangannya. Mereka saling berpegangan tangan. Sementara Coco masih berdiri di sana tetapi pandangan matanya kini tertuju padaku.
Aku bingung. Aku mematung di tempatku berada. Aku mencoba mengerti setiap kata yang diucapkannya tadi.
“Dan untuk wanita yang sedang berdiri di sana…
Tiba-tiba sebuah lampu sorot mengarah padaku. Cahaya sorot lampu ini benar-benar menyilaukan.
“Aku sangat mencintaimu”ucap Coco sambil tersenyum padaku
Apa yang dia ucapkan barusan? Dia mencintaiku? Aku?
Aku masih tak percaya dengan semua ini.
Apa arti semua ini?
Air mataku mengalir semakin tak terbendung. Kata-kata indahnya membuatku sangat tergoncang. Perasaanku pun campur aduk tak karuan.
Tak kuhiraukan tatapan semua mata yang memandangku. Dia pun perlahan-lahan berjalan mendekatiku. Selangkah demi selangkah diikuti lampu sorot yang sejak tadi mengarah padanya.
Aku bingung dan tak bisa berpikir apa-apa.
Semakin dia mendekat, Aku semakin menjauh. Akhirnya aku pun berlari keluar ruangan pesta itu sambil beruraian air mata. Aku terus berlari.
Aku galau. Bingung. Situasi ini benar-benar di luar dugaanku.
Seseorang menarik tanganku dari belakang.
Coco menghentikan langkahku.
Aku masih terus menangis.
Tiba-tiba dia memeluk tubuhku sangat erat.
Erat sekali.
Tangisanku pun semakin menjadi.
Aku masih sulit percaya dengan semua ini.
Kubenamkan wajahku dalam dekapannya.
Aku dan dia berpelukan.
Kini aku berada dalam pelukan lelaki yang kucintai. Lelaki yang sangat-sangat kucintai. Tak pernah sekalipun aku bisa melupakan cintaku padanya.
Lelaki yang kukira akan menikahi wanita lain. Yang kukira sudah melupakan cintanya padaku. Yang kukira hanya kebencian yang tersisa di hatinya untukku. Yang kukira sudah tak mengharapkan aku lagi dalam hidupnya.
Kami berpelukan melepaskan kerinduan yang memuncah dalam hati. Aku menangis bahagia. Bahagia karena akhirnya bersamanya. Bahagia karena ternyata dia masih mencintaiku. Sangat mencintaiku.
Kulepaskan tanganku dari pelukannya. Kami berpandangan. Dia mengelus kepalaku lembut. Kami duduk di kursi panjang di sebelah kolam.
Dia menggenggam erat kedua tanganku.
Aku masih sulit percaya. Dia di hadapanku saat ini. Aku sangat bahagia. Dia tersenyum padaku. Aku balas senyumnya. Sambil sesekali kuseka airmata di pipiku. Kami hanya berpandangan. Menikmati momen kebersamaan kami kali ini.
Kami tak berbicara sepatah katapun. Kami hanya bertatapan. Kutatap matanya yang sangat indah. Kugenggam tangannya yang dulu sempat kulepaskan.