Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Ada Apa Denganmu?



Suatu hari, Dedi, Daniel dan Coco ditunjuk mewakili sekolah mengikuti olimpiade Matematika tingkat kota. Selama persiapan olimpiade, dia jadi jarang ada di kelas. Intensitas pertemuan kami menjadi berkurang. Bahkan ketika latihan PMR maupun rapat PMR, dia sudah tidak pernah ikut. Karena sibuk mempersiapkan lomba.


Walaupun kami masih sering berkirim pesan lewat chat, dan telpon, tetapi memang komunikasi kami secara langsung menjadi berkurang.


Awalnya aku tak menghiraukan masalah ini. Karena di saat yang sama, aku juga sibuk mempersiapkan bazar PMR. Kebetulan semester 1 awal, aku masih menjadi pengurus PMR. Belum ada pelantikan pengurus baru. Sehingga pengurus lama masih dilibatkan pada kegiatan PMR. Rencana pelantikan pengurus baru masih 1,5 bulan lagi.


Aku ditunjuk menjadi sekretaris Bazar. Ketua panitianya adalah Aldi, sang calon ketua PMR baru. Di waktu ini, intensitasku bersama dengan Aldi menjadi lebih sering. Selain karena sering rapat di waktu pelajaran berlangsung maupun saat latihan PMR.


Awalnya aku hanya berpikir, bahwa kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Maka komunikasi di antara kami menjadi sedikit berubah. Tak semesra atau seakrab dulu.


*


*


*


Hari itu dia selesai persiapan lomba. Saat itu waktu istirahat, dia bersama lima temannya, sesama peserta olimpiade yang lain, memasuki kelas. Ada Dedi, Daniel, Richard, dan dua anak kelas XI, Feli dan Sandra.


Seperti biasa, aku mendekati kursinya,menyapa teman-temannya.


“ Hai semua..” sapaku ramah.


“ Hai Vi..” jawab Daniel dan Dedi.


Feli dan Sandra hanya menganggukkan kepala. Sementara dia hanya mengulas senyum, kemudian asyik bercakap-cakap dengan teman-temannya.


Aku pun mencoba ikut dalam obrolan mereka


“Gimana persiapan lombanya?”tanyaku


“Soal-soalnya susah-susah kak” Jawab Feli sambil mengerucutkan bibirnya


“Ooo..gitu ya..Semangat yah..kalian pasti bisa”kataku mencoba menyemangati mereka semua


“ Aku tadi sampai pusing mendengar pembahasan dari Pak Agus” terang Daniel si jenius menjawab lugu.


“Kalian ada yang paham tidak apa yang dijelaskan Pak Agus tadi? Pasti ga da yang paham kan?” tebak Daniel, mengundang tawa kami semua


“ Co..ini catatan kimia tadi..nanti kalo ada yang belum paham, kamu tanya aja”


Kusodorkan catatan kimiaku padanya. Dia menerimanya tanpa sepatah kata. Di masukkan ke dalam tasnya dan ngobrol lagi, tanpa menghiraukan kehadiranku.


Aneh. Tak biasanya dia seperti ini. Kulihat dia mengobrol lagi dengan teman-temannya.


Oh..mungkin dia baru stress dengan persiapan lombanya. Itu yang ada dipikiranku.


“ Udah pada makan? Kita ke kantin yuk…”ajakku pada mereka


“ KAMU LIHAT TIDAK, AKU SEDANG APA? KAMI SEDANG DISKUSI “ teriaknya padaku membuatku kaget.


Kulihat dia setengah melotot, sambil berdiri dari kursinya menatapku tajam.


Deg..Deg.. Deg..


Jantungku berdegup kencang.


Coco marah padaku? Benarkah? Ada apa ini? Emang aku salah apa?


Kulihat ekspresi wajah Coco yang benar-benar marah padaku. Saat itu otakku seakan berhenti bekerja. Aku mencoba mencerna kata-kata yang dia lontarkan padaku. Belum pernah sekalipun dia marah padaku. Sejak perkenalan kami, baru kali ini dia marah padaku. Marah sebesar ini. Di hadapan teman-temannya dan teman-teman sekelasku. Aku melihat sekeliling, kulihat semua mata menatap padaku.


“ Aku..minta maaf” jawabku terbata-bata menahan tangis.


Kucoba menahan airmataku agar tak tumpah saat itu juga. Kutatap matanya, kulihat dia benar-benar marah.


Sayangnya aku mendengar kata-kata itu. Tak kusangka dia akan mengucapkan kata kasar seperti itu.


“Maaf jika sudah mengganggu kalian” kataku sambil berlalu menuju kursiku tepat dengan berbunyinya bel berakhirnya jam istirahat.


“teeeetttttttttt…..teeeeettttttttt”


Dedi dan Daniel mencoba menenangkan Coco. Feli dan Sandra pun kembali ke kelasnya. Disusul Daniel dan Richard yang kemudian kembali juga ke kelasnya. Anti mendekatiku dan duduk bersamaku.


“Kalian kenapa?” tanyanya sambil mengelus pundakku mencoba menenangkan diriku.


Aku hanya diam. Aku tak mengerti dengan apa yang barusan terjadi. Sempat sekilas aku menoleh ke arah kursinya dan dia juga melihatku tapi dia memilih melengos. Aku pun hanya bisa mengepalkan tanganku mencoba menguatkan diriku sendiri.


Selama pelajaran, pikiranku benar-benar kosong. Tak ada satupun penjelasan dari guru yang kupahami. Perasaanku campur aduk. Aku sama sekali tak paham dengan situasi yang baru saja aku alami.


Kemudian Aldi masuk kelasku, mencariku untuk rapat bazar. Sambil membawa surat ijin dari guru piket. Akupun beranjak dari kursiku dan segera keluar kelas.


Saat merapikan kursi, tanpa sengaja mata kami saling berpandangan. Tapi Aku langsung bergegas keluar. Tak kuhiraukan keributan kecil yang dibuat “fans” Aldi yang berteriak-teriak memanggil namanya. Aku pun berjalan keluar kelas berjalan bersama Aldi.


Selama rapat bazar, aku sama sekali tak mendengarkan Aldi dan teman-teman sesama panitia bazar. Pikiranku masih kosong. Mendadak aku tak bisa berpikir. Semua kejadian di kelas tadi terus terbayang-bayang dalam pikiranku. Perasaanku juga kacau balau. Tak pernah sekalipun Coco sekasar itu padaku. Ada rasa sakit di dalam hatiku setiap mengingat kata-katanya tadi.


“Kak Vivi sakit?”suara Aldi membuyarkan lamunanku.


“Eh..hah? Apa?”Aku yang masih melamun, kaget ditanya tiba-tiba sama Aldi.


Dia tersenyum.


“Kak Vivi sakit?”tanyanya lagi


“Ah..aku baik-baik aja kok, hehehe”jawabku


“Aku mau beli sesuatu di kantin sekolah. Mau nitip kak?”


“Ehmm..ga usah lah. Lagi ga nafsu makan” jawabku.


“Kalau begitu aku ke kantin dulu ya kak”


“Iya” aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum pada Aldi.


Akhirnya hanya ada aku seorang di markas PMR. Sebelumnya anggota PMR sesama panitia bazar sudah lebih dulu kembali ke kelas. Tiba-tiba hatiku rasanya sangat sakit. Mengingat kembali kejadian tadi. Kejadian dia yang membentakku. Memarahiku. Setiap kata-kata yang dilontarkan Coco terngiang-ngiang di telingaku. Akhirnya airmataku jatuh tak tertahan lagi. Menetes tanpa bisa aku tahan.


Ingin rasanya aku teriak dan meluapkan semua kegundahanku pada Coco. Menumpahkan kekesalan dan kesedihanku. Kamu terlalu jahat hari ini! Kamu jahat Co! Ada apa denganmu? Apa kamu tahu kamu udah menyakiti hatiku? Sebenarnya apa salahku?


“Kak Vivi nangis?”tanya Aldi tiba-tiba membuatku kaget.


Dia datang saat aku sedang menangis. Segera kuusap airmataku tanpa melihat ke arah Aldi.


“Eh..dah balik Al..ga kok aku ga nangis, hehehe cuma kelilipan”aku berusaha mengelak.


Aldi memang cowok yang baik. Kembali dari kantin, dia ternyata membelikanku minuman juga.


“Ini buat kakak” Aldi menyodorkan sebotol minuman ringan dingin padaku.


“Eh..ga usah..aku ga haus kok”


“Gapapa..tadi ga ada kembalian, jadi aku minta sebotol lagi. Aku ga mungkin menghabiskan semua. Buat kakak aja” ucapnya sambil tersenyum padaku.


Andai Coco sebaik kamu Al..


“Oke..makasih ya”


Akhirnya kuterima pemberian Aldi. Minuman ringan dingin itu lumayan bisa mendinginkan perasaanku. Setidaknya untuk saat ini, aku akan menata perasaanku lagi. Aku dan Aldi kemudian berbincang- bincang ringan sambil menghabiskan minuman yang diberikannya tadi. Aldi memang anak yang ceria, membuatku sejenak melupakan masalahku dengan Coco.