Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Bukan Anak Kecil



Aku bahagia, karena sejak kami dekat, kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Biasanya bersama teman-teman juga. Aku, Coco, Anti, Dedi dan Daniel. Sering kami nongkrong bareng di cafe, pergi ke toko buku, atau nonton bioskop berlima.


Kami pernah merayakan ulangtahun Coco yang ke-17 bersama-sama. Ulang tahun sweet seventeen. Yang kata orang adalah ulangtahun yang paling berkesan karena kami dianggap sudah dewasa. Sudah bukan anak kecil lagi. Coco merayakan ulangtahunnya tiga kali. Ulangtahun pertama bersama keluarga besarnya. Kedua bersama teman-teman sesama pemain basket, teman-teman sekelas dan teman-teman PMR. Dan terakhir bersama kami berempat. Aku ikut merayakan ulangtahunnya dua kali.


Karena sudah berusia tujuh belas tahun artinya Coco sebentar lagi bisa punya KTP (Kartu Tanda Penduduk), SIM (Surat Ijin Mengemudi) dan SIP (Surat Ijin Pacaran). SIP ini hanya buat-buatan Daniel. Daniel bahkan menggoda Coco,


“Berarti sekarang kita bisa nonton BF (blue film) bareng-bareng nih”goda Daniel


Mungkin karena sudah dekat, obrolan vulgar sesama lelaki itu kadang tanpa filter meluncur dari mulut mereka. Aku dan Anti biasanya langsung protes. Bagaimanapun juga kami berbeda spesies. Yang mereka obrolkan itu menyangkut kami berdua, jelas kami protes jika mereka sudah mulai membahas hal-hal yang berbau mesum atau erotis.


“Tontonan unfaedah ditonton”ucapku


“Lha kan kita ini lagi belajar anatomi tubuh manusia”bela Dedi


“Beener..buat menambah khasanah pengetahuan kita”tambah Daniel


“Alasan”cibirku


Mereka, cowok-cowok tanggung yang mulai beranjak dewasa itu, memang kadang suka absurb. Tapi aku tahu, sebenarnya mereka bukan tipe cowok yang suka hal-hal berbau erotis seperti itu. Ga tau kalo pas mereka sendiri ya..Tapi saat menonton film action yang kadang dibumbui adegan ranjang, mereka pasti protes. Karena pada dasarnya mereka penyuka fim action yang bisa memacu adrenalin. Sementara adegan ranjang yang kadang disuguhkan itu, kadang ga make-sense, ga nyambung dengan alur cerita. Cenderung dipaksakan, hanya untuk meraup jumlah penonton yang banyak. Menurut mereka hal itu bikin taste film actionnya jadi ga menarik sama sekali. Kalo sekedar ciuman antar pemain utama sih ga masalah. Tapi kalo udah ditambahi adegan ranjang hot, nah..itu biasanya mereka pasti protes keras.


Biasanya genre film yang kami tonton adalah film action, science fiction atau film superhero. Coco cs tak suka jika kami menonton film romantis karena rata-rata cowok memang tak suka menonton film dengan genre seperti itu. Atau film komedi dan film horror Indonesia yang kadang menyuguhkan adegan ranjang, adegan erotis bahkan adegan wanita telanjang. Film-film seperti itu biasanya langsung masuk blacklist kami.


Biasanya kami akan memesan kursi penonton berderet untuk lima orang sekaligus. Coco biasanya duduk disampingku. Kadang jika film yang kami tonton ada adegan ciuman bibir atau ada adegan dewasanya, Coco selalu menutup mataku menggunakan tangannya yang besar. Sehingga aku tak bisa melihat adegan itu. Padahal aku kan pingin lihat.


“Kok ditutupin sih Co?”bisikku pada Coco


“Anak kecil ga boleh lihat”jawabnya


“Cuma kissing doang lho”


“Ga boleh”


“Padahal kan tadi chemistry-nya dapet banget”protesku


Coco malah menoyor kepalaku. Membuatku sebel dan jengkel banget. Kadang aku ingin membalasnya, tapi teman-teman selalu mencegahku, karena suara ribut-ribut kami sangat mengganggu. Kadang penonton yang lain yang menegur kami berdua.


“Ssstttt”seseorang dibelakangku memberi isyarat supaya kami diam


Aku akhirnya hanya menggerutu dalam hati. Sementara Coco malah senyum-senyum penuh kemenangan.


Enak aja aku disamakan dengan anak kecil. Aku kan udah SMA. Yahh, walaupun diantara kami berlima memang aku yang paling muda. Paling bungsu. Tapi masak iya, aku ga boleh nonton..


Biasanya untuk mengurangi rasa penasaranku, aku akan browsing untuk melihat film itu lagi di beberapa situs yang menyediakan layanan streaming film. Sehingga aku bisa mengobati rasa penasaranku.


Aku pernah, saat menonton bioskop, saking membosankan film itu atau mungkin karena aku sangat lelah, aku tertidur. Dan aku tertidur di bahu Coco. Saat bangun, aku kaget karena aku tidur bersandar di bahunya. Dan dia bersandar di kepalaku. Kami sama-sama tertidur.


Teman - teman yang melihat kami tertidur malah sengaja mengerjai kami berdua. Mereka meninggalkan kami berdua di  gedung bioskop, sampai petugas di gedung bioskop yang membangunkan kami. Aduhhh..aku benar-benar malu. Bisa-bisanya kami tertidur di gedung bioskop.


Begitu sampai di luar gedung, teman-teman tertawa terbahak-bahak melihat kami berdua. Tentu saja aku protes keras pada mereka bertiga. Aku pukul lengan mereka.


“Puas ketawanya?”


“Hahahaaha..”suara tawa mereka bertiga terdengar sangat mengejek.


“Kalian tega ya..ninggalin aku sama Coco di dalam”sungutku penuh emosi


“Hahahahha..salah sendiri ketiduran di sana”jawab Daniel


“Kalian juga aneh, suara keras gitu masih bisa tidur”ucap Dedi


“Kamu juga Co..kenapa diem aja waktu aku ketiduran tadi? Kenapa ga dibangunin?”


“Aku tadi udah mau bangunin..tapi kamunya yang ga bangun-bangun”jawab Coco


“Iya Vi..tadi aku lihat kok Coco pas bangunin kamu. Aku pikir dia bakal berusaha bangunin kamu..eeehhh..malah ikutan tidur juga”jawab Anti


“Kalian tidurnya pules banget..liat nih”ucap Daniel sambil menunjukkan foto yang diambilnya saat aku dan Coco tertidur tadi.


“Ihhhh..malu-maluin..hapus Dan..cepet hapus foto itu..”pintaku


“Ga mau..lucu kok..hahahahaha”


Aku pun meminta Coco membujuk Daniel untuk menghapus foto aib kami berdua.


“Co..bantuin dong..jangan diem aja”protesku


“Bantuin apa?”tanyanya enteng


“Rebut hp Daniel kek..apa kek..jangan diem aja”protesku


Coco memang anaknya cenderung cool dan cuek. Jadi hal remeh seperti ini dia malas berurusan. Tapi bagiku ini adalah hal besar, makanya aku protes terus.


“Dan..hapus foto itu”ucap Coco


“Kenapa? Ini lucu banget lho..kalian ga mau?hahahaaha..”


“Udah..udah..gitu aja kamu sewot Vi”ucap Anti mencoba menenangkanku


“Iya..biarin aja”


“Awas ya Dan, kalo sampe foto itu nyebar kemana-mana..aku ga mau maafin kamu”ancamku pada Daniel


“Iya..iiya”jawab Daniel


Akhirnya aku harus menerima kenyataan, fotoku dan Coco yang sedang tidur berdua dishare ke grup chat kami berlima. Dan dijadikan bahan olok-olokan teman-teman. Untungnya hanya kami berlima yang tahu. Daniel menepati janjinya untuk menjaga “rahasia” ini, hanya untuk konsumsi kami berlima saja.


Biasanya setelah nonton bioskop, kami lanjutkan acara kami dengan nongkrong di food court atau di café milik kakak Dedi yang biasa kami jadikan sebagai basecamp. Kadang saat sedang makan, Coco sering menjahiliku. Dia sering tiba-tiba meminum minumanku, padahal minuman yang dipesannya masih banyak. Dia melakukannya saat aku sedang ngobrol dengan yang lain.


“Enak ga?”tanyaku


Dia ga jawab, malah menyodorkan minumannya padaku. Akhirnya kami malah saling bertukar minuman. Dan kami mulai ngobrol bersama dengan teman-teman.


“Kalian ikut wisata akhir ga?”tanya Dedi padaku dan Anti


“Ikut”


“Ikut yang ke Eropa apa ke Lombok?”tanya Daniel


“Ke Eropa”jawab Anti


“Wah..asyik nih..kita bisa liburan bareng”jawab Daniel


Kami pun mengobrol tentang rencana wisata akhir tahun kami. Pulang dari café, atau food court, Coco pasti mengantarku pulang.


Sepanjang perjalanan kami selalu ngobrol dan bercanda berdua. Sungguh hari-hari yang kulalui di kelas XI sangat indah. Aku dan Coco sangat dekat. Aku merasa menjadi gadis yang paling beruntung karena dia jadi “kekasih”ku, hahahahaha…