Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Kesan Pertama



Coco POV


Hari pertama masuk SMA, aku bertemu dengan seorang gadis, siswi baru. Wajahnya yang sangat cantik sempat membuatku terpesona. Dialah Vivi. Namanya pun juga sangat cantik. Viviane Mikaylafayza Putri. Gadis cantik dengan senyumnya yang menawan. Kulitnya yang putih, rambutnya yang tergerai indah dan sorot mata yang sangat indah. Membuat setiap lelaki yang memandangnya pasti terpikat dengan pesonanya.


Pertamakali kami bertemu adalah saat dia berjalan memasuki sekolah. Dia yang diantar papanya ke sekolah, sedang berjalan sendiri memasuki sekolah. Dan saat berpapasan dengan temannya, senyumnya mengembang. Dia yang tersenyum saat itu terlihat sangat cantik.


Pertemuan kedua kami adalah saat dia tanpa sengaja menabrak bahuku saat akan masuk kelas. Selama beberapa detik, aku merasa terpikat pada gadis cantik yang sudah menabrakku itu. Senyumnya benar-benar indah. Namun aku berusaha menutupi kekagumanku dengan memasang ekspresi sedatar mungkin. Ternyata kami sekelas.


Gadis itu sangat ramah, baik dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan diriku yang tidak mudah akrab dengan orang lain. Menurut Dedi dan Daniel sahabatku, aku itu sombong dan menyebalkan. Itu sebabnya aku tak punya banyak teman.


Menurutku, di antara semua anak putri satu angkatanku, di kelas X, dialah yang tercantik. Dan itu juga diakui oleh teman-teman cowok sekelasku. Banyak yang mengaku naksir Vivi.


Kebetulan cowok-cowok di kelasku punya grup chat. Awalnya grup itu untuk membahas tugas-tugas. Tetapi kebanyakan malah membahas cewek-cewek cantik di sekolah. Salah satunya Vivi. Mereka (teman-temanku cowok) banyak yang naksir pada Vivi. Bahkan mereka suka membagikan foto-foto Vivi di grup. Kebanyakan foto itu diperoleh dari foto candid mereka atau mengambil dari Facebook Vivi.


SMP kami berbeda makanya aku tak mengenalnya. Menurut teman satu SMP nya yang juga satu kelas denganku, dulu di SMP nya dia sangat populer, karena selain cantik dia juga termasuk anak yang pandai. Dia sering mewakili sekolahnya mengikuti perlombaan cerdas cermat antar sekolah. Dari yang kudengar, selama di SMP, banyak yang sudah “menembak”nya tapi mereka semua ditolak.


Saat dia tersenyum, dia benar-benar cantik. Suara tawanya pun sangat enak didengar. Seperti sebuah melodi lagu ditelingaku. Dia juga tinggi dan langsing. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Karena kecantikan dan kepribadiannya itu membuat cowok-cowok di kelasku sering membicarakan dia. Bahkan anak-anak kelas sebelah juga sering membicarakan dia. Dia memang cewek yang sangat sempurna, di mataku.


Rupanya dia anak yang mandiri. Ketika kami di perpustakaan sedang mengerjakan tugas dari guru biologi kami, sempat kutolong dia. Saat itu dia mau mengambil buku di rak yang letaknya lebih tinggi dari jangkauan tangannya. Meskipun aku berada di sampingnya, tetapi dia tak meminta bantuanku.


Ketika buku-buku itu hampir jatuh mengenai kepalanya, untungnya aku bisa dengan sigap menangkap buku-buku itu. Saat berdiri di belakangnya kala itu, bisa kucium aroma rambutnya yang sangat wangi. Dan ketika dia menoleh kearahku, entah kenapa jantungku berdegup sangat kencang. Salah posisi sedikit saja, aku bisa mencium keningnya waktu itu. Segera saja kukembalikan buku-buku ke raknya dan segera kutinggalkan dia.


Entah apa yang dipikirkannya, tapi ekspresinya ketika memukul-mukul kepalanya sendiri sangatlah lucu. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku saat tersenyum melihat ekspresi lucunya itu.


Sejak saat itu aku menjadi sering memperhatikan dia. Kadang mata kami saling berpandangan. Tetapi aku memang tidak pernah mengajaknya bicara, karena kami tidak saling mengenal. Aku juga susah akrab dengan orang lain. Kata Dedi, sahabat baikku sejak kecil, aku orangnya menyebalkan. Tidak semua orang bisa menerima kepribadianku ini.


Aku suka memperhatikan dia dari jauh. Pernah satu ketika, selesai pelajaran olahraga, kulihat dia sedang merapikan tali sepatunya. Rambutnya yang panjang selalu diikat di belakang. Aku berjalan di belakangnya.


Tiba-tiba Arsy, teman sekelasku berjalan mengendap dari belakangku mencoba mengagetkan dia. Ternyata Arsy, menarik tali rambutnya. Membuat rambutnya yang panjang, terurai dengan indahnya. Dia kelihatan sangat cantik dengan rambut terurai seperti itu. Ingin rasanya saat itu aku katakan padanya,


“Biarkan saja rambutmu terurai, kamu kelihatan cantik dengan rambut terurai”.


Tapi aku tak berani. Aku memilih diam, dan berlalu meninggalkan dia dengan ekspresi cemberutnya yang sangat menggemaskan. Sesekali kutengok ke arahnya, dia sedang berlari mengejar Arsy yang sudah menjahilinya.


*


*


*


*


Ketika kelasku mengikuti lomba classmeeting, dalam rangka ulangtahun sekolahku ke-50, aku ditunjuk menjadi kapten tim. Basket adalah olahraga favoritku sejak di bangku Sekolah Dasar. Aku juga selalu mengikuti ekskul basket sejak SMP. Aku sering mewakili sekolahku saat ada perlombaan basket. Prestasi tertinggiku adalah menjadi MVP (Most Valuable Player) saat menjuarai lomba basket antar provinsi dalam rangka Pekan Olahraga Pelajar tingkat Provinsi.


Aku senang selama lomba classmeeting itu, Vivi selalu datang memberi support pada timku. Pernah satu ketika, setelah aku berhasil mencetak angka, aku berdiri di depan deretan kursi penonton yang Vivi dan teman-temanku tempati. Aku tersenyum padanya. Dia balas tersenyum membuat aku semakin bersemangat memenangkan pertandingan.


Penonton pertandingan biasanya didominasi cewek-cewek. Mereka yang selalu berteriak histeris setiap para pemain saling berebut bola dan berteriak memberi kami support tiap berhasil mencetak angka maupun saat kami gagal mencetak angka. Kadang saking bersemangatnya berebut bola dengan pemain lawan, tanpa sengaja membuat jersey yang kami kenakan terbuka. Dan hal itu berhasil memancing jerit histeris cewek-cewek yang menyaksikan pertandingan.


Aku ingat waktu itu, Vivi yang melihat jerseyku tersingkap setelah berebut bola, yang tanpa sengaja memperlihatkan otot perutku, ikut menjerit histeris, dan saat aku menatapnya sekilas, kulihat dia menutup matanya. Karena aku berdiri kebetulan tepat di depannya, menghadap ke arahnya. Membuat dia melotot lalu menutup matanya dengan kedua tangannya. Ekspresinya saat itu benar-benar menggemaskan.