
Aku sangat menikmati kebersamaanku bersama Dila dan Chiara. Dua gadis cantik yang sudah lama bersahabat, yang meskipun memiliki karakter yang berbeda namun mereka bisa saling melengkapi. Mengingatkanku pada persahabatanku dengan Anti.
“Debay nya kak Vivi dah berapa bulan?”tanya Dila sambil mengelus perutku pelan.
“Udah hampir lima bulan”
“Cowok apa cewek kak?”tanya Chiara
“Ehmm..ga tau. Tiap kali USG aku sama Coco, suami kakak sengaja ga pingin tau”
“Biar surprise ya kak?”tanya Dila
“Iya..cewek apa cowok kami ga masalah. Yang penting sehat sempurna. Doain lancar sampai nanti lahiran ya?”pintaku
“Iya kak..aku doain lancar”jawab Dila
“Semoga lancar ya kak. Dedek sehat terus ya?”ucap Chiara sambil mengelus perutku pelan.
Selama aku ngobrol dengan Dila dan Chiara, aku perhatikan dua dosgan di depanku lebih banyak diam. Membuatku penasaran, mungkinkah karena ada dua gadis cantik di sampingku ini maka mereka berdua jadi jaim gitu?
“Kamu masih single, Adrian?”tanyaku pada Adrian.
Mungkin karena pertanyaanku yang tiba-tiba, membuat Adrian kaget hingga dia tersedak.
“Uhuk..uhuk..”
Adrian yang tersedak membuat kami semua kuatir.
“Kamu ga papa Adrian?”tanyaku kuatir
“Pak Adrian beneran ga papa?”tanya Chiara
“Aku ga papa”jawab Adrian
Kulihat Chiara kuatir banget gara-gara Adrian tersedak tadi. Raut wajahnya benar-benar keliatan kuatir banget. Membuatku semakin merasa ada yang aneh diantara mereka berdua.
“Kamu kenapa? Kaget gara-gara aku tanya masih single apa ga?”tanyaku pada Adrian setelah kulihat dia sudah lebih baikan.
Adrian hanya tersenyum.
“Kalo kamu Ar? Masih jomblo apa udah punya gebetan?”tanyaku pada mantan playboy sekolah yang sudah jadi dosgan itu.
Aku ga tau apa karena aku sekarang ga punya kerjaan jadi sering lihat berita infotainment atau kebanyakan baca gosip artis-artis hingga jiwa netijenku meronta-ronta, tapi gesture dan tatapan Arsy sama Dila bikin pikiranku mengelana kemana-mana. Jangan-jangan Arsy ada “sesuatu” sama Dila.
Sumpah..Arsy jadi makin aneh tiap di dekat Dila. Seperti dulu waktu kami sempet ketemu di mall beberapa bulan lalu.
“Kok ga dijawab Ar? Malu sama Dila ya?”godaku pada Arsy
“Whatt? Kenapa mesti malu?”tanya Arsy
“Kak Vivi ngomong apaan sih?”tanya Dila
“Hehehehe..abis kalian berdua tuh kalo udah barengan jadi aneh liatnya. Kayak ada apa-apanya gitu”
“Ada apa-apanya gimana maksudmu Vi? ”
“Jawab aja sendiri”
Di tengah-tengah pembicaraan kami, tiba-tiba datang seorang cowok ganteng yang menghampiri Chiara.
“Ara?”panggil cowok ganteng itu
“Bryan? Ngapain kamu disini?”tanya Chiara yang rupanya biasa dipanggil Ara oleh cowok itu.
“Kamu kenapa kesini? Kamu ga ada kuliah?”tanya Adrian pada cowok bernama Bryan itu.
“Aku nganter temenku..kakak juga ngapain disini? Nongkrong sama mahasiswinya sendiri?”jawab Bryan ketus
Segera kutarik Dila dan kubisikkan sesuatu di telinganya karena aku bener-bener penasaran dengan situasi canggung yang tiba-tiba menyeruak di meja kami.
“Itu siapa Dila?”bisikku pada Dila
“Adiknya Pak Adrian”jawab Dila pelan
Whattt? Adrian dan Bryan adik kakak? Tapi kenapa sikap mereka berdua malah dingin dan tak akur seperti itu.
“Selesai kuliah kamu jadi ke toko buku?”tanya Bryan sama Chiara.
“Jadi”jawab Chiara
“Kalo gitu, nanti aku antar”ucap Bryan
Chiara mengangguk pelan.
“Oke..aku duluan. Hubungi aku kalo udah selesai kuliah”ucap Bryan sambil mengelus rambut Chiara.
Bryan kemudian meninggalkan kami setelah berpamitan.
Aaahhh..so sweet banget sih mereka..
Walaupun Bryan tampangnya sangar dan cool banget, tapi dia keliatan care banget sama Chiara. Aku yakin pasti Bryan ini suka Chiara. Aku yakin itu.
“Adikmu masih ga berubah ya?”ucap Arsy begitu Bryan meninggalkan meja kami.
“Ya gitu lah”jawab Adrian
“Itu tadi adikmu, Adrian?”tanyaku
“Iya”
“Kalian ga akur ya?”
Adrian mengangguk sambil tersenyum.
Karena aku memang tak mau mengulik terlalu jauh hubungan kakak beradik yang tidak akur itu akhirnya aku alihkan pembicaraan saja.
“Oya Dila, kalo di U*M masih ada sunmor kan?”
“Masih kak..kak Vivi di jogja sampai kapan?”
“Rencana sih sampai hari Selasa. Aku mau babymoon di Jogja, hihihihi”
“Sok-sokan babymoon Vi”cibir Arsy
“Hishhh..terserah aku dong. Lagian Coco juga ga keberatan”
“Kak Vivi mau jalan-jalan di sunmor besok minggu?”tanya Chiara
“Pinginnya sih..tapi aku belum bilang Coco, suami kakak”
Hp ku berdering. Coco panjang umur. Baru dibicarain, udah nelpon. Kuangkat telpon dari suamiku tercinta.
“Iya Co?”
“Kamu dimana sekarang?”
“Di U*M, di kampusnya Dila. Meetingmu gimana? Udah selesai belum?”
“Aku jemput kesana sekarang. Jangan kemana-kemana”
“Iya..aku tunggu ya”
Kututup telpon Coco. Dari nada bicaranya sepertinya Coco kesal. Apa mungkin Coco marah karena aku jalan-jalan sendiri tanpa minta ijin langsung sama dia? Tapi kan tadi aku udah ngabari lewat chat. Wahhh..ngalamat dimarahin lagi nih..
“Kak Vivi kenapa?”tanya Dila
“Ah..ga papa”jawabku sambil tersenyum
“Suami kakak marah ya?”tanya Chiara
“Ga kok..ga papa”
“Ga usah ditutupi Vi..suamimu yang posesif itu pasti sekarang lagi kebakaran jenggot karena bininya ilang, iya kan?”ejek Arsy
Dasar si Arsy, tau aja kalo suamiku baru marah.
Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Coco sampai juga di kantin kampus U*M, di kampusnya Dila. Dan benar saja tebakanku dan Arsy, wajah Coco jadi ga bersahabat. Keliatan banget kalo lagi marah.
“Meetingnya udah selesai?”
“Udah selesai belum jalan-jalannya? Kalo udah, kita pulang aja sekarang”
“Apa kabar Co?”sapa Arsy
“Baik..kamu disini sekarang?”tanya Coco pada Arsy sambil menjabat tangan Arsy dan Adrian.
“Iya..aku dosen disini”
Arsy dan Coco ngobrol selama beberapa menit.
“Oke..aku sama Vivi balik dulu ya..Mari”
“Aku duluan ya..nanti aku kabari lagi ya Dila. Senang bertemu denganmu Chiara”
“Iya kak”
“Aku duluan ya Ar..Adrian”
Setelah berpamitan, akupun pulang bersama suamiku tercinta. Sepanjang jalan menuju mobil, Coco terus menggandeng tanganku. Kadang aku bersyukur, karena sikap posesif Coco padaku kadang membuat dia kurang peka dengan sekitarnya. Termasuk saat tadi kami bertemu dengan mahasiswi-mahasiswi cantik yang ada di kampus Dila. Padahal mereka tadi heboh gitu setelah lihat suamiku yang gantengnya kelewatan. Tapi gara-gara lagi marah, dia B aja.
Apalagi waktu Coco bukain pintu mobil lalu melindungi kepalaku, ciwi-ciwi yang ada di deket mobil kami jadi heboh sendiri. Aku bisa dengar celetukan-celetukan mereka tadi.
“Iihh..cowoknya so sweet banget sih”
“Iya..mana ganteng banget lagi”
“Aku mau dong dikasih satu yang kek gitu”
“Emang kamu doang..aku juga mau kali”
Celetukan mereka membuat aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, hahahaha…
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?”tanya Coco sambil memasangkan sabuk pengaman yang tadi lupa tidak aku pasang.
“Itu barusan..ciwi-ciwi diluar bicarain kamu”
“Oh ya, ngomongin apa?”tanya Coco sambil memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri lalu menyalakan mesin mobil.
“Kamu ga denger mereka tadi bicara apa?”
“Enggak”
“Hishh..makanya kalo marah tuh dikondisikan dulu. Di luar tadi pada heboh gitu, kamunya malah ga nyadar”
“Oh ya?”
Dasar cowok ga peka. Untung ga pekanya sama cewek cantik di luar, jadi aku maafkan lah..
“Ehmm..Kamu marah Co? Gara-gara aku keluar hotel ga pamit kamu tadi?”
“Kamu kan tahu aku ga suka kamu keluyuran sendiri”
“Aku tadi tuh dah nelpon kamu tapi ga kamu angkat. Makanya aku kirim chat itu tadi. Aku bosen banget sendirian di hotel. Makanya aku jalan-jalan ke kampusnya Dila”
“Sayang..tadi aku masih meeting”
“Iya..aku juga tau. Tapi diangkat bentar kan ga papa”
Aku kesal karena Coco. Padahal jelas-jelas aku udah berusaha menghubungi dia, tapi dia tetap menyalahkan aku.
“Ya udah..aku minta maaf. Jangan cemberut gitu”
“Kamu sih yang mulai”
“Dedek baik-baik aja sama bunda kan?”tanya Coco sambil mengelus perutku sementara tanganya yang lain memegang kemudi dan pandangannya lurus ke depan.
“Iya ayahh”jawabku dengan suara seimut mungkin.
Coco tertawa mendengar suara imutku barusan. Mungkin karena rasa sayang dan cinta kami berdua yang sangat besar (cieeee..) membuat aku dan Coco sekarang lebih cepat berbaikan. Akhirnya aku dan Coco ngobrol santai tentang meetingnya tadi.
“Oh ya Co..kita jadi kan disini sampai Selasa?”
“Emang kamu mau kemana aja?”
“Besok minggu aku mau ngrasain sunmor di U*M”
“Sunmor?”
“He em”
“Apaan itu?”
“Sunmor tu Sunday Morning Market. Pasar Dadakannya U*M lah”
Kuceritakan semua yang kutahu tentang SunMor pada Coco.
Sunday Morning (Sunmor) adalah pasar dadakan yang biasa diadakan setiap hari minggu. Lapak penjual yang bertempat di sepanjang jalan penghubung dari Selokan Mataram hingga Sagan yang sudah ada sejak tahun 1990an. Karena lokasinya yang berada di kawasan UGM menyebabkan area ini lebih dikenal sebagai Sunmor UGM. Koridor Sunmor membentang sepanjang 1,5 Km terdiri dari tiga jalan yaitu Jalan Notonagoro, Jalan Lembah, dan Jalan Wirata.