Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
SAH!



Hari bersejarah dalam hidupku akhirnya datang juga. Hari pernikahanku bersama Coco. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Ada perasaan bahagia karena akhirnya aku akan bersanding dengan lelaki yang sangat kucintai. Ada perasaan cemas dan gelisah juga. Namun juga ada perasaan sedih karena aku akan meninggalkan kedua orangtuaku, Ayah Bundaku untuk mengikuti suamiku kelak. Selama hampir dua puluh tiga tahun usiaku, mereka berdua selalu menjaga dan menyayangiku. Memberikan semua yang terbaik untukku seorang. Dan kini tiba waktunya aku akan meninggalkan mereka, untuk mengabdi pada suamiku.


Dua hari sebelumnya, sebuah tenda besar dengan hiasan yang didominasi kain warna gold dan putih didirikan di depan rumahku mulai dari garasi sampai menutupi separo jalan sepanjang perumahanku. Acara akad nikah sengaja dilaksanakan di rumah. Ruang tamu dan ruang keluarga lantai satu pun sejak dua hari kemarin sudah dihias dan dijadikan sebagai tempat akad nikah dengan hiasan kain warna putih dan cream serta beberapa buket bunga segar warna pink dan putih. Sementara halaman belakang disulap menjadi garden party, dengan beberapa meja panjang untuk meletakkan makanan prasmanan dan beberapa kursi di sekeliling kolam renangku.


Dari pagi buta, semua orang sudah bersiap-siap untuk menyambut hari bahagiaku. Aku dirias oleh penata rias langgananku. Kak Vera. Dia yang sudah menjadi langgananku sejak menjadi kontestan prince and princess di SMA dulu. Kak Vera sengaja diminta Bunda meriasku. Mungkin karena aku kelihatan sangat gugup makanya kak Vera mengajakku ngobrol.


“Akhirnya nikah juga ya de’..Selamat ya”


“Makasih kak”


“Calon suami orang mana de’?”


“Temen SMA”


“Oh ya? De’ Vivi cantik banget gini..calonnya pasti juga ganteng”


“Ganteng banget kak..mirip artis korea”sahut Anti yang juga dirias bersamaku


“Apaan sih An? Kedengeran kak Ilham baru tau rasa kamu”


“Ga papa..lha kan Coco emang ganteng”


Akhirnya percakapan bergulir di ruangan itu. Ghibahin betapa gantengnya calon suamiku, hihihi..


Karena memang calon suamiku paling ganteng se-Indonesia Raya..aku selalu bersyukur mendapatkan lelaki sebaik dan setampan Coco. Yang dalam hitungan jam akan menjadi suamiku.


“Udah ga usah nervous de’”ucap kak Vera


“Kelihatan ya kak?”tanyaku


“Lha ini bibirnya sampe pucet banget..Santai aja..Ga usah nervous”pesan kak Vera


“Tuh kan..sekarang kamu tahu kan gimana rasanya mau nikah. Ingat, waktu aku nikah, kamu pegang tanganku sampe keringetan. Ya kayak gitu rasanya..Nano nano”ucap Anti


Akhirnya aku tahu apa yang dirasakan Anti waktu dia nikah satu setengah tahun lalu. Saat itu aku pegang tangannya sampai keringatan. Persis seperti yang terjadi padaku hari ini.


Kak Vera memang penata rias andalan. Hasil riasannya tak pernah mengecewakan. Aku sangat senang melihat hasil riasan kak Vera di wajahku. Membuatku terlihat cantik di hari bahagiaku. Untuk akad nikah, aku mengenakan kebaya putih panjang berbahan lace, dengan kerah cheongsam, kancing depan dan ekor gaun yang lebar menjuntai. Kebayaku ini senada dengan beskap putih yang nanti dikenakan Coco.


“Pengantin pria sudah datang, ayo siap-siap”seru Tante Imel pada kami


“Ya Allah, cantiknya calon pengantin hari ini”ucap Tante Ida sambil menangkup wajahku.


“Udah mah..ditunggu di bawah”ucap Anti pada mertuanya, Tante Ida.


“Oh iya, sampe lupa..kamu temenin Vivi ya..nanti kalo udah siap segera turun ke bawah. Mamah nemenin bundamu dulu”


“Iya mah”


“Iya tante”


Jantungku semakin tak karuan. Berasa konser, detaknya cepet banget.


“Udah Vi..ga usah mondar mandir gitu” ucap Vivi sambil tertawa kecil melihat aku yang nervous.


“Kok aku kebelet pipis An”


“Ga boleh..masak mau pipis sekarang”


“Gimana dong?”


“Vivii ahhh..nervous ya nervous masak kebelet pipis juga sih”


“Dah ga tahan An”


“Ya udah aku bantuin pegang train mu..iiihhh..ada ada aja kamu Vi”protes Anti


Saking nervousnya, sampai-sampai aku kebelet pipis. Anti terpaksa menemani aku di toilet untuk memegangi train panjangku. Setelah menyelesaikan hajatku, aku bisa bernafas lega.


“Kamu ada-ada aja sih Vi..udah mau akad malah kebelet pipis”keluh Anti sambil mengantarku keluar toilet


“Ga tau..tiba-tiba aja jadi kebelet pipis. Perutku juga rasanya mules”


“Udah tenang..tarik nafass”Anti mengajariku menarik nafas panjang. Aku pun mengikutinya.


“Hembuskan”


Aku dan Anti menghembuskan nafas melalui mulut.


“Kalian ngapain sih?”tanya kak Ilham begitu memasuki kamarku dan melihat tingkah absurd kami berdua.


“Itu Vivi..masak gara—gara nervous mau nikah, kebelet pipis segala”


“Vi..vi..baru juga akad dah nervous, gimana kalo nanti malam”goda kak Ilham


Kedua suami istri yang sangat kompak itu berhasil menggodaku. Membuatku hanya bisa mengerucutkan bibirku.


“Udah ga usah cemberut..kasihan calon suamimu dah nunggu di bawah. Kita turun sekarang ya?”ajak kak Ilham


Aku pun mengangguk pelan. Aku turun ke lantai satu diapit Anti dan Chika, sementara Lala memegangi ekor gaunku agar tak mengganggu langkah kakiku. Selangkah demi selangkah kutapaki anak tangga ini, dengan sangat hati-hati. Karena memang kebaya yang kukenakan slimfit, sehingga membuatku sedikit kesulitan untuk berjalan. Sampai di anak tangga terakhir, kulihat para tamu undangan yang sebagian besar adalah kerabat dan teman- temanku dan Coco sudah menunggu. Di meja yang tak jauh dari tangga kulihat barang-barang seserahan sudah diletakkan dengan sangat rapi. Sempat kulihat Dila yang menggerakkan bibirnya


“Kakak cantik”


Aku tersenyum dan membalasnya,


“Makasih”


Kulihat Coco sudah duduk di kursi tempat akad nikah kami dilangsungkan. Dia duduk menghadap penghulu dan Ayah. Sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Begitu juga dengan Coco yang tak bisa melihatku. Begitu sampai di kursiku, Coco baru menoleh ke arahku.Kulihat Coco tersenyum padaku dan kubalas senyumnya.


Ya Allah..Coco ganteng banget..Jantungku rasanya mau copot lihat calon suamiku yang kelihatan ganteng banget hari ini. Baru kali ini aku lihat cowok keturunan Cina pakai beskap, rupanya ganteng juga.


Begitu aku duduk, acara akad nikahpun dimulai oleh MC. Diawali dengan pembukaan dan pembacaan Ayat suci Al Quran. Dilanjutkan dengan khotbah nikah. Khutbah nikah bertujuan sebagai pengingat serta pembekalan kedua pengantin akan pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga. Khutbah nikah tersebut disampaikan oleh penghulu atau petugas KUA. Acara Khutbah nikah diawali dengan mengucapkan hamdallah, istighfar, serta syahadat. Lalu, diikuti oleh bacaan ayat-ayat Al Quran, penyampaian hajat, dan inti khutbah nikah.


Acara selanjutnya adalah ijab qabul. Acara paling sakral, mendebarkan dan membuatku spot jantung. Penghulu terlebih dahulu memberitahu pada Ayah dan Coco tentang ijab qabul. Kemudian Ayah dan Coco saling berjabat tangan.


Jujur saja, perasaanku semakin tak karuan melihat dua lelaki penting dalam hidupku pada acara ijab qabul ini. Aku terus menatap keduanya. Momen paling bersejarah dalam hidupku baru saja akan dimulai. Sebelumnya kami semua mengucapkan basmallah dan istighfar agar terbebas dari gangguan jin dan setan. Dan ketika Ayah dengan suara beratnya mulai mengucapkan kalimat akad,


“Ananda Marco Reynand Valencio bin Andy Valencio, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Viviane Mikaylafayza Putri dengan maskawin perhiasan emas seberat 150 gram dan uang tunai USD 2.401 dibayar TUNAI.”


Begitu Ayah mengucapkan kalimat akad, dengan segera Coco langsung menjawabnya dengan lantang,


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Viviane Mikaylafayza Putri binti Abimana Surya Saputra dengan maskawin yang tersebut, dibayar TUNAI.”


Saat Coco menjawab, entah kenapa aku ikutan tegang. Sampai-sampai rasanya seperti menahan nafas.


“Bagaimana saksi? Sah?”tanya pak penghulu pada Om Wira, Ayah kak Ilham dan Opa, saksi dari pihak Coco.


“SAH”ucap kedua saksi lantang


Tak bisa kusembunyikan perasaan legaku begitu Coco berhasil mengucapkan kalimat qabul dalam akad nikah kami dengan satu tarikan nafas dan saat kedua saksi mengucapkan kata “SAH”.  Kulihat keluargaku dan keluarga Coco ikut bahagia, karena berhasil melewati fase mendebarkan dalam akad nikahku. Perasaan haru kemudian menyelimutiku kala kulihat Ayah mengusap matanya. Baru kali ini aku melihat Ayah yang biasanya kokoh tegar sekuat baja, menitikkan airmatanya kala melepasku untuk menempuh kehidupan baruku bersama Coco, lelaki yang sekarang sudah resmi menjadi suamiku.


Kutatap mata Ayah yang memerah. Membuatku ingin menangis juga melihat Ayah yang selalu melindungiku dan menjagaku dengan seluruh hidupnya. Coco yang melihatku sedih, kemudian menggenggam tanganku erat.


Selanjutnya penghulu mengucapkan doa akad nikah untuk kami berdua.


““Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”


Artinya:


“Semoga Allah memberkahi engkau, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan engkau berdua pada kebaikan.”


Aku dan Coco kemudian dibimbing penghulu untuk menandatangani buku nikah sebagai salah satu dokumen penting agar juga sah di mata hukum. Dengan ditandanganinya buku nikah, itu artinya aku dan Coco sudah resmi sebagai sepasang suami istri di mata agama dan negara. Penghulu kemudian membimbing Coco untuk memanjatkan doa setelah nikah untuk isteri. Coco meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, aku pun mengangkat kedua tanganku untuk mengamini doa suamiku, kemudian Coco mengucapkan doa yang isinya :


“Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.”


Artinya:


“Ya Allah, aku memohon dari-Mu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.”


Setelah mengucapkan doa, Coco mengecup keningku lembut.


Acara berikutnya, MC meminta aku dan Coco berdiri berhadapan untuk serah terima mahar pernikahan kami yang sudah dibingkai cantik. Fotografer dengan sigap mengabadikan momen itu. Tak lupa acara tukar cincin, dimana aku dan Coco saling memasangkan cincin kawin di jari manis kami berdua. Dan setelahnya kucium punggung tangan suamiku. Coco juga mencium keningku lembut.


Akhirnya aku dan Coco bisa tersenyum bahagia setelah kami dinyatakan resmi sebagai suami istri. Acara berikutnya adalah Nasehat Pernikahan oleh ustadz Anwar, teman Ayah di pengajian sekaligus guru agamaku dan Coco saat SMA. Karena kenal baik dengan Ayah, maka beliau masih mengingatku. Dan ketika tahu aku akan menikah dengan Coco, beliau kemudian bernostalgia menceritakan kami berdua.


“Mereka berdua ini dulu murid saya di SMA XX. Jadi saya kenal mbak Vivi dan mas Marco. Dulu waktu SMA, banyak banget teman guru yang memprediksi mereka ini bakal nikah. Bener bapak ibu? Soalnya dulu mereka ini tiga tahun juara lomba apa itu namanya..Oh ya..prince and princess sekolah kami. Mereka berdua ini legend lho bapak ibu.. Juara tiga tahun berturut-turut. Sampai sekarang belum ada yang mengalahkan mereka berdua ini”


Aku dan semua undangan tertawa kecil mendengar cerita ustadz Anwar. Coco menggenggam tanganku sambil tersenyum.


“Saya dulu awalnya juga ga percaya. Saya pikir juga kayak anak-anak SMA yang lain, yang pacaran terus putus. Eh..dua anak ini ternyata langgeng juga sampai sekarang. Selamat ya mbak Vivi dan mas Marco”


Aku dan Coco mengangguk pelan mendengar pengakuan ustadz Anwar. Setelah memberikan petuah dan nasehat pernikahan, ustadz Anwar menutup acara akad nikah dengan doa. Suasana benar-benar khidmat. Membuatku sekali lagi hanyut dalam doa-doa yang dipanjatkan ustadz Anwar untuk kami berdua.


Akhirnya acara akad nikahku selesai. Penghulu pun pamit pulang. Aku Coco dan seluruh keluarga besar kami berdua berkumpul di halaman belakang untuk menikmati makanan yang sudah disajikan. Karena gaun kebayaku yang agak ribet, Coco membantuku berjalan. Aku melingkarkan tanganku di lengannya. Aku berjalan dengan pelan-pelan karena kebetulan sepatu high heels yang kupakai juga tinggi. Sehingga menyulitkan aku berjalan.


Acara garden party di halaman belakang memang sengaja kubuat senyaman dan sesantai mungkin, sehingga aku dan para tamu undangan bisa menikmati hidangan dan berbincang santai.


“Selamat ya de’..Co”ucap kak Ilham


“Viviii..selamat ya..udah sah kalian sekarang jadi suami istri”ucap Anti padaku sambil memeluk tubuhku.


“Iya makasih..makasih juga debay..udah mau nemenin tante keliling-keliling ya”ucapku sambil mengelus perut buncit Anti.


Satu per satu tamu undangan memberi selamat padaku dan Coco. Kami juga berfoto bersama. Akhirnya setengah perjalanan sudah aku lewati. Aku sangat bahagia bisa berkumpul bersama orang-orang yang kusayangi, berbagi momen indah pernikahanku dengan Coco.