Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Kualat



Teman-temanku langsung lari tunggang langgang begitu melihat sosok menyeramkan pak Eko. Beliau pasti baru saja mengusir anak-anak yang juga nongkrong di kantin belakang, atau mungkin beliau baru keliling sekolah, mencari mangsa. Anak-anak yang bolos pelajaran.


Nasi kucingku yang tinggal sedikit, akhirnya aku lahap semua. Padahal sambelnya masih banyak. Daripada aku ketangkap pak Eko, mending aku segera habiskan makananku dan kembali ke kelas. Saat itu, aku tak kepikiran untuk membungkus nasiku dan menghabiskan di kelas. Aku sama sekali tak bisa berpikir karena panik melihat pak Eko.


Aku dan teman-teman pun berlarian. Ada beberapa yang tak beruntung, ketika mau lari malah tersandung kursi di kantin yang modelnya memanjang. Akhirnya temanku ada yang jatuh. Pasti sakit! Aku yakin itu tadi pasti sangat sakit!


Kami semua, aku dan teman-teman lari tunggang langgang menjauhi pak Eko. Kami segera kembali ke kelas secepat mungkin agar tak mendapat hukuman pak Eko. Sampai di kelas, aku langsung duduk di kursiku. Perutku yang baru saja kemasukan sambal, kuajak berlari-lari. Membuat perutku rasanya panas. Efek sambal yang aku makan tadi. Aku bisa menduga, pasti nanti aku akan sakit perut.


Aku merasa sudah kualat pada Coco, karena tak mendengarkan ucapannya. Padahal tadi dia sudah memperingatkan aku, tapi malah aku dengan sombongnya bilang tak kan sakit perut.


Untungnya aku dan beberapa temanku, sampai di kelas tepat waktu. Karena beberapa detik kemudian bu Indri, guru biologiku yang mengampu pelajaran berikutnya, sudah datang ke kelas. Teman-temanku yang datang terlambat setelah kedatangan bu Indri, tentu saja mendapat hukuman.


“Kok kelasnya sepi? Yang lain mana?”tanya bu Indri dengan raut muka sedikit marah melihat kelasku yang agak lengang.


Belum sampai kami jawab, teman-temanku datang bersamaan. Mereka tampak kelelahan sudah lari.


“Darimana kalian? Kenapa baru datang?”tanya bu Indri


“Dari kantin bu”


“Saya dari toilet bu”


Masing-masing anak memberikan jawabannya dengan nafas yang terengah-engah. Mereka memang sedang apes hari itu. Menghindari Pak Eko malah ketemu bu Indri yang juga tak kalah menakutkan. Karena bu Indri juga wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Pasti teman-temanku yang terlambat akan mendapat hukuman yang berat.


Dan benar saja.


“Silahkan kalian menghadap pak Eko sekarang di ruang BK. Minta surat ijin terlambat”perintah bu Indri


“Kasihan mereka ya”ucapku lirih pada Anti


“Iya..ya..tadi lari supaya ga ketemu pak Eko malah sekarang suruh menghadap langsung”bisik Anti padaku


Aku kadang heran, apa guru-guru itu punya indera keenam atau pendengaran mereka sangat super. Aku yang berbisik-bisik dengan Anti, malah ikutan kena semprot bu Indri.


“Kalian berdua kenapa bisik-bisik? Mau ikutan ke BK?”tunjuk bu Indri padaku dan Anti


“Enggak kok bu..kami ga ngapa-ngapain”kelitku


Hampir saja aku kena damprat bu Indri. Beliau kalo sudah marah mirip singa betina.


Akhirnya teman-temanku keluar kelas untuk menemui pak Eko, dengan terpaksa. Daripada tidak diijinkan ikut pelajaran. Walaupun kadang nakal-nakal, tapi teman-teman sekelasku termasuk anak-anak yang bertanggung jawab. Mereka masih mengutamakan pelajaran. Jika anak IPS angkatanku yang ditantang bu Indri seperti itu pasti mereka memilih bolos pelajaran sampai jam pelajaran selesai. Karena anak-anak IPS sendiri yang biasanya malah bolos walaupun ada guru yang mengajar. Maaf untuk anak-anak IPS ya..ini berdasarkan pengalaman pribadiku lho ya..jangan ada yang tersinggung.


Walaupun keras dan tegas, namun bu Indri termasuk guru yang menyenangkan jika sudah mulai pelajaran. Pelajaran biologi yang biasanya membosankan karena berisi hafalan dan materi dengan begitu banyak istilah-istilah ilmiah, bisa dijelaskan oleh bu Indri dengan sangat baik. Membuat aku dan teman sekelasku paham.


Selesai pelajaran bu Indri, bertepatan dengan jam istirahat kedua. Perutku yang mulai mulas, terasa tidak enak. Aku pun langsung lari ke toilet. Aku memilih ke toilet yang ada di markas PMR. Karena aku pasti sangat malu, jika ketahuan diare di sekolah. Untung saja toilet itu kosong. Markas PMR di sekolahku memiliki kamar mandi dalam yang sangat bersih. Kadang jika malas antri di toilet siswa, aku memilih ke toilet di markas saja.


Sesampainya di kelas, Coco, Dedi, Daniel dan Anti sudah berkumpul berempat. Dia yang melihatku dengan tatapan sendu sepertinya kuatir.


“Ga papa Vi?’tanyanya


“Makanya..aku bilang apa tadi..kamu sih ngeyel”


“Iya..iya..”


Jelas saja aku sebal dimarahi Coco. Walaupun aku juga salah sih..


“Udah..jangan dimarahin Co..kasihan tuh Vivi..udah sakit masih disalah-salahin juga”bela Anti


“Itu namanya kamu kualat Vi sama Coco”goda Daniel


Coco lalu beranjak  dari kursinya.


“Mau kemana mas broo?”tanya Daniel


“Ke kantin bentar”jawabnya


“Aku ikut”jawab Dedi dan Daniel  bersamaan.


Akhirnya aku dan Anti berdua di kelas. Aku masih merasakan mulas di perutku. Tapi sudah agak mendingan. Setibanya dari kantin, aku lihat Coco membawa segelas plastik berisi teh. Aku pikir itu untuk dia sendiri. Rupanya teh itu untuk aku.


“Minum ini”ucap Coco sambil menyodorkan segelas teh hangat padaku.


“Hah..buat aku?”tanyaku bingung


“Buat siapa lagi?”jawab Daniel


“Makasih ya Co”jawabku sambil tersenyum


“Besok-besok ga usah makan nasi kucing lagi”perintah Coco padaku


“Tapi..”


Belum selesai aku menjawab perintah Coco, dia yang melotot padaku membuat nyaliku ciut untuk membantahnya.


“Iya deh..iya”jawabku menuruti perintahnya sambil cemberut


Aku pun minum teh hangat yang diberikan Coco. Teh itu lumayan bisa menghangatkan perutku dan mengurangi efek mulas yang tadi masih membayangiku. Perutku pun perlahan mendingan.


Akhirnya sejak hari itu, aku mengurangi makan nasi kucing. Setiap istirahat, aku hanya dibolehin Coco makan soto hangat, atau makan nasi sayur yang ada di kantin. Setiap aku ketahuan mengambil nasi kucing, pasti nasi kucing itu akan direbutnya lalu dikembalikan lagi ke tempatnya.


Jengkel? Jelas lah..


Kelakuan Coco yang seperti dokterku kadang membuat aku jengkel. Dan setiap dia melakukan itu, aku hanya bisa memonyongkan bibirku. Aku kan memang tidak suka makan sayur. Bahkan sejak kecil, aku jarang makan sayur.


Barulah sejak masuk SMA, lebih tepatnya sejak ikut banyak kegiatan PMR dan Pramuka, aku perlahan mulai belajar makan sayur.