Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Kecewa



Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini EPSP juga dilaksanakan. Aku dan teman-teman sesama ex-senior PMR sepakat untuk ikut hadir di acara EPSP dan menginap semalam di sana.


Aku senang bisa datang ke acara itu, bersama Vivi yang sekarang adalah pacarku. Sepanjang perjalanan kami bercerita dan tertawa bersama. Karena kami sudah berencana menginap, aku dan Vivi pun membawa perlengkapan untuk menginap. Seperti selimut dan baju ganti.


Saat acara pensi, aku dan Vivi yang memang adalah juara bertahan kontes prince and princess, malah jadi bulan-bulanan MC. Mereka mengerjai kami habis-habisan. Yang terakhir mereka meminta aku dan Vivi bernyanyi bersama. Aku pun menyanggupi dan menyanyikan lagu milik Ed Sheeran yang berjudul Thinking Out Loud.


Setelah menyanyikan lagu itu, aku sempat perhatikan Aldi yang duduk di depan kami berdua, dengan tatapannya yang tajam terus saja menatap ke arah Vivi. Aku juga lihat Vivi dari tadi melihat Aldi. Aku akui aku tak suka jika Vivi terus-terusan menatap Aldi.


Aku menangkap gelagat aneh Vivi yang pamit padaku ke toilet bersamaan dengan Aldi yang pergi dari tempatnya. Karena aku takut Vivi menemui Aldi atau Aldi yang menemui Vivi akhirnya kuputuskan untuk menyusul Vivi. Aku ikuti dia dari belakang tanpa sepengetahuannya.


Dan seperti dugaanku, Vivi memang ingin menemui Aldi. Aku benar-benar marah pada Vivi karena dia bohong padaku. Karena penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Vivi pada Aldi, maka aku pun menampakkan diriku. Aku muncul dari samping Vivi. Vivi yang melihatku di sampingnya terlihat sangat kaget. Sampai kedua bola mata indahnya membelalak sempurna.


Karena Vivi tak juga bicara, akhirnya aku yang mewakilinya bicara pada Aldi. Aku katakan pada Aldi bahwa kami sudah jadian. Kulihat ada gurat kekecewaan di wajah Aldi. Aku pun meminta Aldi menepati janji yang sudah diucapkannya dulu saat menemuiku di hotel saat lomba olimpiade Math.


Aku salut pada Aldi yang akan menepati janjinya dan memberi kami selamat. Saat Aldi akan menjabat tangan Vivi, segera kutarik tangan Vivi. Karena aku tak suka Vivi disentuh lelaki lain.


Akhirnya kuajak Vivi menjauh dari Aldi dan mengajaknya ke mobil. Aku terus saja diam dan menunggu di luar mobil. Aku masih sangat marah pada Vivi yang sudah membohongiku. Padahal aku paling tak suka jika Vivi membohongiku.


Vivi yang merasa bersalah padaku malah menangis. Membuat rasa marah di hatiku luntur seketika mendengar dia yang menangis dengan sedih. Aku duduk di depannya sementara dia menangis sambil menundukkan wajahnya.


Kuusap airmata di pipinya. Aku pun memaafkannya. Karena aku tahu Vivi hanya tak ingin aku marah. Makanya dia berbohong padaku tadi. Aku pun mengatakan padanya untuk tidak lagi berbohong padaku karena aku tak suka.


Tengah malam, karena sudah mengantuk, aku antarkan Vivi ke mobil untuk tidur. Dia yang kelelahan langsung tertidur dengan pulas. Aku kembali ke lapangan bergadang dengan teman-teman karena saat ini adalah saat


terakhir kami bisa bersama-sama, makanya kami gunakan waktu sebaik mungkin. Kami bernyanyi hingga jam 03.00 pagi. Aku pun putuskan untuk kembali ke mobil untuk tidur sebentar.


Melihat dia yang tertidur pulas membuatku juga ikut tidur. Kebetulan angin malam itu lumayan dingin jadi aku tambahkan selimutku di tubuhnya supaya dia merasa hangat. Aku terbangun saat kurasakan ada sesuatu yang menyentuh pipiku. Tapi aku sengaja menutup mataku. Kedua kalinya saat ada sesuatu menyentuh bibirku, langsung saja kugigit. Rupanya itu adalah jari telunjuk Vivi yang sengaja diarahkannya ke bibirku.


Karena masih mengantuk, maka kupejamkan mataku. Kutarik tangannya dan kujadikan bantal. Dia malah mengelus lenganku. Aku pun bangun dan menggeliatkan tubuhku. Kulihat Vivi malah menatapku dengan hangat. Dan saat dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, spontan saja aku mengerucutkan bibirku dan kukatakan padanya,


“Morning kiss”


Selalu saja polah tingkah Vivi yang kelabakan karena godaanku membuatku gemas karena dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Aku tertawa terbahak-bahak melihat pacarku yang salah tingkah.


Pagi itu, aku dan teman-teman pergi ke sungai yang katanya airnya jernih. Dasar Arman penunjuk jalan sesat, dia malah membuat kami semua kesasar. Apalagi kesasarnya sangat jauh. Sepanjang jalan aku terus menggenggam tangan Vivi. Sampai di sungai itu, aku minta Dedi memfotoku dengan Vivi. Karena pose kami mirip foto prewedding, membuat teman-teman malah membahas masalah pernikahan. Mereka berpikir kami akan menikah terlebih dahulu ketimbang teman-teman yang lain. Membuat aku sangat senang karena banyak yang mendoakan kami. Karena aku selalu membayangkan diriku menikah dengan Vivi, gadis yang sangat kucintai. Belahan hatiku. Separuh hidupku.


Suatu hari, mama memergoki aku dan dia sedang bermesraan di rumah. Dari tatapan matanya aku tahu mama sangat tak suka melihat Vivi. Apalagi setelah mendengar aku mengatakan Vivi adalah pacarku.


Mama adalah seorang wanita yang sangat keras, tegas, dan otoriter. Walaupun kata orang anak bungsu selalu dimanja orang tua, kenyataannya aku tak pernah merasa mamaku menyayangiku. Beliau selalu sibuk mengurusi bisnisnya, arisan sosialitanya dan acara bersama teman-temannya.


Sejak kecil aku terbiasa sendiri. Hanya Uti, satu-satunya orang yang menyayangiku. Karena kakak pertamaku sudah menikah, dan kakak keduaku kuliah, mama dan papa juga tak pernah di rumah, aku selalu merasa sendiri. Barulah setelah mengenal Vivi, aku merasa ada orang lain yang bisa menerimaku.


Suatu hari, ketika mama sedang di rumah, mama menyinggung lagi masalah pindah ke Cina.


“Co, nanti setelah lulus, kita pindah ke Cina..kamu tak usah bawa barang banyak-banyak. Seperlunya saja.”kata mama tiba-tiba


“Kenapa ma? Aku merasa nyaman di sini (Indonesia)”


“Kamu kuliah disana..Rafael kan juga sudah di sana”kata mama


“Tidak harus pindah kan ma?”


“Kamu ini kenapa? Bukankah mama sudah sering bilang..kita akan pindah ke Cina begitu kamu lulus SMA. Sudah jangan membantah” kata mama kesal


“Mama saja yang pergi..aku mau tetap disini”kataku sambil meninggalkan mama


“Mau kemana kamu? Duduk sini..mama baru bicara” bentak mama sambil melotot, wajahnya sangat marah


Aku pun duduk kembali dengan kesal.


“Mama dan papa sudah memilihkan seorang gadis sebagai jodohmu. Kamu pasti akan suka dengan pilihan mama” kata mama membuat amarahku meledak


“Apa sebenarnya maksud mama? Aku sudah punya pacar ma.. aku mencintai Vivi” kataku membuat mama tersenyum sinis


“Cinta? Jangan konyol kamu..Gadis itu sama sekali tak layak jadi bagian keluarga kita” kata mama merendahkan Vivi


“Selain wajahnya yang cantik..apalagi kelebihannya? Tak ada kan?” kata mama semakin menyulut emosiku


“Mama jangan asal bicara..gadis itu sangat baik. Aku merasa bahagia bersamanya” kataku


“Aku yakin gadis pilihan mama itu pasti sangat kaya..kenapa tidak mama saja yang menikah dengan orangtuanya” kataku membuat mama tersinggung


“Jaga bicaramu”teriak mama penuh amarah


“Mama juga jangan seenaknya mengatur hidupku. Aku tak akan pindah ke Cina. Titik.”kataku lalu meninggalkan mama sendiri


Tak kuhiraukan mama yang berteriak-teriak memanggil namaku. Kututup pintu kamar lalu kukunci rapat-rapat.


Aku sebenarnya sudah sangat muak dengan keluarga ini. Dengan mama. Semua hal ia nilai dengan materi. Sementara papa terlalu sibuk bekerja. Ia tak pernah ada untukku hingga aku merasa aku tak memiliki orang tua.


Karena sikap mereka inilah, sejak kecil aku tak punya banyak teman. Teman-temanku menjauhiku dan mengolok-olok aku. Hanya Dedi dan Daniel satu-satunya sahabatku yang mau bermain denganku.