Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (3) Meredakan Kemarahan Coco



Setelah makan, aku dan Coco kembali ke kamar. Sampai di dalam kamar,


“Mau ikut ga?”goda Coco padaku


“Udah mandi sana”ucapku sambil kudorong tubuh suamiku yang senengnya godain aku mulu.


Coco mandi dulu sementara aku menunggu Coco di ranjang kami. Aku duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Sambil aku terus memikirkan kata-kata apa yang akan kugunakan untuk menyampaikan masalah tadi siang di café pada suamiku. Aku ga boleh salah ngomong, karena pasti akan membuat keadaan semakin kacau. Aku terus memikirkannya sampai tak sadar Coco yang sudah selesai mandi.


“Serius banget..lagi mikirin apa?”tanya Coco sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Gitu lagi kan..giliran aku serius, Coco malah menggodaku. Kenapa jubahnya ga pernah dibenerin sih..Itu roti sobek suka diumbar mau dipamerin ke aku gitu.. Bikin aku pingin gigit..


Iiihhh..dasar otak mesum! Kenapa sekarang aku jadi lemah iman gini sih setiap lihat roti sobek suamiku sendiri..


Tapi beneran itu roti sobek menggoda banget.. Pingin nyicipi..dikit aja boleh kali ya..


Aku menelan ludahku sendiri begitu disuguhi tubuh kekar penuh lekuk sempurna yang dimiliki suamiku.


“Kamu sengaja kan?”tanyaku pada Coco yang sekarang malah duduk di tepi ranjang menghadap padaku.


“Sengaja?”tanya Coco sambil tersenyum


“Kenapa pake jubah mandinya mesti gitu sih? Kamu sengaja kan”


Coco tak menjawab pertanyaanku malah memasang wajah sok serius.


“Emang kenapa kalo aku sengaja? Kamu mau?”tanya Coco sambil tersenyum nakal kepadaku


Sekarang tangannya malah memegang tanganku lalu tanganku diarahkan untuk mengusap dada dan perut sixpack-nya.


Aaahhh..aku ga kuat..


“Udah ah..aku mau mandi”ucapku lalu aku segera bangun dari ranjang menuju lemari pakaian.


Kelamaan pegang dada dan perut Coco nanti aku malah ga jadi mandi. Yang ada aku nanti malah diajak mandi bareng lagi..


Saat aku sedang memilih baju yang akan aku kenakan, Coco mulai melancarkan serangannya. Dia memeluk tubuhku dari belakang.


“Coo..aku mau mandi”keluhku


“Mandi aja..aku bantu melepas pakaianmu”bisik Coco di telingaku sambil menggigitnya pelan.


Kalo aku biarin bisa-bisa sehari aku mandi keramas dua kali nih..


“Sayang..aku capek..aku mau mandi air hangat bentar..pingin berendam”ucapku sambil kubalikkan tubuhku ke arah suamiku.


“Aku bantu mijitin”goda Coco padaku


“Coo..plis dong..malam ini aja, aku pingin….”


Aku pingin mandi Coo..ahhh..ciumannya kenapa selalu membuat aku terbuai gini..aku jadi ga bisa mikir..


Dan akhirnya…kami bercinta lagi malam itu..


Malam semakin larut, setelah mandi keramas malam-malam, kini aku dan Coco duduk di ranjang berdua. Kusandarkan kepalaku di bahunya yang lebar. Coco merangkul pinggangku.


“Tadi siang kamu sama Rena kemana?”tanya Coco sambil membetulkan anak rambutku.


“Aku akan ceritakan semuanya, tapi jangan marah ya?”


Jujur aku deg-degan harus menceritakan semuanya pada suamiku. Tapi sepahit apapun, dan semarah apapun Coco nanti padaku, semuanya tetap harus aku ceritakan. Karena kami sudah sama-sama berjanji tak akan menyimpan rahasia apapun. Tak kan ada rahasia diantara kami.


“Tadi siang aku janjian ketemuan sama Dila”


“Dila adiknya Aldi?”


Aku mengangguk pelan sambil jari jemariku bermain-main di dada bidang suamiku.


“Aku mau minta tolong Dila nemenin Rena liat kampus, karena seingatku Dila juga kuliah di U*M”


“Ketemu Aldi juga?”tanya Coco


Kudongakkan kepalaku untuk menatap wajah suamiku.


“Iya..Tapi aku beneran ga janjian ketemu Aldi..beneran! Kalo ga percaya liat isi chat di hp ku. Aku cuma janjian sama Dila. Jangan marah ya?”


“Hemmmm”


Yahh..baru dibilangin jangan marah, udah hemm doang..


“Terus kenapa Rena tadi marah?”


Gawat..bagian ini gimana ceritanya ya? Mau pakai kata-kata semanis apapun tetep susah..Masak aku bilang Dila mau bantuin aku karena aku mantan “calon kakak iparnya”?


“Kenapa diam?”


“Itu..”


Aku bangun dari posisiku lalu aku duduk menghadap suamiku yang super posesif. Takut salah ngomong.


“Pliss jangan marah..aku bakal cerita apa adanya..ga bakal aku tutupin. Tapi pliss jangan marah ya?”pintaku sambil kukatupkan kedua tanganku di depan wajahku sambil memasang wajah memelas.


Berharap Coco akan memaafkan apapun yang aku katakan nanti. Saking takutnya Coco marah aku sampai memejamkan mataku.


“Cerita dulu..baru aku nanti putuskan marah apa ga nya?”


Yahhh..sama aja bo’ong dong..Karena aku tau pasti nanti Coco marah.


Ahh..sudahlah..kalo marah aku tinggal rayu lagi aja..dengan tubuhku ini. Yang penting suamiku ga marah..


“Kemarin waktu aku ngobrol sama Rena, dia bilang kalo dia naksir Aldi”


“Hah? Rena naksir Aldi?”


“Iya”


“Selera Rena aneh juga rupanya”cibir Coco


Kok aneh sih? Aldi kan ganteng, 11-12 sama kamu..


Sabar Vi..tenang..Jangan sampai keceplosan, aku harus tahan..kalo aku bilang dulu aku juga ngefans Aldi bisa berabe nanti ceritanya..


“Nah..tadi pas di café, Dila mau bantuin aku buat nemenin Rena ke kampus. Liat-liat kampus, nyari kosan gitu..Pas Rena nanya kenapa Dila mau bantuin…”


Oke..atur nafas dulu..jangan sampai salah ngomong..


“Dila bilang…”


Kulihat Coco penasaran dengan ceritaku.


“Iya..bilang apa?”


“Anu..itu..Dila bilang dia mau bantuin Rena karena aku yang minta. Dila juga bilang…”


Aisshhhh..kenapa sesusah itu sih bilang aku mantan calon kakak iparnya?


“Dila bilang…”


Aduhhh..mulai kan..Coco mulai marah..gimana nih?


Jantungku berdetak semakin kencang.


“Dila bilang karena aku mantan calon kakak iparnya”


Aggghhhhh..gimana nih? Wajah Coco merah banget. Dia marah kan? Iya kan?


“APAAA?”


“Sayang..Dila cuma becanda kok ga serius”


“Kamu bilang bercanda? Dan Aldi disana ga membantahnya kan?”


Habislah aku malam ini..


“Aku akan buat perhitungan dengan Aldi”


“Sayang..bukan Aldi yang bilang gitu tadi..tapi Dila”


“Tapi dia juga di sana kan? Dan dia pasti diam saja mendengar adiknya mengucapkan kata itu”


Aku sudah kehabisan cara untuk menenangkan suamiku yang pasti marah besar. Kupeluk saja tubuh besarnya. Kulingkarkan tanganku di sekitar pinggangnya. Hingga dapat kudengarkan detak jantungnya yang sangat cepat. Pertanda dia sedang marah.


“Sayang..aku minta maaf kalo udah bikin kamu marah. Maaf”


Aku harusnya tau kalo ujung-ujungnya pasti akan seperti ini. Seharusnya dari awal aku minta ijin dulu pada Coco sebelum minta bantuan Dila. Karena Dila dan Aldi adalah saudara kandung. Dan aku juga tahu Coco sangat tak menyukai Aldi.


“Sayang..maafin aku ya”


Tiba-tiba buliran airmataku menetes tanpa bisa aku tahan. Entah kenapa perasaanku jadi gampang tersentuh hingga tanpa sadar aku bisa menangis dengan mudahnya. Perasaanku jadi semakin sensitif akhir-akhir ini.


Coco melepaskan tubuhku dari tubuhnya. Menatapku dengan wajah sendu. Sementara aku masih terus menangis. Coco mengusap lembut air mataku yang membasahi pipiku.


“Maaf”


Satu kata yang bisa aku ucapkan untuk menyatakan penyesalanku pada suamiku. Aku hanya sanggup mengucapkan kata itu. Karena kata apapun rasanya sudah tak mempan untuk membuat suamiku tidak marah lagi.


“Udah..jangan nangis lagi”ucap Coco lembut lalu memeluk tubuhku


Kami berpelukan. Coco membelai rambutku perlahan. Dapat kudengarkan detak jantungnya yang perlahan melambat.


“Kamu tahu kan, sejak dulu sampai sekarang aku tak pernah suka Aldi”ucap Coco sambil terus membelai rambutku.


Aku hanya mengangguk.


“Karena aku tahu dia juga mencintaimu seperti aku. Dari dulu. Aku sangat mencintaimu, sayang..karena itu aku tak suka jika kamu dekat-dekat Aldi. Apalagi masalalu kalian berdua. Membuatku selalu marah jika mengingatnya”


“Tapi sekarang kan, aku udah jadi istrimu”


“Tetap saja. Apa kamu yakin Aldi sudah melupakanmu? Aku rasa tidak semudah itu”


Kenapa Coco bisa tau kalo Aldi belum melupakan aku?


“Darimana kamu tau kalo Aldi belum melupakan aku?”ucapku pelan


“Tentu saja aku tau. Karena tatapan matanya saat menatapmu di mall dan perhatiannya padamu waktu itu, aku bisa tau kalo dia belum 100% melupakanmu meskipun kamu sekarang sudah jadi istriku”


“Maaf ya Co”


Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf. Karena berapa kali pun aku mengucapkannya takkan bisa mengubah keadaan kalo aku memang sudah salah mengajak ketemu Dila.


Coco mencium keningku.


“Jangan buat aku kuatir lagi ya”


Aku mengangguk.


“Terus Rena gimana? Kamu ga mungkin ninggalin pekerjaan kantor. Kamu juga ga bolehin aku nemenin Rena. Kasihan kan kalo Rena mesti ngurus sendiri”


“Coba aku carikan jalan keluar yang lain. Yang penting kamu ga usah hubungi Dila atau Aldi lagi. Kamu mengerti?”


“Iya”


“Good girl”ucap Coco sambil mengusap kepalaku.


Aku cium pipi Coco. Kulihat Coco tersenyum padaku. Lalu mencubit kedua pipiku dengan gemas.


“Sayang?”


“Hemm”


“Kamu tambah chubby ya sekarang?”


Whatt?Chubby? Aku gendutan? Jadi sekarang aku gendut? Aku udah ga langsing lagi?


Jujur aku langsung sedih mendengar ucapan Coco padaku. Aku sampai cemberut mendengar kata “chubby” yang dilontarkannya barusan.


“Jadi sekarang aku gendut?”tanyaku sambil cemberut


“Lhoh kok cemberut? Aku kan cuma bilang chubby”


“Sama aja. Artinya kan sekarang berat badanku naik. Aku gendut. Gitu kan maksudmu?”


“Bukan gitu..lho kok kamu marah..sayang aku cuma bilang kamu chubby”


Aku segera balikkan tubuhku dan aku tidur membelakangi suamiku. Kata-kata “chubby” nya benar-benar melukai perasaanku.


“Eh sayang..aku ga bilang kamu gendut..kamu selalu sexy di mataku. Jangan marah ya?”


Sexy apaan? Emang chubby itu sexy? Dasar cowok ga peka..


“Aku ngantuk. Mau bobo”ucapku ketus


Kutarik selimut lalu kututupi seluruh tubuhku dengan selimut. Karena aku memang sedang marah. Salah sendiri udah ngatain aku gendut.


Coco malah memelukku dari belakang. Ikut masuk ke dalam selimut. Kucoba lepaskan tangan besarnya yang kini menindih pinggangku.


“Aku mau bobo Co”


“Ya udah bobo bareng”


Tangan yang awalnya hanya melingkar di atas pinggangku kini sudah mulai bermain ke sana kemari.


“Coooo”keluhku karena tangannya yang mulai tak bisa dikondisikan


“Main bentar”


“Aku capek Co”kuhadapkan wajahku pada suamiku yang malah mencium keningku.


“Oke..oke..kita tidur. Aku janji”


Akhirnya kami pun bisa tidur setelah Coco mengkondisikan kedua tangannya. Aku pun tidur dalam pelukan suamiku.