
Hari itu, aku menggantikan temanku, Aisyah. Dia seorang perawat pribadi. Karena sedang sakit, dia memintaku menggantikannya di rumah majikannya yang juga adalah keluarga teman dokter yang saat ini kuikuti.
Kuperkenalkan diri pada pemilik rumah yang berketurunan Cina. Wanita muda itu tampak kewalahan menghadapi putranya yang sangat aktif berlarian mengelilingi ruang tamu.
“Nama saya Vivi. Saya yang hari ini menggantikan perawat Aisyah”kataku memperkenalkan diri
“Iya, Aku sudah dengar dari Caroline”sahut wanita itu
Kami berbincang agak lama. Tiba-tiba anak lelakinya berlari ke arahku dan memelukku. Aku kaget. Tapi kubelai anak itu perlahan.
“ FABIO..JANGAN NAKAL”teriak wanita itu
“Namamu Fabio?”tanyaku lembut
Anak itu mengangguk dengan kedua matanya dipejamkan. Anak ini benar-benar lucu.
“Halo!”sapaku
“Tos!” Kuajak anak itu tos.
Kami beradu tos membuat anak itu tersenyum. Anak itu lalu berlari ke tangga atas. Rumah itu sangatlah indah. Tangga rumah itu seperti tangga di film Titanic yang sangat kusukai. Di dindingnya terpajang beberapa foto keluarga. Foto bayi-bayi yang sangat lucu.
“Pipi…ayo turun? terdengar suara anak itu dari lantai dua
“Ayooo…”rengek anak itu
Pipi? Mirip nama boneka teddy bear milikku dan Coco.
Kulihat Fabio, anak kecil itu menggandeng seorang lelaki muda menuruni tangga dan menuju ruang tamu. Lelaki itu pasrah. Menurut saja ditarik-tarik tangannya oleh Fabio.
Aku tak percaya dengan yang kulihat hari itu.
Ya Allah..ITU COCO!!!
Mataku terbelalak.
Aku kaget.
Syok.
Aku berdiri dari tempat dudukku. Tangan dan kakiku sampai gemetaran. Jantungku pun berdebar tak karuan.
Benarkah yang kulihat? Benarkah dia Coco? Ataukah aku salah lihat?
Lelaki itu juga terlihat mematung di tempatnya. Dia memandang ke arahku sama kagetnya denganku.
“Ayo Pii..”Fabio terus merengek
Mata kami saling berpandangan. Kami mematung. Kami bertatapan lama sekali.
Dia benar Coco. Coco-ku. Lelaki yang selama ini aku rindukan. Lelaki yang selama enam tahun ini tak pernah kulupakan.
Begitu sadar, aku pun menunduk. Aku bingung dengan situasi ini. Kulihat Coco berjalan semakin mendekat ke arahku. Aku pun memilih untuk duduk kembali.
“Co..ini perawat sementara yang menggantikan Aisyah”jelas wanita muda itu
“Caroline sudah bilang kamu kan?”tanya wanita itu
“Iya” jawabnya dingin
“Kalau begitu, Aku pergi dulu ya? Aku harus segera ke bandara. Aku serahkan dia padamu”
“Ayo..Fabio!” ajak wanita itu. Dia menarik tangan Fabio dan beranjak pergi.
Fabio melambaikan tangannya padaku. Kubalas lambaian tangannya.
Akhirnya tinggallah kami berdua di ruangan itu. Suasana sangat canggung antara aku dan dia. Perasaanku semakin tak karuan. Aku nervous, gugup dan takut. Tak berani kutatap wajahnya. Aku pun terus menunduk untuk menghalau kegundahanku.
“Kita ke ruang kerja” ajaknya
“Iya”
Kami pun berjalan menuju ruang kerja di sebelah ruang tamu. Dia berjalan di depanku. Kuikuti dia dari belakang. Dia membukakan pintu untukku. Ruang kerjanya sangat luas. Ruangan itu berisi rak buku besar dengan buku-buku tebal yang tersusun rapi. Di dindingnya terpajang foto besar. Foto keluarga Coco. Ada Papa, Mama, Coco yang mengenakan toga dan kedua kakaknya. Kami duduk di kursi sofa. Dia duduk di sampingku. Dia memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu Vi?” tanyanya dingin
“Aku baik. Kamu?”
Sebenarnya aku tak berani menanyakan keadaannya. Dia terlihat sangat dingin padaku. Suasana sangatlah canggung. Jujur saja aku belum siap bertemu dengannya. Walaupun enam tahun bukan waktu yang singkat, namun bertemu denganya setelah sekian lama, membutuhkan kekuatan tersendiri.
“Aku juga baik”
“Sekarang kamu tinggal di Solo?”
“Iya..”jawabku singkat
“Sejak kapan kamu di Solo?”
Aku memilih diam. Aku tak mau menjawab pertanyaannya. Tak mungkin aku jawab, sejak kepergianmu waktu itu.
“Sekarang kamu jadi perawat?”tanyanya lagi
“Iya”
“Baguslah”jawabnya dengan nada yang dingin.
Percakapan kami tak lebihnya seperti dua orang asing yang pernah kenal. Sangat hambar. Seperti tak pernah ada sesuatu yang terjadi di antara kami sebelumnya. Seperti tak pernah ada benih asmara dalam hati kami. Semuanya seakan telah sirna. Membuat hatiku merasa sangat sedih.
“Aku antar kamu melihat Chloe”katanya sambil beranjak dari tempat duduknya
Sebelum kami beranjak pergi, tiba-tiba dokter Caroline datang. Dialah dokter yang kuikuti saat ini.
“Maaf Aku terlambat”kata dokter Caroline
“Co.. ini Vivi yang akan merawat Chloe selama Aisyah tidak masuk”Dokter Caroline memperkenalkanku
“Iya..aku tahu”jawabnya
“Ayo Vi..aku antar ke kamar Chloe”ucap Coco
“Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanya dokter Caroline
“Dia…teman sekelasku di SMA dulu”
Apa? Tadi dia bilang apa? Kami hanya teman SMA? Teman? Hanya teman? Dalam hati aku benar-benar tidak terima mendengar dia mengucapkan kata-kata itu barusan.
Karena jengkel, aku pun membenarkan ucapannya.
Kini dia malah menatapku tajam.
Kenapa dia malah menatapku seperti itu? Bukankah aku hanya teman bagimu? Kenapa saat aku membenarkan ucapanmu kau justru menatapku seperti itu?
“Oo..”dokter mengangguk.
“Kalo teman sekelas, kenapa kalian kaku begitu? tanya dokter penasaran
“Ah..sudahlah, Aku banyak tanya ya? Ayo aku antar kamu melihat Chloe. Dia yang akan kamu asuh dua hari ini”jelas dokter padaku.
Kami pun berjalan menuju lantai dua. Coco berjalan di depanku. Sementara aku dan dokter berjalan di belakangnya sambil ngobrol berdua.
"Coco memang seperti itu. Orangnya kaku. Jangan kau masukkan dalam hati ya?" ucap dokter padaku
"Iya"
"Sebenarnya dia baik. Hanya dia ga bisa mengungkapkan pada sembarang orang" ucap dokter
Mendengar dokter membicarakan Coco yang sekarang, aku merasa hubungan dokter dan Coco pastilah dekat. Karena dokter seperti tahu sifat Coco dengan sangat baik. Dan hal itu membuat satu sudut dalam hatiku terluka. Karena aku sekarang seperti tak mengenalnya.
Sampai di lantai dua, kami berjalan menuju sebuah kamar kecil yang sangat indah. Di ruangan itu kulihat ada seorang anak kecil sedang tertidur pulas. Umurnya belum genap satu tahun menurutku. Gadis kecil yang mungil dan lucu. Menggemaskan sekali.
“Dia Chloe. Anak kedua pemilik rumah ini. Keponakan lelaki sombong itu” bisik dokter padaku sambil menunjuk pada Coco.
Keponakan? Kalo anak ini anak kedua, mungkinkah Fabio anak pertama? Dan wanita tadi, adalah kakak iparnya? Banyak pertanyaan dalam pikiranku yang hanya bisa kureka-reka sendiri.
Tiba-tiba anak kecil itu bangun. Coco dengan sigap segera menggendongnya. Gadis kecil yang baru bangun itu kemudian memegang hidungnya membuat Coco tersenyum. Sudah lama sekali aku tak melihat senyum indahnya. Senyum yang sangat kurindukan selama enam tahun ini. Aku benar- benar menikmati pemandangan indah di depanku. Tanpa sadar aku juga ikut tersenyum.
Tiba-tiba tanpa kuduga, dia melihat padaku. Mata kami beradu pandang. Seketika senyum indahnya hilang kembali. Lalu dia mendekatiku dengan wajah yang dingin.
“Ini Chloe. Kau mau menggendongnya?”tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Chloe diserahkan padaku. Saat itu, tanpa sadar tangannya bersentuhan dengan tanganku. Aku kaget. Segera kutarik tanganku. Hatiku merasa getaran yang sangat hebat. Seperti terkena setrum tegangan tinggi. Segera kualihkan pikiranku pada gadis kecil yang kini ada dalam gendonganku. Dia kemudian malah berdiri tepat di sampingku.
“Wah..kalian seperti keluarga kecil baru yang harmonis”ujar dokter membuat aku dan dia tersipu malu.
Dia pun bergegas berpindah ke sisi dokter Caroline. Ku perhatikan gadis kecil ini sangat lucu. Dia sangat anteng. Tidak rewel. Sesekali tangannya memegang wajahku sehingga membuatku tersenyum.
Kulihat dokter dan Coco saling berbincang.
Mereka terlihat sangat akrab karena kulihat Coco tersenyum bahkan tertawa bersama dokter.
Beberapa waktu kemudian dokter pun berpamitan.
“Baiklah..Aku pamit dulu. Aku harus ke klinik sekarang. Aku pergi dulu ya”dokter berpamitan
Coco mengangguk.
"Aku pergi dulu ya Vi"
"Iya dok"
"Kalo ada apa-apa atau kau di apa-apa kan lelaki itu hubungi saja aku" goda dokter
"Jangan lupa jaga kesehatanmu. Tak lucu kalo dokter juga sakit”
“Iya..aku tahu”jawab dokter Caroline
Tiba-tiba kesedihan merasuk ke dalam hatiku saat dia mengkhawatirkan dokter Caroline. Apalagi ini terjadi tepat di depanku. Tapi kemudian aku sadar, aku tak punya hak untuk cemburu dengan situasi ini.
Coco mengantar dokter pulang. Tinggallah aku sendiri di kamar bersama Chloe. Gadis kecil ini benar-benar bisa menghiburku. Kami bermain bersama. Sesekali gadis ini tertawa dengan riang membuatku ikut tertawa. Tawa kecilnya yang renyah, benar-benar tanpa beban. Malaikat kecil yang membuatku sejenak melupakan masalahku.
Di tengah-tengah kami bermain, Coco masuk lagi ke dalam kamar. Coco ikut duduk bersamaku dan Chloe. Ikut bermain bersama. Sesekali gadis kecil ini berulah, membuang mainannya. Membuatku dan Coco harus mengambil mainan-mainan itu. Sempat ketika aku dan dia akan mengambil mainan yang sama, tangannya tepat di atas tanganku. Aku dan dia sama-sama kaget. Segera kutarik tanganku cepat. Lalu kuserahkan mainan itu pada Chloe.
Ketika Chloe sudah waktunya makan, Coco mengambilkan makan dari dapur. MPAsi yang dibawa diserahkan padaku. Coco mendudukkan Chloe di kursi makan kecilnya.
Awalnya acara makan ini berjalan lancar. Mungkin karena sudah lapar, Chloe memakan makanan yang kusuapkan dengan lahap. Tetapi setelah beberapa saat, Chloe mulai memainkan makanannya. Disemburkannya MPAsi itu. Membuat MPAsi yang kuberikan berhamburan kemana-mana, termasuk ke wajahku.
Ihhh…Gadis kecil ini..
Ketika kulihat ke arah Coco, dia malah cekikikan. Tak kusangka dia akan tertawa. Dalam hati, aku senang bisa melihatnya tertawa lagi. Tetapi kemudian disembunyikannya tawanya itu ketika sadar aku melihat dia tertawa. Pemandangan indah yang sangat singkat itu benar-benar membuatku bahagia. Bisa kudengar tawa kecilnya kala itu. Walaupun dia mencoba menyembunyikannya. Dia kemudian meraih mangkuk MPAsi itu dan menyuruhku membersihkan wajahku.
Selesai membersihkan wajahku, kulihat dia menggantikanku menyuapi Chloe. Bisa kulihat dia adalah sosok pria yang sangat lembut dan sabar. Dengan sabar dia menyuapi Chloe sesuap demi sesuap hingga akhirnya MPASI itu habis.
Kulihat Chloe menguap. Gadis kecil itu sudah mengantuk. Mungkin karena kekenyangan setelah makan tadi. Akhirnya kucoba menggendong Chloe. Sementara dia merapikan kursi makan dan mengembalikan mangkuk MPASI tadi ke dapur.
Gadis kecil ini benar-benar mengantuk. Dia tidur dalam gendonganku. Kubelai-belai rambut lurusnya yang indah. Malaikat kecil yang sangat menggemaskan. Bahkan dalam tidur pun, dia terlihat sangat menggemaskan.
Perlahan-lahan kucoba meletakkan Chloe di ranjangnya. Aku tak ingin mengganggu gadis kecil ini. Kubiarkan dia tertidur pulas di ranjang kecilnya. Kupandangi dia lekat-lekat dari pinggir ranjangnya yang kecil. Membuatku melamun, membayangkan andai aku punya anak selucu dia.
“Kamu sudah punya anak?”suara itu tiba-tiba muncul dan mengagetkanku.
Ternyata Coco sudah kembali ke kamar. Pertanyaan tak terduga darinya membuyarkan lamunanku.
Aku hanya diam. Kucoba melangkah keluar kamar. Tapi tangannya menahanku.
“Aku tanya..apa kamu sudah punya anak?”tanyanya lagi.
Kali ini dia lebih serius dari sebelumnya. Tangannya pun memegang tanganku semakin erat. Aku kesakitan.
“Lepaskan Aku”pintaku
“Sakit..”Aku mengerang kesakitan.
“Maaf” Dia pun melepaskan tangannya.
“Maaf Co, tapi aku tak bisa membicarakan itu. Itu privasiku. Aku harap kamu mengerti. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pribadiku. Aku bekerja sekarang” kataku mencoba tegas.
“Maaf jika Aku menyinggungmu” pintanya
Dia lalu duduk di kursi dan mengambil sebuah buku. Dia membaca buku itu.
Maafkan aku Co..tak seharusnya aku sekasar itu padamu. Aku hanya belum siap menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan. Mengertilah ini sangat berat bagiku. Melihatmu kembali setelah enam tahun perpisahan kita, aku tak tahu harus apa. Semoga kau bisa memaafkan aku..
Sore hari, saat si kecil Chloe selesai mandi, kuajak dia jalan-jalan. Di lantai satu kulihat Coco sedang duduk di lantai bersandar di dinding. Mungkin dia baru selesai olahraga. Terlihat dari baju olahraga yang sedang dipakainya. Rupanya dia masih seperti dulu, masih rajin olahraga. Pantas saja badannya semakin atletis.
Begitu melihatku turun dari tangga, dia tak beranjak dari tempatnya duduk. Kulihat wajahnya dengan dingin menatap kearahku.
“Kalian mau pergi kemana?”tanyanya dengan wajah dingin padaku
“Aku mau mengajak Chloe jalan-jalan sebentar di halaman depan. Mumpung cuacanya masih cerah.. Aku pergi dulu”jawabku
“Hati-hati” katanya singkat. Lalu dia beranjak dari tempatnya duduk. Dia pergi ke lantai dua.
Hanya bisa kupandang kepergiannya tanpa bisa kucegah. Dalam hati kecilku, aku masih berharap bisa berbicara sedikit lebih lama dengannya. Karena aku masih merindukannya.