Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (4) Kapan Punya Anak?



Masalah Rena akhirnya diselesaikan Coco dengan meminta bantuan salah satu kerabatnya di Solo. Aku dan Coco mengantar Rena sampai Solo sekalian kami mau menjenguk kak Caroline yang baru saja melahirkan. Sementara Rena berangkat ke Jogja diantar kerabat Coco yang bekerja di Jogja.


Usia pernikahanku dengan kak Oline (nama panggilan dokter Caroline) hampir sama. Hanya selang dua minggu. Makanya ketika aku dan Coco menjenguk kak Oline, beberapa kerabat kami yang datang menjenguk pasti menanyakan masalah buah hati pada kami. Sejak dari rumah aku sudah berusaha mempersiapkan batinku untuk menerima segala pertanyaan berkaitan dengan momongan. Karena pertanyaan itu pasti akan ditanyakan.


Waktu itu di RS tempat kak Oline melahirkan secara caesar,


“Kamu istrinya Coco ya?”tanya salah satu kerabat kak Oline


“Iya tante”


“Kapan nih kalian punya anak?”tanya kerabat kak Oline yang lain


“Iya..dulu kalian nikahnya barengan kan?”sahut kerabat yang lain


"Iya..ya..seingatku dulu juga kalian nikahnya hampir barengan"


“Ga nunda momongan kan?”


Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ternyata dimana pun tempatnya, pertanyaan “kapan kawin?”  “Kapan punya anak?” Selalu saja ada. Dulu belum nikah aku juga selalu ditanya, “kapan kawin?” “Kapan nikah?”


Aku sampai lelah mendengar pertanyaan semacam itu. Apalagi dulu setelah lulus akademi perawat dan melanjutkan program profesi ners, banyak tetangga dan kerabatku yang menyayangkan keputusanku. Menurut mereka aku sebaiknya menikah dulu, ketimbang mengejar karir. Untung saja, Ayah Bundaku selalu mendukung apapun keputusanku. Sehingga walaupun sampai panas, mendengar pertanyaan “kapan nikah?” “Kapan kawin?” “Kapan ngasih cucu?” Bla..bla..bla..Ayah dan Bunda yang justru selalu menguatkanku.


“Jangan gitu tan..Vivi ini baru keguguran tiga bulan lalu, ya kan Vi?”bela tante Cindy, mama kak Oline sambil menepuk pundakku pelan.


Kulihat wanita paruh baya yang menanyaiku tadi raut wajahnya berubah sedih. Mungkin bersimpati padaku.


“Oo..maaf ya..saya ga tau. Semoga segera “isi” lagi ya?”


“Makasih tante”


Di belahan bumi manapun di dunia ini, yang namanya pasangan suami istri pasti mendambakan yang namanya anak. Seorang buah hati, yang akan menghiasi hari-hari dengan tawa riangnya, pasti menjadi keinginan semua orang. Apalagi bagi wanita yang sudah pernah mengalami kehamilan, aku pun sangat mendambakan menjadi seorang ibu.


Merasakan kembali hadirnya janin dalam rahimku, buah cintaku dengan suamiku. Aku pun ingin segera menimangnya. Namun semua adalah kuasa Sang Pencipta. Kita manusia hanya bisa berusaha sementara semuanya yang menentukan hanyalah Yang Diatas.


Aku memilih mendekati ranjang kak Oline. Sepertinya kak Oline ga enak hati padaku. Kak Oline langsung meraih tanganku dan mengusapnya.


“Yang sabar ya Vi?”ucap kak Oline lembut sambil tersenyum padaku


“Iya kak”jawabku pelan


Mau dibuat setenang apapun, pertanyaan tadi sukses membuat perasaanku sedih. Sedih karena justru mengingatkanku pada kenangan tiga bulan lalu saat aku harus dikuret dan kehilangan calon janinku dengan Coco.


“Mau latihan gendong baby, Vi?”tanya tante Cindy yang mendekatiku dan kak Oline.


“Boleh tan”jawabku


Akhirnya kugendong baby kak Oline dan kak Rafael yang belum bernama itu. Bayi cantik yang berusia dua hari itu sangat mungil. Kulitnya yang putih mewarisi warna kulit kedua orangtuanya yang berkulit putih. Dengan rambut hitam yang halus dan lebat. Bulu matanya sangat lentik dan pipinya yang gembul membuat siapapun pasti gemas dengan bayi mungil ini.


“Udah cocok banget Vi”ucap kak Oline


“Gitu ya kak”


Kulihat Coco yang tadi asyik ngobrol dengan kak Rafael di balkon kamar VVIP ini, masuk ke kamar dan mendekatiku sambil tersenyum. Coco melingkarkan satu tangannya di pinggangku.


“Imut ya Co?”


“Iya”


Kulihat baby kak Oline yang sedang terlelap tidur malah tersenyum. Lucu sekali. Kata orang kalo ada baby yang masih tidur terlihat tersenyum, ada malaikat yang mengajaknya bermain atau menggoda baby itu.


“Iya..lucu banget”


Entah kenapa tiba-tiba perasaanku jadi terharu melihat Coco yang menatap baby kak Oline dengan tatapan yang seolah sangat mendambakan momongan. Apalagi saat Coco mencium kening baby kak Oline. Membuatku ingin menangis.


Heran deh..dikit-dikit mewek..sebenarnya aku kenapa?


Airmataku sebentar lagi mau meluncur turun. Segera kudongakkan kepalaku ke atas agar airmataku ga keluar dulu.


“Co, gendongin bentar”ucapku pada Coco sambil kuserahkan baby kak Oline pada Coco


“Kamu kenapa sayang?”tanya Coco padaku


“Aku mau ke toilet bentar”kelitku


Setelah baby kak Oline aku serahkan Coco, aku segera menuju toilet. Segera kuusap airmataku yang sudah mendesak keluar dari tadi.


Aku di toilet selama beberapa saat. Aku menangis di sana. Kuakui melihat tatapan Coco pada baby kak Oline membuatku tak berdaya. Ada sisi batinku yang sedih karena aku merasa menjadi seorang istri yang tak berguna yang tak bisa segera memberikan keturunan pada suamiku.


Begitu keluar toilet, kulihat kerabat kak Oline sudah banyak yang pulang. Hanya tinggal kak Oline dan Coco di kamar.


“Kok sepi?”tanyaku sambil mendekat ke arah ranjang kak Oline


“Udah pada pulang. Kamu ditungguin keluar toilet lama banget”


“Kamu ga papa kan Vi?”tanya kak Oline padaku.


“Iya..aku ga papa”


“Sejak kapan kamu sering nangis kek gitu?”tanya kak Oline padaku


Kutatap Coco dengan tatapan bingung. Karena aku bingung dengan pertanyaan kak Oline.


“Tadi aku cerita sama Caroline kalo akhir-akhir ini kamu tuh sensitif banget. Dikit-dikit nangis. Dikit-dikit ngambek. Terus nafsu makanmu juga besar”


“Mending kamu periksa ke dokter kandungan deh Vi”saran kak Oline


“Kok dokter kandungan?”tanyaku bingung


“Kayaknya kamu “isi” deh”ucap kak Oline


Hah? “Isi”? Masak sih?


Kucoba mengingat-ingat setelah nifas karena keguguran kemarin, 2bulan kemudian aku haid, dan sampai sekarang aku memang belum haid juga. Mungkinkah aku sekarang hamil?


Kalo periksa ke dokter kandungan lagi, aku merasa belum siap. Aku takut terlalu percaya diri malah kecewa lagi seperti yang sudah-sudah. Mendengar kata “dokter kandungan” saja sudah berhasil mengaduk-aduk perasaanku.


Coco menggenggam tanganku seolah mengerti kegundahan dalam hatiku.


“Gimana Co?”


“Kamu nya sendiri gimana?”


“Udah Vi..ga papa..aku yakin perubahan dalam dirimu yang sensitif itu karena pengaruh hormon kehamilan. Tapi untuk lebih jelasnya kan diperiksain ke dokter. Siapa tau kan aku bener”ucap kak Oline


“Aku pikirin dulu ya kak..denger kata “dokter kandungan” aja udah bikin jantungku jedug-jedug ga karuan. Aku coba test pack dulu aja. Nanti kalo positif, baru aku periksain ke dokter”


Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya aku dan Coco pamit pulang.