Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Cinta dalam Hidupku



Setelah mendengarkan cerita dari Chika tentang Aldi, akhirnya aku putuskan bertemu Aldi di Surabaya.


Dia yang melihatku, tampak kaget. Akhirnya kami sekali lagi bicara sesama lelaki.


“Coco?”sapa Aldi begitu melihatku ada di rumah sakit tempatnya magang


“Apa kabar Al?”sapaku


Kami berjabat tangan. Kebetulan Aldi baru selesai praktek magang, jadi kami bisa bicara berdua di ruangannya.


“Kapan kamu kembali ke Indonesia?”tanya Aldi


“Sudah enam bulan ini”


“Apa maksud kedatanganmu kesini?”tanya Aldi to the point


“Oke..aku langsung saja. Maksud kedatanganku kesini adalah karena Vivi. Kau pasti tahu bahwa aku dan Vivi sudah berpisah hampir enam tahun ini. Kami berpisah karena dia meninggalkanku. Mamaku ternyata yang sudah memaksa Vivi mengambil keputusan itu. Sekarang aku kembali untuk memperjuangkan kembali cintaku”


Karena aku tahu dia juga mencintai Vivi. Aku pun mengungkapkan semuanya. Sebab perpisahan kami dan perjuanganku selama ini untuk bisa bertemu lagi dengan cinta dalam hidupku.


“Tapi kalian sudah berpisah begitu lama. Kau juga tak pernah muncul selama enam tahun ini. Kenapa sekarang kau harus kembali?”tanya Aldi


Jujur mendengar ucapan Aldi emosiku tersulut.


“Bukan aku yang tak mau menemui dia. Tapi dia yang tiba-tiba menghilang. Dia pindah ke Solo tanpa sepengetahuanku. Aku terus mencari dia kemana-mana, tapi semua usahaku nihil”


“Apa kau pikir Vivi masih menyukaimu setelah kalian berpisah sekian lama? Apa kau yakin dia masih mencintaimu?”tanya Aldi


“Aku yakin dia masih mencintaiku sama seperti aku mencintainya selama ini”


“Kau terlalu sombong Co..enam tahun adalah waktu yang cukup untuk Vivi melupakanmu”sindir Aldi


Aldi membuka hp nya.


“Lihat ini”


Aldi menunjukkan padaku foto-foto kedekatannya dengan Vivi. Saat itu, aku benar-benar marah. Karena mereka sangat mesra. Senyum yang tersungging di wajah cantik Vivi, membuatku terbakar cemburu. Aku pun mengepalkan tanganku menahan emosiku.


Aldi kemudian mengambil sesuatu dari laci mejanya. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil. Dia membuka kotak itu.


“Aku sudah berencana melamar Vivi begitu aku selesai magang, dua bulan lagi. Aku juga sama denganmu. Aku sangat mencintai Vivi. Bahkan sejak SMA sampai sekarang hanya dialah gadis yang kucintai”


“Beraninya kau bicara seperti itu tentang Vivi?”Aku sangat geram mendengar pengakuan cinta Aldi pada Vivi. Aku tarik saja kerah bajunya.


“Lepaskan” Aldi melepaskan tanganku secara paksa dari kerah bajunya.


“Kenapa kau mesti kembali lagi? Kisah kalian sudah lama berakhir. Sebaiknya kau menyerah saja”


“Jangan harap aku akan melepaskan Vivi. Karena dia milikku. Selamanya dia adalah milikku”


Aku sodorkan surat undangan pertunangan Caroline dan Rafael.


“Apa ini?”tanya Aldi


“Itu adalah surat undangan pertunangan Caroline dan Rafael kakakku. Datanglah hari itu, karena aku akan melamar Vivi hari itu juga. Jika dia menerima lamaranku, aku harap kau melepaskan Vivi dan merestui kami berdua. Dan jangan mengganggu hidup Vivi lagi. Tapi jika dia menolak lamaranku dan lebih memilihmu, aku akan kembali ke China dan kau bisa menikahi Vivi. Aku tak akan mengganggu hidup kalian lagi. Walaupun itu akan berat, tapi aku akan berusaha merelakannya”


Aku pun memberi Aldi surat undangan pertunangan Caroline dan Rafael kakakku. Aku tegaskan sekali lagi pada Aldi, bahwa aku akan terus berusaha mendapatkan dia kembali. Jika kemudian, ternyata dia memilih Aldi daripada aku, dengan berat hati aku akan terima. Tetapi jika Vivi memilihku, maka Aldi harus rela melepaskan Vivi.


Ini seperti aku sedang bertaruh dengan Aldi. Siapa diantara kami berdua yang akhirnya dipilih Vivi. Aku katakan hari itu aku akan melamar Vivi. Jika hari itu, Vivi menolakku maka dia bisa membawa Vivi dan aku akan kembali ke China.






Dua hari sebelum pertunangan, aku sengaja meminta Caroline mengajak Vivi ke butik untuk memilih gaun. Rencananya Caroline akan minta Vivi mencoba gaun pertunangan yang akan dipakai Caroline. Padahal sebenarnya Caroline sudah memilih gaun pertunangannya dengan kakakku. Ini hanya akal-akalan kami, supaya Vivi mau memakai gaun yang nantinya aku pilihkan.


Sebelum ke butik, aku ke hotel untuk memastikan acara pertunangan Caroline dan kak Rafael, serta pertunanganku dengan Vivi. Sampai di butik, kulihat Vivi dengan ekspresi bengong nya yang menggemaskan menatap ke arah Caroline.


Saat kutanya kenapa dia melamun, dia sangat kaget melihat aku sudah berdiri di sampingnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi kagetnya yang menggemaskan sambil ku arahkan tubuhku ke arah Caroline.


Gaun pertama yang dicoba Vivi, terlalu terbuka di bagian dada dan pahanya. Aku tak mau lelaki lain melihat Viviku memakai gaun seperti itu. Gaun kedua yang dipilih Caroline lebih parah lagi. Bagian belakangnya terbuka hingga memperlihatkan punggungnya yang mulus. Belahan dadanya juga rendah. Ditambah pahanya lagi-lagi terlihat saat dia berjalan.


Dengan tegas aku menolak gaun itu. Kulihat Vivi sepertinya mulai jengkel karena harus bolak-balik ke kamar ganti.


Saat menunggu Vivi keluar dari kamar ganti, Caroline lagi-lagi menggodaku.


“Apa kau tak lihat dia saja tak nyaman memakainya?”


“Oh ya..aku tak tahu itu”


“Makanya kalo ga tahu apa-apa tentang Viviku jangan sok tahu”ucapku ketus


“Hahahaha..iya..iya..aku minta maaf”


“Tapi aku akui, gaun apapun yang dipakainya..dia selalu kelihatan cantik”


“Tentu saja”jawabku sambil tersenyum.


Hp Caroline tiba-tiba berdering. Kakakku yang menelponnya.


“Kamu udah nyampe? Oke..aku keluar sekarang. Tunggu bentar”


Kulihat Caroline menutup telponnya.


“Rafael sudah datang. Aku pergi dulu ya?”


“Hei..masalah gaun ini gimana?”tanyaku bingung.


Karena tadi aku dan Caroline sepakat dia akan membantuku memilih gaun yang bagus untuk Vivi. Sekarang dia malah mau kencan dengan kakakku mumpung hari ini dia off kerja.


“Kau urus saja sendiri. Kalo gaunnya menurutmu bagus, itu saja yang kau beli”


Akhirnya gaun ketiga itulah yang kupilih. Saat aku mengantarnya pulang, kulihat beberapa kali Vivi menangis. Meskipun dia berusaha menyembunyikan wajahnya, tapi aku tahu dia menangis.


Terlebih setelah aku menjawab pertanyaannya tentang aku dan Caroline. Sebenarnya aku hanya ingin menggodanya saja. Tapi aku tak menyangka, ucapanku sepertinya membuat dia sedih. Hingga membuat Vivi menangis lagi.


Ingin rasanya aku menepikan mobilku lalu memeluknya. Karena Vivi yang bersedih seperti itu, membuatku ikut sedih. Tapi aku tahan perasaanku. Aku tak mau mengacaukan acara pertunanganku. Aku ingin mengungkapkan semuanya di hari itu. Mengungkapkan betapa aku sangat mencintainya.


*


*


*


*


Di hari pertunangan, aku benar-benar nervous. Bukan tanpa alasan. Aku takut Vivi kebetulan berpapasan dengan orangtuanya atau kerabat dekatnya atau dengan teman-temanku (Anti, Dedi dan Daniel) atau Aldi yang sengaja aku undang untuk menghadiri pesta pertunangan ini. Walaupun Caroline meyakinkanku bahwa rencanaku pasti berhasil, tetap saja aku kuatir.


Aku sengaja memilih dekorasi nuansa pink dan putih karena memang warna itu adalah warna kesukaannya. Dress yang dikenakannya di hari pertunangan itu, aku juga yang memilihnya. Aku sengaja minta tolong Caroline yang memberikannya dengan alasan gaun yang sudah kupilih dua hari lalu itu kependekan jika dipakai Caroline. Padahal sebenarnya Caroline sudah memilih gaun yang akan dipakainya. Gaun yang senada dengan jas yang dikenakan kakakku. Aku sangat berterimakasih pada Caroline yang sudah bisa meyakinkan dia.


Sebelum berangkat ke acara pertunangan, aku minta Chika memfoto Vivi. Dan seperti biasa, dia terlihat sangat cantik. Dialah gadisku. Wanitaku. Dia yang selalu membuat jantungku berdegup kencang tiap melihat kecantikannya. Sebentar lagi akan kunyatakan pada dunia, dialah cintaku. Cinta dalam hidupku.


Ketika memasuki ballroom acara, sepintas kulihat dia begitu cantik dengan dress putih yang dikenakan. Sesekali kulihat dia menitikkan air mata saat aku memberikan sambutan di acara pertunangan ini.


Kulihat dia akan meninggalkan ruang ballroom ini. Sebelum akhirnya dia berdiri mematung, ketika aku mengucapkan selamat pada Caroline dan Rafael kakakku.


Jantungku berdegup semakin kencang. Kunyatakan pada semua hadirin yang hadir dalam acara pertunangan ini, bahwa aku mencintainya. Aku mencintai Vivi.


Reaksi Vivi setelah mendengar pengakuanku sungguh tak kuduga sebelumnya. Dia justru lari keluar dari ballroom ini. Segera saja kukejar dia.


Ketika dia berada dalam jangkauan tanganku, segera kutarik tangannya. Kudekap tubuhnya. Kupeluk dia. Kupeluk wanita ini. Wanita yang sangat kucintai.


Akhirnya aku bisa mendekapnya lagi. Dia menangis dalam dekapanku. Suara tangisnya benar-benar menyayat hatiku.


Dapat kurasakan semua penderitaannya selama ini. Selama enam tahun perpisahan kami. Akhirnya bisa kugenggam lagi tangannya. Kali ini benar-benar tak kan kulepaskan. Tak akan aku lepaskan sampai kapanpun juga.


Ketika mama mendekati kami, aku pun meninggalkan mereka untuk berbicara empat mata. Kulihat mama dan Vivi berpelukan. Aku lega mama dan Vivi bisa bertemu. Setelah mama selesai, mama kembali ke ballroom.


Kupegang tangan Vivi. Dia memegang wajahku, dan wajahnya terlihat sedih. Mungkin setelah mendengar cerita dari mama, dia jadi ikut sedih. Airmatanya juga sudah di pelupuk mata. Dia terus menerus menyalahkan dirinya, karena dia tak pernah berpikir aku akan nekat bunuh diri, seperti yang diceritakan mama. Tapi aku yakinkan dia bahwa aku baik-baik saja.


Kulamar dia di bawah sinar rembulan malam itu.


Kulamar dia untuk menikah denganku.


Aku benar-benar bahagia, ketika dia


menjawab “aku mau”


Kusematkan cincin pertunangan di jari manisnya.


Dia tersenyum. Cantik sekali. Dialah wanitaku.


Lalu kami kembali ke dalam ballroom. Dia terkejut melihat semua tamu undangan bertepuk tangan menyambut kami berdua. Dia juga terkejut melihat orangtua, kerabat dan teman-teman berkumpul di sana. Bersama dengan Caroline dan Rafael kakakku, akhirnya kejutanku berhasil. Aku dan Vivi pun resmi bertunangan. Kami akhirnya bersama lagi setelah enam tahun terpisah. Aku bahagia akhirnya bersatu lagi dengan dia.