Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
EXTRA PART (13) Sunday Morning (SunMor)



Mentari pagi yang begitu indah. Membangunkanku yang masih tertidur dengan pulas. Sebuah kecupan manis di bibirku membuatku membuka mata. Wajah tampan dengan garis wajah yang sempurna. Mata indah yang selalu membuat jantungku bergetar. Senyuman manis dari lelaki yang sangat kucintai seakan menyalurkan energi positif padaku, membuatku ikut tersenyum.


“Good morning”ucap Coco dengan suara beratnya yang sangat seksi di telingaku.


“Good morning”


“Masih ngantuk?”


“He em”jawabku sambil memiringkan tubuhku menghadap Coco.


Coco merebahkan tubuhnya di sampingku sambil merapikan anak rambutku. Wangi aroma tubuh Coco mengisi indera penciumanku. Coco sudah mandi dan kini tampak begitu tampan.


“Udah ganteng banget mau kemana?”tanyaku sambil bergumul dengan selimut karena aku memang masih malas beranjak dari tempat tidur.


Coco mengernyitkan dahinya lalu tersenyum padaku.


“Katanya mau ke SunMor?”


Mataku langsung terbelalak. Kenapa aku bisa lupa? Padahal kemarin aku sendiri yang ngebet pingin ke SunMor. Segera kusibak selimut yang masih menyelimuti tubuhku. Aku pun segera berjalan ke arah kamar mandi.


“Sayang..hati-hati! Ingat kamu sedang hamil”seru Coco padaku melihatku yang terburu-buru.


“Siapp bos”jawabku lalu kututup pintu kamar mandi.


Aku segera mandi dengan air hangat. Aku harus cepat, karena kalo kesiangan, bisa-bisa kepanasan. Dan kalo sudah kepanasan, pasti aku tidak akan menikmati petualanganku mengelilingi SunMor pagi ini.


Setelah siap, aku dan Coco berangkat menuju SunMor. Aku segera menghubungi Rena mengabarkan kedatanganku di SunMor. Karena SunMor sudah lumayan rame, aku sedikit kesusahan mencari jejak ketiga gadis yang selalu menemaniku selama di Jogja. Setelah melalui pencarian yang lumayan lama, akhirnya aku bertemu dengan mereka.


Aku, Coco dan ketiga mahasiswi cantik itu berkeliling menikmati barang-barang yang dijajakan di sepanjang jalan yang digunakan sebagai lapak jualan SunMor. Ada begitu banyak lapak di sana. Mulai dari lapak yang menjual aneka makanan, minuman dan jajanan yang menggugah selera. Lapak pakaian yang bergelantungan dan berjajar rapi. Ada juga lapak yang menjual aneka sepatu dan sandal. Tas juga banyak dijual di sana. Hijab adalah item yang paling sering dijumpai jika berada di SunMor. Ada juga skincare dan kosmetik. Kaos kaki yang lucu-lucu. Peralatan dapur pun juga ada di sana. Bahkan sprei, bantal dan gorden juga dijual di sana. Tak ketinggalan mainan anak-anak yang beraneka macam. Pokoknya di SunMor itu one stop shopping lah. Makanya dompet bener-bener harus dikekep rapet biar ga jebol kalo udah belanja di SunMor.


Namanya juga cewek, lihat barang lucu dan murah pasti bawaannya pingin beli. Tapi dasar Coco, setiap aku ingin membeli sesuatu, pasti dilarang.


“Iihhh..lucu banget”kataku saat kulihat ada tas yang lucu.


“Sayang..tasmu udah banyak”


“Co..itu tasnya lucu”


Coco menggeleng membuat aku hanya bisa mendengus kesal karena sejak tadi dilarang Coco membeli barang yang ada di sana.


Karena lapar dan sedikit kelelahan, akhirnya kami membeli jajanan yang ada di sana. Aku memilih membeli takoyaki sementara Coco membeli siomay. Rena membelikanku es goreng Pak Gatot yang legendaris. Es goreng adalah Semacam es lilin yang ditusuk terus dilumurin cokelat. Harganya sangat murah. Dengan mengeluarkan uang Rp 5000,00 saja, kita sudah dapat dua tusuk es goreng. Rasanya? JUARA!!! Wuenakk bangettt..Apalagi dimakannya pas lagi panas-panas. Suegernya sampe ke usus, hahahaha..


Sambil istirahat, aku, Coco dan Rena cs menikmati jajanan yang kami beli sambil ngobrol santai. Ditengah obrolan kami, tiba-tiba seorang cowok ganteng menghampiri Dila dan Chiara.


“Hei Dil?”


“Dylan?”


“Sendirian aja Dyl?”tanya Chiara


“Ga kok..tuh Bryan juga disini”tunjuk Dylan pada Bryan yang kini berjalan ke arah rombongan kami.


Kulihat cowok bernama Dylan itu ganteng juga. Tubuhnya juga atletis. Kenapa berondong sekarang ganteng-ganteng ya? Eh lupa, berondong di sampingku juga ganteng. Coco-ku yang paling ganteng, mmuach..muaachh, love you sayangku …


Kulihat mereka berlima ngobrol dengan sangat akrab.


“Eh sampe kelupaan..kenalin kak Vivi..ini temenku satu kampus, Dylan”


“Dylan”


“Vivi..ini suami kakak, Coco”


Coco menerima uluran tangan Dylan dan Bryan untuk berkenalan.


“Kamu adiknya Adrian kan?”tanyaku pada Bryan


Cowok ganteng yang cool itu hanya mengangguk. Sikapnya yang cool mengingatkanku pada seseorang yang berhasil mencuri hatiku. Mengingatkanku pada Coco awal perkenalan kami dulu. Kubisikkan sesuatu ke telinga Coco.


“Bryan mirip banget sama kamu Co”bisikku pelan takut kedengeran yang lain.


Coco langsung menatap ke arahku dengan tatapan yang tajam lalu berbisik di telingaku.


“Mirip apanya?”


“Sikapnya yang sok cool. Mirip kamu waktu SMA dulu”


“Apa iya?”


“Kamu ga ngerasa kalo dulu kamu tuh cool banget?”


Coco dengan enteng malah menggelengkan kepalanya. Ga mau ngaku kalo dulu dia juga cool banget. Seperti Bryan yang duduk tak jauh dariku.


Sambil menikmati takoyaki, aku seperti menangkap benih-benih cinta di mata Bryan kepada Chiara. Apalagi tatapan matanya yang tak berpaling sedikitpun dari gadis manis itu. Sementara Dylan sepertinya ada rasa sama Dila. Karena Dylan selalu tersenyum dan tertawa mendengar apapun yang diucapkan Dila. Kalo mereka sampai jadian, lucu juga ya..Dila dan Dylan.


Melihat Dila dan Dylan, Chiara dan Bryan, aku justru kepikiran Rena. Bagaimana dengan Rena ya? Apa sudah ada kemajuan dalam hubungan Rena dan Aldi? Atau mereka masih jalan di tempat ya? Tapi mau tanya, aku sungkan dan takut. Takut kalo sampai ketahuan Coco. Bisa “disembelih” kalo aku sampai ketahuan kepo tentang Aldi. Nanti dikira aku masih punya perasaan sama Aldi. Ga ah..mending aku ga usah tanya. Demi keselamatan jiwa ragaku.


Aku akhirnya memilih menikmati jajanan yang kubeli lalu kami berempat ditambah Dylan dan Bryan melanjutkan petualangan kami mengelilingi SunMor yang semakin siang malah semakin rame. Membuat pengunjung sedikit berdesakan.


Karena belum sarapan, aku dan rombongan akhirnya memilih mencari warung makan. Aku memilih warung yang menjual lontong sayur yang ada di jalan Notonagoro-Lingkar Timur. Begitu memasuki warung itu, aku penasaran karena ekspresi wajah Coco yang mendadak berubah.


“Kenapa sayang?”tanyaku


Begitu aku hadapkan kepalaku ke depan, aku kaget banget karena di sana malah ketemu Arsy, Adrian dan Aldi.


“Kalian disini juga? Kebetulan banget”sapaku pada mereka bertiga.


Aku segera duduk disamping Coco agak menjauh dari dosgan-dosgan dan Aldi. Bryan dan Dylan juga ikut kami makan di warung itu.


“Ngapain kakak disini?”tanya Bryan ketus


“Tadi kakak abis joging terus kesini. Apa ga boleh kakak kesini?”jawab Adrian


“Ga lagi nguntit Ara kan?”tanya Bryan lagi


“Kamu mau minum apa? Es teh manis?”tanya Chiara pada Bryan


Bryan hanya mengangguk.


Fix! Bryan suka Chiara. Bagaimana aku tahu? Bahkan tatapan matanya tak berpaling sedikitpun dari Chiara yang sedang memesankan minum untuk kami semua.


Dan apa lagi itu? Kakak adik saling beradu tatapan mereka. Jangan-jangan mereka bermusuhan karena memperebutkan cinta gadis manis itu..


Wahh, otakku travelling kemana-mana gara-gara disuguhi adegan barusan. Terus ini kenapa Arsy nglirik liatin Dila sama Dylan mulu? Waduhhh..double cinta segitiga nih..


Arsy-Dila-Dylan, Adrian-Chiara-Bryan. Pasti seru siapa yang dipilih gadis-gadis cantik itu..


“Kamu kenapa lagi sayang? Senyum-senyum sendiri”tanya Coco sambil menatapku


Gara-gara mbayangin double cinta segitiga, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri dan ketangkap basah sama Coco.


“Hehehe..ga papa kok”


“Ga usah bohong”jawab Coco


Coco emang yang paling tau aku. Kubisikkan saja ditelinga Coco.


“Itu lho aku liat double cinta segitiga”


Coco mengernyitkan dahinya mendengar ucapanku barusan. Kuberi isyarat mata ke arah “pasangan”yang tadi mengusik pikiranku.


Lagi asyik “gibah” sama Coco, aku justru bertatapan dengan Aldi. Kali ini aku harus lebih konsentrasi. Jangan sampai kejadian di Ambarukmo Plaza kemarin terulang. Aku harus ingat, kalo sekarang Coco sedang menahan amarahnya begitu melihat “saingannya”.


Aku sebenarnya juga ga habis pikir, kenapa dari sekian banyak warung di SunMor ini, aku malah ketemu Aldi disini. Mau dibilang kebetulan sepertinya susah dinalar.


“Oya kak, besok mau berangkat jam berapa ke pantainya?”tanya Rena padaku


“Rencana sih pagi aja..jam 6 apa jam 7 gitu berangkatnya biar di sana nanti bisa lebih lama”


“Kalo gitu, besok kita ngumpul di hotel kakak aja ya?”ucap Rena


“Gitu juga boleh”


“Kalian mau kemana?”tanya Dylan pada Dila


“Besok aku mau nemenin kak Vivi ke pantai”jawab Dila


“Kalian besok bolos kuliah?”tanya Bryan


Dila, Rena dan Chiara mengangguk bersamaan.


“Kamu juga ikut Ra?”tanya Bryan


“Iya”


“Bukannya besok ada jam ngajarnya dosen killermu?”tanya Bryan sambil menatap Adrian dengan sinis


Chiara langsung mengangkat tangannya seolah mau memukul Bryan.


“Kenapa?”tanya Bryan sambil tersenyum.


Dia pasti tersenyum melihat ekspresi Chiara yang sedang kesal padanya.


“Kalian mau ikut?”tanyaku pada Bryan dan Dylan


“Boleh kak?”tanya Dylan


Coco langsung menarik tanganku membuatku menoleh ke arah suamiku yang sekarang wajahnya seperti sedang kesal.


“Kenapa?”tanyaku pelan


“Kenapa semua orang kamu ajak?”tanya Coco pelan


“Kan semakin banyak yang ikut semakin rame. Ga papa ya?”pintaku pada Coco


“Boleh juga..sekali-kali bolos kuliah ga bakal bikin kita di DO”ucap Dylan enteng disambut tawa Dila, Rena dan Chiara.


“Kalo gitu, besok aku juga bawa mobil”ucap Bryan


“Bukannya mobilmu baru masuk bengkel?”tanya Adrian


“Ya kalo gitu aku pinjam mobil papa apa mama”sahut Bryan


“Terserahlah”balas Adrian kemudian memilih memakan lontong sayur pesanannya.


“Dila?”panggil Arsy


“Iya Pak”jawab Dila


“Bukannya besok kamu udah janjian dengan pak Brata dan saya membahas proposal PIMNAS?”


“Saya udah bilang Pak Brata, konsultasinya saya tunda selasa Pak”jawab Dila


“Kenapa saya ga dikasih tau kalo ditunda?”tanya Arsy dengan tatapannya yang terlihat sedang kesal.


“Maaf Pak..saya lupa”jawab Dila sambil menunduk.


“Jadi kamu nunda konsultasi gara-gara mau ke pantai ya?”tanya Dylan


“Iya”jawab Dila


Kulihat ekspresi wajah Arsy dan Adrian kelihatan kesal dan tak bersahabat setelah pembicaraan tentang rencana jalan-jalan kami ke pantai.


Sebenarnya aku ingin mengajak Arsy dan Adrian sekalian. Tapi nanti kalo malah bikin Coco tambah marah, sebaiknya aku urungkan niatku. Kalo bukan karena alasanku mau babymoon di Jogja pasti Coco ga akan mengijinkan aku jalan-jalan ke pantai.


Udah lah cukup ngajak Bryan dan Dylan aja. Sekalian biar Coco ada temen cowok yang nemenin ngobrol. Biar dia ga sendirian.