
Sampai di apartemen Aldi, kami parkir terlebih dulu di parkiran basement. Ternyata apartemen Aldi berada di Solo Paragon Residence. Sebuah hunian apartemen yang terletak tepat di belakang Solo Paragon Mall. Sebuah mall terbesar di kota Solo.
“Apartemenmu disini?”
Aldi mengangguk. Bisa kutebak, pasti harga sewa perbulannya sangatlah mahal.
“Sebulan berapa?”
“Berapa ya kak? Sekitar enam jutaan kalo tidak salah”
Tuh kan..sudah kuduga. Sebulan enam jutaan. Setara biaya kosku selama tiga bulan.
“Ga pingin nyari kos deket kampus?”
“Kemarin milih disini karena belum kepikiran buat kos sih kak..Mungkin kalo udah dapat kos yang pas, aku kos aja. Kos kak Vivi deket Akper juga?”
“Kos ku deket warung makan tadi. Paling 200 meteran. Aku kos di daerah situ soalnya tempatnya strategis banget. Deket kampus, warung makan juga banyak. Suasana di sana juga ga terlalu rame jadi seneng aja di sana”
Kami naik lift menuju ke apartemen Aldi. Sampai di lantai 19 apartemennya, kami berjalan ke arah apartemennya. Ketika pintu apartemen dibuka, Dila langsung berlari ke arahku lalu memelukku dengan erat.
“Kak Viviiii”seru Dila
“Hei..hei..lepasin..kasihan kak Vivi”
Dila memasang wajah cemberut. Kemudian menggenggam tanganku dan mengajakku duduk di kursi sofa.
“Kak Vivi kemana aja? Aku nyariin kakak. Aku telpon ga bisa-bisa. Kak Vivi ganti nomor? Aku minta ya”Dila memberondongku dengan banyak pertanyaan hingga aku tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Nanya apa nge-rap? Satu satu dong Dil nanyanya” protes Aldi melihat adiknya yang seperti orang nge-rap ketika memberondongku dengan begitu banyak pertanyaan.
“Maaf kak..aku terlalu excited. Kakak sih “ngilang” gitu aja. Ga kasih kabar”
Aku hanya bisa tersenyum melihat Dila yang meskipun sudah setahun tidak bertemu, tapi kelakuannya masih sama seperti dulu.
“Maaf ya..kak Vivi udah bikin Dila kuatir”
“Bagi nomornya dulu baru aku maafin”seloroh Dila membuat aku tergelak.
“Kalo mau maafin..ya maafin aja. Ga usah pake syarat segala. Ga ikhlas itu namanya”bela Aldi
“Huffttt…Padahal kak Al juga sama kayak Dila. Ga inget apa dulu nyamperin ke rumah kak Vivi segala? Terus ke rumah siapa itu, temen kak Vivi..ah, aku lupa namanya”
“Anti?”
“Iya..kak Anti”
“Dillla”seru Aldi dari arah dapur.
Aldi dengan berkacak pinggang menatap Dila dengan penuh kemarahan. Mungkin dia malu karena Dila sudah membongkar rahasianya.
“Weeeekkkkk”Dila menjulurkan lidahnya sengaja mengejek kakaknya.
Aku yang melihat kelakuan mereka berdua hanya bisa tersenyum. Mereka berdua masih saja seperti dulu. Suka bertengkar.
“Awas kamu kalo buka-buka rahasia lagi. Kakak ga mau anter kamu keliling Solo”ancam Aldi
“Ga masalah, kan ada kak Vivi. Aku bisa jalan sama kak Vivi”ucap Dila sambil merangkul lenganku.
“Kalian masih suka berantem ya?”
“Kak Al sih nyebelin..sukanya bikin ribut”
“Kamu tuh..bawel”balas Aldi dari arah dapur.
“Kak Vivi udah punya pacar?”tanya Dila tiba-tiba.
Aku hanya tersenyum. Aku bingung harus bereaksi seperti apa dihadapan anak kecil seperti Dila. Jadi aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya lembut.
“Kak Vivi sibuk kuliah. Ga punya waktu buat pacaran”kilahku
“Yahhhh..kasihan deh yang udah nungguin setahun ini”ucap Dila dengan suara sengaja dikeraskan. Sepertinya dia ingin menggoda Aldi. Itu yang aku pikirkan.
“Kak Vivi tahu, kak Al sampai sekarang juga ga punya pacar”bisik Dila di telingaku.
Mendengar pengakuan Dila barusan, aku akui sedikit kaget. Karena setauku dulu Aldi sangat terkenal di SMA. Banyak gadis yang mengidolakan dia. Tak mungkin tak ada satupun gadis yang sesuai seleranya. Apakah mungkin dia masih menyimpan perasaan padaku? Tak mungkin. Walaupun percakapan kami di mobil tadi sempat membuatku berpikir Aldi masih menyukaiku.
“Apaan main bisik-bisik segala?”tanya Aldi yang melihat Dila berbisik padaku sambil membawa nampan berisi tiga gelas minuman.
“Maaf kak..seadanya ya”
“Ga papa..aku yang harusnya minta maaf udah ngrepotin”
“Aku ganti baju dulu ya kak. Kalian ngobrol dulu aja”ucap Aldi
Aku dan Dila mengangguk.
“Awas ya Dil kalo kamu sampai ngomong macam-macam sama kak Vivi”ancam Aldi pada Dila sambil mengepalkan tangannya ke arah Dila.
Gadis kecil itu malah memonyongkan bibirnya meendengar ancaman kakak lelakinya itu. Membuatku tersenyum. Aldi kemudian meninggalkan aku berdua dengan Dila di ruang tamu. Dila berdiri dari kursi sofa dan dengan
langkah mengendap-endap ke arah kamar Aldi. Setelah memastikan keadaan aman, Dila kembali duduk di sampingku.
“Aku harus mastiin dulu kak Al ga tiba-tiba keluar”
“Emang kenapa?”
“Ya yang aku bilang kakak tadi, sampai sekarang kak Al belum punya pacar lho..tau kenapa?”tanya Dila
Aku menggeleng pelan.
“Kak Al belum bisa nglupain kak Vivi”ucap Dila membuatku kaget setengah mati.
“Ah..enggak lah. Masak karena itu”
“Ihh kak Vivi..dibilangin ga percaya. Dengerin ya kak..kak Al tuh cinta mati sama kakak. Buktinya selama di SMA sampai sekarang ga mau pacaran. Padahal kan kak Al ganteng. Cewek yang deketin dia juga banyak. Tapi kak Al kayak ga minat pacaran gitu sama mereka. Dulu sempet ada yang deket sama kak Al, temen sekelasnya. Namanya kak Poppy. Cantik sih, tapi jutek. Aku ga suka. Ga kayak kak Vivi”
“Apa iya?”
“Aku cerita dulu”
“Iya..iya..maaf”
“Nah, pas PDKT gitu kan biasa ya kak alasannya kerja kelompok laah.. Padahal Cuma pingin deket doang. Nah yang lucu tuh, pas kerja kelompok di rumah, kak Poppy ini ga sengaja buka laptop kak Al yang ditinggal di ruang keluarga. Tau ga kak, begitu buka laptop dan lihat wallpaper kak Al, kak Poppy wajahnya langsung merah. Terus kak Poppy marah-marah gitu sama kak Al. Salah sendiri, wallpapernya ga diganti. Kan wallpaper kak Al masih yang dulu. Fotonya sama kak Vivi. Cewek mana yang ga mencak-mencak coba kak..wahhh, aku ngakak parah pas kejadian itu”
Mendengar cerita Dila, ada sedikit rasa kasihan di hatiku untuk Aldi. Karena rupanya dia masih belum bisa move-on dariku. Aku juga merasa tidak enak hati pada Poppy, adik kelasku yang dulu juga ikut PMR.
“Terus pernah waktu itu, salah satu temen cowok kak Vivi main ke rumah. Alasannya nyari info kak Vivi. Karena katanya kak Vivi udah pindah keluar kota. Tau ga kak, setelah mendengar berita itu, kak Al langsung panik. Dia langsung nyamperin rumah kak Vivi yang dulu. Kebetulan aku juga ikut. Aku juga kuatir sama kak Vivi. Pas nyampe rumah dan rumah kak Vivi sepi, aku bisa lihat kak Al sedih banget. Kak Al nelpon kakak terus tapi nomor kakak udah ga aktif”
“Kak Vivi jangan ngilang lagi ya..aku jadi sedih lihat kak Al yang kuatir banget sama kakak”
Dila mengelus punggung tanganku dan menggenggamnya. Ucapannya saat itu benar-benar tulus.
Pintu kamar terbuka, Aldi sudah selesai ganti baju. Dia terlihat tampan dengan outfit yang dikenakannya. Kaos lengan pendek warna hitam yang dipadu padankan dengan celana jeans dark blue.
Ada apa denganku? Kenapa setiap melihat cowok ganteng pake kaos hitam, aku malah terbayang-bayang wajah Coco yang memakai kaos itu?
“Kak Vivi kenapa malah bengong?”ucapan Dila membuyarkan lamunanku yang tanpa sengaja “menghadirkan” sosok Coco di depan mataku untuk kesekian kalinya.
“Ah..ga kok..aku ga bengong”kilahku
Aldi malah tersenyum dengan manisnya menatap ke arahku membuat aku jadi semakin salah tingkah.
“Aku ke kamar bentar ya kak”ucap Dila meninggalkan aku dan Aldi berdua di ruang tamu.
Aldi kemudian duduk di sampingku. Suasana mendadak canggung. Mungkin karena setelah mendengar cerita Dila tadi, justru membuatku tak berani bertanya banyak hal pada Aldi.
“Tadi Dila cerita apa sama kakak?”tanya Aldi
“Ehmmm..bukan apa-apa. Cerita biasa aja”aku bohong. Aku tak mau mereka berdua bertengkar karenaku.
“Benarkah? Kakak pasti bohong”tebak Aldi jitu.
Aku hanya sanggup tersenyum.
“Kak Vivi tu ga cocok kalo bohong. Karena pasti langsung ketahuan”
“Emang kelihatan ya?”
Aldi malah tertawa mendengar pertanyaanku.
“Hahahaha”
“Kok malah ketawa sih Al?”tanyaku tak terima ditertawakan.
“Kak Vivi masih sama seperti dulu. Ga bisa bohong. Karena pasti bakal ngaku duluan, hahahahaha”tawa renyah Aldi sejenak mengalihkan masalah dalam hidupku. Membuatku ikut tertawa bersamanya.
“Ngetawain apa sih kak? Lucu banget ya..sampe ketawa gitu”tanya Dila setelah keluar kamar.
Gadis cantik yang sudah beranjak remaja itu terlihat sangat manis dengan outfit yang dikenakannya. Sweeter oversize warna putih dengan celana blue jeans dan sepatu putih yang dipakainya membuat Dila terlihat sangat chic dan casual. Rambutnya pun dibiarkan tergerai dengan indah. Aku yakin jika di sekolahnya Dila pasti punya banyak fans. Karena dia sangat cantik.
“Mau kemana Dil? Rapi gitu?”tanya Aldi
“Ihhh..gimana sih kak Al? Aku kan pingin jalan-jalan keliling Solo. Mumpung ada kak Vivi. Kak Vivi mau kan jalan-jalan sama aku? Mau ya kak? Plissss”Dila merangkul lenganku dengan wajah memelas.
“Dil..jaga sikapmu..jangan maksa-maksa gitu” perintah Aldi pada adik kecilnya membuat Dila cemberut.
“Maaf ya kak.. Dila sukanya maksa”ucap Aldi padaku.
“Iya..gapapa kok..jangan cemberut gitu Dil..katanya mau jalan-jalan, masak cemberut gitu”
Wajah Dila mendadak langsung sumringah.
“Jadi kak Vivi bisa ikut aku jalan-jalan?”
Aku mengangguk pelan.
“Kak Vivi ga sibuk? Kalo sibuk, bilang aja kak..jangan karena si bawel ini, kakak jadi terpaksa ikut jalan-jalan”
“Ga kok..aku ga lagi sibuk..kebetulan hari ini aku juga longgar. Ga ada tugas juga. Jadi bisa nemenin Dila jalan-jalan” Aku cubit hidung Dila saking gemasnya. Dila semakin mempererat rangkulannya di lenganku.