Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Terungkapnya Sebuah Fakta



Cukup lama, aku menangis di lapangan basket itu.


Aku harus kuat. Aku tak boleh terus-terusan bersedih. Aku harus merelakan dia bahagia dengan gadis pilihannya. Walaupun sangat berat, tapi aku harus berusaha. Karena sesungguhnya kami hanya berteman. Ini tidak seperti, dia putus denganku. Kami tak pernah pacaran, apalagi jadian. Kami hanya teman.


Perlahan-lahan aku mulai merasa baikan. Kuusap perlahan air mata yang masih mengalir.


Berkali-kali ku tegaskan pada diriku sendiri, bahwa kami bukanlah sepasang kekasih, karena tak pernah ada kata jadian di antara kami. Semua hanyalah perasaanku semata yang salah mengartikan semua perhatiannya.


Jika memang Feli adalah gadis yang membuat dia bahagia, maka aku harus melepaskannya dan melupakannya.


Aku bangun dari tempatku, berjalan berlahan menuju ke kelas. Aku sudah cukup bersembunyi. Sambil berjalan kuusap sisa air mata di pipiku.


Tiba-tiba aku melihat seseorang menatapku dengan wajah sendu.


COCO????


Kenapa harus dia lagi yang kulihat? Sejak kapan dia berdiri di sana? Apa yang dilakukannya disana? Apa dia melihatku menangis?


Kulihat dia berdiri di pintu keluar lapangan basket. Memandang ke arahku.


Aku kaget.


Aku tak percaya dengan yang kulihat. Aku tak menyangka dia ada di sana.


Tapi, ya sudahlah, itu bukan urusanku. Akupun berjalan melewatinya. Aku berjalan seolah tak melihatnya. Tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku.


“Kenapa kamu menangis?” tanyanya dengan wajah yang serius


“Bukan urusanmu” jawabku ketus tanpa melihat kearahnya


Aku pun berjalan menuju kelas, walaupun dia masih memegang tanganku.


Aku tak tahu apa maksudnya menanyakan hal itu. Tapi tangannya sangatlah kuat. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Seakan dia tak akan melepaskanku sebelum menjawab pertanyaannya.


Kulihat wajahnya juga sangat serius.


“Lepaskan Co..”pintaku sambil kukibas-kibaskan genggamannya.


Tak bisa kuartikan ekspresi wajahnya waktu itu.


“Lepaskan Co”pintaku sekali lagi.


Aku pun melihat sekeliling. Aku takut ada yang melihat kami seperti itu. Kali ini dia menarik tanganku keras. Dia menarikku dan memasukkan aku ke ruang ganti pemain basket yang kebetulan terbuka. Lalu dia menutup pintu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menggengam pergelangan tanganku. Cengkeramannya sangat kuat. Membuatku kesakitan.


“ Lepaskan tanganku Co..sakit” pintaku lagi hampir menangis


“Jawab aku, kenapa kamu menangis?”tanyanya lagi dengan setengah berteriak.


Membuat aku sejenak kaget. Kenapa dia seperti itu? Kenapa dia mengkhawatirkan aku seperti itu? Tolong jangan seperti itu Co..Ini terlalu menyakitkan.


“Apa ini karena salahku? Apa aku yang sudah membuatmu menangis? Jawab!!!” tanyanya dengan nada sedikit marah lalu dia menundukkan kepalanya.


Perhatiannya padaku benar-benar membuat hatiku sekali lagi rapuh. Airmataku pun sudah di pelupuk mata. Dia yang mengkhawatirkan aku seperti ini membuat pertahananku kembali diobrak-abrik. Apa maumu Co? Kenapa kau harus berteriak seperti itu mengkhawatirkan diriku?


Tiba-tiba dia bilang,


“Jika memang karena Aku…tolong..maafkan Aku..”


Dia menarik tanganku lebih keras, membuat badanku tertarik ke depan. Badanku jatuh ke depan. Ke arahnya. Tubuhku menabrak dadanya yang bidang. Dia..memelukku. Aku jatuh dalam pelukannya. Dia memelukku erat. Sangat erat.


“Maafkan Aku” bisiknya lembut ditelingaku


Air mataku kembali berurai. Aku menangis lagi. Kali ini tanpa daya, aku jatuh kembali padanya. Aku tak bisa percaya dengan yang aku alami. Dia memelukku. Memeluk tubuhku. Pelukannya begitu hangat. Tanganku pun perlahan-lahan mendekapnya. Kemudian semakin erat. Kami saling berpelukan. Seolah melepaskan beban dalam hati kami masing-masing. Aku lega akhirnya bisa mendekapnya kali ini.


Aku sangat bahagia. Bahagia sekali. Karena bisa memeluknya. Memeluk lelaki yang selama ini kusukai. Kami berpelukan selama beberapa saat. Dia memelukku dan membelai rambutku. Setelah sedikit tenang, dia melepaskan dekapannya. Akupun juga. Air mataku pun mulai berhenti menetes.


Kemudian dia mendudukkan aku di kursi pemain yang ada di ruangan itu. Dia mengambil kursi yang lain, dan duduk di depanku sambil terus memegang tanganku. Ini kali pertama dia memegang jari-jari tanganku. Biasanya dia hanya memegang pergelangan tanganku.


“Tanganmu sangat kecil” katanya sambil tersenyum


Aku yang masih terisak pun ikut tersenyum dibuatnya. Sambil sesekali dia mengusap air mata di pipiku. Dia memegang pipiku,


“Kamu tambah kurus” katanya


“Lalu aku harus gemuk gitu dalam situasi seperti ini?” jawabku membuat dia tertawa.


Kami tertawa bersama.


Ini adalah momen indah setelah “perpisahan” kami.


Sambil memegang tanganku, dia mulai menjelaskan satu per satu permasalahan di antara kami.


Mulai dari alasan kenapa dia marah-marah padaku waktu itu. Kenapa dia mulai menjauhiku dan membuat hubungan kami merenggang sampai benar-benar “putus” seperti kemarin.


“Maaf jika waktu itu aku membentakmu?”


“Kamu galak banget”ucapku sambil cemberut


“Iya..maaf”ucapnya sambil tersenyum


“Waktu itu aku terlalu emosi”


“Emosi kenapa?”


“Sejak latihan olimpade, Feli terus “meracuni” aku. Dia bilang kalo kamu ada main sama Aldi”ucap Coco terus terang


“Hah..Aldi?”


“Dia bilang adik-adik kelas banyak yang sering melihat kamu jalan sama Aldi”


“Lha kan aku sama Aldi emang partner. Kayak kamu sama Feli kan?”


Ternyata awal mula permasalahan kami adalah rumor yang disebarkan Feli pada Coco, yang menyebutkan bahwa aku dan Aldi ada “main” di belakang Coco.


Hal ini menyebar semakin mengganas di kalangan adik kelas, bahkan ada yang bilang aku dan Aldi sudah jadian. Untuk menguatkan ceritanya, Feli menunjukkan foto selfi yang disitu ada aku dan Aldi berdua.


“Dia juga nunjukin ini”


Coco menunjukkan foto kiriman Feli di hp nya.  Aku melihat foto itu berkali-kali, sambil mengingat-ingat kapan aku mengambil foto selfi itu. Karena memang foto itu diambil bukan dari hpku. Lalu darimana Feli dapat foto itu? Aku mencoba mengingat, tapi tetap tak ingat.


“Kok dia bisa dapat foto itu? Dia punya mata-mata?”godaku


“Ga tau”


“Aku malah ga ingat kapan foto itu diambil”


“Bentar Co..jadi kamu lebih percaya Feli ketimbang aku? Gitu? Kenapa kamu ga nanya langsung sih?”gerutuku


“Maaf”ucapnya menyesali perbuatannya yang sudah meragukan aku sambil memegang tanganku erat.


Akhirnya aku tahu, selama ini biang kerok yang membuat hubunganku dengan Coco sempat “putus” adalah Feli.


Dasar gadis pembohong!  Awas saja jika ketemu! Bisa-bisanya dia memfitnahku seperti itu.


Aku benar-benar kesal.