
Lomba olimpiade telah selesai, dia juara 1 bersama dengan Dedi. Sehingga mereka akan mewakili kota menuju lomba tingkat provinsi. Pemberian medali dan piala juara 1 dilaksanakan saat upacara bendera. Di depan semua mata, kulihat wajah cerahnya telah kembali. Aku pun lega.
Aku pikir dia marah karena pusing mempersiapkan lomba. Pikirku jika lomba sudah selesai maka semua akan kembali seperti sedia kala. Nyatanya tidak. Bahkan kami tak pernah berbicara lagi. Banyak yang mengira kami telah putus. Dan itu membuatku semakin sedih. Hubungan kami menjadi berantakan seperti ini.
Aku masih sering mencatatkan pelajaran yang ditinggalkan dia, tetapi ku berikan catatan lewat Dedi. Kami sekarang seperti dua tahun lalu, seperti saat pertama kali masuk sekolah ini. Dia dengan dunianya, dan aku dengan duniaku. Walaupun aku terus berusaha menjernihkan masalah antara kami, tapi dia memilih menjauhiku. Aku hanya bisa pasrah dan menerima sikapnya itu padaku.
Dia sibuk dengan persiapan lomba provinsinya dan aku sibuk dengan persiapan bazarku. Kami pun seperti sudah menemukan pasangan kami yang baru. Dia dengan Feli dan aku dengan Aldi. Bahkan banyak rumor beredar di sekolah tentang kedekatan kami masing-masing. Rumor bahwa dia pacaran dengan Feli. Dan aku pacaran dengan Aldi.
Ketika kami berpapasan, kami sudah dengan pasangan masing-masing. Sering kulihat Feli bermain ke kelasku mencari dia. Atau ketika melintas di lab IPA tempat persiapan lomba, kulihat Feli selalu duduk di sampingnya.
Awalnya aku sangat cemburu melihat kedekatan mereka, namun lama kelamaan rasa itu sedikit demi sedikit berkurang seiring berkurangnya perhatiannya padaku. Kadang aku masih sering melamun, merindukan masa-masa indah di kelas XI lalu. Aku merindukan masa-masa berjalan berdua dengannya melewati lapangan basket menuju kantin. Atau ketika berjalan berdua menuju perpustakaan sekolah saat jam kosong.
Tetapi entah kenapa, aku selalu merasa Feli memang mengincar Coco. Mungkin karena perasaan wanita lebih peka maka aku bisa melihat Feli selalu berusaha mendekati Coco. Dan entah karena apa, Coco selalu membiarkan Feli berada di sekitarnya.
Suatu ketika, Coco sedang membuka loker di depan kelas, dan Feli ada di sampingnya berdiri membelakangiku. Mereka sedang bercakap-cakap. Aku dan Aldi kebetulan baru selesai rapat, berjalan menapaki tangga menuju kelasku.
Dia menatapku. Akupun menatapnya. Kami saling berpandangan.
Entah sengaja atau tidak, ketika sampai di dekat loker, Feli tiba-tiba menyenggolku. Membuatku hampir terjatuh dari lantai kelasku yang tingginya 1 meter dari tanah.
Untung saja saat itu, Aldi langsung memegangku sehingga aku tidak sampai jatuh. Coco juga sempat mau menarikku. Kulihat dia mengulurkan tangannya hendak menolongku. Tetapi dia kalah cepat dengan Aldi.
“Kak Vivi ga papa?”
“Iya..aku baik-baik saja. Makasih ya”ucapku pada Aldi
“Maaf kak, aku ga lihat kakak mau lewat. Tadi aku mau merapikan tali sepatuku yang lepas. Maaf ya kak”ucap Feli
“Iya..ga papa..”
Feli beralasan dia tidak melihatku dan mau merapikan tali sepatunya yang katanya copot. Aku yang sudah mulai malas beragumen, akhirnya memaafkannya.
*
*
*
*
Anaknya juga sangat aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Mulai dari PMR, OSIS, dan Pramuka. Aku lihat anak ini seperti gabungan antara Arsy dan Coco. Tetapi perbedaannya dia bukan playboy seperti Arsy. Aldi juga tipe family man. Sangat sayang dengan keluarganya. Aku tahu itu, karena aku pernah tanpa sengaja berkunjung ke rumahnya.
Saat itu, kami panitia bazar berencana melakukan survei lokasi penyerahan donasi bazar. Aku, Aldi dan beberapa panitia bazar berpencar mencari panti asuhan yang kami rasa layak menerima santunan kami. Kebetulan saat itu, aku dan Aldi kebagian survei bersama.
Sepulang sekolah, aku dan Aldi janjian untuk berangkat bersama menuju panti asuhan. Hari itu, karena buru-buru aku tak sempat merapikan rambutku. Aku hanya mengikat sebagian rambutku ke atas. Kami berangkat naik motor Aldi.
Padahal kami tidak janjian, tetapi anehnya outfit kami berdua saat itu bisa kembaran. Seperti kembaran. Aku memakai kaos pendek putih dengan cardigan soft grey dan bawahan celana jeans kulot berwarna putih dan sepatu putih. Sementara Aldi memakai kaos putih dipadu dengan jaket dark grey dengan bawahan celana kain warna cream dan sepatu putih. Sepintas jika dilihat, kami seperti kembaran.
Aku saja sempat kaget saat keluar rumah, dan dia menoleh dari atas motornya. Bisa samaan gini ya outfitnya? Aneh..
Sebelum berpencar mencari panti asuhan, sebelumnya kami berkumpul dulu di sekolah. Dan saat bertemu dengan teman-teman panitia yang lain, mereka kompak menggoda kami.
“Cieeee..yang couple-an…Kak Vivi sama Aldi janjian ya? Couple-an gitu bajunya”goda Lea adik kelasku yang juga panitia bazar.
“Iya ya”sahut Irham
“Eh..ga janjian kok..ini cuma kebetulan”jawabku membela diri
“Kebetulan apa kebetulan?”goda Sisil
“Udah jodoh itu mah”goda Bryan
Mungkin karena dia tidak nyaman dengan godaan mereka, Aldi segera mengalihkan pembicaraan.
“Sudah ya..keburu sore..kita berangkat survei saja sekarang”ucap Aldi
“Iya deh”balas teman-teman hampir bersamaan.