Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Ketahuan Bohong



Aku dan Coco hendak menyodorkan mic pada panitia, dan ingin duduk kembali ke tempat kami, tapi MC acara mencegah kami.


“Eitss..kakak berdua mau kemana? Ga lengkap dong rasanya kalo ga denger duet kalian berdua. Iya kan penonton?”


“Yeeyyeyeyey..setuju..setuju”


“Minta tolong kakak berdua duet ya? Mau ya kak?”pinta MC


“Ayo kak Vivi..nyanyi lah kak..suara kakak kan bagus”


“Iya kak”


“Nyanyi bentar kak”


Semua senior angkatan Aldi beramai-ramai memberondongku untuk ikutan menyanyi.


“Udah nyanyi aja bentar”ucap Coco


“Iya Vi..aku iringin deh”jawab Dedi


“Ya udah deh”


Akhirnya aku dan Coco duet diringi petikan gitar Arsy dan Dedi. Malam itu dibawah cahaya bulan purnama yang sangat indah, aku bernyanyi dengan Coco. Suasananya sangat romantis. Kami menyanyikan lagu Ed Sheeran Thinking Out Loud. Mungkin karena terlalu menjiwai lagu yang kami bawakan, Coco menyanyi sambil menggenggam tanganku. Membuat para peserta dan panitia serta alumni yang melihat kami malah ribut sendiri. Bahkan sayup-sayup dapat kudengar ada yang berkomentar,


“Aduduhhh..so sweet banget sih”


“Aku jadi baper nih”


“Iya..aku juga”


“Mereka romantis banget sih..jadi pingin”


Aku dengan tersipu malu terus menyanyi bersama Coco. Dia yang terus menatapku membuatku salah tingkah. Menerima perlakuan hangat dari pacarku sendiri tapi di depan banyak mata yang menyaksikan kami.


Aku akui lirik lagu Thinking Out Loud milik Ed Sheeran sangat romantis. Lagu yang secara garis besar menceritakan tentang keinginan seseorang untuk dapat mencintai dan dicintai secara abadi. Dalam lagu ini Ed Sheeran berandai apabila nanti dirinya sudah tua, kekuatan dan keindahan fisiknya sudah memudar, namun cintanya tak akan pernah luntur terhadap pasangannya.


Ed Sheeran juga mengajak pendengarnya untuk bernostalgia terhadap kenangan-kenangan pada saat pertama kali mengalami jatuh cinta yang terkadang rasa cinta itu datang secara misterius. Memilih untuk menjalani saja hubungan yang ada, yang merupakan anugerah terindah ketika umur sudah semakin menua, tetapi cinta tak akan pernah pudar. Duh, so sweet, iya kan?


Inilah penggalan lirik dan terjemahan lagu Ed Sheeran Thinking Out Loud itu.


When your legs don't work like they used to before


Saat kakimu tak lagi berfungsi seperti biasanya


And I can't sweep you off of your feet


Dan aku tak bisa membuatmu jatuh cinta


Will your mouth still remember the taste of my love


Akankah mulutmu masih ingat rasa cintaku


Will your eyes still smile from your cheeks


Akankah matamu masih tersenyum dari pipimu


Darlin' I will


Kasih, aku akan


Be lovin' you


Mencintaimu


Till we're seventy


Hingga usia kita tujuh puluh


Baby my heart


Kasih, hatiku


Could still fall as hard


Masih bisa jatuh sama kerasnya


At twenty three


Seperti saat usiaku dua puluh tiga


I'm thinkin' bout how


Aku sedang berpikir tentang bagaimana


People fall in love in mysterious ways


Orang-orang jatuh cinta dengan cara misterius


Maybe it's all part of a plan


Mungkin semua ini bagian dari rencana


Me I fall in love with you every single day


Aku jatuh cinta padamu setiap hari


I just wanna tell you I am


Aku hanya ingin memberitahumu begitulah adanya


So honey now


Maka kasih sekarang


Take me into your lovin' arms


Rengkuhlah aku ke dalam pelukan hangatmu


Kiss me under the light of a thousand stars


Cium aku di bawah cahaya ribuan bintang


Place your head on my beating heart


Sandarkan kepalamu di dadaku yang berdegup kencang


I'm thinking out loud


Kuungkapkan isi pikiranku


Maybe we found love right where we are


Mungkin kita tlah temukan cinta di tempat kita  berada


When my hairs all but gone and my memory fades


Saat rambut di kepalaku habis dan ingatanku memudar


And the crowds dont remember my name


Dan orang-orang tak ingat namaku


When my hands don't play the strings the same way


Saat tanganku tak bisa mainkan gitar dengan cara sama


I know you will still love me the same


Aku tahu kau kan tetap mencintaku dengan cara sama


Cause honey your soul


Karena kasih, jiwamu


Can never grow old


It's evergreen


Selalu muda


Baby your smile's forever in my mind in memory


Kasih, senyummu selamanya di benakku dalam kenangan


*


*


*


*


Selesai menyanyi, aku kembalikan micku dan Coco pada MC lalu kami duduk lagi ke tempat kami. Bersama sesama ex-senior PMR dan alumni PMR. Acara pensi dilanjutkan, Anti yang selanjutnya diminta menyanyi ke depan. Hari itu, MC benar- benar berhasil mengerjai kami, para ex-senior dan alumni.


Saat ikut menyoraki Anti dan kak Ilham yang disuruh nyanyi, aku sempat bertatapan dengan Aldi. Karena aku tak ingin bertengkar dengan Coco, maka aku pura-pura saja tak melihat Aldi. Anti dan kak Ilham malam itu menyanyikan lagu John Legend yang berjudul All of Me. Sama seperti saat aku dan Coco menyanyi, semua orang yang ada di lapangan ikut menyanyi bersama. Membuat paduan suara dadakan.


Sepanjang Anti menyanyi, kuperhatikan Aldi terus-terusan menatap ke arahku. Membuatku sangat risih. Tatapannya juga penuh kemarahan. Tapi aku pura-pura saja tak melihat. Mungkin karena keseringan mencuri pandang ke arah Aldi, kulihat Coco juga ikutan melihat ke arah Aldi. Kali ini Aldi menatap ke arah yang lain.


Setelah Anti selesai menyanyi, Anti duduk lagi di sampingku. Kali ini giliran peserta EPSP yang menunjukkan kebolehan mereka. Di tengah-tengah acara, Anti berbisik padaku,


“Dari tadi Aldi lihat kamu terus”bisik Anti padaku


“Menurutmu begitu?”


“Lihat aja”


Aku pun menoleh ke arah Aldi, dan benar saja dia menatap ke arahku.


“Kamu udah bilang belum kalo kamu udah jadian sama Coco?”


“Belum”


“Kok belum sih?”


“Aku ga berani”


“Mending cepetan bilang..biar kalian bisa “pisah”baik-baik”


Selama ini aku tak ada kesempatan bicara langsung dengan Aldi, karena Coco selalu bersamaku. Aku juga tak mau ada masalah dengan Coco. Tapi saran Anti ada benarnya juga. Sebaiknya dia mendengar berita aku jadian dengan Coco dari mulutku sendiri jadi Aldi bisa segera melupakan aku.


Kulihat tiba-tiba Aldi beranjak pergi. Aku pun pamit pada Coco, untuk menyusul Aldi.


“Mau kemana?”tanya Coco


“Aku ke toilet  bentar ya”pamitku bohong


“Ditemenin ga?”


“Ga usah..bentar doang”


Aku lalu jalan sendiri sambil menengok ke arah Coco beberapa kali. Aku akui aku takut ketahuan Coco jika aku ternyata bohong. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Aldi seorang diri tanpa campur tangan Coco. Aku takut mereka berdua malah berantem gara-gara aku.


Saat kulihat Aldi, aku pun memanggilnya.


“Al”panggilku


Aldi yang melihatku malah pergi. Kupercepat langkahku setengah berlari. Tapi karena Aldi langkah kakinya lebih lebar dari aku, membuat aku harus berlari mengejarnya. Dan saat sudah hampir dekat, kuraih pergelangan tangan Aldi.


“Tunggu Al..aku ingin bicara”


Aldi malah menepis tanganku dengan kasar. Wajahnya juga sangat marah padaku.


“Aku sibuk kak..maaf”


“Sebentar aja Al..tolong dengarkan aku sebentar”


Tiba-tiba Coco datang dari sampingku dan berdiri di depan Aldi. Aku kaget setengah mati. Aku ketahuan Coco. Gawattt!!! Coco pasti marah besar padaku.


“Dengarkan dulu apa yang akan Vivi katakan..baru kau bisa pergi”ucap Coco


“Baiklah..apa yang ingin kak Vivi katakan?”


Saat itu lidahku rasanya kelu. Aku bingung harus bicara apa? Karena ada Coco di sampingku. Coco lalu menggenggam tanganku. Membuat aku semakin tak tahu harus bicara apa.


“Aku dan Vivi sudah jadian”ucap Coco


“Benarkah? Selamat untuk kalian”sahut Aldi dengan nada sinis.


“Aku harap kau bisa memegang janjimu waktu itu untuk melepaskan Vivi. Mulai sekarang lupakan Vivi..karena Vivi milikku”


“Co..”


“Baiklah..janji adalah janji. Aku akan menepati janjiku, untuk melepaskan kak Vivi..dan kau juga harus ingat untuk membahagiakan kak Vivi”


Percakapan dua lelaki ini benar-benar membuatku bingung. Bingung harus bagaimana. Di satu sisi, Coco adalah kekasihku, pacarku. Lelaki yang sangat aku cintai. Di sisi lain,  Aldi adalah teman baikku yang selalu ada untukku. Perasaan tulusnya padaku, perhatian dan kehadirannya selama aku “pisah” dari Coco.


Akhirnya Aldi berdiri di depanku dan mengulurkan tangannya padaku.


“Selamat kak..akhirnya kakak jadian dengan lelaki yang kakak sukai. Aku ikut bahagia untuk kakak”


“Terimakasih Al..aku doakan semoga kamu juga segera bertemu dengan gadis yang kau sukai dan menyukaimu juga”


Kami pun berjabatan tangan tapi tak lama karena Coco segera menarikku menjauh dari Aldi. Coco mengajakku ke mobil. Sepanjang jalan menuju mobil, Coco tak bicara sepatah katapun. Dia terus diam. Membuat aku merasa bersalah sudah berbohong padanya tadi. Coco lalu membuka pintu mobil, menyuruhku duduk. Tapi dia tetap di luar.


Dia berdiri di luar mobil bersandar pada mobilnya dengan kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Coco terus saja diam. Beberapa kali kupanggil dia sama sekali tak menyahut.


“Co? Coco? kamu marah ya?”


“Co? Ngomong dong..jangan diem aja”


“Co?”


Diamnya Coco membuat hatiku sangat sedih dan akhirnya membuatku menangis. Aku menyesal sudah membohongi dia.


“Maaf ya..aku tadi bohong”kataku sambil terisak


Diamnya Coco membuat hatiku dipenuhi rasa bersalah. Baru juga kami jadian, tapi aku sudah membuat Coco kecewa padaku.


Aku sedih. Kuusap airmata yang menetes di pipiku. Aku hanya sanggup menundukkan kepalaku. Aku tak berani menatap wajah Coco. Wajah penuh kekecewaan Coco.


Tiba-tiba Coco duduk berjongkok di depanku.


“Kenapa nangis? Udah jangan nangis lagi”ucapnya padaku sambil mengusap airmataku.


“Maaf ya..aku udah bohong tadi. Aku cuma pingin ngomong sama Aldi. Tapi aku takut kamu marah, makanya aku bohong”


“Iya..aku tahu. Udah jangan nangis lagi”


“Maaf udah ngecewain kamu”


Coco menggenggam tanganku lalu tersenyum padaku.


“Aku memang tadi marah. Aku ga suka kamu bohong”


“Iya..maaf”


“Udah ya nangisnya”ucap Coco sambil tersenyum padaku.


“Mulai sekarang, jangan pernah bohong lagi sama aku..Aku ga suka”


Aku mengangguk. Dia mengelus kepalaku lembut.


“Dihapus dulu itu ingusnya”goda Coco padaku


“Aku kan ga ingusan”protesku


Dia tertawa kecil sambil mencubit pipiku. Mungkin karena gemas.


Kami pun kembali ke lapangan untuk mengikuti acara pensi lagi. Sepanjang jalan menuju lapangan Coco terus menggenggam tanganku. Membuat panitia dan adik junior calon senior baru yang kebetulan berpapasan dengan kami, malah heboh sendiri. Mereka kulihat senyum-senyum saat menyapa kami.