Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Rahasia Buku Sketsa (2)



Aku menggandeng Anti keluar dari kamar Coco. Aku tak nyaman dengan keadaan tadi. Dia yang langsung menyembunyikan buku sketsa itu, benar-benar membuat aku marah, jengkel dan sedih. Karena selama ini dia tak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Begitu aku di ambang pintu kamar Coco, salah satu ART Coco


mbak Isti datang.


“Makanannya udah siap Ko”ucap mbak Isti


“Iya mbak..bentar lagi turun”jawab Coco


Akhirnya aku dan teman-teman turun ke lantai satu ke ruang makan. Disana Uti sudah menunggu kami. Di atas meja sudah terhidang beberapa masakan. Kami duduk di kursi yang tersedia.


Masakan yang sangat menggugah selera makan, namun mengapa tak bisa menggugah selera makanku? Aku yang biasanya suka rendang daging, hanya melihat masakan itu sepintas. Aku hanya mengambil nasi dengan porsi kecil. Aku mengambil sepotong ayam bumbu rica dan ca brokoli. Padahal aku selama ini sangat tak suka ca brokoli. Aku makan makanan yang ada di piringku sangat pelan.


“Makanannya ga enak ya non?”tanya Uti


“Ah..enggak kok..enak..masakannya enak”aku tersenyum pada Uti.


Beliau melihatku dengan tatapan sendu. Membuatku tak enak hati. Padahal bukan karena beliau, aku jadi ga nafsu makan. Tapi gara-gara majikannya. Aku menatap Coco dengan kesal.


Kalo emang ga boleh liat, kenapa tadi ngijinin aku sama Anti masuk kamarnya? Sekalian aja dilarang..aku akan lebih menghargai seperti itu. Berarti kan dia emang ga mau privasinya diganggu. Lha ini, udah ngijinin masuk, malah bikin aku kesel. Nyebelinnnn!


“Kalo enak, kenapa ga dimakan? Kamu suka rendang kan?”tanya Coco lalu mengambilkan sepotong daging rendang padaku.


“Kenapa Vi? Masih marah gara-gara tadi?”tanya Daniel sambil melirik Coco


“Hah..Siapa yang marah? Enggak..Aku ga marah. Kenapa mesti marah? Hehehehe”aku tertawa dengan terpaksa.


Acara makan itu malah jadi ajang teman-teman godain aku. Membuatku sama sekali tak menikmati acara makan-makan di rumah Coco. Selesai makan, hari sudah beranjak sore. Akupun pamit pada Uti.


“Kami pulang dulu Uti”pamitku


“Iya non..hati-hati. Kapan-kapan main sini ya? Kalo Dedi sama Daniel kan udah biasa kesini”ucap Uti


“Iya Uti..saya usahakan”jawabku


Aku dan Anti mencium punggung tangan Uti lalu kami pulang. Daniel yang mengantar Anti pulang. Aku pulang diantar Coco naik motor. Sepanjang jalan, aku lebih banyak diam. Mungkin dia merasa aku tak seperti biasanya, makanya dia yang mengajakku bicara.


“Kenapa diam aja?”tanya Coco


“Udah..kamu fokus nyetir aja”jawabku masih dengan nada kesal.


Tiba-tiba Coco mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, lalu masuk pelataran sebuah minimarket yang masih lumayan dari rumahku.


“Lho kok kesini sih? Katanya mau anterin aku pulang”gerutuku


“Bentar, mau beli es krim”ucapnya


Ini Coco sengaja “nyogok” aku pake es krim apa gimana ya? Karena aku memang suka es krim. Akhirnya kami berdua masuk minimarket itu. Sapaan khas penjaga minimarket menyapa setiap pengunjung yang datang.


“Selamat Sore..Selamat datang di indo****t. Silahkan belanja”sapa penjaga minimarket


“Kirain ga mau ikut masuk?”


“Aku juga mau beli es krim”


Dia tersenyum melihatku. Aku berjalan kearah deretan lemari pendingin es krim. Aku pun memilih es krim coklat besar kesukaanku. Dia juga. Saat akan membayar di kasir, bungkus es krim ditanganku diambil.


“Berapa mbak?”tanya Coco pada kasir sambil mengeluarkan dompet miliknya.


“Jadi satu ya kak?”tanya kasir perempuan itu.


“Iya”


Aku dan Coco memberikan jawaban berbeda. Membuat kasir itu bingung.


“Udah, pake uangku aja”ucap Coco padaku.


“Total berapa mbak?”


“Totalnya tiga puluh ribu ya kak”


Coco menyodorkan uang lembaran Rp 50.000.


“Kembalinya dua puluh ribu ya kak.. Isi pulsanya sekalian kak?”tanya penjaga mini market


“Ga”jawab Coco singkat


“Oke..ini kembaliannya ya kak.. Terimakasih. Silahkan kembali lagi”ucap kasir itu ramah


Coco seperti biasa dengan wajah coolnya mengambil dua bungkus es krim kami, lalu berjalan keluar minimarket.


“Wuihhh..ganteng banget”ucap teman kasir tadi, tepat sebelum aku keluar minimarket. Jadi aku masih mendengar mereka berdua memuji Coco.


Coco kulihat malah asyik duduk di kursi di depan minimarket sambil menikmati es krimnya.


“Tuh..dicariin mbak-mbak kasir”godaku pada Coco sambil duduk di kursi di sebelahnya.


“Hah?”Coco hanya menoleh ke arah dua kasir yang saat itu berdiri menatap Coco sambil senyum-senyum.


“Iya kan?”


Makan es krim sangat baik untuk memperbaiki mood kita saat sedang stress atau sedang marah seperti yang aku alami. Aku pun menikmati es krimku dengan lahap. Dia melihatku sambil tersenyum.


“Kenapa?”tanyaku saat kulihat dia menyentuh ujung bibirnya beberapa kali


Tanganya tiba-tiba terjulur dan menyentuh ujung bibirku dengan cepat.


“Ihhh..apaan sih Co?”


“Noh..ada bekas es krim di mulutmu..dari tadi dikode ga sadar-sadar”


“Ya maaf..kamu juga cuma ngode gitu..emang aku ngerti. Aku kan bukan ahli pembaca isyarat, mana ngerti..ngomong dong biar aku paham. Ga main kode-kodean gitu”keluhku


“Vi?”


“Apa?”


“Ehmm..itu..”


“Apaan sih Co?”tanyaku


“Ehmm..buku sketsa tadi…”


“Ooo..itu. Udah ga usah dibahas..aku tau itu tadi aku yang salah. Itukan privasimu. Harusnya aku ga nyentuh barang yang bukan milikku. Maaf ya?”akhirnya aku memilih meminta maaf sudah memasuki kamar Coco dan hampir  menyentuh barangnya.


Dia tersenyum padaku. Aku balas senyumnya. Kami sama-sama menikmati es krim sambil ngobrol sampai es krim kami habis. Setelah itu, Coco mengantarku pulang.


Sejak hari itu, aku tak pernah lagi masuk kamar Coco. Karena aku tau, kamar adalah area privat, yang tak sembarang orang boleh masuk. Dan masalah buku sketsa itu pun sudah tak pernah kubahas lagi. Aku tak mau


mengulik rahasia dibalik buku sketsa itu. Aku takut jika aku terus mengungkitnya, dan tau isinya, ternyata malah membuatku patah hati dan sakit hati. Aku tak mau. Biarlah buku sketsa itu jadi rahasia Coco.