
Akhirnya saat pemberangkatan pun tiba. Langkahku semakin gontai. Tubuhku gemetar. Perasaanku semakin tak karuan. Namun kucoba menutupinya. Aku pun berjabatan dengan mama dan papanya untuk mengiringi kepergiannya. Mamanya memelukku dan membisikkan sesuatu di telingaku.
“Terimakasih”bisiknya
Airmata yang kutahan selama ini, akhirnya tumpah ruah. Aku pun menangis dengan sedih.
Saat berjabatan dengan papanya, Ia mengelus kepalaku lembut tanpa sepatah kata terucap. Lalu mereka berdua pergi menuju pengecekan paspor dan tiket.
Kini tinggallah aku dan Coco seorang. Dialah Cocoku. Cinta dalam hidupku. Lelaki yang sangat aku cintai. Yang telah mengisi hidupku dengan kebahagiaan.
Aku..Aku tak siap berpamitan dengannya. Berpisah dengannya. Aku masih ingin bersamanya. Masih ingin melihat wajahnya dan menggenggam tangannya. Karena aku sangat mencintainya.
Kulihat matanya berkaca-kaca menatapku dengan sendu. Aku yakin dia pun merasakan kesedihan yang aku rasakan. Tiba-tiba dia menarik tanganku ke arahnya. Membuatku untuk kesekian kalinya terjatuh dan menabrak dadanya yang bidang. Lalu dia memeluk tubuhku ini dengan erat. Sangat erat.
Hatiku benar-benar hancur. Rasanya seperti ditusuk ribuan pedang. Sungguh sakit. Ternyata perpisahan dengan orang yang sangat kita cintai rasanya sepedih dan sesakit ini. Aku pun hanya bisa menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. Kami berpelukan sangat erat. Semakin erat. Seakan kami tak ingin mengucapkan kata perpisahan. Aku ingin bersamanya lebih lama lagi.
Kucoba menguatkan hatiku yang terluka. Terluka karena perpisahan ini. Perlahan kulepaskan pelukanku dengan kepala yang tertunduk. Aku tak sanggup menatap matanya. Mata yang akan selalu kurindukan. Mata yang meneduhkan itu.
Dia mengusap air mata di pipiku dengan lembut. Dia memegang daguku kemudian mendongakkan kepalaku. Membuat mata kami saling berpandangan. Matanya sangat indah. Seindah kebersamaanku selama ini dengannya. Kami tak saling berkata-kata. Namun hati kami seakan bertautan.
Tiba-tiba kepalanya mendekat kepadaku. Aku hanya sanggup memejamkan mataku. Dapat kurasakan bibirnya yang hangat mengecup keningku.
Kubuka mataku perlahan.
“Tunggu Aku” katanya menyemangatiku sambil tersenyum.
Aku mengangguk pelan.
Kami berdua sama -sama tersenyum. Dia meletakkan topi yang dipakainya di kepalaku. Perlahan-lahan dia mulai melangkah pergi meninggalkan aku. Tanganku memegang tangannya erat. Kemudian perlahan-lahan genggaman tanganku pun terlepas seiring kepergiannya waktu itu.
Kami pun berpisah. Di bandara itu, kami berpisah. Kulambaikan tanganku padanya dan dia melangkah pergi meninggalkan aku seorang diri sambil menatap kepergiannya dalam isak tangis tak berkesudahan.
Sebelum semakin menjauh, Kulihat tangannya memberiku tanda
“ I.. L..Y.. “ I LOVE YOU arti dari tanda itu.
Hatiku semakin bergejolak. Kesedihan merasuk ke dalam hatiku semakin dalam. Aku tak kuasa menahan laju air mataku yang semakin tak terbendung. Aku pun membalas isyaratnya itu sambil beruraian air mata.
“I .. L .. Y”
Semakin lama kulihat dia semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari kerumunan para penumpang.
Tiba-tiba hp ku berdering. Rupanya dia menelponku.
“Jangan menangis” katanya lembut
“Aku kirimkan sesuatu ya”
“Apa itu?”tanyaku sambil terisak
“Nanti sebelum pesawat take off”
“Anggap saja ini adalah kado ulangtahunku untukmu”
Kami pun berbincang-bincang. Dia mencoba menenangkanku. Dia tak tahu bahwa suaranya justru membuat aku semakin sedih.
"Jangan sedih ya.. aku pasti akan menghubungimu sesampainya di sana"
"Iya.. aku tahu"
"Aku juga pasti akan menelponmu setiap hari. Aku janji"
"Jangan mengucapkan janji yang belum tentu bisa kamu tepati"
"Aku serius Vi.. aku pasti akan menghubungimu. Jadi kamu ga akan merasa kesepian lagi"
"Dasar gombal"gerutuku membuat kami tertawa.
Sungguh suaranya dan tawa renyahnya pasti akan selalu aku rindukan.
" Vi?"
"Apa?"
"Jaga hatimu untukku.. Karena aku akan menjaga hatiku hanya untukmu"
Kenapa harus sesakit ini melepas cintaku padanya? Kenapa kami harus berpisah di saat kami saling mencintai?
Ya Tuhan, sungguh berat cobaan ini kurasakan..
"Iya" ucapku dengan sedikit terisak sambil menahan sesak di dadaku.
"I love you sayang"
"I love you too" ucapku sambil meremas ujung bajuku dan tangisku yang semakin menjadi-jadi namun kutahan suaraku agar Coco tak mendengarnya.
Semua ini sungguh menyakitkan. Sakit sekali.
Dia mulai bersiap naik pesawat. Pesawat sebentar lagi take off. Dia berpamitan padaku. Tangisku semakin menjadi.
" Aku berangkat dulu"
“Selamat tinggal Co" kataku lalu kututup telpon itu.
Itulah terakhir kalinya aku mendengar suaranya.
Hatiku semakin sedih.
Dadaku terasa sesak.
Dia telah pergi.
Aku telah kehilangan dia.
Dia yang kucintai dengan sepenuh hatiku.
Dia yang telah mengisi hari-hariku dengan cintanya.
Aku sedih.
Batin ini meronta.
Dialah lelaki yang sangat kucintai.
Dialah cinta pertamaku.
*
*
*
*
Kucoba melangkah pulang, tapi kakiku rasanya lemas. Seperti tak bertenaga.
Ku rasakan hp ku bergetar. Ketika kubuka hp ku ternyata dia mengirimkanku foto-foto selfi yang kami ambil saat dirumahnya. Saat dia sakit dulu.
Ternyata ini kiriman yang dia maksudkan tadi.
Foto-foto kebersamaan kami yang sangat indah. Yang akan menjadi kenangan terindah bagiku. Kenangan bersamanya.
Kemudian ada kiriman video yang aku benar-benar tak ingat kapan mengambilnya. Video itu memperlihatkan ketika aku tertidur di kamarnya waktu itu. Video berdurasi dua menit itu merekam ketika aku sedang tertidur pulas.
Kulihat di sana, tiba-tiba dia mendekatiku, membelai rambutku, memegang wajahku, kemudian dia…
MENCIUMKU!!!
Mencium bibirku??
Berarti mimpi yang kualami waktu itu benar adanya. Dia telah menciumku. Coco mencium bibirku.
Kupegangi bibirku diiringi derai airmata yang tak kunjung berhenti. Terbayang kembali rasa itu, ketika dia mencium bibirku. Sentuhan lembut di bibirku kala itu.
Kakiku rasanya semakin lemas. Aku pun terjatuh dan duduk di lantai.
Aku hanya mampu menangis sejadi-jadinya.
Tubuhku gemetar.
Aku merasa sesak.
Kesedihan ini begitu menyakitkan.
Kenapa kisah cintaku berakhir seperti ini?
Di saat aku sangat mencintai dia, dan dia sangat mencintaiku.
Kenapa???
Aku sangat sedih.
Cinta pertamaku telah berakhir.
Cintaku telah pergi meninggalkanku.
Dia yang kucintai telah pergi..
Sanggupkah aku hidup tanpanya?
Tanpa dia di sisiku?
Sanggupkah hambaMu ini menjalani hari-hari tanpa dirinya disisiku lagi?
Aku merasa seluruh kebahagiaanku pergi bersamanya
Mampukah aku mencintai selain dirinya
Dia yang telah menjadi bagian dalam hidupku
Dialah cinta dalam hidupku
*
*
*
*
Kurasakan seseorang membantuku berdiri. Rupanya itu Anti. Aku berpegangan padanya. Tubuhku gemetar. Anti mendudukkanku di kursi tunggu. Aku pun menangis dalam pelukan Anti. Dia mencoba menenangkanku. Dia juga ikut menangis bersamaku.
“Tak apa Vi.. Kamu harus kuat. Ingatlah cintanya padamu..”
“Dia pergi An…dia pergi..Coco pergi An..aku... aku sudah kehilangan dia An.."
“Aku takkan bertemu dengannya lagi”
“Aku..kehilangan dia”
"Aku takkan bertemu lagi dengan dia"
"Sabar Vi.. kamu harus kuat"
"Rasanya sakit An.. "
"Iya.. aku tahu"
"Cocooo"
Dadaku semakin sesak.
Hatiku rasanya sakit.
Sakit sekali.
Aku sedih sekali.
Air mata ini mengalir semakin deras kala aku mengingat dirinya yang sudah pergi meninggalkan aku.
Tak kusangka seperti ini akhirnya, kisah cintaku bersamanya.
Aku kehilangan cinta dalam hidupku.
Aku kehilangan dia.
Entah kapan akan bertemu lagi.
Aku sedih.
Di bandara itu, Aku melepaskan lelaki yang kucintai, yang ternyata juga sangat mencintaiku. Lelaki yang selalu membuatku bahagia saat aku bersamanya. Lelaki yang selalu menjagaku. Lelaki yang kupikir akan menjadi masa depanku.
Kini dia telah pergi. Pergi dariku. Membawa semua cinta dan kebahagiaanku.
Dialah cinta dalam hidupku.
*
*
*
*
Aku akhirnya pulang bersama Anti. Aku memang meminta dia mengikuti kami sampai ke bandara, tanpa sepengetahuan Coco dan keluarganya. Karena aku tahu, aku takkan kuat jika harus pulang sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Kupandangi kendaraan-kendaraan yang lalu lalang. Pikiranku kosong. Aku gamang. Aku pun melamun. Membayangkan setiap momen bersamanya. Ingatan itu kembali dalam pikiranku. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu.
Lantunan lagu di mobil membuatku semakin larut dalam kesedihanku. My immortal milik Evanescence yang kudengarkan terasa sangat menusuk hatiku.
I'm so tired of being here
Aku sangat letih berada di sini
Suppressed by all my childish fears
Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan
And if you have to leave
Dan jika kau harus pergi
I wish that you would just leave
Kuharap engkau pergi saja
'Cause your presence still lingers here
Karena kehadiranmu masih berbekas di sini
And it won't leave me alone
Dan bayangmu takkan meninggalkanku
These wounds won't seem to heal
Luka ini takkan pernah sembuh
This pain is just too real
Rasa sakit ini memang nyata
There's just too much that time cannot erase
Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu
When you cried I'd wipe away all of your tears
Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu
When you'd scream I'd fight away all of your fears
Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu
I held your hand through all of these years
Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini
But you still have all of me
Namun kau masih memiliki diriku
You used to captivate me
Dulu kau memikat hatiku
By your resonating light
Dengan cahayamu yang menggetarkan
Now I'm bound by the life you left behind
Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan
Your face it haunts
Wajahmu menghantui
My once pleasant dreams
Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan
Your voice it chased away
Suaramu menghalau
All the sanity in me
Kewarasan dalam diriku
* I've tried so hard to tell myself that you're gone*
Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada
But though you're still with me
Namun meski kau masih bersamaku
I've been alone all along
Selama ini aku tlah sendiri