
Pernikahanku dengan Coco sudah berjalan hampir lima bulan. Sebagai wanita normal, tentu saja aku mendambakan seorang anak untuk segera hadir dalam biduk rumah tangga kami. Seorang anak yang menjadi buah cinta kami berdua. Namun lima bulan berjalan, aku belum juga ada tanda-tanda hamil.
Bagi seorang wanita dan mantan perawat, aku tahu benar, bahwa kehamilan adalah sebuah mukjizat terindah yang diberikan Tuhan pada pasangan suami istri yang sudah menikah. Terjadinya kehamilan walaupun bisa direncanakan dan diprogram secara medis, namun aku dan Coco sengaja membiarkan semuanya berjalan secara alamiah. Tanpa ada paksaan untuk segera hamil. Kami menikmati momen-momen kebersamaan kami berdua.
Walau kadang tanpa kusadari, aku juga berharap segera hamil. Karena fase kehamilan termasuk salah satu fase penting seorang wanita. Hamil, melahirkan dan memiliki seorang anak adalah sebuah kebahagiaan tiada tara bagi seorang wanita, tak terkecuali diriku. Karena itu adalah fitrah yang diberikan Yang Maha Kuasa pada seorang makhluk bernama WANITA.
Kadang aku sering merasa kecewa ketika aku sempat telat 1—2 minggu, lalu aku mencoba test pack kehamilan dengan harapan aku hamil. Namun hasilnya selalu saja negative. Dan di minggu berikutnya aku malah datang bulan.
Coco selalu menyemangatiku bahwa tidak masalah aku belum juga hamil. Toh kami juga baru beberapa bulan menikah.
“Berarti itu tandanya kita disuruh rajin buat anak” seloroh suamiku yang memang sengaja menggodaku.
“Emang buat anak gampang?”gerutuku
“Kan tiap malem kita buat. Sekarang berarti harus lebih rajin lagi”goda Coco padaku
Aku yang tau arah pembicaraan mesum hanya bisa tersenyum sambil mencubit pinggangnya pelan.
“Hisshhh”
Coco mencium keningku lalu memeluk tubuhku untuk menenangkanku.
“Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja semua mengalir seperti air. Jika sudah waktunya, aku yakin Allah pasti akan memberikannya pada kita, oke?”ucapnya lembut padaku
Aku mengangguk pelan.
Dan selanjutnya, terjadilah yang dikatakan suamiku tadi. Dia semakin bersemangat karena kata-katanya tadi. Harus “lebih rajin lagi buatnya”.
*
*
*
*
Bulan ketujuh pernikahan.
Lagi-lagi aku telat datang bulan. Karena yang sudah-sudah, baru telat 1-2 minggu aku sudah test kehamilan. Bulan itu aku biarkan saja minggu berganti. Karena aku takut kecewa seperti yang sudah-sudah.
Tetapi anehnya sampai minggu ke tiga aku masih saja belum datang bulan. Aku pun mulai curiga. Jangan-jangan aku hamil. Saat kuutarakan kecurigaanku pada Coco, dia malah dengan enteng bilang,
“Coba ditunggu seminggu lagi. Nanti kalo belum datang bulan juga, kita periksa ke dokter”
Aku pun menurut saja. Walaupun aku tentu saja, harap-harap cemas.
Di minggu keempat, yang dijanjikan Coco, aku diantar juga ke dokter kandungan. Kami memang sengaja langsung ke dokter supaya bisa langsung melihat dengan hasil USG. Karena kalo menggunakan test pack, aku takut kecewa lagi.
Berbekal pengetahuanku selama menjadi perawat, jika sudah 1 bulan atau 4 minggu terlambat datang bulan, dan jika aku beneran sudah hamil, maka hasil USG akan menunjukkan kantong kehamilan di dalam rahimku. Aku perkirakan usia kehamilanku adalah antara 7-8 minggu. Itu jika aku beneran hamil.
Aku dan Coco pergi memeriksakan diriku ke seorang dokter spesialis kandungan di kotaku. Sepanjang perjalanan aku sangat gugup, kuatir bercampur dengan rasa penasaran yang dalam. Karena baru kali ini aku telat datang bulan 1 bulan. Coco yang sedang menyetir terus saja menggenggam tanganku. Mungkin dia ingin menenangkanku.
“Sayang”ucapnya lembut
“Ingat, kita periksa ke dokter hanya untuk memastikan kondisimu saja. Aku harap kamu jangan berharap terlalu tinggi. Karena belum tentu telatmu itu karena hamil. Kau tau itu kan?”
“Iya, aku tahu”
“Jangan nervous ya?”
Aku menggangguk pelan.
Sampai di klinik dokter kandungan, kami segera melakukan pendaftaran. Lalu kami antri menunggu giliran kami. Tak bisa kupungkiri, aku sangat nervous. Coco yang sepertinya melihat kekhawatiran di mataku, terus menggenggam tanganku dan menyemangatiku.
Satu per satu pasien dipanggil untuk diperiksa. Akhirnya tibalah giliran kami konsultasi dengan dokter. Setelah menyampaikan keluhanku, aku diarahkan menuju ranjang untuk diperiksa oleh dokter menggunakan USG.
Saat dokter mulai mengoleskan cairan gel di atas perutku lalu meletakkan transducer di atas perutku untuk mengecek rahimku. Dan saat kantong kehamilan itu terlihat di layar monitor, tak bisa kututupi perasaan bahagiaku. Karena aku beneran hamil. Walaupun janin dalam rahimku belum terlihat, namun kantong kehamilan itu
menunjukkan bahwa aku hamil. Airmata bahagiaku pun tak dapat kutahan lagi.
“Selamat pak, istri Anda hamil”ucap dokter pada Coco
Kulihat Coco masih bingung dengan berita bahagia yang diberikan oleh dokter.
“Ini kantongnya sudah terlihat. Bapak juga lihat kan?”
“Iya dok”
“Kantong kehamilan ini nanti akan jadi wadahnya si dedek bayi”jelas dokter
Coco kemudian mengecup keningku lembut.
Setelah diperiksa, dokter memberiku beberapa vitamin dan suplemen kehamilan. Aku juga diminta datang lagi untuk kontrol sebulan lagi.
Sepulangnya dari dokter, sepanjang perjalanan pulang, Coco terus menggenggam tanganku dan mencium punggung tanganku. Kulihat dia juga sangat bahagia mengetahui aku sedang hamil.
Aku langsung menghubungi Ayah Bunda melalui video call.
“Bunda”
“Apa sayang?”
“Aku hamil Bund”
“Benarkah? Alhamdulillah”
Kulihat Ayah dan Bunda sangat senang mendengar berita kehamilanku. Bunda sampai menitikkan airmata, membuat aku juga ikut terharu.
“Ingat sayang..jangan terlalu capek ya”pesan Bunda
“Iya Bunda”
“Selamat sayang..Bunda bentar lagi jadi eyang putri nih”
Aku bahagia melihat kedua orangtuaku juga bahagia.
“Kalian bentar lagi jadi orangtua..kalian harus bersiap ya..jadi orangtua itu ga gampang. Belajar lebih sabar ya Vi”pesan Ayah
“Iya Ayah” jawabku
“Jaga Vivi ya Co..karena bundanya dulu waktu hamil Vivi juga sampai bedrest. Jangan sampai Vivi kecapekan”pesan Ayah pada suamiku.
Aku juga segera mengabarkan berita kehamilanku pada Mama dan Papa. Kulihat mereka
juga senang mendengar berita itu.
*
*
*
*
Selama aku hamil, Coco menjadi sangat protektif padaku. Aku sama sekali tak diperbolehkan melakukan aktivitas berat. Aku hanya diperbolehkan mengurusi keperluannya saja. Kadang membuat aku kecewa karena aku semakin bosan. Tak diberi kesempatan melakukan hal lain. Akhirnya aku mengisi kegiatanku dengan banyak membaca buku
dan artikel tentang kehamilan.
Setiap hari Coco selalu menelponku untuk memastikan aku minum susu, vitamin dan suplemen kehamilan yang diberikan oleh dokter. Kini aku merasakan apa yang dirasakan Anti saat aku mengajaknya membeli lingerie sebelum pernikahanku. Karena rupanya Coco juga seprotektif itu padaku. Tapi aku juga sadar semua itu adalah tanda cintanya padaku. Akhirnya aku perlahan menerima semua perlakuan Coco padaku.
Sejak kami menikah, setiap tidur Coco selalu memeluk tubuhku. Sejak aku hamil, dia punya kebiasaan mengelus perutku dulu sebelum tidur. Ada ada saja kelakuannya. Aku kan baru hamil 7 minggu. Panjang janin biasanya baru mencapai 12 mm.
Pada usia kehamilan 7 minggu, sistem pencernaannya sudah mulai berkembang dan beberapa jalur pernafasan sudah mulai terbentuk di daerah jantung. Bentuk lengan dan kakinya serta calon jari-jarinya sudah mulai terlihat jelas. Kelopak mata dan hidung juga mulai terbentuk. Secara keseluruhan, janin sudah terlihat seperti bayi. Tapi memang ukuran bayi masih sangat kecil.
Selama hamil, aku sama sekali tak mengalami morning sick. Mual dan muntah selama kehamilan. Aku bersyukur karena aku sama sekali tak mengalami keluhan apapun selama kehamilanku. Aku bisa makan dan minum apapun yang aku mau.
Setelah sebulan dari jadwal terakhir aku periksa ke dokter, maka aku pun pergi memeriksakan kandunganku pada dokter spesialis kandungan. Coco juga mengantarkan aku periksa.
“Kamu kenapa?”tanya Coco padaku
“Ah ga papa”
“Kenapa?”
“Kok perutku masih rata ya?”
“Kan katanya tiap kehamilan beda”
“Iya sih”
“Udah ga usah mikirin yang ga ga..yang penting kalian sehat”
Aku mengangguk pelan.
Begitu sampai di klinik, kami segera mendaftar lalu antri periksa. Selama antri Coco terus menenangkan aku. Begitu tiba waktu periksa kami, seperti pada pemeriksaan yang terakhir kami lakukan, dokter menanyai beberapa hal padaku. Lalu aku diarahkan pada ranjang pasien untuk melihat kondisi janinku.
Saat dokter mulai menggerakkan transducer USG, perasaanku semakin tak karuan. Karena di layar monitor aku hanya melihat kantung kehamilan saja. Janinku yang harusnya berusia 11 minggu sama sekali tak terlihat. Aku langsung lemas. Dokter juga tak berbicara apa-apa.
Selesai di periksa,
“Bapak dan ibu lihat tadi kan di monitor?”
“Iya dok..saya lihat” tanpa sadar airmataku menetes tanpa bisa aku tahan.
Coco yang melihat aku menangis menjadi kuatir.
“Kamu kenapa sayang?”
“Ibu sudah tau artinya?”
“Saya mantan perawat dok”ucapku sambil mengusap airmataku menggunakan tisu yang disodorkan Coco.
Dokter menatap kami berdua.
“Oke..saya jelaskan sedikit ya pak..jadi seperti yang bapak lihat di monitor tadi, hanya ada kantung kehamilan tetapi janin bapak ibu tidak terlihat di sana. Padahal sesuai perkiraan, kehamilan ibu sudah memasuki 11 minggu yang artinya ukuran janin kurang lebih 12 mm. Harusnya di monitor tadi kita sudah melihat janin itu. Tapi nyatanya tidak”
“Jadi maksudnya gimana dok?”
“Berarti kehamilan yang dialami ibu Vivi ini disebut kehamilan kosong atau blighted ovum. Itu suatu kondisi dimana sel telur atau sper*ma yang membuahi itu tidak terlalu bagus sehingga janin tidak bisa berkembang”
“Lalu ini gimana dok selanjutnya?”
“Kantung kehamilan itu harus dibersihkan supaya ibu nya bisa hamil lagi”
“Kapan itu dok?”tanya Coco sambil menggenggam tanganku.
“Senin minggu depan ya..saya beri surat pengantar. Nanti bapak ibu bisa bawa ke Rumah Sakit. Nanti saya yang akan menangani”
“Ibunya yang sabar ya..kejadian seperti ini memang tidak bisa dicegah. Tapi ibu masih muda. Nanti juga bisa hamil lagi. Ga usah stress..ya bu?”pesan dokter padaku
Aku mengangguk pelan.
Aku masih syok. Di saat aku baru saja mengalami kebahagiaan menjadi seorang wanita hamil, namun nyatanya kebahagiaanku hanya semu. Karena janinku yang tak bisa berkembang. Kehamilan kosong atau blighted ovum. Aku sadar betul kejadian seperti itu memang tak bisa dicegah. Karena semuanya adalah atas ijin Yang Maha
Kuasa.
Namun tetap saja rasanya sangat sedih.
Sepanjang jalan pulang, aku lebih banyak diam. Aku masih sangat sedih. Beberapa kali aku mengusap airmataku yang menetes. Membuat Coco kuatir padaku.
“Sayang..jangan sedih ya”
Aku berusaha tersenyum namun itu sangat sulit kulakukan. Membuat Coco kemudian menepikan mobil.
Coco langsung memeluk tubuhku. Membuat pertahananku seketika ambruk. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan suamiku. Aku merasa sangat sedih karena rupanya Tuhan belum menghendaki kami menjadi orangtua. Seketika impianku menimang buah hati kami berdua sirna begitu saja.
“Sudahlah..jangan bersedih..mungkin sekarang belum waktunya kita menjadi orangtua. Kita harus memantaskan diri dulu sebelum Allah memberi kita momongan”
“Ga papa..ini bukan salah siapa-siapa. Kita hanya manusia, sayang..semuanya adalah kuasa Yang Diatas. Kita sudah berusaha. Jika ternyata Allah belum berkehendak, kita harus menerimanya. Jangan sedih lagi ya?”
Aku mengangguk pelan dalam pelukan Coco. Dia yang selalu bisa menenangkan hatiku yang bergejolak. Padahal aku juga tahu, dia pasti juga sangat sedih sepertiku.
Aku lepaskan diriku dari pelukannya. Coco mengusap airmata di pipiku sambil tersenyum.
“Ga papa..nanti kita buat lagi yang banyak”goda Coco padaku
Membuat aku tersenyum mendengar godaan suamiku.
“Kamu tau nya buat doang”gerutuku sambil cemberut membuat Coco mencubit hidungku
Kemudian kami pulang ke rumah. Segera kukabarkan berita itu pada semuanya. Aku tahu orangtua kami sedih namun mereka semua berusaha menguatkan kami berdua.