
Aku dan Anti akhirnya mengikuti tiga cowok yang sudah bersahabat lama itu. Mereka tampaknya memang sudah biasa di rumah Coco. Karena beberapa ART Coco yang berpapasan dengan kami, menyapa kedua sahabat Coco itu.
Kami berlima berjalan menaiki tangga ke lantai dua yang adalah letak kamar Coco. Di lantai dua itu ada sebuah ruang keluarga yang kelihatan lumayan nyaman dengan sebuah TV layar besar di sana.
“Ayo kita ke sana”ajak Coco padaku dan Anti.
Sementara dua sahabatnya langsung masuk kamar Coco untuk ganti baju. Aku Coco dan Anti langsung mengeluarkan laptop dan buku kami untuk mulai mengerjakan tugas presentasi Biologi kami. Kami sepakat membagi tugas, supaya materi yang harus kami kerjakan lebih cepat selesai.
Keluar dari kamar Coco, dua sahabat Coco itu sudah tampak rapi dan tampan.
“Aku baru sadar, kalian janjian pakai baju couple-an?”tanya Daniel sambil menunjukku dan Coco yang duduk di sampingku mengerjakan tugas bersamaku.
“Hah?”aku dan Coco saling menoleh.
Whattt? Aku baru sadar, ternyata Coco juga memakai outfit yang sama denganku. Dia memakai kaos slimfit putih dan celana jeans biru muda sama sepertiku.
Kok bisa sama gini sih? Aku malu di depan teman-teman.
“Coco tuh yang ngikutin aku”kelitku
“Enak aja”sanggah Coco
“Kan dari sekolah aku dah pake ini. Ngapain kamu juga sama?”
“Aku tadi juga asal ambil. Aku ga merhatiin kamu pake baju apa..ngapain juga ngikutin kamu”
“Udah..udah..berantem mulu..kapan ngerjainnya?”Anti mencoba melerai perdebatan unfaedahku dengan Coco.
Akhirnya kami mengerjakan tugas sesuai pembagian tugas. Meskipun dengan perasaan kesal. Padahal jelas-jelas kami ga janjian couple-an.
Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, saat tak sengaja aku melirik ke arah Coco, kulihat dia dengan serius mengerjakan tugas. Kenapa kamu begitu tampan di segala situasi sih? Serius aja ganteng gitu. Apalagi saat
tak sengaja kulihat lekukan otot lengannya yang kekar, jantungku berdesir hebat. Ya ampunn..apa-apaan aku ini?
“Lihat apa?”suara Coco membuyarkan lamunanku
“Ehmm..ga..ga liat apa-apa..aku tuh lagi mikir”kelitku bohong.
Masak iya, aku ngaku lagi nglamunin ketampanan dan keatletisan tubuhnya.
“Coba liat dah sampai mana?”Coco mendekatkan tubuhnya melihat hasil pekerjaanku yang memang belum seberapa.
Aduduhhh..ini kenapa dekat-dekat gini sih? Ini jantung juga kenapa kayak baru konser, cepet banget iramanya ..hadehhh..
“Udah sana..aku belum selesai..gangguin aja”aku segera mendorong tubuh besar Coco supaya menjauh demi kesehatan jantung dan hatiku.
Dedi dan Daniel malah cekikikan.
“Kalian kenapa? Ada yang lucu?”tanyaku
“Enggak”jawab Dedi dan Daniel kompak
“Awas kalo kalian ngetawain aku”ancamku pada dua sahabat Coco yang absurb itu.
ART Coco datang membawakan kami beberapa cemilan dan minuman. Kami mengerjakan tugas selama hampir satu setengah jam.
“Kalian udah selesai belum?”tanya Dedi pada kami bertiga
“Dilanjutin besok aja lagi..boring nih..dari tadi ga ngapa-ngapain?”keluh Daniel yang memang tidak mengerjakan apa-apa karena dia beda kelas dengan kami. Dari tadi dia cuma main gitar yang ada di salah satu sudut ruang keluarga itu.
“Oke..besok aja lagi..capek juga”ucap Coco
Kami berempat berdiri hampir bersamaan dan mulai melakukan peregangan bersama karena memang mengerjakan tugas presentasi dari tadi membuat tubuh terasa kaku.
Akhirnya kami mengemasi buku dan laptop lalu memasukkan dalam tas. Kami menikmati cemilan dan minuman yang tadi disuguhkan ART Coco.
“Udah selesai ngerjain tugasnya nak?”tanya seorang wanita paruh baya pada Coco
“Uti? iya nih udahan dulu..besok mau dilanjut lagi”jawab Dedi
“Ini pasti non Vivi ya?”tanya Uti, ART Coco yang sudah lama bekerja di keluarga Coco dan sudah seperti nenek bagi Coco.
Hah, kok nenek ini bisa tau aku?
“Eh..iya..saya Vivi”jawabku lalu kucium punggung tangannya
“Itu Anti”ucap Coco yang berdiri di samping Uti
“Saya Anti”sapa Anti kemudian mencium punggung tangan beliau
“Ini Uti. Nenek kesayanganku”ucap Coco sambil merangkul pundak wanita paruh baya itu.
“Saya hanya pembantu disini. Cuma saya sudah mengasuh Coco dari bayi”
“Ooo”aku pun mengangguk sambil tersenyum mendengar penjelasan Uti
“Jangan pada pulang dulu ya..Uti udah siapin makanan di bawah..nanti kalo sudah siap, Uti kesini lagi..bentar ya?”
Uti kemudian meninggalkan kami berlima dan turun ke lantai satu.
“Heei Co..kok Uti bisa tau aku?”tanyaku penasaran
“Ehhmmm..itu..ah, iya..karena aku punya foto kita berlima waktu study tour ke Italy”ucap Coco
“Oo..pantesan”
“Kamu mau ga Vi liat kamar Coco?”tanya Daniel
“Ayo masuk sini ..aku tunjukin”ajak Daniel padaku
“Boleh nih Co?”tanyaku pada Coco
“Udah..boleh-boleh”ajak Dedi dan Daniel
Aku dan Anti akhirnya masuk kamar Coco. Ini pertama kalinya aku masuk kamar cowok, selain kak Ilham dan sepupuku cowok lainnya. Kamar bernuansa hitam putih bergaya minimalis sangat mencerminkan pribadi Coco yang
cuek dan simple. Kamarnya besar, lebih besar dari kamarku. Sebuah TV berlayar besar, tapi tidak sebesar di ruang keluarga ada di depan ranjang. Sebuah sofa panjang besar ada di dalam kamar. Lemari bajunya tersimpan dibalik kaca-kaca besar yang menutupinya.
"Kamarmu rapi juga ya? Ga kayak kamarnya kak Ilham, hahahaha"
"Ya beda..kak Ilham kan orangnya ga seperti Coco"bela Anti
"Kamu pernah ke kamar kak Ilham juga An?"tanya Dedi heran
"Tuh..yang ngajakin.. adik sepupu ga berakhlak. Mana dia baru molor"kenang Anti
"Lha kan namanya juga kejutan"sanggahku
"Waktu kak Ilham ulangtahun, aku sengaja ngajak Anti kasih kejutan. Tante aja juga ngijinin kok.. Kamu lupa?"
Di tengah perdebatanku dengan Anti, aku melihat sesuatu di atas meja belajar Coco.
“Itu apa Co?”tanyaku sambil berjalan menuju meja belajarnya
Coco langsung lari dan mengambil sebuah buku sketsa A5 warna hitam yang ada di atas meja belajarnya. Dia benar-benar gesit. Padahal aku hampir saja membukanya.
“Ini..bukan apa-apa” ucap Coco sambil menyembunyikan buku itu dibalik tubuhnya.
“Hahahahaha”Dedi dan Daniel tertawa keras sekali.
Sepertinya mereka tau rahasia apa yang disembunyikan Coco di buku itu.
“Rahasia ya? Maaf ya?”kataku.
“Ayo An..diluar aja”aku segera mengajak Anti keluar.
Entahlah. Perasaanku mendadak kacau melihat reaksi Coco yang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku yakin itu pasti ada hubungannya dengan cewek yang disukai Coco atau mungkin itu ada hubungannya dengan mantan-mantannya yang dulu. Vanya mungkin. Entahlah. Api cemburu dalam hatiku rasanya berkobar-kobar melihat dia mati-matian menyembunyikan sketsa itu dariku.