Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Lost Everything



Akhirnya kami bertiga jalan-jalan naik mobil. Kami berkeliling sekitar pusat kota. Mulai dari Keraton Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Hadiningrat, Pasar Klewer yaitu pasar tekstil terbesar di Indonesia. Kami juga berkeliling melewati beberapa tempat seperti stadion Sriwedari, stadion Manahan yang berjuluk Mini Gelora Bung Karno (GBK).


Lelah berkeliling, kami memutuskan jalan-jalan di Solo Square. Salah satu mall di batas kota Solo. Tempat yang nyaman untuk sekedar cuci mata melihat aneka barang yang dijual di sana. Kami sempat memasuki beberapa gerai yang menjual baju. Dila suka sekali beberapa pakaian yang dipajang di gerai itu. Pakaian ala-ala korea. Aneka sweater dan kaos serta mini dress yang sangat lucu-lucu. Korean style.


Sebenarnya Dila ingin mencoba salah satu mini dress soft pink yang dijual di sana. Tapi karena terlalu pendek dan model atasannya tank top, Aldi dengan mata melototnya menatap tajam ke arah Dila seolah berkata pada Dila, “BIG NO”. Dila hanya bisa cemberut dan mengembalikan dress itu kembali ke tempatnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat interaksi kedua kakak beradik itu.


Aku sempat tertarik pada setelan pakaian yang dipajang. Sebuah blouse putih lengan pendek dengan midi rok asimetris yang sangat indah. Tetapi begitu melihat harganya, aku langsung berjalan menjauh. Harganya mahal sekali. Untukku itu adalah harga yang mahal.


Setelah berkeliling di gerai itu, akhirnya Dila memilih membeli beberapa kaos dan sweater serta sebuah dress bunga-bunga yang sangat cantik. Keluar dari gerai itu, Aldi meninggalkan aku dan Dila, karena dia harus ke toilet. Akhirnya aku dan Dila melanjutkan perburuan kami ke area food court, karena kami memang sudah sangat lapar.


Sekembalinya dari toilet, aku heran dengan tas yang dibawa Aldi. Tas pakaian yang sama dengan tas pakaian Dila tadi. Tapi aku memang tak bertanya apa-apa. Mungkin Aldi memang pergi belanja untuk dirinya.


Aku kaget ketika tiba-tiba Aldi malah menyodorkan tas itu padaku. Aku dan Dila berpandangan.


“Ini apaan Al?”tanyaku.


“Kakak buka saja”ucap Aldi enteng sambil duduk di kursi lalu menyeruput minuman yang dipesankan Dila.


Saat kubuka tas itu, isinya blouse dan midi rok yang kulihat tadi. Aku benar-benar kaget.


“Ini maksudnya apa Al? Aku ga ngerti” kataku karena aku memang tak mengerti maksud Aldi sebenarnya.


“Itu buat kakak. Karena sudah menemani kami jalan-jalan”


Aku segera mengembalikan tas itu pada Aldi. Aku sama sekali tak menyangka dia akan memberiku pakaian itu. Padahal aku benar-benar ikhlas ingin menemani Dila jalan-jalan.


“Maaf..aku tak bisa menerimanya Al”


“Tapi kenapa kak?”


“Aku tulus ingin menemani Dila jalan-jalan. Aku tak mengharapkan balasan apa-apa. Ini terlalu berlebihan”


“Kak Vivi terima saja. Anggap saja itu hadiah dari kami karena kak Vivi udah nemenin aku jalan-jalan. Ga papa kak, terima saja”ucap Dila membela kakak lelakinya


“Tapi Dil..”


“Kalo kak Vivi ga mau menerimanya..aku marah sama kakak”ucap Dila lagi sambil cemberut dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Akhirnya dengan terpaksa aku terima saja hadiah dari Aldi tadi. Kedua kakak beradik itu berhasil mengerjai aku. Kerjasama di antara mereka berdua benar-benar bagus. Sampai-sampai membuatku tak berkutik.


“Terimakasih ya Al”


“Sama-sama kak”Aldi tersenyum padaku dengan sangat manis.


Setelah menghabiskan makanan yang sudah kami pesan, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebelumnya Aldi mengantar Dila sampai di lobby Solo Paragon Residence, kemudian baru mengantarku pulang ke kos.


*


*


*


*


Sepanjang perjalanan menuju ke kosku, kami berbincang-bincang banyak hal.


“Dila sekarang udah remaja ya..Cantik bangeet.. Kamu mesti jagain adikmu dengan bener. Pasti banyak yang mengincarnya”pesanku pada Aldi.


“Kakak sekarang juga tambah cantik”puji Aldi membuatku tersipu malu.


“Pasti banyak yang mengincar kakak..ya kan?”


“Ga juga”kilahku


“Tu kan bohong lagi”


“Apaan sih Al?”aku pukul lengan Aldi karena kata-katanya semakin menyudutkan aku.


Dia hanya mengelus lengannya sambil tersenyum.


“Berubah gimana? Emang aku wonder women”godaku


Aldi tertawa mendengar ucapanku.


“Dari tadi aku perhatikan, kak Vivi ga seekspresif dulu. Kakak lebih pendiam sekarang. Lebih tertutup”


Ucapan Aldi seperti tamparan keras di wajahku. Karena memang kenyataannya seperti itu. Mungkin karena dia tahu masa laluku seperti apa. Aku yang dulu seperti apa. Dia lebih mengenalku. Makanya dia bisa bicara seperti itu.


“Bukankah semua orang pada akhirnya akan berubah seiring bertambahnya waktu? Setiap masalah yang kita hadapi lambat laun akan mendewasakan kita, iya kan? Mungkin itu juga yang terjadi padaku”


“Apa luka yang kakak alami sangat dalam sampai merubah kakak sedemikian rupa? Aku perhatikan dari tadi kakak jarang sekali tertawa. Aku seperti melihat oranglain. Kakak sudah banyak berubah”


“Menurutmu begitu?”


“Apa kakak pernah dengar kata-kata ini, “if you lost something, doesn’t mean you lost everything””


Mendengar ucapan Aldi membuat hatiku teriris. Batinku meronta. Karena kenyataannya, seperti itulah yang aku rasakan. Aku merasa telah kehilangan segalanya. Bahkan untuk merasa bahagia, aku merasa tak pantas. Karena aku sudah melepaskan kebahagiaanku. Kehilangan cinta dalam hidupku membuatku merasa tak pantas untuk mencintai orang lain lagi. Itu sebabnya sampai sekarang aku masih betah menjomblo. Walaupun banyak yang mendekatiku dan “menembak”ku, tapi aku tak merasa pantas dicintai oleh mereka. Dan aku merasa cintaku pada mereka nantinya tak kan sebanding dengan cinta yang mereka berikan.


“But you know what, i feel like  I’ve lost everything in my life”ucapku dengan nada bergetar karena airmataku yang sudah mendesak keluar dari tempatnya. Dan akhirnya aku pun menangis. Bulir-bulir airmataku menetes tanpa bisa aku tahan.


Melihat aku yang menangis, membuat Aldi segera menepikan mobilnya.


“Kak Vivi kenapa?”tanyanya dengan nada kuatir


“Maaf Al..aku terlalu sensitive”ucapku sambil terus mengusap airmata yang membasahi pipiku.


Aldi mengambilkan box tisu yang ada di mobilnya untukku.


“Maaf ya Al”beberapa kali aku berusaha menenangkan diriku dengan menghela nafas panjang.


Bisa kulihat wajah Aldi yang kasihan padaku.


“Aku menyedihkan, iya kan?” ucapku sambil terus mengibaskan tanganku ke wajahku sambil menghela nafas panjang dengan senyum yang terus aku paksakan.


Aldi menepuk bahuku pelan.


“Kakak menangis saja..jangan ditahan..hati kita hanya satu. Jika terlalu banyak beban, hati kita takkan kuat. Jadi keluarkan saja semuanya. Jangan ada yang kakak simpan”


Seketika itu juga pertahananku ambruk. Entah kenapa mendengar ucapan Aldi membuat airmataku semakin deras mengalir. Seperti pintu bendungan yang lama terkunci lalu dibiarkan terbuka.


Aku menangis tersedu-sedu di dalam mobil Aldi. Sementara Aldi terus mengelus pundakku dengan pelan. Berusaha menenangkanku.


Setelah agak tenang, Aldi mengantarkanku ke kosan. Sampai di depan kos, aku turun dari mobilnya. Begitu juga dengan Aldi.


“Terimakasih ya Al untuk hari ini”ucapku


“Iya kak, sama-sama. Kalo kak Vivi butuh teman, aku siap jadi pendengar setia”


Aku mengangguk pelan.


“Jangan nangis sendirian lagi ya kak”


Aku mengangguk lagi.


“Aku akan sering-sering mampir..rupanya kos kakak deket kos Benny sama Agus”


“Oh ya?”


Aldi mengangguk sambil menunjuk ke satu arah.


“Kos mereka di depan sana. Oh ya..aku ga punya nomor hp kakak yang baru. Aku minta ya”


Awalnya aku ragu untuk memberikan nomor baruku pada Aldi. Tapi akhirnya aku berikan nomor hp ku yang baru setelah Aldi berjanji tidak akan menyebarkan nomorku tanpa seijinku.


Setelah itu, Aldi pulang ke apartemennya.