Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Berdua di UKS



Dibalik sikap Coco yang cool sebenarnya dia sangat perhatian. Perhatiannya padaku pernah ditunjukkan ketika kami sedang jam pelajaran olahraga. Seperti biasa lapangan sepakbola, lapangan voli dan lapangan basket digunakan 2 kelas sekaligus.


Seperti biasa, sebelum olahraga, kami pemanasan terlebih dahulu supaya tidak cedera selama melakukan olahraga. Abi, sie olahraga yang memimpin pemanasan, menjadi instruktur senam kami semua sekelas. Abi menghitung setiap gerakan dengan 8 hitungan.


"1..2..3..4..5..6..7..8"


Selesai pemanasan, Pak Willy mengajarkan kami materi bola voli. Kami diajarkan melakukan teknik-teknik dasar bola voli, meliputi service, passing (umpan), block, dan smash (spike). Kami diberi kesempatan untuk belajar melakukan service. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok putra dan kelompok putri.


Melakukan teknik dasar bola voli, tak bisa aku katakan mudah. Karena kenyataannya, aku tak selalu berhasil melakukannya. Ketika melakukan passing kita bertumpu pada lengan kita untuk menerima bola dan mengumpan pada lawan atau pemain lain. Apalagi baju olahragaku berlengan pendek, maka setelah beberapa kali melakukan  passing, lenganku memerah karena terkena bola.


Tapi aku akui, permainan bola voli saat menarik. Itu sebabnya setelah selesai materi, dan diberi waktu bebas, aku dan teman-teman cewek sekelasku memilih bermain bola voli. Sementara anak putra asyik bermain bola dengan kelas XI.IPA.10. Lapangan voli memang bersebelahan dengan lapangan sepakbola.


Ketika sedang asyik bermain bola voli, tiba-tiba dari arah depan ada bola yang melayang ke arahku.


“Dukkk” bola mengenai dahiku.


“Aduhhh” spontan aku mengaduh


Karena sangat keras, bola itu mengenai dahiku dan membuatku sedikit terpental ke belakang.


Teman-temanku yang cewek, segera menghampiri aku. Beberapa memarahi anak-anak putra yang sembarangan menendang bola.


“Hei..kalo main bola lihat-lihat dong”kata Tesa teman sekelas ku marah-marah


“Iya..lihat tu kena orang”tambah Tiwi tak kalah garang


Anak-anak putra yang bermain bola kulihat hanya bergerombol saja di lapangan.


“Ya maaf” kata salah seorang dari mereka


“Kalo berani, sini kamu tanggungjawab”seru Tesa menggebu-gebu


Kulihat Coco yang sedang istirahat di bawah pohon beringin berlari menghampiriku. Diikuti beberapa anak putra yang lain.


“Ada apa tadi Tes?” tanya Coco pada Tessa


“Itu lho, cowok kelas XI.IPA. 10 nendang bola keras banget, sampai kena Vivi” kata Tesa menjelaskan


Kulihat Coco sedikit berjongkok didepanku.


“Kamu tak apa-apa Vi?”tanya Coco


Aku tak menjawab karena kepalaku memang sakit sekali. Sedikit perih dan rasanya agak pusing.


“Dahinya sampai lecet gitu”kata Nadia teman sekelasku


“Kamu ke UKS ya?”pinta Coco sambil memegang pundakku


Aku mengangguk.


“Kalian antar Vivi ke UKS” kata Coco pada Ana dan Tika


Ana dan Tika kemudian memapahku ke UKS. Karena memang tendangan bola tadi sangat keras sampai dahiku lecet dan kepalaku sedikit pusing. Aku pun memilih berpegangan pada Tika.


Sementara Tesa, wakil ketua kelasku masih beradu argumen dengan cowok XI.IPA.10 yang menendang bola tadi. Jordan, ketua kelasku yang ikut main sepakbola mencoba melerai.


Sesampainya di UKS, perawat sekolah mengobati lukaku. Aku duduk di ranjang UKS sementara perawat membersihkan lukaku dan mengoleskan obat merah. Coco menungguiku di dalam UKS bersama Tika dan Ana. Dia berdiri di samping ranjang. Disampingku.


"Kok bisa lecet gini?"tanya perawat sekolah


"Kena bola bu"jawab Tika


"Woaalah..sakit banget ya mbak. Pusing ga?"tanya perawat sekolah padaku


"Sedikit sih bu"jawabku


"Ditahan bentar ya..saya bersihkan dulu lukanya baru saya kasih betadine biar ga infeksi"


"Iya bu"jawabku


"Dia kuat kok bu..masak anggota PMR ga kuat"tutur Ana


Aku meringis ketika perawat mengoleskan betadine. Rasanya perih. Setelah lukaku diobati, Aku berniat kembali ke kelas.


"Jangan kena air dulu ya mbak..biar kering dulu" pesan perawat sekolah padaku


"Baik bu. Terimakasih"


"Iya..sama-sama"jawab perawat sekolah padaku


Karena merasa kuat, aku langsung saja berdiri, tetapi kepalaku tiba-tiba rasanya pusing sekali. Aku tak kuat berdiri. Kepalaku rasanya berputar-putar. Badanku lemas. Pandangan mataku mendadak gelap. Aku tak ingat apa-apa. Sayup-sayup aku sempat mendengar Ana, Tika dan Coco memanggil namaku. Begitu sadar aku sudah terbaring di ranjang UKS.


“Kamu sudah sadar?” tanya Coco


Aku mengangguk. Badanku rasanya masih lemas.


“Syukurlah”katanya


“Aku..” belum selesai aku bicara, dia sudah menyela.


“Kamu pingsan”kata Coco


Wajahnya waktu itu kelihatan kuatir.


“Tika sama Ana dimana?”tanyaku ketika melihat di ruang UKS hanya ada aku dan dia


“Perawat sekolah dimana?” tanyaku lagi


“Beliau keluar sebentar, ada urusan” jawabnya dengan ketus.


“Kalo belum kuat berdiri, ga usah dipaksain. Malah pingsan kan?”katanya dengan nada sedikit marah


“Bikin orang kuatir aja”katanya sambil memalingkan muka


Baru kali ini aku lihat dia sekuatir itu. Aku jadi merasa bersalah. Aku pegang pergelangan tangannya. Dia menoleh ke arahku.


“Maaf ya”kataku pelan


Dia kemudian memeriksa luka di dahiku. Dia menyibak rambutku yang menutupi luka lecetku.


“Masih sakit?”tanyanya


Aku menggeleng pelan


“Masih pusing?” tanyanya lagi


“Udah ga kok”kataku


“Aku lama pingsannya?”tanyaku


“Mungkin 15 menit” katanya


“Kamu ga kembali ke kelas?”tanyaku


“Aku udah pesan sama Dito kok, tenang aja”katanya mencoba menenangkanku


Kami pun akhirnya ngobrol sambil menunggu Tika dan Ana. Kemudian pak Willy, guru olahragaku masuk ke UKS. Kami sempat kaget. Karena memang hanya kami berdua di UKS.


“Gimana Vi lukanya?”tanya pak Willy


“Ga papa pak”


“Tadi Bapak dengar kamu kena bola terus pingsan” kata pak Willy


“Saya udah mendingan kok pak” kataku sambil tersenyum


“Syukurlah, kalo tidak apa-apa..kamu istirahat aja dulu disini. Kalo sudah kuat, baru kembali ke kelas ya?”pesan Pak Willy padaku


“Iya pak”


“Cuma kalian berdua nih di sini?”tanya Pak Willy setelah melihat hanya ada kami berdua di UKS.


“Iya pak”jawab Coco


“Jangan berduaan lama-lama ya..nanti yang ketiganya setan..ehh, Bapak dong setannya?”gurau Pak Willy membuat aku dan Coco tertawa geli


“Saya disini cuma nungguin bentar kok Pak, nungguin Tika sama Ana ambil surat ijin ke guru piket. Nanti kalo mereka sudah balik, saya ke kelas” Kata Coco menjelaskan.


“Ohhh gitu..ya sudah, Bapak pamit dulu ya..cepet sembuh ya Vi” kata Pak Willy pamit.


“Iya pak”


Kemudian pak Willy keluar dari UKS. Tinggalah kini aku dan dia berdua lagi di UKS.


“Kamu balik aja ke kelas..Aku udah ga papa kok”


“Kok kamu malah ngusir-ngusir sih, terserah Aku dong mau dimana?”kata Coco menggodaku.


“Kamu ga mau ganti baju? Tuh baju olahragamu basah”


“Keringatku wangi kok”katanya sambil mencium aroma ketiaknya kanan dan kiri


“Coba kamu cium deh kalo ga percaya?” katanya lalu dia mencoba mendekat mau menunjukkan keringatnya yang katanya wangi itu.


Tentu saja aku jijik. Masak disuruh mencium bau keringatnya. Dasar Coco usil!


Aku dorong badannya supaya menjauh.


“Coco jorok ahhhh” kataku sambil memalingkan muka dengan kedua tanganku masih mendorong badannya.


Dia tertawa melihat reaksiku. Aku pun tertawa. Kami tertawa bersama. Dasar Coco jahil. Hehehehee..


“Ga papa..Aku nungguin Tika sama Ana aja..paling bentar lagi mereka balik” jawab Coco


“Nanti pulang sekolah, Aku anterin pulang ya?”kata Coco mengajakku pulang bersama.


Aku sempat terkejut mendengar ajakan Coco. Karena biasanya dia pulang sendiri. Aku tak langsung menyanggupi ajakannya.


“Udah ga usah mikir lama-lama”katanya


“Ga ngrepotin nih?”


“Ga lah”katanya lagi


“Oke deh” Aku setuju pulang bareng dia.


Itulah kali pertama dia mengajakku pulang sekolah bersama. Sejak saat itu, kami jadi sering pulang bersama. Hanya ketika dia harus les sepulang sekolah saja kami tidak pulang bersama.