Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Dalam Mimpi



Pertemuan pertamaku dengan orangtua Coco terjadi tepat 2 minggu sebelum pengumuman UN. Saat itu, kami sedang menonton film di rumahnya. Seperti biasa, kami duduk di sofa. Dia lebih memilih tidur di pangkuanku. Sementara aku memegang popcorn atau snack. Aku suapin dia. Tiba-tiba mamanya muncul entah dari mana. Kami kaget. Walaupun tak melakukan hal yang aneh-aneh, tapi kami tetap kaget. Mungkin karena terlalu asyik menonton film, sehingga kami tak mendengar mamanya datang.


“Siang tante…” sapaku


Segera kujabat tangan mamanya dan kusapa ia.


Mamanya mengulurkan tangan dan menjawab salamku sedikit hambar.


“Kamu..??”


“Saya Vivi tante “jawabku


“Dia pacarku” ucap Coco terus terang


Aku sempat melirik padanya. Bisa-bisanya dia berterus terang seperti itu. Aku kan belum kenal mamanya. Bagaimana kalau beliau tidak suka padaku?


Dia malah menghampiriku dan menggenggam tanganku seakan mengatakan bahwa tak apa-apa.


Tatapan mata mamanya sangatlah tajam. Terlebih saat melihat dia menggenggam tanganku. Wajahnya tampak tak suka.


“Ooo…” jawabnya singkat


Kemudian ia berkata akan pergi ke Surabaya. Ia pulang untuk mandi, beres-beres kemudian berangkat. Coco hanya mengangguk. Dari yang kulihat hubungan Ibu dan anak ini tidak terlalu dekat. Mamanya kemudian pergi ke kamarnya di lantai dua, setelah mempersilahkan aku menonton film lagi.


Kesan pertamaku pada pertemuan kami, Ia adalah orang yang tegas. Terlihat dari caranya bicara. Dan bagaimana Ia memperlakukan orang-orang dirumahnya. Sayangnya Ia tidak terlalu ramah. Ia jarang tersenyum bahkan pada putranya sendiri.


Suasana canggung antara Ibu dan anak ini melibatkan aku di dalamnya, karena Coco secara terus terang mengatakan aku adalah pacarnya. Saat itu aku sudah feeling, hubunganku dengan dia tidak akan semulus sebelumnya.


Dan benar saja. Sejak hari itu, kulihat Coco mulai murung, seperti ada masalah yang disembunyikannya. Namun setiap kali kutanyakan, dia selalu mengelak. Dan berkata tak ada masalah.


Waktu itu, di café kakak Dedi, aku beranikan bertanya padanya.


“Kamu kenapa Co? Ada masalah?”tanyaku melihat wajahnya yang murung


Dia malah tersenyum lalu menggenggam tanganku.


“Ga kok..ga ada masalah. Aku ke toilet bentar ya?”


Aku mengangguk. Aku sempat tanyakan pada Dedi dan Daniel, sekiranya mereka tahu masalah yang menimpa Coco. Tapi mereka berdua juga tak tahu apa-apa.


“Coco kenapa? Kalian tau ga?”


“Ga tau..akhir-akhir ini Coco emang kayak gitu. Kayak ada masalah”jawab Daniel


“Apa mungkin karena masalah itu?”tebak Dedi


“Masalah apa?”aku penasaran


“Apa mungkin mamanya mengungkit tentang pindah ke Cina?”


“Bisa jadi” Daniel membenarkan


“Pindah ke China?”tanyaku tak mengerti arah pembicaraan mereka berdua.


“Iya..seingatku dulu waktu kalian berantem, dia pernah bilang mamanya pingin ngajak Coco pindah. Tapi mungkin juga bukan masalah itu”


Sebenarnya Aku tak paham maksud mereka. Tapi itu bisa jadi salah satu sebabnya.


****


Keadaan semakin memburuk. Dia semakin sering berbohong padaku. Seperti menyembunyikan sesuatu.


Sampai akhirnya, suatu hari, dia tidak masuk sekolah. Saat kuhubungi di telpon, suaranya terdengar sangat lemah, padahal malam sebelumnya kami masih ngobrol biasa di telpon dan suaranya biasa saja. Dia hanya mengeluh lapar. Itu saja.


Akhirnya sepulang sekolah ku beranikan diri menengoknya dirumah.


“ting tung..”bel rumah kupencet


Sesaat kemudian pak Satpam membukakan gerbang. Akupun langsung dipersilahkan masuk. Aku berjalan menyusuri jalan pafing menuju rumah. Pintu rumah terbuka. Uti sudah membukakan pintu. Segera kujabat tangan rentanya.


“Coco sakit ti?”tanyaku langsung


“Syukurlah nona datang..”


Ia menarikku masuk rumah. Wajahnya terlihat sangat senang. Membuatku semakin penasaran.


“Memangnya ada apa ti?”Aku penasaran


“Semalam tuan bertengkar hebat dengan nyonya. Lalu tuan mogok makan dari semalam. Sampai sekarang tuan tidak mau keluar kamar. Sepertinya tuan demam, makanya saya buatkan bubur. Tapi bubur itu masih utuh tak disentuh dari tadi pagi” jelasnya padaku panjang lebar sambil mengantarku ke dapur.


Ia kemudian menuangkan bubur hangat ke mangkok. Lalu meletakknya ke atas nampan. Kubantu ia membawa nampan itu. Aku dan Uti berjalan menuju kamar Coco di lantai dua. Pelan-pelan kutapaki tangga menuju lantai dua. Karena tanganku memegang nampan berisi bubur itu.


Sesampainya di kamar Coco, pintu kamarnya tertutup rapat. Sebuah nampan berisi semangkuk bubur masih tergeletak di depan pintu. Itu pasti mangkok bubur yang tadi disampaikan Uti.


“Coco, buka pintunya nak.. ini nona Vivi datang menjenguk..buka pintunya nak”pinta Uti sambil mengetuk pintu kamar.


Tak terdengar suara dari dalam kamar. Dia tak bergeming. Ganti aku yang memanggilnya.


“Coco, buka pintunya ya…ini Aku, Vivi”


Pintu kamarpun terbuka. Dia terlihat sangat kusut. Dia menarik tanganku masuk ke dalam kamar. Aku hampir saja jatuh, namun kukuatkan diri agar tak jatuh, karena aku masih membawa nampan berisi bubur itu.


“Uti, Aku ingin ngobrol berdua dengan Vivi, boleh ya? Dia meminta ijin pada Uti disambut anggukan kepala Uti. Uti pun pergi meninggalkan kami berdua.


Pintu kamar ditutup. Coco mengambil nampan yang kupegang, dan menaruhnya di meja nakas di dekat ranjang tempat tidurnya.


Ini adalah pertama kalinya aku masuk kamarnya, hanya berdua saja. Sebelumnya aku sudah pernah masuk kamar ini, tetapi di sana ada Anti, Dedi dan Daniel. Jadi suasana tak secanggung ini. Jujur saja aku gugup. Berdua saja dengan Coco.


Dia mendekatiku. Lalu memeluk tubuhku. Tubuh besarnya seakan ambruk menimpaku. Badannya panas. Dia demam. Kulepaskan pelukannya, kupegang pundaknya. Kuletakkan tanganku ke dahinya untuk memastikan.


Benar..dia demam. Segera kududukkan dia di ranjangnya. Kurapikan beberapa bantal supaya dia bisa bersandar dan duduk dengan lebih nyaman.


Kubantu dia duduk. Kuletakkan selimut di kakinya. Kucari-cari remote AC untuk mengatur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin. Setelah ketemu remote AC, kuatur pada suhu 29 derajat. Aku pun duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat sangat lesu. Membuatku semakin kuatir.


“Kamu kenapa?”kupegang tangannya


Dia berusaha tersenyum. Tapi dia tak menjawab sepatah katapun.


Dia menggeleng.


“Aku suapin ya?” bujukku.


Dia mengangguk.


Akhirnya aku suapi dia makan bubur. Sesuap demi sesuap. Dia memakan bubur itu dengan perlahan. Sepertinya dia memang kehabisan tenaga setelah lebih dari 20 jam tidak makan dari siang sampai siang itu. Sesekali aku tersenyum padanya. Mengusap wajahnya yang lesu. Dia juga tersenyum.


Semangkuk bubur telah dihabiskannya. Aku lega. Dia juga sudah terlihat lebih bertenaga. Aku pun duduk di sampingnya. Dia menggenggam kedua tanganku. Kuberanikan diri bertanya.


“Kamu … bertengkar dengan mamamu?”tanyaku pelan.


Dia tak menjawab, hanya tersenyum.


“Aku lelah”katanya lirih


“Aku mau tidur sebentar”


Dia lalu menarik tanganku, mengarahkan aku supaya duduk lebih mendekat padanya. Aku bersandar pada sandaran ranjangnya. Dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Posisi yang sangat disukainya. Kubiarkan dia tidur seperti itu. Sambil kuusap-usap kepalanya.


“ Baiklah..tidurlah yang nyenyak”


Sambil terus kuusap rambutnya yang lurus dan halus. Bisa kulihat dia sangat lelah, karena belum sampai lima menit matanya terpejam, dia sudah tertidur. Karena kasurnya yang sangat empuk dan nyaman, membuatku pun mengantuk. Aku pun menyandarkan kepalaku di tumpukan bantal. Kami sama-sama tertidur.


Dalam keadaan setengah sadar, aku bermimpi. Dalam mimpi itu, aku lihat dia menatap wajahku. Wajahnya tampak samar. Lalu wajahnya di depan wajahku.


Semakin mendekat..semakin mendekat. Dia mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Lalu kulihat dia menutup matanya. Walaupun itu hanya mimpi, tetap saja jantungku berdebar tak karuan.


Lalu kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut di atas bibirku. Dia menciumku. Mencium bibirku.. hihihihi..Aku malu tapi aku suka mimpi itu.


Mimpi itu terasa sangat nyata, hingga membuatku terbangun dari tidurku. Ketika kubuka mataku, ternyata dia sudah terlebih dahulu bangun. Kami sama-sama tersenyum. Kuperiksa demamnya dengan memegang dahinya lagi. Kali ini suhu tubuhnya sudah mendingan. Tak sepanas sebelum tidur.


Dia bangun dari pangkuanku dan duduk di sampingku. Sesekali dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami pun berbincang hal-hal yang ringan. Bercanda dan tertawa bersama. Dia sudah lebih baik sekarang. Rupanya lapar membuat tubuhnya lemah akhirnya demam.


Kupinjam hp nya yang tergeletak di nakas. Kami foto selfi berbagai pose. Mulai pose mesra (ehmmm) sampai pose muka jelek. Setiap selesai mengambil foto, kami periksa bersama hasilnya. Kami tertawa bersama.


Lelah mengambil foto, kami pun duduk-duduk di sofa. Aku duduk sementara dia merebahkan kepalanya dipangkuanku. Kami pun ngobrol berdua. Sesekali kuelus-elus kepalanya. Sementara tanganku yang lain digenggamnya. Akhirnya kuberanikan diri bertanya.


“Kamu bertengkar dengan mamamu?” tanyaku pelan.


“Iya” dia menatapku


“Mama ingin kami pindah ke Cina”terangnya.


Aku kaget tapi kucoba tetap tenang.


“Aku menolak. Aku tak mau ikut. Tapi mama terus memaksa”


“Rencana kapan pindahnya?”tanyaku


“Sehari setelah kelulusan”


Itukan seminggu lagi. Secepat itukah?


“Aku tak mau. Aku ingin tetap kuliah di sini saja. Di Indonesia. Aku ingin tetap di sampingmu”jawabnya


sambil menatapku dalam.


Dia sangat serius dengan jawabannya. Matanya mengatakan itu. Dan Aku percaya itu. Dia menggenggam erat tanganku. Kuusap kepalanya. Kubelai rambutnya. Aku tersenyum. Aku sangat tersanjung dan terharu mendengar jawabannya itu.


“Aku yakin mamamu pasti sudah memikirkan semuanya. Kenapa tak kita coba penuhi permintaan mamamu itu?” kataku.


Dia langsung bangun dan duduk disebelahku. Sepertinya dia tak puas dengan perkataanku barusan. Dia menatapku tajam.


“Pindah? Kamu tahu kan artinya pindah?”tanyanya


“Aku tidak cuma sekedar kuliah di sana. Tapi kami menetap di sana. Kamu tahu itu?” jawabnya berapi-api.


Kulingkarkan tanganku ditubuhnya. Kupeluk dia. Kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Menenangkannya. Kudekap dia semakin erat. Bisa kudengar degup jantungnya yang sangat cepat. Dia menahan amarahnya.


Perlahan-lahan degup jantungnya melambat. Dia mulai tenang. Kemudian mendekapku juga.


“Jangan marah”kataku


“Aku pun ingin kita selalu bersama seperti ini. Aku juga ingin kamu kuliah disini saja. Tapi..mari kita coba pikirkan bagaimana dengan mamamu? Keluargamu? Aku tak ingin kamu bertengkar dengan mamamu. Aku yakin semua pasti ada jalan keluarnya. Asalkan kita mau bicara dari hati ke hati”


“Kamu tak tahu bagaimana mamaku”jawabnya sambil mendekapku erat.


Memang. Kenyataanya Aku tak mengenal mamanya. Beberapa kali bertemu denganku, Ia tak banyak bicara. Pandangannya pun padaku tak pernah ramah. Hanya dari Dedi dan Daniel saja aku tahu, mamanya itu wanita yang tegas, keras kepala dan sangat disilpin. Cenderung otoriter. Mungkin itu sebabnya Coco menuruni sifat itu. Dan membuat dia menjadi pribadi yang sangat mandiri, disiplin dan berpendirian kuat. Cenderung keras kepala. Mirip mamanya. Papanya? Aku tak pernah bertemu. Beliau sangat sibuk. Coco juga sangat jarang bicara tentang keluarganya.


Kulepaskan dekapanku dan kutatap matanya.


“ Maafkan aku ya jika sudah membuatmu marah”


Dia menatapku kemudian mendekatkan wajahnya padaku. Perlahan-lahan mendekat. Aku bingung. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia mendekatkan wajahnya seperti itu? Membuatku salah tingkah.


Kupejamkan saja mataku. Dia mengecup keningku lembut. Kubuka lagi mataku. Dia tersenyum. Lalu mengernyitkan dahinya.


“Kamu kenapa tadi menutup mata? tanyanya membuatku tersipu malu.


Pipiku memerah. Aku malu.


“Pipimu juga merah. Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya penuh selidik. Membuatku semakin salah


tingkah.


“IIIhhhh…apaan sih?? Akuu tak memikirkan apa-apa. Memangnya Aku kenapa?” Jawabku mencoba mengelak.


Kami tertawa. Seolah dia bisa membaca pikiranku. Aku sungguh malu. Ini pasti gara-gara mimpi tadi, membuatku berpikir yang tidak-tidak. Aku benar-benar malu.


Hari sudah sore. Diapun memutuskan mengantarku pulang. Tapi dia mandi dulu. Aku pun menunggunya. Sambil kurapikan tempat tidurnya yang berantakan.


Kami bergandengan tangan menuju garasi. Kulirik lelaki di sampingku ini. Sangat tampan. Aku pun tersenyum padanya. Dia membalasnya.


Setelah berpamitan pada Uti, aku pun pulang. Sepanjang perjalanan kami terus berpegangan tangan. Seolah dia tak ingin melepaskan tanganku. Aku sangat bahagia waktu itu. Aku tak tahu bahwa sebentar lagi kehidupanku akan berubah.