Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Awas Jatuh Cinta



Keesokan harinya, kami bertemu ketika aku baru datang. Dia sedang merapikan tali sepatunya. Sepertinya dia mau olahraga pagi. Masih dengan wajahnya yang serius dan cool dia menanyaiku,


“Baru datang?”tanyanya


“Iya”jawabku sambil mengangguk


“Chloe masih tidur, kamu bisa sarapan dulu”katanya lalu dia pergi meninggalkanku.


Sejak percakapan kami waktu itu, Coco jadi semakin dingin padaku. Kami juga tak pernah ngobrol. Selama di rumah itu, kami jarang berinteraksi satu sama lain. Hanya sekali dua kali dia mengajakku bicara. Selebihnya aku menghabiskan waktuku bersama Chloe, keponakannya.


Siangnya saat aku mengajak Chloe jalan-jalan keliling rumah, kulihat dia sedang membaca buku di salah satu sudut ruang tamu. Wajahnya yang serius membaca buku tebal itu, dengan sedikit sorot matahari dari arah jendela, membuat aura ketampanan Coco benar-benar terpancar keluar.


Dari ART rumah, aku tahu bahwa memang pemilik rumah adalah kakaknya. Kakak pertamanya.


"Mbak Ambar udah lama kerja di sini?" tanyaku pada ART rumah


"Ehmm.. dah berapa tahun ya? Kayaknya sejak Fabio umur dua bulan deh" jawab mbak Ambar


"Berarti dah hampir enam tahun ya mbak?"


Mbak Ambar mengangguk.


"Kalo mbak Ratna?"


"Aku udah di sini sejak Tuan sama Nyonya nikah"jawab mbak Ratna


"Wah, dah lama juga ya mbak?"


Karena penasaran, aku pun memberanikan diriku bertanya pada mereka berdua tentang Coco.


"Kalo tuan Coco udah lama tinggal di sini?"


" Belum lama sih.. paling baru.."mbak Ratna tampak sedang menghitung dengan mulutnya komat kamit tanpa suara.


" Empat bulan ini..ya..empat bulan. Dulu dia lama di Cina, kuliah sama kerja di sana..Kalo ga salah dia tuh arsitek.. Kenapa Vivi nanya-nanya? Vivi suka ya?"goda mbak Ratna padaku


Aku hanya tersenyum.


"Wajar sih kalo suka, cakep gitu. Cuma sayang, orangnya pendiem banget"jawab mbak Ratna


"Oh ya?"


"Iya bener.. Koko Marco sejak di sini jarang banget ngobrol sama kita-kita. Orangnya juga jarang senyum. Setauku Koko tu bisa senyum ketawa kalo sama Fabio Chloe doang" ujar mbak Ambar


"Sama satu lagi.. dokter Caroline"ucap mbak Ratna


"Iya bener.. sama bu dokter"


Akhirnya dari pembicaraanku dengan ART rumah, aku tahu, dia sekarang sudah menjadi Arsitek. Dia juga baru empat bulan di rumah itu. Jadi para ART tidak tahu banyak tentang dia. Dia jarang berinteraksi dengan penghuni rumah. Yang mereka tahu Coco orang yang tidak banyak bicara. Jarang tersenyum apalagi tertawa. Hanya ketika bersama Fabio dan Chloe, dia bisa tersenyum bahkan tertawa lepas.


Ketika mendengar hal itu, mendadak hatiku jadi sedih. Dia sudah banyak berubah sekarang. Dia tak lagi sama seperti dulu. Yang selalu bisa membuatku tersenyum dan tertawa. Dia yang kutahu dulu sangat ramah dan menyenangkan. Kemanakah dia yang dulu?


Teringat kembali mungkin semua ini adalah salahku juga. Salahku yang sudah melukai dia sedalam itu. Hingga merubahnya menjadi seperti sekarang.


Selama di Solo, dia jarang keluar rumah. Hanya sesekali dia keluar, itupun dengan dokter Caroline. Dari yang kudengar, mereka berdua sangatlah dekat. Bahkan menurut mereka, mungkin dokter adalah kekasihnya. Karena sepertinya mereka akan menikah. Tapi ART disitu tak terlalu yakin.


Saat mendengar itu semua, hatiku mendadak sakit sekali. Mungkinkah kali ini dia akan benar-benar menikah dengan dokter Caroline?


Entah apa yang akan kulakukan jika ini benar terjadi. Sekali lagi aku tak siap menerima kenyataan dia akan menikah dengan wanita lain. Walaupun setahun lalu, berita ini juga sudah kudengar. Tapi semua berbeda ketika kini dia benar-benar sudah ada di depanku. Di depan mataku. Dan bukan hanya cerita semata.


*


*


*


*


Waktu dua hariku menggantikan Aisyah pun usai. Aku kembali bekerja di klinik bersama dokter Caroline. Kesempatanku bertemu lagi dengannya sudah tak ada lagi. Aku tak tahu kabarnya, karena kami memang tak bertukar nomor hp.


Namun hal tak terduga pun terjadi. Ketika itu aku sedang mendaftar pasien yang datang hendak berobat pada dokter Caroline. Tiba-tiba saja, Coco datang.


Aku kaget. Dia ingin bicara denganku. Tapi aku menolak, karena aku sedang bekerja, dan banyak pasien yang sedang mengantri.


“Apa maumu Co?”tanyaku


“Aku mau kita bicara”katanya


“Apa kamu ga lihat aku lagi kerja sekarang?” kataku pelan


Dia mulai sadar banyak pasang mata yang memperhatikan kami.


“Terus kapan kita bisa bicara?”tanyanya


“Nanti .. setelah aku selesai kerja”jawabku


“Jam berapa kamu selesai kerja?”


“Oke, Aku tunggu kamu di luar” jawabnya


Dia pun beranjak pergi.


Sebenarnya apa yang mau diomongin Coco? Padahal dua hari kemarin kami biasa aja. Dia ga pernah ngajak aku ngobrol. Kenapa sekarang dia mau ngomong?


Aku pun memilih melanjutkan lagi pekerjaanku yang sempat tertunda. Aku memohon maaf kepada para pasien atas ketidaknyamanan tadi yang sempat dibuat Coco.


Chika yang sejak tadi duduk disampingku, menyenggol tanganku. Aku pun menoleh ke arahnya.


“Babang tamvan tadi siapa Vi?”tanyanya penasaran


“Ayo cerita.. dia siapa?”bujuknya


“Iihh..udahlah Chik..kita tuh sekarang lagi kerja. Tuh lihat..pasien-pasien itu ngliatin kita”kataku mencoba mengelak


Chika adalah temanku sejak di Akademi. Chika dan Lala. Dua anak rantau yang sangat dekat denganku. Merekalah teman baikku selama disini.


Chika orang Jogja dan Lala orang Salatiga. Ketika aku diterima bekerja di klinik dokter Caroline, kuajak mereka melamar juga. Dan untungnya diterima. Jadilah kami bertiga bekerja disini.


Satu per satu pasien dipanggil. Sampai akhirnya semua pasien selesai diperiksa. Kami pun bersiap untuk pulang. Keluar dari klinik, seperti biasa, Aku Chika dan Lala bercanda bersama. Chika yang paling ceria di antara kami bertiga. Dia selalu bisa membuat lelucon-lelucon yang membuatku tersenyum.


Ketika kami sedang asyik ngobrol bersama, mataku dikejutkan seorang lelaki tampan yang menunggu di sisi mobil sport putih. Tepat di seberang jalan di depan klinik. Lelaki berpakaian serba hitam itu sungguh tampan.


“Bukannya itu cowok yang tadi?”kata Chika


“Cowok yang mana?”tanya Lala penasaran sambil clingukan


“Aldi?”tanya Lala lagi


“Iih..Kok Aldi sih? Aku kan tadi udah cerita, kalo tadi ada babang tamvan yang nyariin Vivi di klinik, gimana sih kamu La?” kata Chika menjelaskan


“Ooo..iya..iya..maaf aku lupa” kata Lala


“Dasar telmi” ejek Chika


“Ya maaf”Lala merajuk


Aku hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua.


Ternyata dia benar-benar menungguku. Aku tak menyangkanya. Tanpa kusadari, lelaki yang dulu sangat kucintai itu, kini telah menjelma menjadi seorang lelaki tampan yang bisa memikat setiap wanita yang dilihatnya. Dia benar-benar tampan. Kulitnya yang putih dipadu dengan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipatnya itu. Semakin mempertegas badannya yang semakin atletis. Gaya rambutnya juga semakin stylish. Dia sungguh tampan. Penampilannya kini mirip oppa-oppa korea dalam drama korea kesukaanku.


Dia mendekatiku dan kini berdiri tepat di depanku. Dengan ekspresi wajahnya yang sangat serius dan juga dingin.


“Bisa kita bicara sekarang?”tanyanya


“Kamu mau bicara apa?”tanyaku


“Masuklah dulu ke dalam" tunjuknya ke arah mobil putih miliknya.


Krucuk..krucuk..


Perutnya berbunyi. Rupanya dia lapar. Chika dan Lala yang dari tadi di sampingku sampai tertawa begitu mendengar bunyi perutnya yang baru konser. Rupanya dia belum makan malam.


“Tunjukkanlah sedikit belas kasihanmu Vi..Dari tadi aku udah nungguin kamu.. Paling tidak temani aku makan, kali ini saja” katanya dengan nada memelas


Karena aku tak tega melihat dia yang sudah kelaparan karena menungguku, akhirnya kuputuskan untuk menerima ajakannya.


“Baiklah” Aku mengalah


Aku pun berpamitan pada Chika dan Lala.


“Kalian pulang aja dulu.. Aku pergi bentar”kataku


“Hati-hati ya”ucap Chika


“Iya..hati-hati ya Vi"Lala menimpali


“Hati-hati…nanti jatuh"


"Hah.. jatuh kenapa Chik?"


"Jatuh Cinta”ucap Chika tiba-tiba.


Chika.. bisa-bisanya dia ngomong gitu? Mau ditaruh dimana mukaku? Ya Allah Chika..kenapa kamu malah bikin aku malu sih Chik?


Perkataan tak terduga dari Chika benar-benar di luar dugaanku. Segera kusumbat saja mulutnya dengan tanganku. Saat aku menengok ke arah Coco ternyata dia mendengarnya. Dia tersenyum. Sementara aku benar-benar malu. Punya temen gini banget sih Chik..Dasar Chika!


Kami pun berjalan menuju mobilnya. Dia membukakan pintu mobil untukku. Persis seperti dulu ketika masih di SMA dulu. Bahasa tubuhnya saat membukakan pintu dan melindungi kepalaku agar tak terbentur. Semua itu mengingatkanku pada kenangan masa lalu kami berdua.


Selama di mobil kami berdua tidak berbicara banyak. Jadi Aku tak tahu dia mengajakku kemana. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, ketika di mobil dia menyalakan radio. Lagu yang diputar oleh salah satu radio di Solo itu, adalah Need You Now, Lady Antebellum. Lagu yang memiliki kesan dan kenangan bersamanya.


Spontan aku menengok ke arahnya. Rupanya dia juga melihat ke arahku. Karena kaget, aku pun menepiskan pandanganku. Aku pura-pura melihat pemandangan jalanan lewat jendela. Suasana menjadi sangat canggung bagi kami berdua.