
Waktu itu sepulang sekolah, kami mampir sebentar ke rumah Coco. Ada buku novelku yang tertinggal di sana. Kami berbincang sambil tertawa bersama menuju kamarnya. Menapaki tangga menuju kamarnya. Terdengar suara orang sedang mengobrol. Tidak jelas apa yang mereka obrolkan. Sayup-sayup kudengar suara mamanya. Benar itu mamanya. Beliau sedang ngobrol dengan temannya.
“Apa? Pacar? Bukanlah. Dia hanya temannya” jawab mamanya
“Tapi kata putriku mereka udah pacaran lama lho..apa kakak ga tau?” tanya lawan bicara mamanya
“Itu tak mungkin. Aku kenal putraku. Gadis itu bukan tipenya. Mereka tak cocok samasekali”
“Dia bukan gadis yang sesuai untuk putraku. Putrimu itu yang harusnya dengan putraku”
“Benarkah?”
“Ehmm..bagaimana kalo kita jodohkan saja mereka..putrimu dan putraku? Apa kau setuju? Aku lihat putrimu itu cocok sekali dengan putraku" kata mamanya.
"Oh ya? Boleh..boleh..Aku setuju.. kita jodohkan saja mereka. Siapa tau mereka berjodoh"jawab lawan bicara mamanya
" Nanti kita bisa besanan, hahahha"ucap mamanya sambil tertawa keras sekali.
Mereka pun tertawa bersama. Aku terkejut mendengar obrolan mereka yang ternyata membicarakan tentang aku dan Coco. Tentang Coco yang akan dijodohkan dengan putri teman mamanya.
Ketika aku menoleh ke arah Coco, kulihat wajahnya kelihatan sangat kesal. Dia berjalan dengan tergesa-gesa ke lantai atas sambil menggenggam tanganku. Aku sampai harus berjalan dengan lebih cepat untuk mengimbangi langkah kaki Coco yang semakin lebar. Kugenggam tangannya sambil mencoba menenangkannya.
"Tenang Co.. jangan marah" ucapku pada Coco
Coco hanya diam dengan raut wajah penuh kemarahan. Kulitnya yang putih kelihatan memerah menahan marah. Begitu sampai di lantai dua,
“MAMA.." Coco berteriak ke arah mamanya.
“APA MAKSUD MAMA MENJODOHKAN AKU SEGALA?”
Mamanya kaget melihat Coco sudah ada di depannya sambil berteriak. Mata mamanya sampai terbelalak. Aku yakin mamanya tak menyangka putranya akan membentaknya seperti itu. Lawan bicara mamanya pun sama kagetnya dengan beliau. Sementara aku terus berusaha menenangkan Coco. Kali ini dia benar-benar marah. Kulit putihnya berubah memerah menahan marah.
“Co..tenang. Jangan marah” kataku pelan sambil kuelus lengannya.
“MEMANGNYA MAMA TAU APA TENTANG AKU”teriaknya lagi.
Mamanya berdiri dari tempat duduknya.
" COCO, JAGA UCAPANMU? BERANI SEKALI KAMU BERTERIAK PADA MAMA" tegur mamanya
"KENAPA MAMA SELALU SEENAKNYA SENDIRI? KENAPA MAMA TAK PERNAH MAU MENDENGARKAN PENDAPATKU?"tanya Coco
Ibu dan anak ini bertengkar sangat hebat. Membuatku dan teman mamanya saling menenangkan mereka. Mereka tak mau kalah. Mereka sama-sama keras kepala. Suasana saat itu sangat panas.
“POKOKNYA AKU TAK MAU KE CINA.. MAMA SAJA YANG PERGI. AKU TETAP DISINI. BERSAMA GADIS INI”
“COCO…”teriak mamanya.
Kulihat mamanya dengan nafas terengah sambil memegang dadanya.
Tiba-tiba saja,
Gludakkkk…
Mamanya pingsan. Beliau terkapar di lantai tak sadarkan diri. Kejadian itu benar-benar di luar dugaan kami semua. Kami semua kaget lalu berlarian ke arah mamanya.
“MAMA..BANGUN MA” dia panik
Suasana menjadi tidak karuan. Untung saja beliau masih bernafas. Sepertinya beliau mendapat serangan jantung. Aku pun segera berinisiatif menelpon ambulance. Sementara Coco terus mencoba menyadarkan mamanya. Semua orang panik karena kejadian itu.
Begitu ambulance datang, Coco ikut masuk ke dalam ambulance untuk menemani mamanya. Aku tetap di rumahnya sambil memeluk Uti yang sedari tadi menangis. ART Coco yang lain juga ikut menangis. Mereka segera membawa mamanya ke Rumah Sakit.
Aku pun pulang ke rumahku naik go*car sambil menunggu kabar dari Coco. Selama sore sampai malam itu, aku tak bisa tidur. Perasaanku tak tenang. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi mamanya dan Coco juga. Karena aku tahu dia pasti sangat terpukul dengan kejadian tadi. Tiba-tiba hp ku berdering. Kulihat nama Coco di layar hp. Dia menelponku. Waktu itu hari sudah larut malam
“Kamu belum tidur?”tanyanya
“Belum.. bagaimana keadaan mamamu?”
“Dokter sedang mengoperasinya. Mama kena serangan jantung”suara Coco bergetar.
Aku syok mendengar berita dari Coco.
“Serangan jantung?”
“Iya”
“Kamu di mana sekarang?”
“Masih di Rumah Sakit”jawabnya
Karena sangat kuatir dan ingin mendampingi Coco maka segera kututup telpon itu lalu kubangunkan Ayahku. Aku minta Ayah mengantarku ke rumah sakit. Untungnya Ayah mengijinkan. Ia pun mengantarku sampai ke Rumah Sakit.
Jarak rumah sakit dengan rumahku sangatlah dekat. Sepuluh menit sudah sampai. Ayahku berpesan untuk segera pulang jika mamanya sudah selesai operasi. Aku pun menyanggupinya.
Begitu sampai di Rumah Sakit aku langsung berlari menuju ruang operasi. Tak kuhiraukan suasana rumah sakit yang sedikit mencekam karena memang hari sudah sangat malam.
Sesampainya di ruang operasi, kulihat dia terduduk sendiri di pojok. Segera saja kuhampiri dia. Coco terlihat kaget melihatku sudah di sana. Karena berlari, membuat nafasku jadi terengah-engah. Aku mencoba mengatur napasku. Coco yang melihatku terengah-engah segera memegang tubuhku dan mendudukkanku di kursi tunggu di depan ruang operasi.
“Aku..ingin di sini..menemanimu”kataku sambil terengah
“Aku takut…”katanya sambil terisak
Aku jadi ikut menangis. Kutepuk-tepuk pundaknya.
“Mamamu pasti baik-baik saja”
“Kita berdoa saja”
Kami pun menangis bersama. Baru kali ini kulihat dia selemah itu. Serapuh itu. Dan aku hanya bisa berusaha untuk menguatkannya.
“Kamu sudah makan?”
“Belum” sudah kuduga.
“Aku belikan makan dulu ya? Kamu harus makan..supaya kuat menemani mamamu” bujukku
"Aku tidak lapar"
"Tapi kamu harus makan Co.. kita tidak tahu operasi ini akan memakan waktu sampai kapan. Kamu makan dulu ya? Aku temani. Kamu mau kan?" tanyaku berusaha membujuknya supaya mau makan.
Dia tersenyum padaku.
"Baiklah"
Akhirnya kami berjalan menuju kantin Rumah sakit bersama-sama. Letak kantinnya lumayan dekat. Aku memesankan makanan untuk Coco. Setelah pesanan kami datang, aku suapi dia supaya mau makan. Kulihat dia tak bersemangat makan. Namun tetap dipaksakan untuk makan. Selesai makan kami kembali lagi ke ruang operasi.
Dua jam lamanya kami menunggu dalam ketidakpastian. Entah kapan operasi mamanya berakhir. Karena tak ada tanda-tanda operasinya akan berakhir. Kami menunggu dengan harap-harap cemas. Aku terus menggenggam tangannya mencoba menguatkannya.
Akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Mamanya sudah selesai operasi dan diantar ke ruang ICU. Dokter mengatakan mamanya harus banyak istirahat dan tidak boleh stress. Tidak boleh mendapat berita yang bisa mengguncang batinnya.
Dia menggangguk mendengar penjelasan dokter. Setelah mengantar mamanya sampai di ruang ICU,
aku pun pamit pulang karena aku sudah berjanji untuk pulang setelah mamanya selesai dioperasi.
"Aku pulang dulu ya.. Kamu ga papa kan aku tinggal?"
Dia hanya mengangguk pelan dengan senyum yang tersungging di wajahnya yang memang kelihatan lelah.
"Terimakasih Vi" ucapnya sambil memeluk tubuhku.
"Iya.. Sama-sama. Kabari aku kalo butuh apa-apa, oke?"
Coco mengangguk pelan.
"Istirahatlah"
"Kamu juga istirahat ya?" pesanku padanya.
Aku pun pulang dijemput Ayah. Sepanjang malam kami saling berkirim kabar. Aku tak bisa tenang, kecuali mamanya segera sadar.
*
*
*
*
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya mamanya siuman. Aku merasa lega mendengar hal itu. Mamanya sudah lolos dari kritis. Mamanya pun sudah dipindah ke ruang inap VVIP rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi. Semua keluarganya kini sudah berkumpul.
Untuk sementara waktu, kami tidak bertemu. Aku sengaja memintanya untuk tak menemuiku dulu. Aku tak ingin mamanya marah lagi, setelah melihatku. Aku takut malah memperburuk keadaan mamanya yang baru saja membaik. Dia sebenarnya sangat ingin bertemu denganku. Tapi kutahan. Aku katakan supaya dia tetap di samping mamanya.
Selama tiga hari, mamanya dirawat di Rumah Sakit. Akhirnya beliau diijinkan pulang. Selama selang waktu itu, kami hanya bisa bertemu, tak lebih dari lima belas menit setiap hari. Hanya sekedar melepas rindu. Karena mamanya masih sangat membutuhkan perhatiannya. Walaupun sebenarnya aku sangat..sangat merindukan dia.
Karena mamanya sakit, Coco tak bisa menghadiri acara pelepasan siswa kelas XII. Hari itu Aku dan teman-teman kelas XII, bersama orangtua kami merayakan pesta perpisahan kelas XII. Semua siswa putra nampak gagah memakai jas hitam dan berdasi. Sementara para siswi mengenakan kebaya. Begitu juga dengan Aku. Sayang dalam moment bahagia itu, dia tak ada di sana merayakannya denganku.
Aku bangun sangat pagi, karena harus bergegas ke salon untuk dirias penata rias langganan bunda. Orang yang sama yang selalu mendandaniku saat mengikuti kontes prince and princess. Walaupun dengan mata yang masih mengantuk, karena malam sebelumnya aku bergadang dengan Coco. Video call-an dengan Coco. Tapi aku tetap paksakan untuk membuka mataku. Kadang jika rasa kantuk menyerang, aku tiba-tiba terpejam.
“Ngantuk banget ya Vi? Semalam begadang pasti”tanya kak Vera, penata riasku
“Maaf kak..rasanya masih ngantuk banget”
“Iya..ga papa”
Akhirnya kak Vera mengajakku ngobrol supaya tidak mengantuk. Aku akui riasan kak Vera memang sangat bagus. Riasan flawlessnya emang yang terbaik. Bunda juga ikut dirias anak buah kak Vera, karena bunda juga ingin kelihatan cantik di acara wisudaku.
“Ga usah didandani juga bunda udah cantik”puji Ayah setiap melihat bunda dirias penata rias.
Membuat para penata rias yang sudah langganan kami tersenyum bahkan cekikikan bersama mendengar pujian Ayah pada Bundaku. Ayah memang sangat mencintai Bunda, dan bagi Ayah, Bundaku lah yang tercantik.
Hari itu, aku memakai kebaya berwarna dusty pink. Kebaya yang menurut bunda, sangat memancarkan kecantikanku karena warna dusty pink sangat cocok dengan kulitku yang putih bersih. Itu kata Bunda. Aku sih menurut saja dengan pilihan bunda.
...Jangan lupa like, vote, kalo berkenan hadiahnya ya kak.. ditunggu juga komentarnya.....
...terimakasih kakak...
...🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰...