Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Overprotektif



Perjalanan menuju lokasi EPSP lumayan jauh. Jalannya pun berkelok-kelok. Dasar cowok kali ya, kalo udah naik motor bawaannya pingin ngebut, kejar-kejaran. Begitu juga dengan Coco, Aryo, Arman dan Arsy. Mereka berempat memacu motor dengan kecepatan tinggi. Buat cowok mungkin itu suatu kesenangan tersendiri bisa memacu adrenalin kali. Saling salip, kadang sampai memakan bahu jalan. Mereka ga tau apa, kami cewek-cewek yang dibonceng serasa naik rollercoaster. Belok kanan, belok kiri, salip kanan, salip kiri. Kadang jarak antar kendaraan juga mepet sekali. Mereka kan tidak sedang balapan. Aku rasa-rasanya pingin menjambak rambut Coco saking kesalnya karena udah bikin spot jantung dari tadi. Sampai di lokasi EPSP, aku langsung turun dari motor dengan perasaan sangat kesal.


“Kalian ini kalo ga balapan kenapa sih? Bahaya tau kebut-kebutan kayak tadi”ucapku jengkel pada empat cowok yang ngebut dari tadi.


“Seru kali Vi”ucap Nisa


“Iya..seru banget”tambah Denise.


Ya iyalah seru, kalian pegangan kenceng gitu, ga masalah..Aku kan cuma bisa pegangan tali ransel Coco.


“Kamu takut Vi?”tanya Coco dengan wajah penuh penyesalan


“Maaf ya..”ucapnya lagi


“Iya..aku takut..takut jatuh..aku kan cuma pegangan tali ranselmu. Kalo aku tadi ga pegangan kuat, dah jatuh kali” keluhku dengan wajah cemberut.


“Ya udah, nanti pulangnya aku ga ngebut deh”ucap Coco


“Beneran lho ya?”


“Iya..iya..”ucapnya meminta maaf


Arsy malah berjalan mendekati aku dan Coco.


“Pulangnya sama aku aja gimana kalo kamu takut dibonceng Coco?”Arsy menawarkan diri.


“Kamu kan dari tadi yang paling kenceng di depan..tambah spot jantung aku nanti..ogah ah..sama Coco aja”jawabku


“Ya udah kalo ga mau”ucap Arsy dengan nada kesal. Lagi-lagi anak ini ga tau kenapa gampang banget badmood.


Akhirnya kami mensurvei lokasi rencana pelaksanaan EPSP. Lokasinya lumayan strategis. Dengan perkampungan warga tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Kalau terlalu dekat, takutnya malah mengganggu kalau ada acara malam. Kalau lokasinya terlalu jauh, kami tidak bisa meminta bantuan warga. Misalnya yang membutuhkan toilet atau keperluan lainnya. Lokasi itu juga dekat dengan sungai dan persawahan. Sangat cocok untuk acara penjelajahan.


Kebetulan lapangan yang kami pilih ini, adalah lapangan sebuah sekolah dasar disana. Kami juga sudah bertanya-tanya pada kepala sekolah, mengenai perijinan dan hal-hal terkait peminjaman aula sekolah dan beberapa ruang kelas dan toiletnya untuk kegiatan kami. Untungnya kepala sekolah SD itu mengijinkan sehingga kami sepakat bahwa lokasi EPSP tahun itu diadakan disitu.












Setelah mengikuti upacara pembukaan dan dilepas oleh Pembina PMR dan wakasek kesiswaan, kami pun bersiap untuk berangkat. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, adik kelas diangkut menggunakan truk menuju lokasi EPSP. Selain karena jumlahnya yang lumayan banyak, daya tamping truk yang bisa menampung semua barang bawaan yang sangat banyak juga menjadi alasan kenapa kami memilih menggunakan truk. Sensasi naik truk dengan merasakan hembusan angin yang kencang, sangatlah menyenangkan. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Kami bisa berteriak-teriak, bernyanyi bersama sambil dorong-dorongan. Kadang kami juga menggangu bahkan merayu pengendara motor atau pengguna jalan yang lain. Sungguh seru sekali naik truk bersama rombongan teman-teman. Tapi bagi yang tidak terbiasa, naik truk kadang bisa membuat mual bahkan muntah-muntah.


Beberapa panitia, teman-teman seangkatanku beberapa memilih naik motor. Selain karena lebih simpel, motor itu juga dipakai sebagai sarana transportasi kami selama EPSP. Sebagai sarana mobilitas kami para panitia. Sementara aku, saat itu terpaksa harus ikut naik mobil Coco.


“Aku mau naik truk Co?”pintaku saat itu


“Lihat! Yang naik truk udah berjubel kayak gitu”ucap Coco sambil menunjuk truk yang memang sudah penuh dengan beberapa panitia dan adik kelas.


“Lha kan asyiknya disitu..bisa dorong-dorongan”


“Bahaya Vi..kalau jatuh gimana? Kamu ga takut?”Coco malah menakut-nakuti aku.


Kalau sudah berdebat begitu, aku kadang merasa Coco malah seperti pacarku saja..overprotektif..


“Udah lah Vi..ikut mobil Coco aja..Aku juga ikut mobil Dedi”ucap Anti sambil menepuk bahuku menengahi perdebatan kami yang unfaedah ini.


“Lha kan kamu ga enak badan..makanya ikut Dedi sekalian bawain barang teman-teman”keluhku


“Aku juga bawain barang teman-teman lho..tuh sampai penuh mobil kakakku”ucap Coco.


Awalnya Dedi dan Coco sepakat naik mobil bersama, Aku dan Anti naik truk. Tapi ternyata barang bawaan panitia yang sangat banyak, tidak muat jika harus diangkut truk bersama dengan barang-barang adek kelas yang berjibun. Akhirnya Dedi bersedia membawa mobilnya untuk membawa barang panitia yang lain, yang belum sempat terangkut. Dan karena Anti baru ga enak badan, makanya Anti ikut mobil Dedi.


“Nanti kalo aku ikut mobil Coco, kamu cemburu lagi”goda Anti padaku saat mengatakan akan ikut mobil Dedi.


Tentu saja percakapan kami ini, hanya kami berdua yang tahu. Anti juga berbisik saat mengatakannya, jadi hanya aku dan Anti yang tahu.


“Ayo berangkat..keburu gelap”ajak Coco


“Ya udah deh aku ikut”ucapku dengan nada sedikit kecewa sambil menatap truk-truk yang sudah lebih dahulu berangkat dan mulai meninggalkan area sekolah.


Perjalanan menuju lokasi EPSP jadi tak terasa, karena aku dan Coco ngobrol terus sepanjang perjalanan. Sesekali


kutatap sosok tampan yang sedang fokus menyetir itu. Coco yang serius dan fokus benar-benar terlihat sangat tampan. Membuat jantungku selalu tak karuan. Apalagi kalau dia tiba-tiba menoleh ke arahku, pasti membuatku kaget dan kelabakan. Aku kan malu kalau sampai ketahuan mencuri pandang padanya.


“Ngliatin apa?”tanyanya


“Hah? Ga kok ga lagi liatin apa-apa”kataku mencoba berkelit.


“Beneran?”godanya padaku yang sukses membuatku malu.


“Udah nyetir aja..ga usah tengak tengok”ucapku padanya


Dia malah cekikikan.