
Selama kami pacaran, kami sudah berjanji satu sama lain bahwa hubungan kami ini harus bisa menjadi motivasi kami untuk berprestasi. Jadi tidak boleh mengurangi semangat belajar kami.
Itu juga sesuai dengan permintaan Ayah dan Bundaku. Aku boleh pacaran, tapi tidak boleh mengganggu pelajaranku. Kalau sampai prestasiku turun, peringkatku turun tidak masuk sepuluh besar, maka aku harus putus dengan Coco. Tentu saja aku tak mau. Untuk bisa bersama seperti ini saja, kami butuh waktu hampir tiga tahun. Masak mau menyerah begitu saja dan mengorbankan hubungan kami. Aku harus bisa berprestasi! Itu janjiku!
Semester satu pun berjalan dengan sangat baik. Walaupun peringkatku turun. Aku peringkat dua sedangkan Coco peringkat satu. Karena aku masih masuk 3 besar, maka aku diijinkan untuk pacaran dengan Coco. Aku senang sekali.
Liburan semester satu, aku, Coco, Dedi, Daniel, Anti dan keluarga Anti pergi liburan ke Korea dan Jepang. Karena liburan ini adalah liburan terakhir kami di SMA. Jadi kami ingin bisa liburan bersama sebelum berpisah nantinya ketika kuliah.
Selama liburan, wajah Coco yang oriental mirip orang Korea membuat banyak orang kagum. Apalagi selera fashion Coco yang sangat bagus. Membuatnya dikira idol K-Pop. Berkali-kali orang mendatangi kami, minta foto dan tandatangan Coco. Waktu dia bilang dia turis dari Indonesia, mereka semua tidak percaya, karena wajahnya
mirip idol Kpop atau artis Korea.
Saking jengkelnya, dia sampai bilang ingin pakai masker saja, supaya orang-orang tak melihat kegantengannya. Ampun dech..sombongnya mulai kambuh..
Tapi memang benar sih, dengan wajah setampan Coco wajar jika dikira artis. Cakep banget banget sih.. Aku saja masih tak percaya bisa pacaran dengan Coco.
Beberapa foto seru-seruanku dengan Anti ketika masih di bandara adalah ketika kami foto di atas escalator yang biasa digunakan untuk meletakkan koper untuk kemudian dipindai menggunakan Xrays. Setelah foto itu, kami ditegur pihak bandara. Hahahahaha..Maaf ya pak..
Saat kami masih di pesawat, kebetulan aku bisa duduk di sampingnya. Lumayan kalo ngantuk ada bahu untukku bersandar, hihihihii.. Aku bilang gitu, dianya langsung senyum-senyum sendiri.
Kebetulan cuaca di jepang dan korea baru sangat dingin. Makanya kami pakai baju yang hangat. Dia bilang, kalau masih kurang hangat, dia siap menghangatkan tubuhku, hahaha…
Saat di Korea, aku sempat menyewa hanbok yaitu pakaian khas wanita Korea. Pakaian yang biasa muncul di drama Korea bergenre sejarah. Coco juga sempat mencoba mengenakan pakaian khas pria jaman Joseon, lengkap dengan topi tingginya.
Wajahnya benar-benar kelihatan tampan. Mirip oppa-oppa Korea. Bahkan gadis-gadis di sana, sampai minta foto bersama. Saking ngefans melihat wajah tampan Coco.
Saat di Jepang, aku juga sempat mencoba mengenakan kimono, yaitu pakaian khas wanita Jepang. Pakaian berwarna merah itu sangat ketat. Membuatku kesulitan berjalan. Tapi Coco beberapa kali memujiku. Dia bilang aku cantik. Hehehehe.. tentu saja aku sangat senang mendengar pujiannya.
Saat di Jepang, aku dan Anti sempat bermain salju. Kami seperti anak kecil. Bahkan kami membuat boneka salju. Kami beri nama Olaf.
Karena suhu yang sangat dingin, selama di Jepang dan di Korea, aku dan Coco sering bergandengan tangan. Untuk menghangatkan badan, alasannya. Tentu saja, aku tidak keberatan. Seneng malah. Karena tangannya sangat hangat. Jadi aku tidak terlalu kedinginan. Dan seperti biasa, Dedi dan Daniel yang protes.
“Gandengan terossss”goda Daniel melihat Coco yang menggandeng tanganku
“Digandeng Co..biar ga lepas”goda Dedi juga.
“Kalau perlu, gandeng sampai KUA”goda Anti ikut-ikutan
Saat di Korea, kami sempat berfoto dengan mengikuti salah satu adegan drama Korea, dimana aku bersembunyi di balik mantel hangatnya, sementara dia menutupi tubuhku dengan mantel dan memelukku. Dia juga mencium kepalaku. Membuat Dedi dan Daniel protes keras..hahahaa..
Waktu kami jalan-jalan malam, kami berhenti di taman bermain yang lumayan sepi. Dia pura-pura menendangku sementara aku memukul dia. Dasar Coco kakinya panjang, tendanganya mengenai perutku.
“Aduh” aku mengaduh saat tendangan Coco mengenai perutku.
“Kena perut ya Vi? Sakit ga?”tanya Coco yang langsung menghampiri dan memegang perutku.
“Sakit tau”ucapku sambil cemberut.
“Maaf ya..ga sengaja”ucap Coco dengan wajah memelas.
“Maaf..maaf”
Dia minta maaf berkali-kali waktu itu lalu memelukku. Dedi dan Daniel langsung protes melihat kemesraan kami.
“Woii..jangan pelukan mulu..ga kasihan apa sama kami berdua yang masih suci ini?”ledek Daniel
“Suci? Suci dari hongkong”Coco segera menghampiri teman-temannya yang masih jomblo itu sambil menggandeng tanganku.
Maaf ya teman-teman!
Menginjak semester 2, jadwal kami semakin padat. Guru banyak memberi kami tugas diskusi kelompok, tugas proyek dan tugas lapangan. Untungnya kami (Aku, Coco, Anti dan Dedi) selalu menjadi satu kelompok.
Kami sering mengerjakan tugas kelompok di rumah Coco. Rumahnya cukup dekat dengan sekolah. Sehingga sepulang sekolah kami bisa segera ke rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok itu.
Sayangnya hanya satu masalahnya. Rumah sebesar itu terlalu sepi. Hanya ada Uti, ART Coco yang sudah paruh baya, Mbak Isti, Mbak Intan, ART Coco yang lain, Pak Hasan, Pak Budi, satpam Coco dan Coco yang setiap hari disana. Ada juga Mbak Lina, ART Coco yang lain yang sering membantu Uti membersihkan rumah, kadang mencuci baju dan menyetrika pakaian. Tapi Mbak Lina tidak ikut tidur di situ. Karena rumahnya dekat dengan rumah Coco. Jadi ketika sudah sore dan pekerjaan sudah selesai, dia akan pulang kerumahnya.
Orangtua Coco adalah pengusaha sukses di Makasar. Seminggu sekali, hari Sabtu/Minggu mereka pulang ke rumahnya. Tetapi jika sedang sangat sibuk, kadang tiga minggu sekali, bahkan pernah sebulan sekali baru mereka pulang. Saking sibuknya.
Coco adalah anak bungsu. Kakak lelaki tertuanya sudah berkeluarga dan memiliki satu anak yang masih bayi. Mereka tinggal di Solo. Sementara kakak keduanya masih kuliah jururan Kedokteran di Cina.
Karena sering mengerjakan tugas kelompok dirumahnya, aku jadi akrab dengan Uti, ART-ART Coco dan Pak satpam Coco. Aku sudah seperti di rumahku sendiri. Meskipun begitu, belum pernah sekalipun aku bertemu dengan orangtuanya kala itu. Hanya lewat foto-foto yang terpajang di dinding rumah, aku mengenal wajah papa, mama, dan kedua kakaknya. Dia juga tak pernah mengeluh padaku karena ketiadaan orangtuanya disisinya. Aku pun tak berani menanyakan macam-macam.
Semester 2 segera berakhir. Musim ujian pun datang. Kami saling membantu satu sama lain. Mempersiapkan ujian yang sebentar lagi. Kami sering berdiskusi membahas soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya.
Ujian Nasional yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kelasku kedapatan mengerjakan Ujian Nasional di lab Fisika dan lab Kimia. Aku dan Dedi di lab Fisika. Sedangkan Anti dan Coco di lab Kimia.
Sempat muncul keberatan di antara murid kelasku, kenapa kami yang harus mengerjakan UN di lab. Sementara kelas XII yang lain bisa mengerjakan di kelas. Ada rasa tidak adil. Karena dari yang kudengar, kelas yang lain bisa mencontek tanpa ketahuan pengawas. Sementara kelas kami tidak mungkin bisa mencontek. Karena desain meja di lab sangat tidak memungkinkan kami mencontek. Mejanya memanjang tanpa laci seperti layaknya meja di kelas-kelas. Jadilah kelasku satu-satunya kelas XII yang tak bisa membawa kertas contekan ke ruang ujian.
Tetapi mungkin itu adalah cara Allah melindungi kami dari dosa karena mencontek. Terbukti saat pengumuman hasil UN diumumkan, nilai UN kelas IPA tertinggi di raih kelasku. Coco orangnya, bukan aku. Bahkan nilainya tertinggi se-kota. T.O.P.
Biasanya jeda antara ujian dan pengumuman hasil UN memakan waktu satu bulan. Selama sebulan itu, kelas XII sudah tidak aktif masuk seperti sebelum ujian. Kami hanya masuk pagi dan pulang siang. Sekedar absen kehadiran.
Sepulang sekolah, Aku dan Coco, sering menghabiskan waktu di rumahnya. Kadang kami membaca novel. Kadang kami nonton film berdua. Tetapi seringnya kami hanya ngobrol berdua.
Waktu aku maen di rumahnya, aku pernah dicuekin dan malah ditinggal mendengarkan music.
“Co? Coco?”panggilku.
Memang benar, cowok kalo udah fokus tuh pendengarannya berkurang. Karena sebel, aku foto candid saja. Ketika tahu aku foto, dan wajahku juga cemberut, akhirnya aku diajak mendengarkan music yang didengarkannya.
“Apa..apa? Kamu tanya apa?”tanyanya
“Kamu lagi ndengerin apa sih?”
“Mau tahu?”
“Iya”
“Ini dengerin”
Dia memindahkan satu earphone wireless miliknya lalu diletakkan di telingaku. Aku kaget. Ternyata itu adalah rekaman suaraku sewaktu mengikuti lomba prince and princess school 20XX sejak tahun pertama.
“Ini kan..suaraku?”tanyaku sambil menoleh ke arahnya
Dia malah senyum-senyum.
“Itu waktu prince and princess tahun pertama kan? Kamu dapat dari mana? Kok bisa dapat rekaman itu?”
Aku heran, darimana dia dapat rekaman suara itu. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
“RAHASIA”ucapnya
“Ayo ngaku..cepetan”
Karena aku tak terima dengan jawabannya, aku menggelitik sekitar pinggangnya. Karena geli, akhirnya dia buka mulut.
“Hahahaaha..iya.iya..aku jawab”
“Dulu kakak sepupuku jadi panitia acara. Aku minta tolong direkamin pas kamu nyanyi”
Rupanya dia meminta salah satu panitia yang juga sepupunya untuk meletakkan hp nya di dekat speaker. Hp nya dimode record ketika aku mulai menyanyi. Itu sebabnya dia bisa punya rekaman suaraku 3 tahun terakhir. Akalnya
bisa saja si Coco.
“Ooo..gitu. Oya, sepertinya sejak kelas X pas istirahat kamu sering ndengerin music pake earphone ya Co?”
“Iya..dengerin suaramu”
Sejak kelas X, aku memang sering melihat dia memakai earphone setiap istirahat, rupanya itu alasannya.
Mendengar jawaban Coco, membuat hatiku berbunga sekaligus malu.
“Segitu sukanya ya denger suaraku?”
“Iya”jawabnya tegas