
Kebahagiaan menyelimuti hatiku. Setelah melewati perang dingin lumayan lama, akhirnya aku dan Coco resmi menjadi sepasang kekasih. Kami kembali dekat seperti sebelum “berpisah” kemarin. Seharian dia terus menghubungiku. Video call dan mengirimiku chat. Dia kembali menjadi Coco-ku selama ini. Yang manis, hangat dan manja padaku.
Namun kebahagiaanku mesti sedikit terusik oleh ulah Mira. Pacar Arsy. Almira Nadia Azarine nama lengkapnya. Gadis cantik dengan rambut pendek sebahu. Dengan tinggi badan yang sama denganku, 165 cm dan berat badan 42 kg. Mira terlihat sangat manis. Saat kutahu Arsy pacaran dengan Mira saat EPSP lalu, aku pikir mereka sangat cocok dan serasi.
Sehari setelah jadian,
Saat istirahat kedua, kebetulan aku dan Anti tidak ke kantin. Coco Dedi dan Daniel mulai jam pertama, diminta Pak Agus menemui bapak Walikota, untuk wawancara dan mendapat penghargaan dari walikota karena mereka sudah mengharumkan tidak hanya nama sekolahku, tetapi juga sudah mengharumkan nama kotaku, dengan mempersembahkan piala juara olimpiade tingkat provinsi.
Saat itu, aku sedang asyik ngobrol dengan Anti, tiba-tiba Mira datang ke kelasku.
“Permisi kak Vivi”sapa Mira
“Eh..Mira..iya, ada apa Mir?”sapaku melihat kehadiran Mira di kelasku.
Wajah Mira kulihat sangat tidak bersahabat, seperti sedang marah. Tapi kenapa dia menunjukkan wajah seperti itu padaku? Emang aku salah apa?
“Bisa kita bicara sebentar kak..tapi jangan disini”ajak Mira
Tentu saja aku heran dengan permintaan Mira. Aku sampai menoleh pada Anti.
“Kamu mau bicara apa?”tanyaku
“Kita ke markas PMR sekarang, kak Vivi mau kan?”
“Oke”aku menyanggupi permintaan Mira
Aku, Anti, Mira dan dua orang teman Mira berjalan ke arah markas PMR. Sepanjang perjalanan, aku terus berbisik pada Anti.
“Kira-kira Mira mau bicara apa?”tanya Anti
“Mana aku tahu? Aku kan jarang bicara dengan dia”jawabku pelan
Aku pun bertanya-tanya ada gerangan apa, sampai Mira mengajakku bertemu di markas PMR. Aku yakin pasti ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakannya denganku.
Akhirnya sampailah kami di markas PMR. Kebetulan Mira juga senior PMR dan sudah membawa kunci markas. Dia membuka pintu markas lalu mempersilahkan aku masuk.
“Maaf kak Anti, kakak diluar sebentar ya..aku ingin bicara empat mata dengan kak Vivi”pinta Mira
Aku memberi isyarat mata pada Anti supaya dia menungguku diluar.
“Jangan lama-lama ya..sebentar lagi kami harus masuk kelas. Kami ada ulangan setelah ini”jawab Anti
Mira hanya mengangguk. Aku masuk ke markas bersama Mira. Anti dan dua teman Mira ada di luar markas.
Di dalam markas,
“Ada apa Mir? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? ”tanyaku
Wajah Mira mendadak merah, matanya pun mulai berkaca-kaca.
“Aku langsung saja, sebenarnya ada hubungan apa antara kak Vivi dan kak Arsy?”seru Mira dengan nada tinggi
“Hah? Arsy? Aku dan Arsy hanya berteman. Memangnya kenapa Mir?”
“Apa kak Vivi tak pernah punya perasaan pada kak Arsy?”tanya Mira lagi
“Ini sebenarnya ada apa sih Mir? Aku ga ngerti arah pembicaraanmu”
“Kak Arsy suka kak Vivi..apa kak Vivi tau itu?”seru Mira dengan nada bergetar
“Ehmm..iya..itu aku tahu”
“Apa kakak tahu..sampai sekarang kak Arsy masih sangat menyukai kakak”
Tentu saja aku kaget mendengar pengakuan Mira. Karena setahuku, sejak EPSP tahun kemarin, Arsy sudah jadian dengan Mira.
“Tapi Mir..bukankah kalian sudah jadian? Iya kan?”
Tiba-tiba pintu markas dibuka dari luar.
“Miraaa..apa-apaan kamu ini?”seru Arsy yang langsung memasuki markas dan mendekati Mira.
“Ar..kamu lihat ga sih? Mira baru sedih..kenapa kamu marah-marah seperti itu?”gerutuku pada Arsy.
Mira berjalan mendekati Arsy dengan airmata yang terus menetes.
“Pas sekali kakak disini. Kita selesaikan semuanya disini”ucap Mira
“Jangan seperti ini! Kita bicara baik-baik”pinta Arsy sambil menggandeng tangan Mira.
Tapi Mira mengibaskan tangan Arsy dengan keras sehingga pegangan Arsy terlepas.
“Aku capek kak..Selalu dibanding-bandingkan dengan kak Vivi. Aku adalah aku. Aku bukan kak Vivi. Kenapa kakak tak pernah menganggap aku ada? Kenapa selalu kak Vivi yang kakak pikirkan? Kenapa? Yang jadi pacar kakak itu aku, bukan kak Vivi”
“Mira, tolong hentikan. Aku minta maaf jika sudah menyakiti hatimu. Aku..”
“Cukup! kakak selalu seperti ini. Memohon padaku, tapi kemudian kakak terus mengulanginya lagi dan lagi”
Jujur saja aku bingung harus merespon seperti apa kondisi seperti ini. Aku berada di pusaran masalah antara Arsy dan Mira. Pasangan kekasih yang sedang punya masalah.
“Sekarang mumpung ada kak Vivi disini..kakak bilang saja sama kak Vivi. Atau aku yang harus bilang?”
“Mira..ini bukan salah Vivi. Aku yang salah. Jangan bawa-bawa Vivi dalam masalah kita”
“Kenapa? Kak Vivi juga harus tahu, kalo selama ini kakak pacaran denganku tapi hati dan pikiran kakak hanya untuk kak Vivi. Aku akan merelakan kakak jika kak Vivi menerima kakak. Aku tak mau terus berada dalam bayang-bayang kak Vivi”
Baru kali ini aku lihat, seorang Arsy sang playboy sekolah yang selalu PD, mati kutu di hadapan pacarnya. Dia yang biasanya berhasil mencairkan suasana dengan joke-joke narsisnya, seperti kehilangan taringnya. Setelah Mira mengungkapkan rahasianya selama ini yang ternyata belum bisa melupakan aku.
Mira menoleh ke arahku.
“Kak Vivi, seperti yang sudah aku bilang tadi. Selama ini kak Arsy masih sangat menyukai kak Vivi. Karena itu, jika kak Vivi mau menerima kak Arsy, dan bersedia menjadi pacarnya..”
“Mira..”
Mira mengangkat tangannya memberi isyarat supaya Arsy diam.
“Apa kak Vivi bersedia menjadi pacar kak Arsy?”tangis Mira semakin menjadi
Bisa aku bayangkan pergolakan batin yang saat itu dialami Mira.
“Kalo kak Vivi bersedia, aku akan dengan senang hati melepas kak Arsy. Aku akan ikut bahagia untuk kalian”ucap Mira sambil mengusap airmatanya dan memaksakan senyum tersungging di wajah cantiknya.
“Apa kakak bersedia?”tanya Mira lagi
“Dia tak bersedia”jawab Coco tiba-tiba dari arah luar markas.
Aku kaget setengah mati melihat Coco yang mendadak sudah berada di pintu markas dan berjalan ke arahku. Coco berjalan melewati Mira dan Arsy lalu berdiri di depanku.
“Coco?”