Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Bertemu Anti



Bertahun-tahun aku selalu mencarinya. Mencari Vivi. Namun dengan sedikitnya informasi yang kumiliki, aku sangat kesulitan mencarinya.


Aku mengambil jurusan Arsitektur di salah satu universitas ternama di Shanghai. Selama kuliah, aku hanya kuliah tanpa pernah main dengan teman- teman kuliahku. Walaupun aku memiliki banyak teman wanita, tapi aku tak berminat sama sekali menjalin hubungan dengan wanita lain. Karena dalam hatiku, hanya ada Vivi. Aku percaya suatu hari kami akan bertemu lagi.


Saat aku kuliah semester akhir, mama pernah memintaku menemui putri sahabatnya. Gadis yang dulu dijodohkan denganku. Gadis yang masih sekolah setara SMA jika di Indonesia. Gadis yang masih sangat kekanak-kanakan yang lebih cocok menjadi adikku. Kami bertemu selama beberapa kali. Tapi aku memang tak pernah memperhatikan gadis itu. Karena di hatiku hanya ada Vivi seorang. Hingga akhirnya aku katakan pada gadis itu, bahwa aku mencintai gadis lain.


"Aku harap ini jadi pertemuan terakhir kita"


"Kenapa Co? Kita kan udah lama berhubungan" ucap gadis itu


"Aku menemuimu hanya karena mama terus memaksaku untuk menemuimu. Tapi aku tak mau kau berharap lebih padaku"


"Memangnya kenapa?"


"Ada seseorang yang aku cintai"


"Siapa?"


"Pacarku saat di SMA"


"Mamamu bilang, kalian sudah lama tak bertemu. Apa kau yakin dia masih mengingatmu?"


"Aku yakin dia masih mencintai aku dan aku yakin aku pasti akan bertemu dengannya"


"Kau terlalu percaya diri. Bisa saja kan dia sudah menikah sekarang. Kalian sudah berpisah selama ini. Bisa saja kan dia sudah bertemu dengan lelaki lain lalu menikah dengan lelaki itu"


"Terserah apa katamu. Tapi aku tak mau meneruskan hubungan ini. Karena aku takkan mau menjalin hubungan dengan anak kecil sepertimu"


"Kenapa kau terus menyebutku anak kecil? Aku sebentar lagi akan menjadi wanita dewasa"


"Kenapa kau begitu keras kepala? Aku sudah bilang aku mencintai gadis lain. Sebaiknya kau cari lelaki lain saja"


"Aku tak mau. Karena aku suka padamu. Dan aku akan mendapatkan hatimu"


Gadis yang sangat keras kepala. Membuatku sempat kewalahan. Akhirnya aku dengan tegas katakan pada mama, bahwa aku tak mau meneruskan hubungan dengan anak kecil itu. Mama akhirnya menuruti keinginanku.


*


*


*


*


Setelah wisuda, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Arsitektur terkemuka di Shanghai. Aku juga masih sering bolak-balik Indonesia-Cina untuk mencari keberadaan Vivi.


Dan akhirnya momen itu tiba. Saat pernikahan Anti, aku melihat Vivi untuk pertama kalinya setelah lima tahun kami berpisah. Aku sangat bahagia melihat Vivi-ku. Kulihat dia semakin cantik dan dewasa. Dia terlihat begitu anggun mengenakan dress bridemaids mengiringi Anti.


Aku memang hanya melihatnya dari jauh. Aku tidak turun dari mobilku. Aku takut jika dia melihatku, dia akan lari dan aku akan kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya.


Kufoto dia dari jauh. Rasanya aku ikut bahagia, melihat dia tersenyum dan tertawa bersama teman-teman di sana. Walaupun kulihat dia sedikit berubah. Dia tampak tak seceria dulu ketika SMA. Ketika kami masih bersama.


Dedi dan Daniel juga hadir di acara pernikahan Anti.


“Kamu tidak masuk Co?”tanya Dedi padaku melalui telepon


“Tidak. Aku di sini saja”


“Vivi ada di sini..kamu tak ingin menemuinya?” tanya Dedi


“Aku rasa ini bukan waktu yang tepat”


“Aku minta tolong, jika kamu bertemu dia, coba tanyakan keadaannya. Di mana dia sekarang” kataku pada Dedi


“Baiklah” jawab Dedi


“Dan jika dia tanya keadaanku, jawab saja aku sudah bahagia di Cina. Katakan juga bahwa aku akan segera menikah. Kira-kira seperti apa nanti reaksinya” kataku


Kulihat dari kejauhan, Dedi dan Daniel berbincang-bincang dengannya. Daniel juga berinisiatif merekam pembicaraan mereka, sehingga aku bisa mendengar suaranya.


“Bagaimana kabarmu sekarang Vi? Lama ya kita tidak bertemu”kata Dedi


“Iya..ya..sudah berapa tahun? empat tahun? lima tahun?” tanya Daniel


“Lima tahun”kata Vivi


“Wah..lama juga ya?”balas Daniel


“Aku baik-baik saja”katanya lagi


Mereka bertiga berbincang-bincang sampai akhirnya mereka membahas tentang aku.


“Bagaimana..kabar Coco?” tanya Vivi


“Coco ya? Aku dengar dia bahagia di Cina”kata Dedi


“Iya..dia betah di sana” Daniel menambahi


“Apa kalian tidak pernah bertukar kabar? Kamu kan dulu pacarnya?” tanya Dedi pura-pura tidak tahu


“Oya, terakhir aku dengar kabar Coco akan menikah”kata Dedi


“Iya..aku juga dapat kabar itu”kata Daniel


“Kamu tak masalah dengan itu Vi?”tanya Dedi


“Syukurlah kalo dia bahagia di sana. Sampaikan salamku padanya”kata Vivi


“Aku temui Anti dulu ya”katanya berpamitan pada Dedi dan Daniel


“Bisa aku minta nomor hp mu Vi?”tanya Dedi


“Maaf ya, kapan-kapan saja kita ngobrol lagi”katanya lalu meninggalkan Dedi dan Daniel.


Setelah Vivi pergi, Daniel menelponku.


“Kamu sudah dengar kan?”tanya Daniel


“Menurutmu bagaimana reaksinya ketika mendengar aku akan menikah”tanyaku penasaran.


Karena memang tempatku lumayan jauh dari tempat mereka ngobrol. Jadi aku tak melihat dengan jelas, ekspresi wajahnya maupun


reaksinya kala itu.


“Sepertinya dia sangat terkejut mendengar berita itu”kata Daniel


“Kenapa kau tak kesini saja sekarang?”tanya Daniel


“Tidak..aku tak bisa”


Akhirnya sampai pesta pernikahan Anti selesai, aku sama sekali tak bertemu dengan dia. Sempat dia berjalan melintas di samping mobilku. Rasa-rasanya ingin kubuka pintu mobilku, lalu kutarik dia masuk ke dalam mobil. Ingin rasanya kupeluk dia saat itu juga. Tapi itu tak kulakukan.


Aku memilih bertemu dengan Anti.


"Anti" sapaku pada Anti yang baru ngobrol dengan keluarganya.


"Coco?"


Anti yang tak menduga kedatanganku terlihat sangat kaget. Kamipun berbicara berdua.


"Selamat ya An..akhirnya kamu menikah dengan kak Ilham"


"Terimakasih Co"


"An..aku jauh-jauh ke sini karena aku ingin meminta bantuanmu."


"Bantuanku?"


"Iya..aku minta tolong berikan aku informasi tentang Vivi. Di mana dia sekarang?"


Awalnya Anti menolak memberiku informasi tentang keberadaan Vivi.


“Maaf Co..aku tak bisa memberimu informasi tentang Vivi”kata Anti


“Tolonglah Anti..aku sudah lama sekali mencari Vivi”


“Lima tahun aku mencarinya. Bayangkan? Lima tahun? Aku mencarinya kemana-mana seperti orang gila”kataku meluapkan emosiku selama ini


“Kamu juga berbohong pada Dedi dan Daniel selama ini”kataku


“Tapi aku sudah berjanji pada Vivi..tolong mengertilah Co”kata Anti


“Sudah terlalu lama kami dipisahkan oleh keadaan. Aku percaya dia pasti juga menderita sepertiku”kataku mencoba meyakinkan Anti.


“Tolonglah Anti..aku sangat mencintai Vivi”kataku memelas


“Biarlah dia yang memutuskan nantinya. Setidaknya biarkan kami bertemu”kataku


"Jadi kau sudah tahu alasan Vivi pindah dan meninggalkanmu lima tahun lalu?"tanya Anti


"Iya..aku sudah tahu. Mamaku sudah menceritakan semuanya padaku. Karena itu, ijinkan aku bertemu dengan Vivi..aku sangat merindukannya An.."


"Maaf Co..aku tak bisa..aku sudah berjanji pada Vivi takkan memberitahukan keberadaannya pada siapapun"


"Bahkan padaku? Aku sangat mencintai Vivi, An..kau pasti juga tahu itu, kami saling mencintai"


Aku dan Anti bersitegang lama. Hingga akhirnya Anti pun luluh juga setelah melihat keseriusanku mencintai Vivi.


Dari Anti aku tahu alamat Vivi. Ternyata dia pindah ke Solo, kota kelahiran ayahnya. Anti tak memberiku nomor baru Vivi. Aku hanya bisa pasrah saja.


Aku pun kembali ke Cina. Aku semakin bersemangat kali ini.


Bolak-balik Indonesia Cina aku lalui. Dengan harapan bisa segera bertemu dengan dia. Ternyata itu tak semudah yang kupikirkan.


Alamat yang diberikan Anti adalah alamat orangtuanya. Sementara Vivi memilih nge-kost selama kuliah. Dan orangtuanya tak tahu alamat kos nya, karena Vivi tak pernah memberitahu mereka. Lagipula mereka masih dalam satu karesidenan Solo. Makanya orangtua Vivi juga tak merasa perlu tahu di mana putrinya kos.


Hampir saja aku putus asa mencari tempat kost Vivi selama di Solo.


Sampai akhirnya kubaca CV –nya di antara tumpukan pelamar yang mendaftar bekerja di klinik baru yang didirikan Caroline, pacar sekaligus calon istri Rafael kakakku.


“Kenapa Co? Senyum-senyum gitu setelah baca CV calon perawat klinikku. Ada yang cantik ya?”tanya Caroline padaku


Aku tunjukkan CV milik Vivi pada Caroline. Dia membaca nama yang tertera di sana.


“Viviane Mikaylafayza Putri. Ehmm..Cantik juga? Seleramu bagus juga. Eh tunggu..kenapa aku seperti familiar dengan nama ini ya?”


Aku tersenyum.


“Dia Viviku”ucapku sambil terus memandang CV yang ada di tanganku.


“Benarkah? Jadi dia Vivi? Vivimu Co? Gadis yang selama ini kamu cari-cari?”


Aku mengangguk tanpa melepaskan pandanganku pada CV itu.


“Akhirnya..kau bertemu juga. Selamat Co..aku ikut senang untukmu” ucap Caroline membuatku sangat bahagia, akhirnya takdir justru mendekatkan dia padaku.


“Aku akan hubungi dia sekarang juga” ucap Caroline dengan bersemangat


“Apa kau akan menemui dia sekarang?”


Aku ragu. Jika aku muncul tiba-tiba di depannya, apakah dia akan mengenaliku? Apakah dia akan menerimaku lagi? Ataukah dia akan pergi meninggalkanku?


“Kenapa diam Co?”tanya Caroline yang justru membuyarkan lamunanku.


“Aku bingung. Apa dia akan meninggalkanku lagi setelah ketemu denganku?”


Caroline duduk di sampingku dan menepuk bahuku.


“Kalau begitu kita cari cara supaya kalian bisa bertemu tanpa dia bisa menghindar”


Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Caroline saat mengucapkan itu semua. Tapi aku setuju dengannya. Aku tak boleh gegabah dan harus membuat rencana yang matang supaya kami bisa bertemu dengan lebih natural. Tanpa dia bisa menghindar.