Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Berkenalan dengan Dila



Akhirnya kami pun berangkat menuju panti asuhan yang sudah kami tentukan. Rencana ada tiga tempat yang kami gunakan untuk menyalurkan donasi hasil bazar. Aku dan Aldi kebagian pergi survei ke panti Asuhan Aisyiyah yang letaknya lumayan dekat dengan sekolah. Kami ditemui kepala panti asuhan. Kami di sana selama beberapa waktu. Setelah selesai interview, aku dan Aldi pamit. Kami kemudian istirahat sebentar di dekat panti asuhan sambil minum es krim.


“Maaf ya kalo tadi teman-teman bikin kamu ga nyaman”ucapku pada Aldi sambil menikmati es krim di tanganku.


Aku takut dia merasa tidak nyaman dibilang couple-an denganku. Walaupun sebenarnya kami sama sekali tidak janjian.


“Ga papa kak”jawabnya sambil tersenyum.


“Syukurlah..aku tadi sempet kuatir kalo sampai kamu ga nyaman”


“Aku selalu merasa nyaman kalo sama kak Vivi”ucap Aldi tiba-tiba membuatku kaget.


Aku akui saat itu, hatiku bergetar mendengar ucapan manis Aldi. Aku tak mengira dia akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Apalagi tatapan matanya saat itu benar-benar tulus. Membuatku salah tingkah saja.


“Hahahaha..kamu belajar dimana kata-kata semanis itu? Jangan bilang kamu udah berguru sama si Arsy?”tanyaku sambil kupukul bahunya.


Dia ikut tertawa sambil mengelus bahunya yang barusan aku pukul. Kami pun akhirnya ngobrol banyak hal. Tiba-tiba,


“Kak Vivi udah pernah pacaran?”tanya Aldi


“Hah? Pacaran?”aku bingung dengan pertanyaan mendadak Aldi.


“Iya..”


“Kenapa tiba-tiba tanya masalah itu? Aldi udah punya pacar?”


Dia menggeleng pelan.


“Ga kak..Aku..belum pernah pacaran”jawabnya lugu


“Hah? Yang bener Al? Kamu pasti bohong. Ya kan? Masak cowok sekeren kamu ga pernah pacaran?”


“Kalau cewek yang nembak aku sih ada lah kak”


“Tuh kan”


“Tapi..sayangnya di antara mereka belum ada cewek yang bener-bener aku suka”


“Masak sih? Bukannya cowok sekeren kamu gini tinggal nunjuk ya? Pada ngantri yang pingin jadi cewekmu”godaku padanya


“Tapi akhir-akhir ini ada seseorang yang aku suka”


“Oh ya? Siapa? Aku kenal ga?”tanyaku pelan sedikit penasaran. Cewek seperti apa yang disukai cowok seganteng dan sekeren Aldi.


“Ehmm..kasihtau ga ya?”


Aku cemberut mendengar jawaban Aldi.


“Kalau ga mau ngasihtau..ngapain tadi bilang segala..hishhh”


Dia yang mendengar keluhanku malah cekikikan.


“Kakak kenal kok..kenal dekat malahan”


“Oh ya? Siapa? Dia junior PMR kita?”


“Bukan”


“Hah? Senior PMR? Seangkatanmu?”


Dia menggeleng sambil tersenyum.


Ni anak kenapa malah ngajak main tebak-tebakan sih? Bikin penasaran aja..


“Bukan? Berarti angkatanku?”


Dia mengangguk pelan.


“Angkatanku? Beneran? Siapa? Denise?”


Dia menggeleng.


“Nisa?”


“Bukan”


“Ehmm..Jangan-jangan Anti ya?”


“Kakak ga bisa nebak ya?”


“Iiihhh..Siapa sih Al? Ga usah main tebak-tebakan deh”


Aku gemas sendiri mendengar jawaban Aldi yang malah main tebak-tebakan denganku. Dan dia hanya melempar senyum manisnya melihat aku yang sudah tak sabaran ingin mendengar sosok yang disukai seorang Aldi.


“Siapa sih Al? Kasihtau..aku janji deh ga akan bilang siapa-siapa”


“Beneran kak?”


“Iya..beneran”


Ditengah aku memohon seperti itu, tiba-tiba hp Aldi berdering. Ada telpon masuk.


“Sebentar ya kak..aku angkat telpon dulu”


Aku mengangguk. Aldi kemudian merogoh hp di saku celananya lalu menggeser tombol hijau di layar hp nya. Rupanya adiknya yang menelpon. Mereka berbincang beberapa saat. Aku menunggu sambil menghabiskan es krimku.


“Maaf kak..nunggunya lama ya..”


“Ga papa”aku tersenyum padanya


“Kamu mau kemana?”


“Adikku minta dijemput. Kebetulan mama baru repot, jadi aku harus menjemput adikku di tempat les. Aku antar adikku pulang dulu baru aku antar kakak pulang. Gimana Kak?”


“Kamu jemput adikmu aja..aku nanti bisa kok pulang naik ojek online. Ga papa”


“Ga bisa. Aku tadi udah ngajak kakak, jadi aku pasti antar kakak pulang”


“Eh..beneran gapapa Al..aku bisa kok pulang sendiri..udah biasa kali pulang sendiri”jawabku tulus


“Aku yang ga mau kak..Aku Cuma bentar kok..Kak Vivi ikut aku ya?”


Kami malah berdebat hanya karena Aldi keukeuh ingin mengantarku pulang. Akhirnya aku mengalah. Kami pun berangkat ke tempat les adiknya yang ternyata lumayan dekat dengan tempat kami istirahat tadi. Sampai di tempat les, Aldi memarkir motornya. Seorang gadis kecil yang sangat cantik berlari mendekati Aldi dan aku.


“Kakak lama banget sih? Aku kan takut sendirian”


“Ini juga udah cepet, bawel”


Aku suka melihat interaksi kakak beradik ini. Mereka terlihat sangat akrab. Adiknya menatapku.


“Halo”sapaku pada adik Aldi


“Halo juga..kakak cantik! ehmmm, tunggu-tunggu…kayak kenal deh? Dimana ya?”


Aku kaget mendengar ucapan adik Aldi.


Hah? Kenal gimana? Orang juga baru pertama kali ketemu..


“Udah..ngobrolnya dirumah aja”Aldi menarik tangan adiknya untuk pulang.


“Ihh..kak Al, lepasin..iya..iya..kita pulang”


But wait, motor Aldi kan motor besar terus kami boncengan bertiga gitu?


“Kalian pulang aja ya..motornya ga muat kalo bertiga..aku naik ojek online aja dari sini”


“Muat kok kak..aku kan imut..lagian rumah kami juga ga terlalu jauh dari sini”


“Begitu ya?”


“Iya..kakak cantik ikut aja”Adik Aldi langsung menggandeng tanganku dan mengajakku naik motor Aldi.


Akhirnya kami bertiga naik motor itu. Sepanjang perjalanan kami seperti tontonan bagi orang-orang. Boncengan bertiga naik motor sport besar bukanlah hal yang biasa. Aku sebenarnya malu tapi ya sudah lah. Aku berusaha tak menghiraukannya.


Setelah berkendara selama beberapa saat, tibalah kami di depan sebuah rumah minimalis berlantai 2. Rumah Aldi. Rumah bernuansa modern minimalis berwarna putih itu sangat bagus. Kaca-kaca besar tampak mendominasi bagian depan rumah. Aku pun dipersilahkan masuk ke dalam rumah Aldi. Aku duduk di ruang tamu ditemani adiknya.


“Kakak cantik namanya siapa? Aku Adilla. Panggil aja Dila”


“Aku Vivi..seniornya Aldi di PMR”


“Kak Vivi cantik deh”


“Makasih”


“Dila kelas berapa?”


“Aku kelas enam kak”


“Bentar lagi ujian ya? Sama..kakak juga..Semangat ya Dila”


“Iya kak..makasih”


Dari yang kulihat Dila sifatnya sama seperti Aldi. Anaknya ceria dan ceplas-ceplos.


“Bentar deh kak..kayaknya aku beneran pernah liat kakak..tapi dimana ya?”


“Ngomongin apa sih?”tanya Aldi sambil menyuguhkan segelas minuman untukku.


“Makasih..jadi ngrepotin kan”


“Ga repot kok kak”


“Ahhh..bener..kakak yang di wallpaper…ummmmhh”tiba-tiba Aldi membungkam mulut adiknya. Tatapan mata mereka sangat mencurigakan.


“Wallpaper apa Dila?”aku jadi penasaran


“Ga papa kok kak..dila cuma asal ngomong doang”jawab Aldi masih dengan satu tangannya membungkam mulut adiknya. Aldi kemudian menarik adiknya menjauh dari ruang tamu. Kudengar mereka seperti berdebat di dapur, tapi apa yang mereka perdebatkan aku kurang jelas mendengarnya. Aku memilih menghabiskan minuman yang disuguhkan Aldi tadi.


Ketika mereka kembali dari dapur, wajah Dila setengah ditekuk. Sepertinya perdebatan mereka tadi membuat Dila kesal.


“Kamu ga papa Dila?”


“Itu kak Al..nyebelin”


Akhirnya kami bertiga, Aku, Dila dan Aldi ngobrol bersama sambil menunggu mamanya Aldi pulang.


“Kak Vivi anak ke berapa?”tanya Dila padaku


“Aku anak tunggal”


“Oh ya..coba kak Vivi yang jadi kakakku pasti asyik..daripada kak Al..nyebelin”


“Daripada kamu..bawel”ledek Aldi


“Tuh kan kak..kak Vivi lihat..kak Al tuh nyebelin”rengek Dila sambil merangkul lenganku.