
Tiga hari setelah pemeriksaan itu, aku akhirnya dikuret. Kuret merupakan tindakan bedah pengerukan dinding rahim. Tujuannya untuk membersihkan rahim dari sisa janin sehingga organ reproduksiku bisa kembali pulih dan aku bisa hamil lagi.
Setelah mendaftar di UGD, kami diarahkan ke bangsal di UGD. Kami menunggu di sana sangat lama, berjam-jam. Coco dengan setia selalu menemani aku. Aku bersyukur memiliki suami seperti Coco yang selalu ada untukku.
“Kamu gugup?”
Aku menggeleng.
“Kamu harus kuat”
“Makasih ya sayang”ucapku
Coco mencium keningku dan menggenggam tanganku. Kami berbincang ringan. Bisa kulihat Coco ingin menenangkan diriku.
Akhirnya setelah menunggu beberapa jam, dokter dan perawat akhirnya menyuntikkan anestesi padaku. Beberapa jam sebelumnya perawat juga memasukkan obat misoprostol (Cytotec) yang dimasukkan secara oral atau vaginal untuk melembutkan leher rahimku.
Setelah mendapat suntikan anestesi, aku sama sekali tidak sadar. Jadi aku tak tahu saat dokter melakukan pembedahan kuretase padaku.
Aku sadar setelah kurang lebih 1 jam setelah pembedahan. Ketika kubuka mataku, kulihat Coco duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku erat.
“Kau sudah sadar sayang?”
Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
“Aku lama ya?”
“Sejam lah. Gimana ada yang sakit?”
Kuusap perutku. Seketika airmata membasahi pipiku. Aku menangis.
“Tak apa. Jangan menangis sayang”ucap Coco lembut
Coco kemudian memeluk tubuhku.
Entahlah..rasanya masih menyesakkan dalam dada saat kebahagiaan akan segera menimang buah hati kami, hilang seketika. Rasanya menyakitkan.
Setelah agak mendingan dan sudah kuat, aku diantar perawat menuju kamar inap kami. Sementara itu Coco mengurus semua administrasi rumah sakit. Baru kemudian kami diijinkan pulang.
*
*
*
*
Sejak di kuret, entah mengapa aku jadi lebih sensitif. Aku juga gampang menangis. Terlebih jika tanpa sengaja aku bertemu anak kecil atau bayi. Atau melihat pasangan suami istri yang sedang bersama buah hati mereka. Ada sedikit rasa iri dalam hatiku melihat kebahagiaan mereka.
Mungkin karena melihat aku yang terus bersedih, Coco berencana mengajakku jalan-jalan ke luar negeri. Honeymoon lagi katanya. Tapi aku memang sedang tak bersemangat melakukan apapun. Dan itu berlangsung hampir tiga bulan lamanya. Selama itu Coco selalu berusaha menyemangatiku dan menenangkanku. Setiap ada waktu, dia pasti akan mengajakku jalan-jalan keluar kota. Atau hanya mengajakku ke mall.
Hari itu, seperti biasa Coco berangkat ke kantor. Aku di rumah bersama Uti dan beberapa ART. Tiba-tiba dari arah luar, kudengar bel rumah berbunyi.
“Ting tung”
“Siapa itu mbak? Coba mbak Intan liat ya?”pintaku pada mbak Intan sedang menemaniku mengupas
buah.
“Baik non”
Beberapa saat kemudian,
“Siapa mbak?”tanyaku pada mbak Intan yang sudah masuk lagi ke ruang keluarga tempatku menonton TV.
Kulihat di belakang mbak Intan ada gadis yang dulu sempat bertemu denganku saat perjamuan keluarga besar Coco. Renata. Iya..namanya Renata.
“Renata?”
“Halo”sapa Renata padaku sambil memeluk tubuhku sebentar.
Kulihat Renata datang dengan sebuah koper besar dibawa oleh Pak Ihsan.
“Ini ditaruh dimana ya non?”
“Taruh di kamar tamu aja Pak..Terimakasih Pak”ucapku pada pak Ihsan
“Kamu kapan datangnya Rena? Duduklah”
“Aku baru sampai tadi. Terus aku langsung kesini”
“Ada perlu apa kamu kesini? Bawa koper juga. Apa kamu mau menginap disini?”
“Apa mami belum memberitahumu?”
Aku menggeleng. Karena memang mama tak memberitahuku apapun.
“Coba aku telpon dulu ya”
Akhirnya kutelpon mama. Dari mama aku baru tahu ternyata Renata baru libur semester. Dia ingin liburan di Indonesia. Dan ingin menginap di rumahku selama beberapa hari sebelum ke Jakarta menemui keluarga besarnya.
“Gimana?”tanya Renata
“Mama udah bilang kamu akan menginap disini beberapa hari”
Aku akui hubunganku dengan Renata tidak terlalu akrab. Entah kenapa kami seperti tak bisa akur. Kami memang baru beberapa kali bertemu. Yang kutahu, keluarga Renata adalah masih keluarga jauh mama.
“Kau istirahatlah dulu di kamar”
Kulihat Renata malah clingukan seperti mencari sesuatu.
“Kamu nyari apa?”
“Coco mana?”
“Suamiku sedang kerja”
Jujur aku merasa tak suka karena Renata mencari Coco. Apa dia lupa kalua Coco itu suamiku?
Sore harinya saat Coco sudah pulang dari kerja, seperti biasa aku selalu menunggunya di depan pintu. Setelah menyerahkan kunci mobil pada Pak Ihsan, Coco menghampiriku. Aku selalu berusaha tersenyum di depan suamiku yang hari itu pasti lelah setelah seharian bekerja.
Kucium punggung tangannya. Dia membalas dengan mencium keningku. Itulah kebiasaan kami setelah menikah. Sebelum berangkat dan setelah pulang kerja, aku selalu mencium punggung tangan suamiku. Dan dia selalu membalas dengan mencium keningku. Setelah itu kami masuk ke sdalam rumah. Kulingkarkan tanganku di lengannya sambil kusandarkan kepalaku.
“Apa kau lelah? Bagaimana kerjaanmu hari ini?”
“Tidak banyak yang aku kerjakan hari ini. Seharian ini kamu ngapain aja?”
“Ehm..nonton TV..main hp..nonton TV..main hp..hahaha”jawabku karena aku memang tidak melakukan apapun hari ini
Coco yang mendengar jawabanku malah mencubit hidungku.
“Ihhh..sakit Co”gerutuku sambil cemberut membuat Coco malah tertawa
“Nonton TV terus apa ga bosan?”
“Ya bosan..lha terus mau ngapain lagi. Kau juga tak mengijinkan aku kerja”
Ditengah percakapan kami sore itu, tiba-tiba Renata datang.
“Cocooooo”
Aku dan Coco menoleh bersamaan.
“Renata?”
“Kamu kaget kan melihatku disini?”ucap Renata sambil terus tersenyum pada Coco
“Ngapain kamu disini?”tanya Coco ketus
“Iihh..kamu ga asyik banget sih Co..aku kan kesini pingin ketemu kamu”ucap Renata sambil cemberut.
Gadis manja itu kenapa setiap bertemu Coco selalu membuatku kesal dengan sikap manjanya itu? Padahal dia sudah kuliah mau masuk semester tiga tapi kelakuannya masih seperti anak SMA. Manja banget.
“Ngapain anak kecil itu disini?”tanya Coco padaku
“Kenapa kamu selalu memanggilku anak kecil sih Co? aku sekarang udah kuliah. Aku bukan anak kecil lagi”gerutu Renata dengan wajahnya yang cemberut.
Tapi Coco sama sekali tak memperhatikan Renata. Dia malah asyik merapikan anak rambutku.
“Mama bilang dia mau menginap disini. Dia baru libur semester. Katanya dia akan disini selama beberapa hari. Gitu kata mama”
“Apa? Nginep?”tanya Coco sambil mengernyitkan dahinya
Aku mengangguk pelan.
“Ga bisa”ucap Coco tegas
“Kok ga bisa sih Co?”tanya Renata
“Ini rumahku. Aku ga mau kamu ada disini. Kalo mau nginep, di hotel atau di rumah kerabatmu yang lain saja. Aku ga mau kamu disini”ucap Coco panjang lebar
“Tapi kenapa Co?”
“Aku ga mau kamu gangguin Viviku”
“Siapa juga yang mau gangguin istrimu. Ge Er”balas Renata
Sebenarnya aku juga bingung dengan hubungan Coco dan Renata. Dari dulu Coco selalu ketus dan tak bersahabat dengan Renata, sementara Renata seperti selalu ingin dekat dengan Coco, suamiku. Karena aku pikir mereka kerabat jauh, aku sih ga terlalu ambil pusing. Tapi memang aku tak bisa akrab dengan Renata. Ga tau kenapa.
“Udahlah Co..biarin dia nginep disini. Paling Cuma beberapa hari”
“Tapi sayang..”
“Itung-itung buat nemenin aku. Gimana?”
Akhirnya aku malah membujuk Coco supaya mengijinkan Renata menginap di rumah kami. Karena tadi mama juga berpesan padaku untuk menjaga Renata selama disini.
“Karena Vivi yang minta, aku ijinkan kamu disini. Tapi ingat, kamu hanya boleh disini selama tiga hari. Setelah itu kamu harus pergi dari sini”
“Kok Cuma tiga hari?”
“Mau ga?”
“Mau”
Coco kemudian menggenggam tanganku lalu mengajakku naik ke kamar kami dan meninggalkan Renata sendiri.
Sampai di dalam kamar,
“Kamu jangan kasar gitu sama Rena”pintaku sambil kubantu suamiku melepas kancing kemejanya.
“Aku cuma ga mau dia disini mengganggu kamu. Anak itu sukanya gangguin orang lain”
“Bukannya dia sukanya gangguin kamu doang?”godaku sambil cemberut.
Karena kenyataannya memang Renata hanya mengganggu Coco. Coco yang melihat wajahku kemudian malah melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Kamu mau ngapain?”
Coco malah hanya senyum-senyum.
“Apa?”
“Kamu cemburu?”
“Hah? Cemburu..ga lah. Ngapain cemburu sama anak kecil seperti itu”
Coco malah memiringkan kepalanya lalu mendekat ke wajahku, lalu dia mencium bibirku. Kami saling berciuman. Kemudian Coco melepaskan ciumannya dibibirku.
“I love you”ucap Coco lembut
“I love you too”
Kemudian…terjadilah yang harus terjadi.
Coco selalu bisa menenangkan hatiku. Yang walaupun kucoba tutupi, aku memang sedikit cemburu pada Renata. Gadis cantik itu walaupun kekanak-kanakan tapi dia juga cantik.
Setelah melewati sore panas kami berdua, kami mandi lalu turun ke lantai bawah untuk makan malam. Kulihat Renata sudah menunggu kami di meja makan.
Coco menarik kursi untukku lalu aku duduk di samping Coco. Aku juga selalu mengambilkan makanan untuk Coco. Selama acara makan, kami tak bicara banyak. Entah kenapa Coco seperti sengaja memanas-manasi Renata. Dia sengaja memintaku menyuapinya.
Kulihat Renata tak memakan makanannya malah sibuk melihat ke arahku dan Coco. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Dengan wajah kesalnya. Aku hanya menurut saja dengan kemauan suamiku.
“Hentikan!”seru Renata membuatku dan Coco kaget
“Kamu tuh kenapa teriak-teriak? Kami baru makan kenapa kamu teriak-teriak seperti itu? Ga sopan tau”tegur Coco pada Renata
“Kalian berdua juga kenapa main suap-suapan kayak gitu?”gerutu Renata padaku dan Coco
“Kami kan suami istri. Yang seperti ini kan namanya ibadah”
“Udah sayang..ga usah berantem”ucapku lirih karena mereka malah seperti berantem di meja makan
“Nyebelin”Renata membuang napkinnya lalu meninggalkan meja makan sambil cemberut.
Kulihat Coco malah tersenyum.
“Co..kok kamu malah seneng sih..Renata marah tuh lho”kataku sambil memukul lengan Coco pelan
“Biarin..anak itu harus tau posisinya. Biar ga gangguin kita terus. Udah kita makan aja. Kamu juga makan yang banyak biar kuat”
“Kuat?”
“Kuat beberapa ronde”bisik Coco di telingaku
Segera saja kupukul lengannya dengan sekuat-kuatnya. Selalu saja dia menggodaku.
“Apaan sih?”
Coco malah tertawa melihat aku yang salah tingkah. Tadi saja sebelum mandi sore kami sudah melakukannya, masak nanti malam lagi..hissshhhh…