Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Arti Dibalik Lirikan Itu



Ketika kami kelas X, kami ditunjuk teman-teman mewakili kelas menjadi kontestan prince and princess school 20XX dalam rangka memperingati ulangtahun sekolah ke 50 tahun.


Awalnya dia menolak, dan malah mengajukan Anti sebagai penggantinya. Arsy juga mencalonkan diri.  Setelah diadakan voting, akhirnya aku dan Vivi yang ditunjuk. Aku sangat senang waktu nama kami diumumkan sebagai pemenang voting.


Ketika masih SMP aku juga pernah ditunjuk mewakili sekolah lomba duta wisata remaja. Walaupun tidak menang, tapi menurutku kontes semacam ini melatih kepercayaan diri untuk tampil di depan umum. Jadi walaupun aku orang yang tertutup, tetapi dengan mengikuti ajang semacam itu, aku bisa menunjukkan sisi lain diriku yang tidak diketahui kebanyakan orang.


Pada hari perlombaan, tak bisa kusembunyikan kekagumanku pada kecantikan Vivi. Dia benar-benar cantik. Untung saja aku membawa buku, jadi aku bisa pura-pura tak memerhatikan dia. Walaupun saat datang, dia menutupi tubuh bagian atasnya dengan jaket. Aku pikir dia sakit, ternyata dia malu karena gaunnya sedikit terbuka.


Dari balik buku itu, ekor mataku bisa menangkap tangan dan kakinya yang selalu bergerak. Aku tahu pasti dia sangat gugup.


Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara, tapi aku tak berani. Dan ketika dia mulai mengajakku ngobrol, aku justru bicara sekenanya. Membuat dia marah dan cemberut. Apalagi ketika dia bilang, harusnya yang jadi partnernya si Arsy saja, karena menurut dia Arsy lebih sportif dan bisa memotivasinya, entah kenapa rasanya aku sangat marah mendengar dia mengucapkan nama lelaki lain.


Akhirnya ketika tiba giliran kami melangkah di karpet merah, kuberanikan diriku untuk menggandengnya. Aku arahkan lenganku padanya, dan dengan tersipu malu dia melingkarkan tangannya di lenganku.


Kuberanikan diri juga untuk memujinya dan menyemangatinya.


Aku katakan padanya,


“Tak usah gugup. Kamu..cantik sekali hari ini”


Aku mengatakannya tanpa melihat kearahnya, karena aku malu. Aku hanya sanggup melirik kearahnya tanpa dia sadari.


Dia yang mendengar pujianku, tersenyum dengan sangat manisnya.


Rupanya gaun yang dipakainya memang terbuka di bagian dada. Itu sebabnya dia merasa malu. Beberapa kali kulihat dia yang sepertinya tidak percaya diri dengan penampilannya yang sangat cantik, mencoba menutupi bagian dadanya dengan tangannya.


Sebagai lelaki normal, tentu aku suka melihat gadis berpakaian terbuka. Apalagi dia sangat cantik memakai gaun itu. Tubuhnya yang tinggi langsing, sangat pas dengan gaun panjang yang dipakainya. Apalagi body nya yang langsing dengan lekuk tubuh yang sempurna, benar-benar menjelma menjadi seorang putri hari itu.


Tapi sejujurnya aku juga tak suka jika lelaki lain melihat dia dengan tatapan yang sama denganku. Andai saja gaunnya lebih tertutup. Aku tak suka lelaki lain menikmati tubuhnya yang terbuka seperti itu.


Saat di aula, aku menunjukkan kemampuanku memainkan piano. Aku memainkan sebuah instrument music berjudul River flows in you karya Yiruma. Sebuah instrument music favoritku. Aku suka sekali karya Yiruma. Dia adalah salah satu musisi kesukaanku. Hampir semua karyanya aku suka dan aku kuasai. Tetapi memang yang paling kusuka adalah River flows in You. Itu sebabnya hari itu aku memainkannya. Selesai memainkan lagu itu, aku bangga pada diriku sendiri setelah mendapat standing ovation dari para juri dan peserta lomba. Termasuk Vivi yang bertepuk tangan dan tersenyum sangat indah padaku. Membuatku ikut tersenyum. Ketika turun dari panggung dan berpapasan dengan Vivi di tangga, aku beranikan diriku memberinya semangat.


“Semangat ya” bisikku padanya.


Aku tertawa kecil saat melihat dia mematung setelah kuberi dia semangat, sampai-sampai dia ditegur salah satu panitia untuk segera turun. Vivi-ku yang sangat menggemaskan dengan ekspresi kagetnya waktu itu benar-benar membuatku terhibur.


Hari itu, dia menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi. Suaranya sangat merdu. Membuatku benar-benar terpaku pada pesonanya. Sebelum lomba, aku minta tolong kakak sepupuku yang juga panitia lomba untuk merekamkan suara Vivi. Awalnya kakak sepupuku menolak, bahkan menggodaku bahwa aku naksir Vivi. Tapi aku berkilah, Vivi sendiri yang minta direkam, buat kenang-kenangan. Untung saja kakak sepupuku percaya ucapanku. Sehingga aku punya rekaman suara Vivi yang menyanyikan lagu How can I not love you.


Selesai lomba, aku ingin mengambil foto. Aku minta Dedi memfotokan diriku yang tampan ini, hahahaha..Karena penampilanku hari ini memang lain dari hari-hari biasa, jadi aku ingin mengabadikan momen ini.


Kebetulan tempat yang kupilih mengambil foto, sama dengan yang digunakan Vivi.


Tapi ketika melihat aku masuk ruang seni, dia buru-buru mengajak Anti keluar ruangan. Dia beralasan sudah selesai mengambil foto dan akan kembali ke kelas. Untung saja aku sempat mengambil fotonya, walaupun tanpa ijin. Foto-foto yang aku ambil saat dia sudah keluar dari ruang seni. Dia sangat cantik, seperti bidadari. Cantik sekali.


Selesai lomba kami diperbolehkan kembali ke kelas. Karena aku haus, aku mampir sebentar ke kantin membeli air minum. Sesampainya di kelas, aku kaget melihat Vivi dan Arsy malah asyik berfoto berdua. Mereka berfoto dengan ekspresi wajah yang sama hingga membuat teman-teman menggoda mereka, bahwa wajah mereka mirip.


Mereka berfoto sangat dekat. Membuatku merasa sangat marah. Akupun tak kuat berlama-lama di kelas melihat kedekatan Arsy dan Vivi. Akhirnya kuputuskan keluar kelas. Saat di ambang pintu, sempat aku menengok lagi sebentar ke arah Vivi dan kutatap dia dengan tajam. Karena aku memang benar-benar marah. Andai dia tahu alasan kemarahanku..


Ketika pengumuman pemenang, kami dipilih juri menjadi pemenang pertama. Aku sangat senang sekali. Apalagi ketika pengumuman pemenang, saking senangnya, dia memegang tanganku sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. Bisa kulihat dia juga sangat senang.


*


*


*


*


Dua hari setelah kontes prince and princess, aku Dedi dan Daniel pergi melihat pensi di sekolahku. Sebenarnya aku malas jika harus melihat banyak orang. Aku tak nyaman jika harus berdesak-desakan dalam kerumunan orang-orang.


“Kamu tuh ga bosen, di rumah terus?”tanya Daniel


“Ga”jawabku singkat


“Aku malas kalo liat banyak orang. Mending aku di rumah aja”


“Dasar ga setiakawan emang kamu Co”ejek Dedi


“Eh..aku denger nanti Anti mau perform, pasti Vivi juga datang kan?”ucap Daniel sambil melirik Dedi.


Mendengar nama Vivi disebut, membuatku tiba-tiba bersemangat untuk ikut. Aku langsung bangun dari tempatku.


“Aku ganti baju dulu kalo gitu”kataku


Dedi dan Daniel malah tertawa terbahak-bahak melihat aku yang tiba-tiba ingin ikut ke pensi.


“Coco..Coco..baru denger nama Vivi aja dah semangat gitu..Dasar emang kamu Co”goda Daniel padaku


“Udah kesengsem beneran tu anak”ucap Dedi menimpali


Tapi aku tak perduli. Aku yakin Vivi pasti juga datang, karena seingatku Anti memang perform di pensi. Akhirnya aku putuskan ikut Dedi dan Daniel ke pensi di sekolah.


Sesampainya di sekolah, suasana sudah benar-benar ramai. Banyak orang yang datang dan lalu lalang. Aku melihat ke segala arah, mencari keberadaan Vivi tapi memang sangat susah menemukannya di acara itu.


Karena Dedi dan Daniel mau persiapan dulu sebelum perform, akhirnya aku sendirian. Aku yang putus asa karena tak menemukan Vivi akhirnya memilih pergi ke gedung B, gedung kelas XII. Aku melamun sendirian di tangga lantai dua. Karena aku memang tidak terlalu suka berada dalam kerumunan orang-orang yang tak kukenal. Aku memilih menyendiri di sana.


Aku kaget, saat sedang asyik melamun, tiba-tiba tanpa kuduga aku malah bertemu dengan Vivi di sana. Dalam hati aku sangat senang karena bisa berdua dengan Vivi. Aku bisa menebak dia pasti ingin foto di gedung B ini, karena biasanya memang gedung ini dijadikan spot foto oleh anak-anak di sekolahku. Aku pun menawarkan diri memfotonya. Sebenarnya aku ingin tertawa namun kutahan. Saat aku melihat dari layar hp nya, ekspresi wajah Vivi yang tanpa senyum seperti orang yang bengong. Tapi dia memang cantik. Bagiku bengong pun dia tetap cantik.


Dan setelah memfotonya, ganti dia yang memfotoku. Jujur saja aku bingung harus berekpresi seperti apa di foto itu, karena aku memang jarang foto. Akhirnya aku memilih duduk di dekat jendela. Padahal aku sama sekali tidak tersenyum, tapi Vivi bisa-bisanya memujiku dengan mengatakan aku seperti fotomodel.


Selesai sesi foto, aku akhirnya memberanikan diriku mengajaknya kembali ke lapangan untuk melihat Dedi dan Anti perform. Dia yang kuajak malah bengong. Sepertinya dia tak menyangka akan aku ajak. Ingin rasanya aku cubit pipinya karena dia selalu saja menggemaskan dengan ekspresi bengongnya itu.


Karena Dedi dan Anti masih lama, aku mengajak Vivi membeli makanan dan minuman. Dia membeli cilok dan aku membeli thai tea. Aku baru tahu ternyata Vivi suka jajanan kaki lima seperti itu. Sambil menunggu perform Anti dan Dedi, kami menikmati makanan dan minuman yang ada di tangan kami masing-masing. Mungkin karena aku dan dia jarang bicara, membuat suasana menjadi canggung dan kaku. Padahal aku ingin sekali mengajaknya bicara. Beberapa kali aku mencuri pandang ke arah Vivi, karena posisi berdiri kami yang sangat dekat.


Sempat beberapa kali karena penonton yang menyaksikan penampilan grup band metal yang sedang perform, berjingkrak-jingkrak hingga menyenggol penonton yang lain. Karena aku takut Vivi tersenggol penonton yang atraktif itu, aku sampai harus menggeser posisi Vivi supaya mendekat ke arahku dan menjauhi penonton yang berjingkrak-jingkrak tadi. Dianya malah asyik memakan batagor di tangannya tanpa memperhatikan sekitarnya. Membuatku menggelengkan kepalaku melihat tingkah Vivi yang ga peka.


Ketika Dedi perform, Vivi sempat mengajakku ngobrol.


“Kamu ga ikut band-nya Dedi? Kamu kan pinter main piano”


“Ga”


“Kenapa?”tanyanya lagi.


“Males”


Mungkin karena aku hanya menjawab sekenaku, membuat Vivi tak lagi mengajakku bicara. Membuatku merutuki perbuatanku sendiri.


Aku sempat dibuat panas saat Arsy yang bertemu kami sebelum perform taekwondo. Arsy dengan seenaknya memakan cilok yang ada di tangan Vivi. Membuat Vivi protes keras. Lalu memukul lengan Arsy. Interaksi keduanya berhasil menyulut api cemburu di dalam hatiku. Membuatku sangat marah. Aku hanya sanggup menatap keduanya dengan penuh kemarahan. Karena sudah tak tahan melihat keakraban mereka berdua, akhirnya aku memilih pamit pulang.


“Aku duluan ya”pamitku pada semuanya


“Kamu ga nungguin Dedi selesai perform?”tanya Vivi


“Aku masih ada urusan”


Akhirnya aku pun pulang duluan. Sempat aku menengok ke belakang melihat Vivi, yang ternyata masih kesal pada Arsy dan sekali lagi memukul lengan Arsy. Sementara Arsy hanya tertawa saja dipukul lengannya oleh Vivi. Membuatku semakin kesal dan mempercepat langkahku. Aku merasa sangat kesal dan marah melihat interaksi dan keakraban mereka berdua. Karena aku suka Vivi, dan aku tak suka jika Vivi menyentuh lelaki lain di depan mataku.