Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Berpisah Dengan Cintaku



Aku akhirnya mogok makan hari itu. Walaupun aku sudah lapar, tapi aku tak mau keluar kamar. Sayup-sayup kudengar, mama pergi lagi. Entah kemana perginya kali ini. Beliau tak berpamitan padaku.


Esoknya aku bolos sekolah. Aku malas pergi sekolah. Vivi yang akhirnya menengokku. Awalnya kupikir Uti hanya berbohong dengan mengatakan Vivi datang menengokku. Tapi ketika kudengar suara lembutnya, akhirnya aku percaya dia memang datang menemuiku.


Aku sangat bahagia kala itu. Dia datang dengan wajah yang sangat kuatir. Kupeluk dia untuk menenangkan hatiku.


Dia menyuapiku makan bubur dan membiarkan aku tidur sejenak dalam pangkuannya.


Ketika aku terbangun, kulihat dia tidur dengan pulas di ranjangku. Kuamati wajah cantiknya. Kubelai lembut rambutnya.


Tiba-tiba aku ingin sekali lagi mencium bibirnya yang merah merona.


Kuambil hp ku, lalu kuletakkan di atas meja menghadap ke arah aku dan Vivi. Kuabadikan momen berharga itu. Momen ketika aku mencuri ciuman dari bibirnya. Bibirnya yang sangat lembut. Aku dekatkan wajahku perlahan-lahan ke wajahnya.


Lalu..


Kucium dia.


Akhirnya aku berhasil menciumnya (lagi) tanpa ketahuan. Jantungku berdegup sangat kencang waktu itu.


Aku sempat kaget ketika tiba-tiba dia terbangun. Akupun kembali pura-pura tidur dalam pangkuannya.


Untung saja aku tidak ketahuan.


Kami pun mulai berbincang. Kudengarkan semua celotehannya, sambil sesekali ikut tersenyum dan tertawa bersamanya. Ada perasaan damai saat aku bersamanya. Aku bahagia disampingnya. Aku memang menyukainya.. Tidak, bahkan lebih. Aku mencintainya. Aku mencintai gadis ini apa adanya.


*


*


*


*


Ketika suatu hari mama pingsan karena serangan jantung, benar-benar membuatku sangat takut. Tak kusangka mama yang biasanya kuat, tergeletak tak berdaya di hadapanku. Aku takut sekali mama akan meninggal waktu itu. Sejak itu aku selalu berusaha merawat mama. Hingga mama sembuh.


Tapi aku merasa Vivi berbeda. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Dan benar saja, Vivi bilang mama akan menyetujui hubungan kami jika aku mau ke Cina. Mendengar dia setuju dengan rencana mama, membuatku benar-benar marah. Aku tak percaya Vivi justru lebih mempercayai mama ketimbang aku.


Aku tahu hati Vivi sangat lembut, pasti mama merayunya untuk membujukku agar mau ke Cina. Vivi, gadis lugu yang sangat penurut. Tak bisakah dia lebih tegar dan mendukung keputusanku? Aku ingin selalu disampingnya dan menemaninya. Aku percaya jika aku serius dengan sikapku ini, mama pasti akan luluh. Tapi nyatanya mama menggunakan trik ini untuk membujukku. Akhirnya aku pun setuju pindah ke Cina walau dengan berat hati.


*


*


*


*


Di hari keberangkatanku ke Cina aku tak merasakan ada hal yang aneh dengan Vivi. Hanya saja dia memang kelihatan sangat sedih. Bagiku itu wajar, karena kami akan berpisah untuk sementara waktu.


Sepanjang perjalanan ke bandara, kugenggam erat tangannya. Kupeluk dia saat kami akan berpamitan. Kutelpon dia dan kukirimkan video ciuman bibir itu padanya untuk menenangkannya.


Hal yang aneh terjadi saat aku sudah sampai di Shanghai. Ketika kutelpon dia, nomornya tak bisa dihubungi. Awalnya kupikir, baterai hp nya low/mati. Tetapi seharian kucoba telpon, sama sekali tak tersambung. Kucoba mengirim sms dan chat juga tak satupun yang di-read. Aku semakin curiga.


Hari ketiga, akhirnya aku telpon Dedi. Aku minta tolong dia menemui Vivi di rumahnya. Menanyakan kenapa hp nya dua hari itu tak bisa kuhubungi.


"Hei Co.. dah sampe sana ya?" tanya Dedi dan Daniel saat aku video call mereka


"Iya lusa aku nyampe"


"Mukamu kenapa kek gitu?"tanya Daniel


" Guys, sejak sampai di sini aku udah coba hubungi Vivi. Tapi dia susah banget dihubungi. Kalian bisa ga ke rumah Vivi bentar? Aku kuatir banget nih"


"Oo.. kirain kenapa? Yang lagi LDR an dah kangen berat rupanya, hahahaha" goda Daniel


"Sialan kalian.. aku beneran kuatir nih. Soalnya ga biasanya Vivi kayak gini. Aku telpon ga diangkat. Chat dan SMS ku juga ga ada satupun yg di read"


"Iya.. iya.. kita ke sana sekarang. Nanti kita hubungi lagi"


Setelah menutup panggilan dengan Dedi dan Daniel, aku terus mondar mandir menunggu informasi dari mereka berdua. Aku benar-benar kuatir karena ini pertamakalinya sejak kami jadian, dia susah dihubungi hingga berhari-hari.


Tiga puluh menit setelah panggilan itu, Daniel dan Dedi menghubungiku.


"Gimana guys.. kalian udah ketemu Vivi?"


Kulihat wajah Dedi dan Daniel tak seperti biasanya. Membuatku semakin penasaran saja.


"Kalian kenapa?"


"Co.. kita sekarang udah di depan rumah Vivi.. tapi rumahnya sepi banget. Beneran kamu ga dikasih tau Vivi?" tanya Dedi


"Kalian ngomong apaan sih? Ga ngerti aku"


"Tadi kita udah nanya tetangga deket rumahnya. Katanya.. " Dedi dan Daniel tak meneruskan ucapannya.


"Katanya apa? Jangan bikin aku tambah penasaran deh"


"Katanya Vivi udah pindah" ucap Dedi


"APA? PINDAH?"


Aku kaget mendengar berita dari Dedi, bahwa Vivi dan keluarganya sudah pindah.


Kenapa dia pindah? Kemana dia pindah? Kenapa dia tak bicara apapun padaku? Ada apa ini? pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepalaku.


"Kalian tanya ga pindahnya kemana?"


"Kami udah nanya, tapi tetangganya ga ada yang tahu"jawab Daniel


Aku sudah minta Dedi mencari informasi tentang kepindahannya, tapi tak ada satupun tetangganya yang tahu. Anti yang sahabatnya saja juga tak tahu menahu tentang kepindahannya.


Aku bingung karena Vivi tiba-tiba pindah tanpa sepengetahuanku. Dia seperti lenyap ditelan bumi.


*


*


*


*


“Sudah hentikan! Kamu tak usah telpon gadis itu lagi” seru mama mengagetkanku


“Jadi mama tahu, Vivi kemana?”tanyaku penasaran


“Kamu tak akan melihat dia lagi” kata mama membuatku semakin penasaran


“Kenapa mama bilang begitu? Sebenarnya apa yang sudah mama lakukan pada Vivi?”tanyaku penuh amarah


"Beraninya kamu membentak mama seperti itu?"seru mama tak terima mendengar nada suaraku yang meninggi


"Sebenarnya apa yang sudah mama katakan pada Vivi? Katakan ma!"


Mungkin karena sudah sangat marah, akhirnya mama buka mulut juga.


“Mama minta dia meninggalkan kamu”ucap mama tanpa rasa bersalah


Mendengar itu, hatiku menjadi sangat sedih dan marah. Tega-teganya mama memisahkan aku dengan Vivi.


“Kenapa? Kenapa mama tega melakukan itu? Apa salah Vivi pada mama? Kenapa mama tega melakukan ini padaku?" teriakku pada mama


"Mama kan sudah berkali-kali bilang sama kamu. Dia bukan gadis yang tepat buat kamu" seru mama membuatku semakin marah.


"Aaaagghhhhh"


Aku tak percaya mamaku tega memisahkan aku dengan Vivi. Membuat Vivi memutuskan hubungan kami secara sepihak.


Karena sudah tak mampu mengendalikan emosiku, kupecahkan semua perabotan di rumah. Kubanting semua. Aku teriak-teriak seperti orang gila. Karena aku sangat marah. Marah sekali. Kuluapkan semua emosi di jiwaku.


"Pranggg..prangggg"


Semua benda yang kubanting hancur berkeping-keping.


"Coco..apa yang kau lakukan! Rafael hentikan adikmu!"perintah mama pada kakakku Rafael


Melihat aku sangat marah, kakak keduaku melerai. Dia memeluk tubuhku dari belakang. Tapi aku terus menerus meronta.


"MAMA JAHAT!"


Mama terlihat syok melihat kemarahanku. Rasanya hatiku mau meledak. Aku sangat marah.


"Kendalikan emosimu Co!"pinta Rafael


"Lepaskan aku! Aku mau pergi dari sini! Lepaskan aku!"


Aku terus berontak. Aku ingin mencari Vivi-ku.


*


*


*


*


Selama berhari-hari aku terus mengurung diri di kamar. Aku tak mau makan. Tak mau bicara. Aku hanya tidur-tiduran di kamar.


Yang kulakukan hanya memandangi foto-foto kebersamaanku dengan Vivi. Kupandangi wajahnya yang cantik. Kulihat kembali rekaman video kebersamaan kami. Hingga membuatku tertawa, lalu tanpa sadar aku meneteskan airmata di sela-sela tawaku. Pikiranku benar-benar kacau balau. Tekanan batin yang kualami sangat menggoncang jiwaku. Aku hancur karena aku sudah dipisahkan dari gadis yang sangat kucintai. Dan kini aku tak tahu dimana dia berada.


"Co..makanlah dulu" pinta Rafael saat memasuki kamarku sambil membawa makanan untukku.


"Pranggg" kulemparkan piring yang dibawa kakakku hingga makanan itu berserakan di lantai dan piring itu pecah berkeping-keping.


"Kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Apa ini bisa menyelesaikan masalah?"tanya Rafael sambil mencengkeram kerah bajuku


Mama yang melihat Rafael marah padaku, berusaha melerai.


"Rafael..apa yang kau lakukan? Lepaskan!"pinta mama sambil melepaskan cengkeraman Rafael di kerah bajuku.


Melihat perubahan pada diriku, mama sampai-sampai memanggilkanku seorang psikiater. Tapi aku memang tak mau bicara dengan siapapun.


Aku terus membisu.


Pernah satu ketika, entah apa yang terlintas dalam pikiranku, tiba-tiba kuraih botol serangga yang ada di dapur dan kutenggak obat itu. Kuakui pikiranku benar-benar kacau. Aku kalut. Aku tak bisa berpikir dengan jernih lagi. Karena aku tahu, aku takkan melihat Vivi lagi. Aku takkan bisa pulang ke Indonesia.


Aku tak tahu bagaimana aku bisa selamat. Yang aku ingat, setelah menenggak racun serangga itu tenggorokan dan perutku rasanya seperti terbakar. Rasanya sangat sakit. Kemudian aku tak sadarkan diri. Begitu sadar aku sudah berada di Rumah Sakit.


"Aku di mana?"


"Kau sudah sadar Co? Ya Tuhan..syukurlah kau sudah sadar nak"ucap mama sambil berlinangan air mata


"Syukurlah kau sudah sadar Co..kami semua mengkhawatirkanmu"ucap kak Rafael


Kupandangi langit-langit di kamar rumah sakit. Pikiranku kembali menerawang, aku ingat alasanku menenggak racun itu karena aku sangat kecewa pada mama. Aku sedih karena tak bisa kembali ke Indonesia. Aku sedih karena tak bisa bertemu Vivi, gadis yang sangat kurindukan. Gadis yang sangat kucintai.


"Co..cepatlah sembuh! Mama ijinkan kamu kembali ke Indonesia, asal kamu sembuh, kau mau kan?"ucap mama sambil menggenggam tanganku


"Mama akan penuhi semua permintaanmu..asal kau sembuh"ucap mama membuatku menoleh padanya.


"Benarkah?"


"Tentu saja"ucap mama sambil mencium keningku dan beruraian airmata


Kulihat sepertinya perbuatanku yang nekat mencoba bunuh diri telah membuat mama sadar, betapa pentingnya Vivi bagi hidupku.


Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku kembali bersemangat untuk pulih. Namun aku masih menutup diriku dari semua orang. Hingga akhirnya Caroline, teman dekat Rafael kakakku, mencoba mengajakku bicara. Awalnya aku tak mau bicara dengan siapapun. Tapi Caroline selalu mengajakku bicara. Akhirnya perlahan-lahan aku mau bicara. Sampai akhirnya kondisi psikisku perlahan membaik.


Mama juga mulai melunak padaku. Aku diijinkan kembali ke Indonesia.


Akhirnya aku mengambil jurusan Arsitektur di sebuah universitas di Shanghai. Ketika libur kuliah, aku selalu sempatkan ke Indonesia. Aku terus mencari informasi tentang keberadaan Vivi. Tapi selalu gagal. Aku juga minta tolong Dedi dan Daniel untuk mencarikan informasi, tapi semua nihil.