Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Ngilu



Sampai di lokasi EPSP, dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari parkir mobil Dedi dan parkir motor teman-teman. Saat dia memarkirkan mobilnya, dia terlihat sangat keren. Bagaimana tidak, dia memarkirkan mobilnya, dengan satu tangan. Memutar-mutar kemudi dengan satu tangan sambil melihat ke spion sampai mobil terparkir dengan benar.


“Yeyyyyy”sorakku padanya saat dia berhasil parkir dengan sempurna sambil tepuk tangan.


Setelah sampai di lokasi EPSP, semua barang bawaan, baik barang panitia maupun barang peserta EPSP diturunkan semua dari truk. Aku juga ikut membantu memindahkan barang-barang.


“Ayo de’, dicek lagi barang kelompoknya..jangan sampai ada yang ketinggalan di truk ya?” ucap Titan sie transportasi mengingatkan


Melihat adik kelas yang membawa barang segitu banyaknya, mengingatkanku saat menjadi peserta setahun kemarin. Membawa tas gunung, tongkat pramuka dan barang keperluan memasak, tanganku sampai penuh. Belum lagi medan menuju lapangan sangat jauh, benar-benar melelahkan. Tapi semua itu kini malah menjadi kenangan yang tak terlupakan.


Adik kelas membawa semua barang bawaan mereka ke lapangan lokasi kegiatan EPSP karena disanalah mereka akan membuat tenda nantinya. Sementara itu, teman-teman panitia memindahkan barang ke kelas yang memang sengaja diplot menjadi basecamp panitia. Beberapa panitia menyiapkan ruang aula sebagai tempat utama acara EPSP. Yang lain, mendirikan tenda panitia, untuk tempat kami beristirahat.


Aku ikut Coco dan beberapa panitia lainnya membantu adik kelas mendirikan tenda. Kebetulan aku juga senior pramuka, makanya aku juga bisa mendirikan tenda. Ada sekitar delapan tenda peserta yang harus dibuat. Tiga tenda peserta cowok, dan lima tenda peserta cewek.


Cara mendirikan tenda, memang gampang-gampang susah. Diperlukan kerjasama tim untuk bisa mendirikan tenda yang tegak dan kokoh. Perlu pembiasan dan latihan berulang-ulang kali supaya lihai mendirikan tenda. Dan untungnya kemampuan itu aku dapatkan setelah sering mengikuti perkemahan pramuka.


Karena tanah lapangan yang agak keras, aku sedikit kesulitan menancapkan patok. Patok adalah sejenis paku yang terbuat dari kayu atau logam yang menghubungkan antara tali pramuka dengan tali pengait pada tenda. Patok ini harus ditancapkan ke dalam tanah agar tenda dapat berdiri dengan kokoh. Aku sudah berusaha memukul patok menggunakan batu besar yang ada di lapangan.


“De’, minta tolong salah satu carikan batu besar ya buat mukul patok ini”pintaku pada salah satu peserta.


“Iya kak”jawab anak itu lalu berlari mencari batu di sekitar lapangan.


Setelah beberapa saat, anak itu kembali membawa batu yang lumayan besar. Aku pun memukul-mukul patok dengan batu besar itu supaya tertancap ke tanah.


“Bisa ga Vi?”tanya seseorang


Saat aku menoleh ke arah suara, rupanya itu Coco. Dia ikut berjongkok denganku. Kulihat Coco datang membawa palu. Segera saja kupinjam palu itu untuk  memukul patok.


“Eh Co..kebetulan banget..pinjam palunya”Kuambil palu yang dibawa Coco


“Bisa ga?”tanyanya


“Bisa lah..udah kamu bantuin kelompok yang lain. Kamu pakai batu itu aja ya mukulnya, aku pinjam palu ini, hehehehe”


Aku memukul patok logam itu sekuat tenaga. Ga tau kenapa, saat baru memukul patok itu, pukulanku meleset. Palu itu malah mengenai jari tanganku.


“Aduhhh”aku mengaduh karena memang rasanya lumayan sakit.


Coco yang duduk didepanku spontan memegang jariku.


“Gimana sih Vi? Kok bisa meleset? Sakit ga?”tanyanya.


“Ya sakitlah”keluhku karena suara Coco malah terdengar seperti memarahi aku.


Tiba-tiba tanpa kuduga, Coco meniup-niup jariku yang tadi tanpa sengaja terpukul palu. Reaksi spontannya itu berhasil membuatku malu. Malu karena dilihatin adek kelas. Segera kutarik tanganku.


“Sini aku aja yang pegang palunya”ucapnya


Aku kembalikan palu yang sebelumnya kupinjam. Akhirnya malah Coco yang menancapkan patok menggunakan palu untuk mendirikan tenda adik kelas.


“Makasih kak”ucap adik kelas pada Coco hampir bersamaan dengan mata yang berbinar-binar.


Aku tahu mereka pasti ada yang naksir Coco. Karena dia memang populer di antara senior PMR lainnya. Mereka malah tak mengucapkan terimakasih padaku, padahal aku sudah merelakan jariku terpukul palu.


“Kak Vivi juga bantuin lho”ucap Coco padadik kelas sambil menoleh padaku.


“Eh iya..maaf kak Vivi..makasih ya kak udah dibantuin mendirikan tenda”ucap Felicia adik kelasku.


“Iya..ga papa”


Aku dan Coco kemudian pindah ke tenda berikutnya yang masih belum selesai mendirikan tenda.


“Masih sakit ga?”tanyanya sambil memberi isyarat mata mengarah ke jariku.


“Oh..iya..dah mendingan kok”


Setelah kurang lebih 30 menit pendirian tenda, akhirnya semua tenda peserta sudah berdiri semua. Para peserta EPSP langsung memasukkan barang-barang mereka ke dalam tenda. Menatanya dengan rapi.  Karena capek, aku dan Coco istirahat di dekat dapur panitia. Sambil duduk-duduk di atas tikar.


“Ini Vi..minum”ucap Nisa padaku sambil menyodorkan segelas es teh padaku dan teman-teman yang sedang beristirahat setelah lelah membantu mendirikan tenda.


“Eh..iya..makasih Nis”


Segelas es teh manis dingin memang sangat cocok diminum dalam kondisi seperti ini. Segarnya saat menyentuh tenggorokan. Apalagi diminum saat sedang haus-hausnya. Nikmatttt….


“Itu es batunya kamu kunyah Vi?”tanya Coco heran


“Iya”jawabku dengan mulut penuh es batu  kecil


Aku memang punya kebiasaan mengunyah es batu kecil saat minum es seperti ini. Asyik aja rasanya..Tapi mungkin itu hal yang aneh bagi Coco. Karena kulihat dia mengernyitkan dahinya saat menatapku.


“Ga ngilu itu gigi”ucapnya masih dengan wajah penuh keheranan


“Kenapa? Kamu ga pernah coba makan es batu?”


Dia menggeleng cepat.


“Asyik kali..cobain deh. Tinggal kunyah doang”


“Ga ah”


“Ya udah kalo ga mau”ucapku


Kulihat es batu di gelasnya masih banyak dan kecil-kecil. Membuatku ingin memakannya.


“Es batu di gelasmu buat aku aja ya?”pintaku


Dia langsung memindahkan es-es batu itu ke dalam gelasku.


“Yeyyyy…makasih ya”ucapku girang


Dia hanya tersenyum melihat kelakuanku.


“Kayak anak kecil aja Vi makan es batu?”ledek Arsy


“Biarin..ngapain juga kamu kesini? Udah jauh-jauh sana..Tuh diliatin dedek Mira lho”ledekku pada Arsy sambil menunjuk adik kelas bernama Mira yang menatap ke arahku, Coco dan Arsy. Mira adalah pacar baru Arsy. Anak kelas X. Junior PMR yang ikut EPSP ini. Kudengar mereka baru beberapa minggu jadian.


“Iya lho Ar..dedek Mira nanti marah lho” ledek Tiwi


“Nanti kalo sampe nangis lagi gimana lho  Ar?”ledek Dani


“Dah biarin aja..nanti juga capek sendiri iatnya”ucap Arsy enteng


“Hei..gimana sih Ar? Cewekmu marah malah dibiarin..Dasar pacar durhaka kamu tu ya?”omelku


“Habisnya dia berisik banget..Gini ga boleh..gitu ga boleh..childish banget”keluh Arsy.


“Hahahaha” Kami tertawa mendengar keluhan playboy itu.


“Makanya baik-baik sama cewekmu itu”saran Titan


“Lha kenapa dulu kamu “tembak” dia kalo kamu ga suka digituin?”tanyaku


Arsy malah menatapku tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya yang biasanya bawel dan cerewet.


“Kok diem? Jawab dong Ar? Diem aja..Sariawan Pak?”ucapku kesal sambil memukul lengannya. Karena aku memang tak suka diliatin Arsy. Tatapannya jika sudah serius seperti itu malah membuatku tak nyaman.


“Dah lah Vi ga usah ikut campur urusan rumah tangga orang. Aku mau ambil barang di mobil, kamu ikut ga?”ajak Coco  padaku


“Ya udah deh..sekalian aku mau ambil tasku”ucapku pada Coco sambil beranjak dari tempat dudukku.


“Tuh urusin dedek Mira nya..jangan disia-siain”ucapku pada Arsy


Aku susul Coco yang sudah lebih dulu jalan meninggalkanku. Aku setengah berlari untuk mengejarnya. Karena memang langkah kaki Coco lebih lebar ketimbang aku. Dia kan lebih tinggi makanya baru sebentar saja, aku sudah tertinggal agak jauh.


Kami jalan ke arah mobilnya sambil ngobrol. Kami bercanda dan tertawa bersama. Sesekali dia mengacak-acak rambutku. Membuatku kesal dan jengkel sehingga aku balas ingin mengacak-acak rambutnya. Dasar Coco memang tinggi..aku sampai melompat-lompat supaya bisa mengacak-acak rambutnya.


“Iiihhh..curang!!!”


“Hahahaha..”Dia tertawa melihat aku yang tak berhasil menyentuh rambutnya.


“Makanya tumbuh tuh ke atas bukan ke samping” ledeknya mengikuti jargon salah satu produk iklan susu tinggi kalsium yang diformulasikan untuk anak hingga remaja, Susu Hi **.


“Sini kamu..jangan lari”ucapku pada Coco.


Dia yang melihatku sangat kesal malah berlari menghindar. Jadilah kami kejar-kejaran. Tak kuperdulikan adik kelas yang tak sengaja melintas di dekat kami. Mereka sambil cekikikan melihat ulahku dan Coco.