Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Semoga Kau Bahagia



Setelah pertemuan kami saat itu, dia semakin sering berkunjung ke klinik. Bukan untuk menemuiku. Tetapi untuk mengantar dan menjemput dokter Caroline.


Sepertinya dia memang serius dengan ucapannya waktu itu. Dan sepertinya memang dokter Caroline wanita yang akan dinikahinya. Mereka terlihat sangat akrab. Chika dan Lala pun berpikir demikian.


Setiap melihat mereka yang datang bersama dengan penuh kebahagiaan, membuat hatiku sangat sedih. Tatapan mata penuh cinta antara keduanya berhasil mengobrak-abrik hatiku. Tak sanggup rasanya melihat kemesraan mereka berdua. Namun apa mau dikata, mungkin memang hanya sampai disini perjalanan cintaku dengan Coco. Aku harus belajar mengikhlaskan dia bersanding dengan dokter Caroline.


Mungkin memang lebih baik seperti ini. Jadi aku bisa segera move-on dari Coco. Mungkin dengan begini, aku bisa melanjutkan hidupku yang selama enam tahun ini masih terikat padanya walaupun kami tak saling menyapa. Mungkin dengan begini aku bisa melepaskan cintaku padanya. Dan mungkin aku bisa belajar mencintai orang lain yang lebih layak aku cintai. Aldi mungkin. Entahlah..


Tapi ini sungguh sangat berat. Terlalu berat. Beban dalam hatiku karena cinta yang sudah terlanjur menancap kuat di dalam hatiku. Rasanya sakit. Sungguh sakit. Aku harus melepaskan cinta yang selama enam tahun ini membuatku sanggup bertahan. Cinta yang selama hampir Sembilan tahun kumiliki untuknya sejak menjadi secret admirer-nya. Tak kan semudah itu menghilangkan cinta yang sembilan tahun kugenggam. Sakit ini, luka ini harus aku lalui sendiri.


Bahkan menatap wajahnya yang sedang menunggu kepulangan dokter Caroline terasa menyakitkan untukku. Tatapannya yang sangat dingin, tanpa senyum yang dulu selalu tersungging untukku. Dia sangat dekat tapi terasa sangat jauh dariku.


Kami juga tak pernah bicara lagi. Kami benar-benar seperti orang asing. Dan itu membuatku semakin sedih tiap kali melihat dia bersama dokter Caroline. Tapi aku hanya mampu menahan kekecewaan dan kesedihan ini untukku sendiri.


Suatu hari, dokter Caroline menemuiku. Mengajak Aku, Chika, Lala dan beberapa perawat lainnya makan malam.


"Nanti pulang kerja jangan langsung pulang ya?"pinta bu dokter pada kami


"Memangnya ada apa dok?"tanya Chika


Dokter hanya tersenyum.


"Aku mau nraktir kalian semua makan malam yang enak"ucap dokter dengan senyum manisnya


Aku, Chika, Lala, Ferdi dan Sakti langsung saling berpandangan.


"Yeyyy..makan-makan"teriak kami semua kegirangan.


"Terimakasih dok"ucap kami hampir bersamaan.


"Tumben dok ngajakin kita-kita makan? Ada acara apa nih?"tanyaku


Dokter menepuk pundakku sambil tersenyum.


"Ada deh..nanti kalian juga tahu"jawab dokter penuh teka-teki membuat kami semua penasaran.


Dokter kemudian berjalan menuju ruangannya. Meninggalkan kami berlima yang masih penasaran.


"Kira-kira ada apa ya?"tanya Lala


"Udah ngapain dipikirin..yang penting kan nanti kita juga tahu"jawabku


"Apa jangan-jangan...."Chika menggantung ucapannya membuat kami semua menatap Chika dengan sangat serius.


Chika yang kami liatin, malah salah tingkah lalu tertawa terbahak-bahak.


"Biasa aja woiii..aku kan tadi cuma bilang jangan-jangan, hahahaha..serius banget liatnya"sahut Chika


Kami yang merasa sudah dikerjai Chika mendengus kesal bersama-sama.


"Sialan kamu Chik..kirain kamu tahu. Udah ah..balik kerja..bentar lagi pasien datang"ucap Sakti sambil menoyor kepala Chika.


Ferdi dan Sakti kemudian kembali ke ruangan mereka. Sementara aku dan Chika kembali ke meja pendaftaran.


Kulihat Chika masih memasang wajah serius.


"Kamu mikir apa sih Chik? Kamu tuh ga cocok kalo mikir kek gitu?"kataku sambil cekikikan melihat wajah serius Chika yang biasanya ga pernah serius dan sering bercanda.


"Aku cuma mikir, apa ini ada hubungannya sama babang tamvan yang beberapa hari ini bolak-balik kesini. Apa mereka ada hubungan serius?"


"Maksudmu?"


"Siapa tau aja mereka pacaran atau jangan-jangan mereka mau merid, iya kan?"ucap Chika


Degh..


Mungkinkah semua ucapan Chika benar? Benarkah wanita yang akan jadi tunangan Coco adalah dokter Caroline? Kenapa sepertinya memang begitu? Ahhh..semua prasangka ini membuat pikiranku mengelana tak tentu arah. Hatiku juga semakin sesak saja.


Akhirnya malam itu, sepulang kerja dokter Caroline mengajak kami makan di Alila hotel. Hotel yang sama tempatku terakhir kali berbicara dengannya. Awalnya kami hanya berenam. Dokter Caroline, Aku, Chika, Lala, Ferdi dan Sakti. Kemudian seseorang menyusul saat kami sedang makan malam.


“Maaf jika Aku terlambat”ucap seseorang.


Aku mengenali suara itu. Saat aku menoleh ke belakang ternyata benar, itu Coco. Coco datang dari belakangku dan menyapa kami semua. Dia tersenyum pada semua. Aku pun berusaha tersenyum. Dia datang membawa sebuah buket bunga besar yang langsung diserahkan pada dokter Caroline sambil memeluk tubuh dokter dan mencium pipinya.


"Sudah lama?"tanya Coco pada kami semua.


"Belum lama..duduklah"pinta dokter pada Coco dengan senyum merekah di bibir keduanya.


Sungguh pemandangan yang tak ingin aku lihat. Dia yang bermesraan dengan wanita lain. Tepat di depan mataku. Aku pun memilih menunduk ketimbang terus melihat kemesraan yang mereka pertontonkan di hadapanku.


Coco duduk di depanku, di samping dokter Caroline. Kulihat mereka berbicara satu sama lain. Sangat akrab dan mesra. Bahkan dia bisa tersenyum dan tertawa bersama bu dokter. Sesekali aku mencuri pandang padanya. Kadang mataku dan Coco saling bertatapan. Tapi kemudian kualihkan pandanganku. aku takut ketahuan sudah mencuri pandang padanya. Kejadian seperti itu terjadi terus sepanjang santap malam waktu itu.


Ketika makanan sudah selesai kami santap, dokter Caroline membuat pengumuman


"Seperti yang tadi kalian tanyakan, disini aku ingin berbagi kejutan bersama kalian"


“Kenalkan ini Coco. Kami akan segera bertunangan”ujar dokter Caroline


“Kami akan bertunangan minggu depan”kata Coco sambil menatap mesra dokter Caroline.


Dokter Caroline melingkarkan tangannya di lengan Coco.


Hatiku seperti ditusuk-tusuk.


Melihat dia bersama gadis lain. Bermesraan tepat di depan mataku.


Aku gemetar.


Dadaku terasa sesak.


“SELAMAT DOKTER” semua orang memberi selamat.


Aku terus berusaha tersenyum. Tetapi aku tak bisa. Kupaksakan diriku untuk ikut bahagia bersama yang lainnya. Satu per satu dari kami memberi selamat pada dokter dan Coco.


Kupeluk dokter Caroline memberinya selamat.


"Selamat dok, aku ikut bahagia untuk kalian" ucapku dengan senyum yang kupaksakan sambil menahan perih dalam hatiku.


Kemudian kujabat tangan Coco memberinya selamat juga.


"Selamat Co.. aku do'akan semoga kalian bahagia"


Entah mengapa dia seperti enggan melepaskan tanganku. Aku berusaha melepaskan tanganku tapi tak bisa. Dia menjabat tanganku sangat erat.


Tapi kemudian dia melepaskannya. Dalam hatiku, kuucapkan selamat tinggal padanya. Pada pria yang selama sembilan tahun ini selalu mengisi hatiku.


Sesampainya di kos, kunyalakan radio di kamarku. Laksana gayung bersambut, lagu-lagu malam ini benar-benar mewakili perasaanku. Satu per satu lagu diputar.


Kuhampiri, jalan yang kita lewati


Setiap hari kita di sini


Ku menanti, hadirmu 'tuk kembali


Hanya kenangan yang tersisa di sini


Namun sekarang kau t'lah pergi


Dan kuyakini kau takkan kembali


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa


Meski ku masih harapkanmu


Ku menanti, hadirmu 'tuk kembali


Hanya kenangan yang tersisa di sini (namun sekarang)


Namun sekarang kau t'lah pergi (pergi)


Dan kuyakini kau takkan kembali


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa


Meski ku masih harapkanmu


Sesungguhnya hatiku


Tak sanggup menerima


Dan lupakan s'galanya


 Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini


Mungkin hari ini hari esok atau nanti


Tak lagi saling menyapa


Meski ku masih harapkanmu, ooh (harapkanmu)


Meski ku masih harapkanmu, ooh


Selamat tinggal Cintaku..semoga kamu bahagia Co..


Aku akan melupakanmu, melupakan cintaku padamu.


Selamat tinggal cinta pertamaku..


Semoga kau bahagia..